
🌼Happy Reading🌼
Nania hanya tersenyum mendengar percakapan kedua pria di hadapannya. Ketiganya kemudian makan dengan tenang, begitu menikmati makanan yang telah Nania masak dengan penuh cinta.
“Besok Nia ijin pergi ya mas?” Nania memulai pembicaraam setelah asisten suaminya undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Ke mana?” Adrivan meletak gelas kosong yang habis diminumnya.
“Ke Florist, mau cari bunga buat di teras kamar, biar lebih adem”
“tapi mas besok ga bisa nemenin, ada pertemuan penting”
“Nia pergi sama bibi, Nia bisa bawa mobil sendiri”
“Ga, jangan! Nanti abis antar mas biar Pak Rahman yang antar kamu, oke” Rivan tak ingin sang istri pergi mengemudi sendiri, meskipun ia bisa tapi Rivan tak akan membiarkannya.
“memang besok mas tak ada kegiatan di luar?”
“mas bisa sama Riko, pokoknya jangan nyetir sendiri, oke?”
“Iya, Nia sama Pak Rahman, atau kalau ndak Nia minta Pak Joko aja buat anterin”
“sama Pak Rahman aja, biarkan Pak Joko standby di rumah papa, takutnya kak Linda ada butuh apa-apa dan perlu pak Joko antar”
“Baiklah, Nia nurut kata mas”
Keduanya tersenyum, lalu Nania melanjutkan untuk membereskan kotak makan siangnya.
“Kamu di sini aja ya dek, tungguin mas pulang”
“Lah, masih lama mas, ngapain Nia di sini, nanti malah ganggu mas kerja”
“Ndak sayang, mas malah seneng kamu di sini, ya… ya… tungguin mas”
Setengah hari waktunya Nania habiskan hanya untuk menunggu sang suami menyelesaikan pekerjaannya, hingga tanpa ia sadari, ia pun terlelap di sofa panjang dimana ia duduk tadi saat makan siang. Untung saja sofa panjang itu membelakangi meja kerja pemilik ruangan, jadi tak terlihat jika ia terbaring di sana.
Suara orang lalu lalang untuk sekedar memberikan laporan pun tak membuat Nania terbangun dari mimpi indahnya. Apalagi suasana hujan di luar sangat mendukungnya untuk semakin terlelap.
“Dek!…. Sayang!” panggil Rivan karena tak mendengar sang istri, padahal beberapa waktu sebelumnya terdengar tawa dari sang istri yang tengah menonton film komedi dari ponselnya.
__ADS_1
Karena tak mendengar jawaban dari sang istri, Rivan pun bangkit dan melangkah mendekati sofa, memastikan sang istri masih di sana, Rivan takut Nania keluar ruangan tanpa ijin karena kesibukannya, namun seketika kekhawatiran itu sirna kala melihat sang istri meringkuk di sofa,
“Ya Allah dek, maafkan mas, sampai membuat mu ketiduran gini” spontan Rivan melepaskan jas yang ia kenakan untuk menyelimuti sang istri, meski tak bisa menutup seluruh tubuhnya setidaknya sedikit memberikan rasa hangat di tengah cuaca dingin karena hujan.
***
Keesokan harinya seperti biasa Nania akan bangun lebih awal untuk membantu sang asisten rumah tangga menyiapkan sarapan, lalu setelahnya ia membangunkan sang suami yang tertidur kembali setelah melaksanakan ibadah subuhnya.
“Mas, bangun sih”
“hmm, bentar Yang, masih ngantuk”
“Suruh siapa begadang semalam, jadi ngantuk kan”
Ya, semalam setelah mereka pulang dari makan malam di luar, teman kuliahnya dulu menghubungi dan mengajak membicarakan bisnis kerjasama yang akan mereka kerjakan dalam waktu dekat. Perbedaan waktu dari tempat tinggal sahabatnya saat ini membuat Rivan mengiyakan karena memang saat ini dirinya sedang tak sibuk. Namun siapa sangka, satu jam setelah pembicaraan bisnis berakhir mereka masih saja ngobrol bahkan menambahkan beberapa teman dalam screen zoom nya. Hingga lewat tengah malam, Rivan baru menutup layar komputernya dan menyusul sang istri ke alam mimpi.
