Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 30


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Hingga pagi menjelang, Nania masih berada di samping Adrivan yang terbaring tak berdaya. Ia menyandarkan kepalanya di ranjang dan tangan kanannya terus menggenggam sang kekasih.


“Eh…” rintihan pelan terdengar dari Adrivan yang masih memejamkan mata, sementara jarinya bergerak pelan dalam genggaman Nania.


“Van!” Pekik Nania pelan saat merasakan pergerakan jari Adrivan. Nania pun segera berdiri tegak dan memandang ke arah Adrivan yang mulai membuka matanya.


“Alhamdulillah…!!!” pekik Nania senang, tanpa sadar air mata menetes dari kedua sisinya dengan kedua telapak tangan menutup bibirnya.


“Ni…a…” bisik Adrivan pelan,


'apakah aku mati dan melihat Nania?' ucap Adrivan dalam hati, dirinya tak percaya dengan apa yang dilihatnya, kekasih hatinya berdiri di hadapannya,


“iya… ini Nia, apa yang kamu rasakan, hmmm?”


Belum juga pertanyaan Nania terjawab, mama Dahlia mendekati ranjang dan melihat sang putra telah sadarkan diri dan membuka kedua matanya.


“Alhamdulillah, kamu sudah sadar Nak!” mama Dahlia pun segera memeriksa kondisi umum sang putra, tak lupa ia pun memanggil dokter dengan menekan nurse call di atas ranjang perawatan sang putra.


“Ha..us…” ucap Adrivan pelan, dan dengan sigap Nania mengambil gelas yang berada di atas nakas, dan menuangkan minum untuk Adrivan.


“pelan-pelan” Nania membantu Adrivan minum dengan menggunakan sendok, karena Adrivan belum bisa duduk tegak.


Perhatian Nania pada pria yang kini terbaring di ranjang itu tak lepas dari pandangan sepasang paruh baya yang berada di ruang itu, Mereka senang calon menantu mereka bergitu perhatian dan begitu teguh untuk menamani sang putra yang dalam keadaan sakit.


Tak lama kemudian dokter dan perawat yang menangani Adivan datang dan memeriksa kondisinya.


“Bagaimana dok?” tanya mama Dahlia setelah dokter selesai memeriksa kondisi sang putra.


“Perkembangan yang bagus Dok, saya rasa Anda juga sudah mengetahui itu, keadaan putra dokter sudah cukup baik, tinggal pemulihan saja, dan hasil operasinya juga tidak ada yang perlu di khawatirkan”


“ya, Alhamdulillah, ini sungguh luar biasa dok, sebelumnya saya merasa khawatir akan hasil operasinya, tapi tadi setelah saya memeriksa sendiri ini benar-benar di luar dugaan saya, makanya saya memanggil dokter juga untuk meyakinkan diri saya, dan saya benar-benar berterimakasih dok”


“sama-sama dok, semoga dengan ini kondisi putra anda akan segera pulih, dan saya lihat ada faktor dari luar yang sangat berpengaruh untuk kesembuhan putra anda” ucap dokter yang menangani Adrivan sembari memandang ranjang pasien di mana Adrivan di sana terbaring dengan terus tersenyum memandang sang pujaan hati.


Mama Dahlia mengikuti pandangan sang dokter dan ikut tersenyum melihat sejoli itu. “Benar dok, dia calon menantu kami, semoga saja dengan keberadaannya membut Rivan segera pulih”

__ADS_1


“Tentu saja dok, saya tunggu undangan dokter secepatnya”


Setelah berbas-basi dokter keluar ruangan dan membiarkan keluarga itu menikmati kebahagiaan mereka.


“Mama akan cari sarapan sama papa, Nia tolong jaga Adrivan ya”


“yang lama juga gapapa ma” ucap Adrivan yang tak ingin terganggu memandang sang pujaan untuk melepas rasa rindunya.


“kamu ini,” mama dan papa hanya menggelengkan kepala mendengar celetukan sang putra, setelahnya mereka meninggalkan ruang rawat VIP itu, membiarkan sepasang kekasih itu menyalurkan rasa rindu mereka.


“Kok kamu nangis sih?” Adrivan kembali memandang sang pujaan hati, wajah Nania begitu sembab karena masih ada sisa air mata di ujung matanya.


“Maaf…” spontan Nania memeluk Adrivan dan kembali menumpahkan air mata di dada sang kekasih.


