Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 44


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Adrivan pun mengambil cincin yang disodorkan sang mama dan memakaikannya dijari manis sang kekasih,


“Kamu sangat cantik dek” bisik Adrivan pelan setelah cincin kecil dengan berlian itu melingkar begitu manis di jari kecil Nania.


Nania yang tersipu malu pun mengambil cincin untuk Adrivan di menyematkannya di jari sang kekasih, yang pada malam hari ini tak mengenakan arm slingnya,


“Kamu juga tampan mas” balas Nania dengan berbisik pelan


Setelah kedua cincin telah melingkar di jari manis mereka, riuh tepuk tangan terdengar memenuhi ruang tengah kediaman Rahardian.


Acara selanjutnya pun mereka di lanjutkan dengan pembahasan menentukan waktu untuk akad nikah dan resepsinya. Hingga di peroleh kesepakatan bahwa mereka akan menggelar akad terlebih dahulu yang dilaksanakan hari minggu esok, yang berarti akad akan dilaksanakan dalam 5 hari ke depan. Pak RT pun akan membantu mengurus persyaratan untuk pendafataran ke KUA dan akan di dampingi oleh Nando.


Untuk agenda resepsi akan dilaksanakan tiga bulan lagi sembari menunggu kondisi Adrivan pulih. Akad akan di gelar sederhana di kediaman Rahardian dan untuk resepsi akan di bahas kemudian setelah akad nikah.


Setelah mendiskusikan banyak hal, mama Nita pun mengajak semua orang untuk berdiri dan mengambil hidangan yang telah di sediakan.


“Mas mau makan apa?” tanya Nania lembut pada calon suaminya saat semua orang telah mendekati meja dimana semua hidangan telah tertata.


“Nanti saja dek, masih kenyang, mas hanya kangen kamu dek” ucap Adrivan dengan senyum sumringahnya terus menatap sang calon istri sembari mengenggam telapak tangan sang kekasih dengan tangan kanannya.


“Jiah….” John memutar bola mata jengah melihat kemesraan sepasang kekasih yang baru saja bertunangan itu, “bang, kangen ga bikin kenyang” celetuknya mendekati mereka.


“Kak Nia juga lapar bang, ga peka amat sih” kini William ikut menimpali dan ikut mendekat sembari membawa piring berisi penuh makanan.


Sementara sepasang kekasih itu tersipu malu, namun tak mambuat Adrivan melepas genggamannya.


“Kamu lapar dek?”


Nania tertunduk malu, entah kenapa semenjak menjadi kekasih dari pria di hadapannya ini sikapnya yang biasa akrab dan berani hilang begitu saja dan di gantikan sikap malu-malu saat mereka berdekatan.

__ADS_1


“ya jelas lapar dong bang, sedari siang tadi kak Nia belum makan” bukan Nia yang menjawab melainkan Dimas putra sulung dari uncle Bram yang kini masih duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah atas.


“A..”


“Kak Nia dipanggil budhe Nita, suruh ke ruang makan” baru saja Nania akan mengucapkan kalimat jawabannya, sosok pria yang baru saja beranjak remaja mendekati mereka dan berteriak khas anak seusianya, yang tak lain adalah Rendra putra bungsu dari Uncle Bram yang masih duduk di bangku SMP.


“Aku ke mama dulu mas” pamit Nania setelah memberikan anggukan sebagai jawaban pada adik sepupunya yang paling kecil.


Setelah Nania beranjak dari tempat duduknya, para pria keturunan Rahardian itu tak henti menggoda calon kakak iparnya, hingga godaan mereka membuat pria yang baru saja melamar kekasihnya itu mencebik kesal.


“Eh kak, aku tadi di kasih tau mama, kalau mulai besok kalian akan di pingit, jadi tak boleh ketemu dan ga boleh saling menghubungi meski video call” ucap William tanpa dosa sembari mengunyah makanannya.


“Serius kamu Will?” tanya Adrivan dengan mata bulatnya yang melebar.