“Mas bangun sih” kecupan demi kecupan Rivan terima di seluruh wajahnya, biasanya hal ini akan membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.
“Dek, kenapa sih selalu menggoda mas, mas masih belum bisa lho dek” rengek Adrivan dengan menahan dirinya apalagi melihat sang istri yang kini masih mengenakan bathrobe nya.
“Nia ga goda mas, makanya bangun ih, udah siang, katanya mau ada meeting penting”
“Astaghfirullah!” pekik Rivan teringat akan meeting pentingnya, lalu ia bangkit dari tidurnya secara tergesa-gesa hingga ia meringis karena kakinya kembali merasakan nyeri di kakinya.
“gapapa dek, mas mau mandi” buru-buru Rivan menyeret langkahnya untuk ke kamar mandi
Nania menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya, lalu ia pun segera bersiap dan tak lupa menyiapkan pakaian yang akan di kenakan sang suami.
“Dek, nanti habis dari Florist langsung mampir ke kantor ya, kita makan siang di luar” ucap Rivan ketika Nania membantu sang suami menyisir rambutnya.
“katanya mau ada meeting di luar?”
“Setelah makan siang dek, jadi makan siang dulu, habis itu mas meeting, kamu bisa pulang sama Pak Rahman lagi, nanti mas biar sama Riko aja pulangnya”
“Hmm, Nia kan sama bibi mas, rencana mau ajak Mang Ujang juga, emang mas nanti pertemuan di mana?”
“Di Garden Resto, nanti kita makan di sana sekalian aja, biar mas reservasi tempatnya”
“kalau gitu Nia di drop di kantor aja ya, nanti sama mas ke Resto, biar Pak Rahman antar Bibi dan Mang Ujang”
__ADS_1
“Trus kamu pulangnya?”
“Nia bisa naik taksi mas”
“Tapi dek, jangan pergi sendiri”
“iya, iya, nanti Nia minta jemput pak Rahman lagi kalau gitu”
“oke, gitu gapapa”
Setelah kesepakan untuk makan siang di luar selesai di bahas, keduanya beranjak dari kamar untuk menyantap sarapan mereka.
Seperti biasa Nania akan mengantarkan sang suami sampai depan teras, kecupan di kening mengakhiri sesi pamitan keduanya.
***
Setelah memilih beberapa jenis bunga yang cocok untuk teras kamarnya Nania dan kedua asisten rumah tangganya segera maninggalkan florist untuk menuju kantor sang suami.
“Pak Rahman antar bibi dan mang Ujang dulu ya, nanti kalau jemput saya di Garden Resto setelah makan siang bisa pak?”
“Bisa mb, nanti setelah makan siang saya langsung ke sana”
“oke, bibi, mang Ujang, nanti bunganya taruh dulu di dekat kolam ya, kita tata nanti sore aja kalau Nia sudah pulang”
“Siap mb” jawab keduanya kompak
Lalu Nania keluar dari mobil yang di kemudikan sopir keluarganya itu setelah mengucapkan terimakasih.
Saat melangkahkan kakinya di loby perusahaan kebetulan sang suami juga baru saja keluar dari lift hendak keluar,
“Dek…!!” Panggil Adrivan dengan senyum lebarnya, Pemandangan yang begitu jarang Rivan perlihatkan di depan semua karyawannya,
Nania berbalik dan melihat Rivan dan asistennya berjalan mendekat ke arahnya, beberapa detik kemudian pasangan suami istri itu berdiri berhadapan, seperti biasa Nania akan langsung mengangkat tangan untuk meraih punggung tangan sang suami dan mengecupnya penuh takzim, yang selalu di balas kecupan di kening. Pemandangan hangat itu membuat karyawan yang berada di loby begitu baper dan salah tingkah sendiri, tak menyangka bosnya yang sering terlihat galak, kini terlihat begitu hangat.
“Mau keluar sekarang mas?”
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
__ADS_1
Mohon dukungannya 🤩🤩🤩
Love you All 😍😍😍