“Hei, aku udah baik-baik saja, kenapa nangis lagi, hmmm” Adrivan berusaha mengusap kepala sang pujaan hati meski pun harus menahan sakit.


“Sssttt” desis Adrivan karena merasakan nyeri di dadanya.


“Van…” Nania langsung bangkit dan memandang pria di depannya dengan penuh khawatir,


“Jangan terlau di tekan, sakit” Adtrivan menunjuk dadanya dengan dagunya rasanya masih sakit saat tubuhnya tertekan.


Kini Nania duduk di samping Adrivan dan terus mengenggam tangannya.


“Aku seneng kamu di sini Nan, aku pikir tadi sudah disurga"


"kamu masih di dunia Van,"


"iya dan kamu di sini datang untukku"


“hmm…” Nania tersipu akan ucapan sang pujaan hati.


“Tak ada yang ingin kamu sampaikan ke aku?” Adrivan sungguh berharap keberadaan Nania disini saat ini sebagai jawaban akan lamarannya tempo hari.


“Apa yang ingin kamu dengar?”


“Jawaban mu? bolehkah aku mendengarnya sekarang?”

__ADS_1


“hmm.... haruskah?”


“sungguh Nan, aku benar-benar menyayangimu selama ini, lebih dari sahabat, lebih dari tetangga, jadi maukah ku hidup bersamaku, membentuk rumah tangga yang bahagia, menjadi ibu anak-anak ku dan menua bersama ku?”


Nania menatap Adrivan dengan penuh haru, untuk kedua kalinya pria di depannya ini mengungkapkan perasaannya. Ada rasa bahagia yang membuncah saat mendengar ucapan tulus dari pria teman masa kecilnya.


Hanya dengan anggukan Nania menjawab permintaan Adrivan, rasanya tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun, hanya dengan anggukan dan senyum lebarnya Nania menajwab dengan mantap.


“Seriously? Kamu mau?”


Nania kembali mengangguk “ya, aku mau” lanjutnya


“Ah, yess…. !!!! Alhamdulillah” pekik Adrivan girang dan berusaha duduk tegak untuk memeluk sang pujaan hati yang telah resmi menjadi calon istrinya.


“Pelan-pelan” Nania bangkit dan membantu sang kekasih untuk duduk tegak dan memeluknya erat.


“Terimakasih Nan” Adrivan mengeratkan pelukannya, dia pun tak segan untuk mengecup puncak kepala sang kekasih, menyalurkan rasa sayangnya.


“I love you Nan…”


“Love you too..” ucap Nania malu dan semakin menyembunyikan wajahya di dada pria yang menjadi calon suaminya itu.


Tanpa mereka sadari proses lamaran kedua kali di ranjang rumah sakit itu di saksikan oleh 5 pasang mata yang mengintip dari pintu masuk.


Mama Dahlia memekik girang dan memeluk mama Nita yang berada di sampingnya,


“Akhirnya kita akan jadi besan”


“Iya, rasanya tak menyangka hubungan kita akan semakin dekat melebihi sahabat.


Sementara itu papa Ryan menepuk bahu papa Doni “Bersiaplah Don, lepaskan putrimu untuk jadi menantuku”


Papa Doni menatap papa Ryan dengan mata sendu, “apakah putriku akan meninggalkan ku?” cicitnya lirih.


“tentu saja tidak pa, rumah mereka kan hanya di sebelah, kalau kita rindu, kita hanya perlu berjalan melewati tembok untuk menemui mereka” ucap mama Nita menenangkan sang suami.


“benar Don, putrimu tak akan pernah meninggalkanmu, tapi kali ini ia juga akan menjadi putriku” jawab papa Ryan.

__ADS_1


Jawaban yang mereka dengar tentu membuat mereka sangat bahagia, tetapi ada rasa sedih juga di hati papa Doni, putri kecilnya yang selama ini ia besarkan dengan kasih sayang, akan menikah dan meninggalkan dirinya. Ada perasaan tak rela dalam dirinya, ada perasaan ingin terus mendekap sang putri dan tak ingin melepasnya untuk pria manapun, tapi dirinya juga tak boleh egois. Putrinya kini telah tumbuh dewasa, sudah bisa memilih jalan terbaik untuk kebahagiannya, tak mungkin terus berada disisinya, yang bisa papa Doni pastikan adalah kali ini putri bungsunya tak memilih pria yang salah. Papa Doni yakin bahwa Adrivan adalah pria yang tepat, yang akan selalu menjaga putrinya satu-satunya.


Tbc


__ADS_2