“Iya bang, mama juga bilang gitu” timpal Dimas, “tadi sudah kasih wejangan ke Dimas buat jagain kak Nia jangan sampai keluar rumah”


“masa sih, ya kali masa di pingit, sampai hari H, lama banget dong”


“Ya elah bang, 4 hari doang ih,” timpal John meledek sang calon kakak ipar.


“Lebay sih kak, kemarin aja nunggu bertahun-tahun bisa kok, ini 4 hari doang masa ga bisa?"


Bukan rahasia lagi di kalangan keluarga Rahardian bahwa calon anggota baru keluarganya ini telah memendam perasaan pada princess mereka bertahun-tahun lamanya.


“Bukan le—“ belum lagi melanjutkan kalimatnya, Nania memotong pembicaraan mereka dengan duduk di hadapan sang kekasih sembari membawa piring berisi nasi dan lauk pauk untuk Adrivan.


“Makan dulu mas, kata mama Dahlia mas tadi siang ga makan ya? padahal harus minum obat”


Adrivan hanya nyengir memperlihatkan gigi putihnya, “habis gugup karena mau lamar kamu dek”


Sontak saja ketiga adik sepupu Nania yang masih duduk di dekat mereka bersorak meledek mereka,

__ADS_1


“Gitu tadi sok-sokan ga mau makan?” cibir John


“masih kenyang, cuma kangen” timpal William


Mengabaikan ledekan para sepupunya, Nania menyodorkan sesendok nadi ke depan mulut sang kekasih yang di terima dengan senang hati.


“Jiah, modus lo bang!!” kompak para adik sepupu Nania mencebik kesal.


“Iri aja sih kalian” giliran Adrivan yang meledek calon sepupunya itu, “bilang aja kalian mau di suapi juga”


Adrivan dengan santainya mengunyah suapan demi suapan yang di sodorkan sang kekasih, sementara ketiga sepupu Nania memperlihatkan wajah masam hingga piring yang tangan Nania kosong karena semua makanan di makan Adrivan hingga habis tak bersisa,


“Nah sudah habis kan bang, waktunya abang pulang dan jalani pingitan hingga hari H” ucap John yang ternyata masih santai duduk di situ meski makanan di piringnya telah habis sedari tadi.


Uhuk! Uhuk!


Adrivan tersedak saat menegur air yang barus aja di sodorkan Nania, “Kamu ngusir abang John?”lanjutnya dengan menahan perih di tenggorokan dan hidungnya.


“Ya bukan bermaksud mengusir bang, tuh rombongan keluarga abang juga sudah berpamitan, jadi abang pulang biar Kak Nia makan malam dengan tenang” lanjut William yang baru saja kembali setelah mengambil puding dari meja untuk makan penutupnya.


“Dek…” rengek Adrivan memelas pada sang kekasih, sementara ketiha pria sepupunya itu berlagak ingin muntah karena mendengar rengekan yang tak pantas keluar dari tubuh pria tampan itu.


“Maafkan Nia mas, benar kata adik-adik Nia, besok kita sudah di pingit, tadi mama dan tante sudah kasih wejangan ke Nia juga” jelas Nania tanpa bisa membela sang kekasih, karena memang itu yang harus di jalankan atas permintaan para orang tua.


“Ya Allah dek, mana tahan mas ga hubungin kamu selama 4 hari, kemarin aja udah bikin stress kok”


“ya fokus buat kesembuhan mas dulu aja , 4 hari tidak lama mas”


Di tengah bujukan Nania kepada sang kekasih, Riko mendekati mereka bersama papa Ryan yang telah berpamitan pada keluarga Rahardian,


“Kenapa denganmu Van?” tanya sang papa saat melihat wajah putra semata wayangnya ditekuk, padahal beberapa saat yang lalu terlihat bahagia karena lamarannya telah di terima,

__ADS_1


“Rivan dan Nia beneran di pingit ya pa?”


Tbc


__ADS_2