
***
Setelah beberapa bulan kelulusannya, hari ini Rafi bersiap menuju kantor. Hari inilah hari pertamanya, dikantor papanya ia hanya sebagai karyawan biasa. Mungkin banyak yang bertanya kenapa anak pemilik perusahaan berada pada posisi bawah??? Iya kan??? Nah, itu dilakukan kedua orang tua Rafi untuk membiasakan putra semata wayangnya itu bisa bekerja keras untuk meraih posisi yang tinggi, intinya sih supaya putranya itu memperoleh sesuatu karena memang ia pantas untuk itu. Rafi pun tak mempermasalahkan semua itu, menurutnya itu adalah masa-masa yang menjadi saksi kesuksesannya di masa depan.
Setelah beberapa menit bersiap-siap, Rafi pun menuruni tangga dan menuju meja makan dimana kedua orang tuanya berada untuk sarapan.
Pagi ma, pa. Sapa Rafi sambil tersenyum kemudian menarik salah satu kursi untuk ia duduki
Pagi sayang. ucap kedua orang tuanya tersenyum
Mereka pun sarapan dalam diam. Tanpa pembicaraan di antara mereka. Beberapa menit berlalu, sarapan pun selesai.
Pah, hari ini Rafi ke kantor. Kalau di kantor papa anggap Rafi seperti karyawan lainnya yah, supaya karyawan lain nggak curiga. Rafi nggak mau mereka sungkan dengan Rafi karena Rafi anak pemilik perusahaan.
Iya, kamu tenang aja. Papa udah urus semuanya, kamu hanya perlu bekerja dengan giat. Bukannya kamu udah nggak sabar memiliki Sasa. kekeh papanya
Rafi yang mendengar itupun menjadi salah tingkah sambil menggaruk kepala belakangnya. Mamanya yang mendengar perkataan papanya hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawanya.
Yaudah pah, mah. Rafi berangkat yah. Yakali hari pertama udah terlambat, belum bekerja udah dipecat. Memalukan sekali. canda Rafi melirik papanya
Yaudah sana. Kalau pengangguran, Sasa nggak bakalan mau. Oh iya bukannya ada yang suka yah dengan Sasa, siapa namanya??? Papa lupa. ucap Papanya memanas-manasi anaknya
Pah, nggak usah bahas dia. Kesal Rafi kemudian menyalimi kedua orang tuanya lalu berangkat ke kantor
Setelah kepergian Rafi, mama Rafi langsung memukul lengan suaminya itu.
Pah, apaansih. Rafi jadi ngambek. Kesal mama Rafi
Biarin aja mah, dia harus bersikap dewasa. ucap Papanya tersenyum kemudian pamit pada istrinya dan berangkat ke kantor
Di lain tempat, Rafi terjebak macet membuatnya sangat kesal. Untuk meredam kekesalannya akhirnya ia menghubungi Sasa.
Tritttt tritttt
Sasa yang sedang siap-siap untuk ke kampus mendengar ponselnya berdering segera mengangkat ponselnya itu tanpa memperhatikan siapa yang menelpon.
Halo, siapa sih ganggu aja. Aku buru-buru mau berangkat ke kampus. Marah-marah Sasa
Rafi yang mendengarnya hanya senyum-senyum dengan tingkah orang yang dicintainya itu.
Reina ini aku, yaudah aku matiin aja kalau gitu. canda Rafi mengerjai Reina
Reina pun membelalakkan matanya, tak menyangka Rafi akan menghubunginya. Ia pun menepuk keningnya sambil menggigit ujung jarinya.
Sorry kak, aku kirain siapa tadi. Please. bujuk Sasa dengan suara semenyesal mungkin
Nggak, aku marah pokoknya. kesal Rafi pura-pura
Kaaaaaakkk. ucap Sasa sambil menahan tangisannya
Astaga Reina aku bercanda. tawa Rafi pun pecah membuat Sasa sangat kesal
Kakak jahat. ucap Reina langsung memutuskan panggilan tersebut kemudian segera menuju kampus
__ADS_1
Rafi pun hanya terkekeh, pasalnya Sasa selalu seperti ini. Jika saja itu orang lain mungkin akan sangat tidak menyukai Sasa karena sifat kekanakannya. Namun, berbeda dengan Rafi. Hal ini menjadi hiburan tersendiri baginya. Setelah beberapa menit akhirnya macetpun berakhir. Rafi pun melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di kantor, para karyawan perempuan merasa terpesona dengan ketampanan Rafi dan bertanya siapa gerangan pemuda itu. Pasalnya selama ini mereka tidak pernah melihatnya di kantor tersebut.
