Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 49


__ADS_3

đŸŒŒHappy ReadingđŸŒŒ


Kehebohan dari para lelaki Rahardian itu pun menutup serangkaian acara di kediaman Rahardian. Setelahnya para tamu berangsur meninggalkan kediaman Rahardian menyisakan keluarga inti dari kedua keluarga.


“Kalian istirahat saja, pasti kondisi Rivan juga sudah lelah” ucap mama Nita saat semua tamu telah pergi.


“Iya ma”


“Mama dan papa pulang dulu ya” pamit mama Dahlia kepada putra dan menantunya.


“iya ma, nanti sore Rivan pulang sama Nia” jawan


“Yah, terserah kalian”


Setelah berbasa-basi dengan besannya keluarga Erlangga pun berpamitan meninggalkan kediaman Rahardian. Bahkan Riko dan Hasan pun ikut berpamitan karena acara telah selesai,


“Kalian istirahat di kamar tamu saja dulu, biar tak naik turun” pinta mama Nita


“iya mas, kami istirahat dulu”


Nania pun mendorong kursi roda sang suami menuju kamar tamu dimana Adrivan tadi mengganti pakaiannya.


“Mas mau baring?”


“tunggu dulu dek, bentar lagi dzuhur, habis shalat sekalian”


“hmm, kalau gitu Nia ganti baju dulu ya, mas gapapa Nia tinggal sendiri?”


“Bantu mas ke kamar mandi dulu dek, mau wudhu sekalian, nanti kamu bisa shalat dulu di kamar, maaf mas belum bisa imamin kamu”


Nania tersenyum kemudian duduk jongkok di depan sang suami, “gapapa mas, pelan-pelan saja”


“Terimakasih atas pengertiannya sayang”


Keduanya pun kembali bersitatap dengan senyum lebar di bibir keduanya, lalu perlahan kecupan di kening di daratkan Adrivan pada istrinya.


Kecupan yang begitu lama membuat keduanya memejamkan mata merasakan getaran hangat yang masuk ke dalam hati keduanya. Hingga suara kumandang adzhan membuat Adrivan melepas bibirnya dari kening sang istri.


Tanpa banyak bicara Nania membantu sang suami untuk berwudhu dan membantunya duduk di atas sajadah yang telah di bentangkannya.


“Tunggu Nia kembali ke sini ya mas, jangan bangun sendirian”


***


“Loh mas, kok sudah pindah ke ranjang sih?” Nania merasa khawatir karena sang suami telah berpindah ke ranjang dan duduk bersandar sementara ia baru saja kembali ke kamar yang akan mereka tempati sementara.

__ADS_1


“Iya dek, tadi mas pegangan ranjang, jadi bisa naik sendiri”


“ga sakit?”


Adrivan menggeleng pelan “masih bisa tahan, sini duduk di samping mas”


Adrivan menarik tangan sang istri yang masih berdiri di sisi ranjang dengan raut penuh khawatir.


Nania pun menurut dan berjalan memutar kemudian naik ke atas ranjang untuk duduk di samping sang suami. Tangan kanan Adrivan pun merangkul erat sang istri dan memintanya untuk menyadarkan kepalanya di dada bidangnya.


“Rasanya sungguh lega dek, mas sudah bisa peluk kamu sepuas mas”


Ungkap Adrivan penuh rasa syukur, tak lupa kecupan singkat ia daratkan di puncak kepala Nania yang telah menyandarkan kepalanya.


“Terimakasih sudah mau jadi istri mas”


“Sejak kapan mas begitu mencintai Nia”


“Sedari dulu dek, bahkan sejak kita kecil mas sudah membulatkan hati mas, mas akan selalu menjagamu, selalu melindungimu”


“Lalu kenapa mas tak pernah menyatakan perasaan mas dari dulu?”


“Mas belum punya keberanian dek, pikir mas waktu itu memang hanya cinta monyet saja, tapi seiring berjalannya waktu memang cinta mas ke kamu semakin besar, mas sangat menyayangimu dek”


“Maafkan Nia mas, maafkan karena tak menyadari perasaan mas selama ini, bahkan mas harus merasakan sakit hati waktu Nia menjalin hubungan dengan David, Nia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya mas waktu itu”


“Semua telah berlalu dek, yang penting sekarang kamu kan sudah jadi istri mas”


Nania menegakan tubuhnya lalu menatap sang suami dengan penuh tanya, membuat Adrivan mengerutkan dahinya.


