
🌼Happy Reading🌼
Nania tersenyum meihat ID pemanggil yang muncul di layar ponselnya, baru saja mau menghubungi, eh sang pujaan hati sudah menelepon terlebih dahulu, membuat Nania terkikik, 'benar-benar jodoh kali ya'
“Assalamu’alaikum” jawan Nania dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
“Wa’alaikumusalam dek” wajah yang begitu tampan itu pun memenuhi layar ponsel Nania
“Kenapa mas?”
“Kangeeeennn!!!” rengek Adrivan dengan sorot mata sendunya.
“Lebay kamu mas” jawab Nania mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya, sungguh ia juga merindukan kekasihnya ini.
“Ga lebay sayang, sumpah deh, mas kangen” Adrivan merengek menampilkan wajah melasnya, di tambah tangan kirinya yang masih diperban membuatnya begitu tampak menyedihkan.
Wajah Nania semakin merona mendengar panggilan sayang yang baru saja kekasihnya ini lontarkan. Rasanya benar-benar mendebarkan jantungnya dan ada desiran halus yang menggetarkan hatinya. Rasa yang sungguh berbeda saat mantan kekasihnya dulu memanggilnya dengan panggilan sayang khusus untuknya. Dulu rasanya tak semendebarkan ini, tak terdengar biasa, tapi mendengar dari pria yang menghubunginya saat ini memanggilnya sayang, membuatnya tak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya.
“kok kamu jadi bucin gini sih mas?” Nania tergelak melihat sisi lain dari Adrivan, sosok yang biasanya galak dan jahil kini menjelma begitu manja dan bisa di katakan kekanakan.
“dari dulu sebenarnya udah bucin dek, kamu aja yang ga nyadar?” kini Adrivan mencebik kesal karena di ledek kekasihnya.
“gimana mau sadar kalau hampir tiap hari ngerjahilin aku terus, ya kan bikin sebel tho ya”
“lha habisnya gemes kalau ga jahilin kamu” sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu tertawa lebar saling melontarkan ledekan dan candaan.
“Mas sama siapa di rumah? Mama di rumah?”
“ndak sayang, mama pergi sama bibi, belanja untuk besok, aku di rumah sama Hasan.”
“Hasan?” dahi Nania mengerut karena tek mengenal nama yang baru saja di sebut.
“hmm” Adrivan mengangguk, “perawat mama di klinik”
“Oh, ya Alhamdulillah kalau ada perawat di situ, mas masih harus banyak istirahat”
“Mas pengen kamu aja dek yang rawat, “
“Maaf ya mas, Nia ga boleh ke sana mama papa”
Jawaban Nania membuat Adrivan semakin cemberut, ‘kenapa juga Nia di larang ke sini’, “mama papa juga juga udah wanti-wanti mas, kalau ga boleh panggil kamu ke sini”
Nania pun kembali tertawa, kenapa ia baru menyadari kekasihnya ini begitu menggemaskan di balik wajah tampan dinginnya.
__ADS_1
“Ga sabar buat halalin kamu dek”
“Lah kemarin aja bilangnya nunggu pulih dulu mas?’
Adrivan memanyunkan bibirnya, “ya habis kalau masih kaya gini nanti di foto kelihatan jelek dek, ya kali masmu yang tampan dan gagah ini saat nikah duduk di kursi roda”
“Astaghfirullah, jadi itu alasan mas?”
Adrivan mengangguk, “mas sih aslinya pengen halalin kamu lama dek, tapi ya kamunya aja yang ga peka perasaan mas dek”
“haha…. Maaf mas, Nia kemarin bener-bener anggep mas itu cuma sahabat masa kecil Nia, tapi ga tau aja kok sekarang jadi mau jadi kekasih mas”
Obrolan mereka berlanjut hingga tak sadar waktu telah menunjukan tengah hari, dan waktunya Adrrivan meminum obatnya.
“Maaf mas, mas Rivan harus makan dan minum obat dulu” Hasan mendekati Adrivan yang terbaring sembari menatap layar ponselnya.
