
🌼Happy Reading🌼
Semua orang duduk di tempat yang telah disediakan, dan mempelai pria sudah duduk di depan penghulu dan wali nikah dari mempelai wanita. Tak berapa lama kemudian tampak 3 wanita beda generasi berjalan beriringan menuju meja akad yang terletak di tengah ruangan,
Glek!
Adrivan yang sedari tegang kini semakin tak bisa berkata apa-apa. Tatapannya tertuju pada sosok ketiga wanita Rahardian yang tengah berjalan ke arahnya, ketiga wanita Rahardian memang cantik, namun fokusnya hanya pada gadis yang berada di tengah. Gadis pujaan hatinya nampak begitu anggun dengan balutan dress panjang dengan warna yang sama dengannya.
'Subhanallah, bidadariku' guman Adrivan dalam hati.
Matanya tak berkedip dan terus menatapnya, akhirnya penantian panjangnya tak sia-sia. Gadis yang ia cintai sedari dulu sebentar lagi akan menjadi miliknya, akan terus menemaninya di saat suka dan duka. Dan sebentarl lagi akan ia sebut sebagai istrinya. Sungguh kebahagiannya saat ini tak bisa di jabarkan dengan kata apapun.
Ghem!
Papa Doni berdehem, membuat calon menantunya tersadar akan kekagumannya pada kecantikan putri bungsunya hingga tak mengedipkan matanya.
Adrivan pun tersenyum kikuk kemudian menunduk setelah melihat tatapan tajam dari calon mertuanya.
"apakah sudah bisa dimulai?" penghulu meminta persetujuan untuk memulai acara sakral itu.
"silakan pak" jawab papa Doni.
Penghulu pun segera memulai acara sakral itu dimulai dari membuka acara, lalu kembali menanyakan identitas kedua mempelai, khutbah nikah hingga menyerahkan kepada wali nikah dan mempelai pria untuk mengucapkan ijab kabul. Hingga akhirnya terdengar kata,
Sah!!
Penghulu pun kemudian memimpin doa untuk keberkahan pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri.
Lega dan bahagia terasa begitu membuncah dalam dada Adrivan, akhirnya dengan lantang ia bisa mengucapkan janji sucinya di saksikan semua yang hadir di sana hingga secara sah menjadikan gadis yang kini duduk di sampingnya saat ini menjadi istrinya.
"Alhamdulillah" semua yang hadir pun mengucap penuh syukur dan rasa haru begitu pun kedua orang tua Adrivan yang sangat bahagia, akhirnya Nania resmi menjadi menantu mereka.
"kamu cantik sekali dek" bisik Adrivan setelah mencium kening gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.
Nania tak menjawab dan hanya tersenyum malu bercampur rasa haru menampilkan pipinya yang semakin merona. Air matanya pun tak dapat di bendung saat pria yang kini menjadi suaminya membisikan do’a di puncak kepalanya sesaat sebelum kecupan di kening ia terima.
Rangkaian acara demi acara terus berlangsung hingga kedua mempelai memperoleh buku nikah mereka. Keduanya pun memperlihatkan buku nikah mereka dan dengan sigap sang fotografer membidik kedua mempelai yang tengah berbagia.
__ADS_1
Kedua mempelai pun kemudian bersimpuh di hadapan kedua orang tua mereka secara bergantian meminta doa untuk rumah tangga yang baru saja akan mereka jalankan.
Nasehat dan doa mereka terima dari kedua orang tua yang menjadikannya bekal untuk memulai kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya.
“Selamat datang di keluarga Erlangga sayang” bisik mama Dahlia yang begitu bahagi saat mendekap menantunya.
Semua orang yang hadir pun mengucapkan selamat kepada sepasang kekasih yang baru saja menyandang gelar sebagai suami istri dengan senyum lebar di bibir mereka.
"Cie bang Rivan, sudah jadi suami nih"
“Cie, sudah ga single lagi” para adik sepupu Nania pun menggoda sang mempelai pria yang kini telah sah menjadi kakak ipar mereka.