Namun, Rafi tidak memperdulikan semua itu pasalnya ia sudah terbiasa dengan semua itu. Ia pun menuju ruangannya. Para karyawan yang melihat itu pun berbisik-bisik. Namun terhenti setelah melihat pemilik perusahaan memasuki kantor. Mereka memang tidak mengetahui sosok Rafi sebab papa Rafi yaitu Raihan Aldebaran tidak suka jika keluarganya di sorot media. Jadi hanya segelintir orang yang tau bahwa pemilik perusahaan itu memiliki seorang putra yang tak kalah tampan dengan pemilik perusahaan itu hanya perbedaan usia saja.
Para karyawan pun kembali ke ruangan masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya.
Di lain tempat tepatnya di kampus, Sasa dan Anggi mengikuti mata kuliahnya dengan khidmat. Mereka memang seperti itu, jika mahasiswa lain bermain-main dengan kuliahnya maka mereka berdua sangat fokus. Meski mereka berdua anak orang kaya namun mereka tidak suka jika harus melibatkan kedua orang tuanya untuk setiap hal. Pikir keduanya, ini hidupnya jadi mereka sendirilah yang harus menentukan itu.
Beberapa menit berlalu waktu istirahat pun tiba. Keduanya pun menuju kantin sebelum kembali ke rumah karena memang hari ini hanya satu mata kuliah berhubung dosen yang satunya berhalangan untuk masuk.
Sa, kamu udah bilang belum mengenai kemarin ke kak Rafi??? tanya Anggi
Belum Nggi, niatnya sih nanti aku bilang ke kak Rafi nya. ucap Sasa
Oh okey. ucap Anggi
Di tengah jalan, Fatan memanggil keduanya. Membuat keduanya menghentikan langkah mereka.
Saaa, Ngiii. teriak Fatan sambil berlari menuju Sasa dan Anggi
Sasa dan Anggi pun menunggu Fatan, sambil menatap Fatan yang sudah ngos-ngosan.
Kalian kok nggak nungguin gue. kesal Fatan
Emang kamu siapa??? tanya Anggi sambil mengangkat salah satu alisnya. Memang Anggi tidak suka dengan Fatan, mengingat perlakuan Fatan pada sahabatnya di masa lalu
Maksud lo??? tanya Fatan tidak mengerti dengan pertanyaan Anggi. Menurutnya dia adalah teman Sasa berarti teman Anggi juga kan, terus mengapa Anggi mempertanyakan dirinya
Sasa yang mengerti keadaan yang canggung akhirnya ia menengahi keduanya.
Udah, yok ke kantin. Laper tau. Ucap Sasa meninggalkan keduanya
Anggi dan Fatan pun menyusul Sasa yang sudah beberapa meter di depannya.
Mereka pun memesan makanan sesuai keinginan mereka. Mereka pun makan dalam diam.
Beberapa menit kemudian, makanan mereka pun habis tak tersisa.
Sa, kemarin itu semua terjadi karena ulah siapa? tanya Fatan masih penasaran
Hm nggak papa. Lupain aja. ucap Sasa tak berminat membahas masalah yang menimpanya kemarin
Tapi Sa. ucap Fatan sangat ingin tahu
Udahlah tan, Sasa udah bilang lupain maka lupai aja. Susah banget dibilangin. kesal Anggi pada Fatan yang sok peduli, dulu kemana aja
Stop Nggi, gue nggak tau masalah lo sebenarnya apa sama gue. Tapi ini urusan gue sama Sasa sebaiknya lo diam aja. ucap Fatan menatap tajam Anggi
Urusan Sasa urusan gue kalau lo nggak tau. ucap Anggi tertawa jahat
Lo dibilangin. geram Fatan sambil menunjuk Anggi
__ADS_1
Stop tan, gue udah berusaha untuk maafin kesalahan lo di masa lalu. Jadi, please lo nggak usah ikut campur masalah gue. Ucapan Anggi itu bener, asal lo tau Anggi udah gue anggap saudara. ucap Sasa marah sambil menarik Anggi meninggalkan Fatan
Jika Sasa sudah bilang Lo gue berarti ia sudah sangat marah, menurutnya kata aku kamu hanya berlaku bagi mereka yang pantas mendapatkannya.
Saaa dengerin gue dulu. ucap Fatan berusaha menghentikan Sasa, namun Sasa tak memperdulikannya. Fatan yang melihat itu menjambak rambutnya merasa frustasi, ia pun pergi dari sana tanpa sadar ternyata ada yang melihat kejadian tadi dan tersenyum sinis sambil memikirkan rencana selanjutnya.
Di dalam mobil, Sasa dan Anggi berusaha meredam amarah masing-masing. Setelah beberapa menit, emosi mereka berangsur membaik.