“udah jam berapa sih ini? Kamu ganggu tau San”
“maaf mas, sudah jam 11 ini, jadi sebaiknya mas segera makan dulu” perawat itu pun meletakan nampan berisi makan siang Adrivan di atas nakas.
“mas makan dulu gih, Nia juga mau temenin Kak linda makan dulu”
Adrivan menghela nafas, rasanya masih ingin mengobrol namun tanpa ia sadar ternyata mereka sudah megobrol begitu lama. “iya, makan yang banyak ya, maafkan mas yang membuatmu lelah dek” ungkap Adrivan tak enak hati, selama berhari-hari begitu egois meminta kekasihnya menemani dan merawat dirinya, bahkan kini saat sudah di rumah ia masih begitu manja padanya.
“Iya sayang, mas mau makan dulu, nanti mas telpon lagi”
“iya mas, habis dzuhur mas istirahat dulu ya mas, Assalamau’alaikum”
Adrivan menjawab salam dari sang kekasih lalu menutup panggilan telepon itu dengan tak rela.
Sementara Hasan sedari tadi hanya memperhatikan dengan menahan tawa, tak menyangka anak pemilik klinik tempatnya bekerja bisa sebucin ini dengan kekasihnya.
***
“Bagaimana Rivan hari ini San?” tanya mama Dahlia saat tiba di rumah,
Seharian ia dan asisten rumah tangganya berkeliling mencari barang-barang untuk seserahan dan baru pulang saat menjelang waktu makan malam.
“Mas Rivan hanya tiduran dok, setengah hari tadi malah cuma video call an sama mb Nia dok”
“Ga aneh-aneh kan?”
“Ndak bu, ya hanya uring-uringan saja, tapi tidak beranjak dari tempat tidur selain ke kamar mandi dan shalat”
__ADS_1
“Syukurlah, terimakasih ya sudah menjaga Rivan, anak itu begitu manja kalau sedang sakit”
“Sama-sama dok”
“Baiklah, kamu boleh pulang, besok pagi ke sini lagi, selama Rivan belum sembuh, kamu langsung ke sini saja, tidak perlu ke klinik”
“Baik dok”
Perawat mama Dahlia itu pun segera berpamitan setelah menyampaikan kondisi Adrivan seharian ini, tanpa ada yang di tutupi bahkan saat mama Dahlia menanyakan bagaimana tingkah putranya saat video call an dengan calon menantunya, Hasan menceritakan Adrivan yang merengek begitu manja ,dan terkadang kesal hingga tertawa.
Mama Dahlia pun tersenyum mendengar laporan perawatnya, hingga sang suami yang telah kembali pulang saja merasa heran karena mama Dahlia tersenyum sendiri sedari tadi tanpa menyadari kehadirannya.
“Mama kenapa sih?”
Suara tegas yang begitu di kenal mama Dahlia membuatnya begitu terkejut hingga menyadarkannya dari lamunan memikirkan putranya.
“ih, papa kok sudah pulang? Kapan masuknya?”
“sudah dari mah, suami pulang bukannya di sambut pelukan malah senyam-senyum sendiri” ucap papa Ryan pura-pura kesal.
“hehe, maafkan mama pa, mama lagi mikirin Rivan” mama Dahlia pun mendekati sang suami lalu mencium takzim punggung tangan suaminya yang di balas dengan kecup di dahinya.
“kenapa dengan Rivan?”
“tadi Hasan cerita, Rivan begitu bucin pa sama Nania, mereka video call dari pagi sampai siang pa, dan Rivan selalu merengek dan kesal karena tak diijinkan bertemu dengan Nania”
Papa Ryan yang mendengar cerita sang istri pun tersenyum, “sudah papa duga ma, semalam tidur saja sudah ngigau, apalagi ini ma"
Sepasang suami istri itu terkekeh mengetahui tingkah putra semata wayangnya, namun rasa bahagia menyelimuti keduanya.
"Lalu bagaimana persiapan besok ma?"
"sudah oke kok pa, besok tinggal bungkus aja"
"hmm, alhamdulillah"
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩
Love you all 😍😍😍
__ADS_1