“Jaga adik kakak ya Van” Nando pun merangkul adik iparnya “Jangan sakiti dia”
“Iya kak, Rivan akan selalu menjaga Nia kak, terimakasih kakak selalu mensuport Rivan selama ini”
Semua orang pun berfoto bersama dan di abadikan oleh sang fotografer dengan senang hati, berbagai gaya dari gaya formal hingga gaya yang begitu konyol pun tak luput dari bidikin sang fotografer profesional.
“Dek, tolong panggilkan Hasan” desis Adrivan saat keduanya duduk berdua, sementara yang lain telah menuju stand jamuan di sudut ruangan.
“Kenapa mas? Ada yang sakit?”
Tanpa banyak biacara Nania pun beranjak dari duduknya dan mendekati Hasan yang tengah mengantri untuk mengambil hidangan yang telah tersedia,
“Hasan” panggil Nania membuat semua orang menoleh ke arahnya.
“Kenapa mb?”
“Sling armnya mas Rivan mana? Tolong pasangkan”
“Oh ya, sebentar mb” Hasan pun keluar dari antrian dan mengambil sling arm di tempatnya duduk tadi kemudian mendekat ke arah Adrivan yang tengah duduk bersandar menahan sakit.
“Mas, gimana?”
“rasanya ga nyaman San” keluh Adrivan dengan wajah pucatnya pada sang perawat yang selama ini mengurusnya.
Dengan cekatan, Hasan pun memasang sling arm di lengan kiri Adrivan, agar lebih nyaman.
__ADS_1
“Sebaiknya kalian ganti baju dulu saja” ucap mama Dahlia tiba-tiba, mama Dahlia pun mendekat dan ingin melihat kondisi sang putra saat melihat Nania memanggil sang perawat.
“tapi ma” ucap Nania ragu, melihat semua orang masih berkumpul di sana. Rasanya tak enak harus meninggalkan semua tamu yang masih berada di sana.
“Tak apa sayang, hanya berganti pakaian, pakailah yang lebih santai, acaranya kan tinggal jamuan saja” timpal mama Nita yang ikut mendekat.
“Iya ma”
“San, tolong bantu Rivan ganti baju dulu, biar Nania juga ganti baju di kamarnya”
“Baik dok” Hasan pun mendorong kursi roda putra dari bosnya menuju kamar tamu yang tak jauh dari ruangan tempat berlangsung acara sementara Nania berlalu ke kamarnya untuk mengganti dress yang ia kenakan dengan gaun yang lebih simple agar lebih leluasa bergerak.
Tak berapa lama kemudian Nania pun turun ke lantai dasar hanya dengan dress simple di bawah lutut, kemudian ia pun menyusul sang suami yang masih berada di ruang tamu setelah menanyakan keberadaan sang suami kepada orang tuanya.
“Mas” panggilnya pelan saat membuka pintu kamar tamu.
Terlihat Adrivan tengah duduk di ranjang dengan Hasan yang berada disisinya bersiap membantu Adrivan mengenakan bajunya.
“Biar saya saya San” tawar Nania mendekati sang suami.
“Baik mb” Hasan pun menurunkan tangannya dan menyerahkan baju yang akan ia pakaikan untuk putra bosnya pada Nania.
“Kamu bisa melanjutkan makanmu San, Mas Rivan biar sama saya”
“Baik mb, mb sudah bisa memasang sling armnya kan?”
“Sudah, terimakasih ya, kamu bisa keluar untuk melanjutkan makan, jangan sungkan untuk makan yang banyak ya”
“siap mb” Hasan pun tersenyum lebar , kemudian pamit undur diri meninggalkan sepasang pria dan wanita yang baru saja menjadi suami istri itu di dalam kamar.
“Maaf ya dek” ucap Adrivan merasa tak enak karena di hari bahagia mereka, malah sang istri kini harus merawatnya
“Maaf kenapa sih mas?”
“Harusnya kita masih duduk di sana dan ikut menikmati acarannya”
“Kita bisa ke sana setelah ini mas”
__ADS_1
Tbc