“Ada hal yang begitu mengganjal pikiran ku selama ini mas, semua keluarga bahkan sudah tau kalau mas punya rasa sama Nia, tapi kenapa tak ada yang memberitahu Nia? Bahkan beberapa waktu lalu kak Nando sempat bilang kalau sebenarnya semua keluarga Nia mendukung mas untuk bersama Nia”


Adrivan tersenyum melihat bibir sang istri mengerucut karena kesal. “karena mas yang melarang mereka untuk mengatakannya padamu sayang”


“Nia merasa jadi orang bodoh tau ga” makin manyunlah bibir Nania karena merasa selama ini tak tau akan perasaan pria yang kini menjadi suaminya.


Cup!


“Jangan manyunin bibir gitu, bikin gemes dek” Adrivan pun tekekeh melihat Nania yang terpaku mengerjapkan kedua matanya sembari menutup bibir dengan telapak tangannya.


“Mas
..!!!” pekik Nania setelah tersadar, yang membuat sang suami tertawa lebar.


“Mas,,, itu ciuman pertama Nia, kok mas gitu sih?”


“Alhamdulillah,”

__ADS_1


“Kok Alhamdulillah sih?” Nania semakin merengut kesal lantaran sang suami malah tertawa semakin lebar,


“Loh !! lha iya tho dek, itu juga ciuman pertama mas, Alhamdulillah mas dapat yang pertama, rasanya manis dek”


“ih, itu kan buat suami Nia”


“Lah emang mas siapa?”


Deg!


“Eh iya, kita sudah menikah tadi ya” ucap Nania seketika menunduk malu, merutuki kebodohan dirinya, padahal baru beberapa jam berlalu mereka melakukan prosesi akad nikah, kok sudah lupa.


“YaAllah, kamu kok bikin gemes sih dek” bukannya marah karena sang istri lupa akan statusnya, tapi Adrivan malah terkekeh gemas, “sini peluk mas”


Tanpa kata Nania pun kembali merangkul tubuh sang suami dan menyembunyikan kepala di dada Adrivan lantaran malu akan ucapan dan tingkahnya.


“lihat mas dek”


Nania menggeleng pelan tanpa mengangkat wajahnya, ‘rasanya ingin bersembunyi di tempat yang tak di temukan, sungguh memalukan, Nia kok kamu bisa lupa sih?’


“Kenapa? hmm? Angkat kepalanya, lihat mas” pinta Adrivan degan lembut, tau kalau sang istri begitu malu, tapi dalam hatinya Adrivan sangat bersyukur, berarti Nania menjaga dirinya dengan baik selama ini.


“Sayang, lihat mas”


Tak ingin membuat suaminya marah, Nania pun mendongakkan kepala menatap manik hitam sang suami, tatapan yang begitu tajam namun menduhkan terpancar dari mata hitam itu, sungguh membuat Nania begitu nyaman.


“Teimakasih telah menjaga diri untuk mas, mas sangat bersyukur meski kamu pernah menjalin hubungan dengan pria lain sebelumnya, namun mas tetep yang pertama yang mendapatkan bibir kamu”


Cup!


Kecupan singkat kembali mendarat di bibir tipis Nania, namun kali ini tak tak ada protes dari bibir tipisnya, hanya kedua pipinya yang merona meski tanpa polesan make up.


“Kamu harus terbiasa dengan ini ya dek, sudah lama mas ingin merasakan bibir kamu”


Blushh


Nania pun menunduk lalu kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Adrivan. Bahkan ia pun dapat mendengar dengan jelas debaran jantung sang suami yang sama cepatnya dengan detak jantungnya. Rasanya sungguh tak dapat di uraikan dengan kata-kata, yang bisa ia lakukan hanyalah semakin erat memeluk erat pria yang selama ini menjaganya, pria yang telah berubah status menjadi suaminya.


Tbc


Hallo semuanya đŸ€—đŸ€—


Mohon dukungannya


Terimakasih untuk para reader yang telah memberikan like,đŸ€©đŸ€©đŸ€©

__ADS_1


Love you all 😍😍😍


__ADS_2