Nggi aku anter pulang yah. ucap Sasa membuka pembicaraan
Yaudah. ucap Anggi sambil menyenderkan tubuhnya
Sesampainya di rumah Anggi, Anggi pun memperingati Sasa untuk mengatakan masalah kemarin kepada Rafi sebelum keluar dari mobil Sasa.
Di perjalanan Sasa memikirkan bagaimana caranya ia mengatakan pada Rafi hingga ide muncul di kelapa cerdasnya itu. Ia akan membawakan Rafi makan siang dan saat itu ia akan mengatakannya.
Siang pun tah tiba, Sasa membuat makanan yang akan dibawanya secepat mungkin dan segera bersiap-siap ke kantor Rafi.
Sesampainya di kantor, Sasa menuju resepsionis untuk menanyakan ruangan Rafi. Setelah mengetahui ia pun menuju ke ruangan Rafi sambil tersenyum dengan setiap orang yang ia lewati. Banyak karyawan yang merasa kagus pada sosok Sasa, mereka sampai berpikir, mimpi apa semalam hingga hari ini kantor kedatangan sosok yang waw. Mengenai kemarahan Sasa tadi pagi itu hanya candaan Sasa saja, ia memang sering seperti itu. Marah kemudian baikan lagi.
Sasa yang melihat Rafi masih fokus pada pekerjaan dengan jari-jarinya yang tak lepas dari keyboard menambah ketampanan sosok Rafi. Bahkan diam-diam banyak karyawan wanita yang memperhatikannya, namun Rafi terlihat santai saja. Membuat Sasa kesal, dia tidak suka jika menatap Rafi seperti ini menelannya Sasa terlalu enaknya dipandang.
Sasa berjalan sepelan mungkin menuju tempat Rafi kemudian meletakkan makanan yang dibawanya di meja karyawan yang kosong. Ia menutup mata Rafi sambil menahan tawanya, Rafi yang awalnya terkejut dan ingin melepaskan tangan itu dan memarahi seseorang yang sudah berani menyentuhnya akhirnya ia urungkan setelah mencium aroma yang ia tau bahwa itu ada orang yang sangat ia cintai.
Rafi pun melepas tangan Sasa dengan lembut kemudian membalikkan tubuhnya sambil tersenyum menatap wanita di hadapannya itu.
Tumben nggak ngabarin. ucap Rafi sambil mengusap kepala Sasa membuat karyawan wanita bertanya-tanya ada hubungan apa mereka berdua
Surprise aja. ucap Sasa tersenyum
Yaudah kamu kesini pasti karena sesuatu, nggak mungkin tanpa sebab. ucap Rafi kemudian menyuruh Sasa untuk duduk di tempat duduknya tadi
Iya kak, aku pengen ngomong sesuatu. Tapi tidak disini, bisa kita keluar??? Aku juga bawain kakak makan siang.
Kamu bisa masak??? Kok aku jadi curiga gini, nggak dibeli kan??? ucap Rafi sambil terkekeh
Ihh kaakkk, ayo kita keluar. kesal Sasa menarik Rafi dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menenteng makan siang yang ia bawa tadi. Rafi yang ditarik pun hanya pasrah dan menghentikan langkahnya membuat Sasa juga berhenti sambil menaikkan alisnya. Rafi yang mengerti gerakan Sasa, akhirnya melepaskan tangan Sasa dari pergelangan tangannya. Sasa yang melihat itu merasa sedih dan mulai berpikir macam-macam. Sampai-sampai ia berpikir mungkin saja Rafi sudah tidak suka padanya. Namun, melihat ekspresi Sasa yang sedih membuat Rafi segera memegang pergelangan tangan Sasa dan menariknya menuju taman yang tersedia di belakang kantor tersebut.
Nggak usah sedih gitu, mikir apa hm??? tanya Rafi lembut setelah mendudukkan dirinya dan Sasa di kursi taman
Nggak apa-apa, lupain aja. ucap Sasa merubah raut wajahnya seakan baik-baik saja
Yaudah jangan sedih-sedih lagi, kamu cukup percaya aja sama aku. Aku nggak bisa janji tapi aku akan berusaha buat membahagiakan kamu selalu. ucap Rafi lembut dengan menatap Sasa dalam, membuat Sasa salah tingkah dan segera mengalihkan tatapannya.
***
Jangan lupa Vote & Comment guys. Vote & Comment kalian akan sangat membatu penulis.
Semakin banyak yang vote akan menambah semangat author buat nulis .
Tetap jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utamaš¤
Semoga tulisan author bisa kalian sukaš
__ADS_1