Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 57


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Ruangan yang tak dipakai untuk tidur selama 2 bulan ini akhirnya akan kembali terpakai. Ruangan dengan warna kombinasi warna pink dan biru yang soft itu terlihat sangat girly dengan sticker dinding bunga di salah satu sisinya.


“Setelah sekian lama akhirnya mas bisa masuk kamarmu dek?” gumam Adrivan pelan saat pertama kali melangkahkan kakinya ke dalama kamar pribadi sang istri sebelum menikah dengannya.


“Girly banget ya?” timpal Nania yang mendengar ucapan sang suami.


“hmm, tapi mas suka, warnanya ga mencolok”


“ga seluas kamar mas, tapi Nia paling nyaman di sini”


“Hmm, tentu saja, mas suka dengar cerita kalau kamu suka menghabiskan waktu di kamar waktu hari libur, meski hanya duduk di balkon” kedua tanganya memeluk Nania dari belakang, memberikan rasa nyaman.


“Mas tau?”


“Hmm, kamu tau mas sudah sudah tergila-gila padamu sejak dulu, jadi informasi kebiasaan mu selalu mas cari tau, terimakasih sayang sudah mau menjadi istri mas”


“Hmm, Nia yang berterimakasih karena mas begitu setia, dan menjaga hati mas hanya untuk Nia”


“Setelah kondisi mas lebih baik, kita liburan yuk, honey moon” keduanya kini duduk bersandar di tempat tidur, sembari berpelukan.


“hmm, boleh, Nia ikut saja, yang penting urusan kerjaan mas juga ga terbengkalai”


“ndak sayang, lagi pula juga ada Riko yang bantu mas, dia bisa handle kerjaan mas dengan baik”


“Tapi ya tetap saja, kasian kalau sering mas tinggal, cuti karena sakit ini aja sudah cukup membuatnya repot kan?”


“hmm, kau benar, kita liburan deket sini saja, ga usah keluar negeri”


“kita ke resort yang mas bangun kemarin aja sudah selesai pembangunan kan?”


“hmm, boleh, bulan depan peresmian jadi kita bisa ke sana meresmikan resort sekalian honeymoon”


“Hmm” Nania mengangguk kemudian semakin menenggelamkan kepalanya di dada sang suami, rasa lelah yang ia rasakan tak dapat membohongi fisiknya, hingga tak lama kemudian Nania terlelap dengan dalam dekapan hangat sang suami.

__ADS_1


“Ya Allah dek, rasanya pengen segera sembuh, lihat kamu gini tiap hari mas harus extra sabar dek” Adrivan mendaratkan kecupan di pucuk kepala sang istri kemudian ikut memejamkan matanya menuju ke alam mimpi.


***


Akhir pekan yang di nantikan akhirnya tiba, kediaman Rahardian tampak begitu ramai dengan kehadiran 2 keluarga yang merupakan besannya.


Setelah berbasa-basi sebentar semua anggota dari 3 keluarga itu pun menuju ruang makan di mana semua hidangan telah tertata.


“Silakan dinikmati hidangannya, jangan sungkan untuk menghabiskannya” mama Nita mempersilakan kedua besannya untuk menyantap makanan dia atas meja.


“Tapi di larang makan ca brokoli itu, karena itu khusus permintaan bumil kita” lanjut mama Nita mambuat sang menantu tersenyum sumringah.


“makan yang banyak sayang, mama dan papa ga akan minta makanan untuk cucu kita” timpal ibu Rani ibu dari Linda


“Duh, seneng ya akan ada bayi yang meramaikan rumah, ga sabar pengen punya bayi juga di rumah” timpal mama Dahlia dengan mata berbinar.


“Van, Nia jangan nunda untuk punya bayi ya” lanjutnya


Sontak saja ucapan sang mama membuat Adrivan yang tengah meminum air di gelasnya tersedak dan terbatuk, hingga mambuat Nania yang duduk di sampingnya mengusap punggung sang suamu berharap bisa meredakan batuk sang suami.


“Sabar dulu sih ma, Rivan kan juga belum pulih kondisinya” timpal sang papa yang melihat wajah sang putra memerah karena batuknya.


“iya iya pa, mama tau, hanya bilang untuk jangan nunda, gapapa kan Nit?” jawab mama Dahlia agak sewot kemudian meminta pembelaan besannya.


“Iya, mama seneng aja kalau kalian juga kasih cucu , biar tambah ramai ini rumah” jawab mama Nita dengan antusias pula,


Para wanita begitu antusias membahas calon cucu mereka, sementara para pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepala sambari tersenyum melihat kehebohan para istrinya, meskipun tak dapat di pungkiri kalau mereka pun juga mengharapkan cucu yang banyak dari anak-anaknya. Di usia senja mereka nanti berharap rumah tak lagi terasa sepi dengan teriakan atau tawa anak-anak yang menemani mereka.


Obrolan sembari makan malam pun berlanjut karena kesan santai dari semuanya, lalu papa Doni meminta semuanya beranjak ke ruang keluarga setelah hidangan utama di meja makan telah habis dan meminta asisten rumah tangga untuk menyajikan cemilan dan minuman pendamping untuk mereka.


“Jadi kapan baikknya kita menggelar acara resepsi mereka Yan?” tanya papa Doni mengawali pembicaraan serius yang akan mereka bahas.


“jadi bersamaan dengan acara 7 bulanan nya Linda?”


“Bagiamana menurut Pak Bagas?”

__ADS_1


“Tidak masalah, mungkin sekalian keluarga kita kumpul juga, jadi sekali waktu”


“acara 7 bulan di rumah, resepsi di hotel, biar tak terlalu memforsir tenaga juga” timpal mama Nita yang mengkhawatirkan keadaan sang menantu.


“iya, saya setuju, semua acara serahkan WO saja” timpal Rani memberikan persetujuan.


“Kalian ingin konsep 7 bulanan yang bagaimana Kak?”


“Sederhana saja ma, cukup pengajian tidak usah mewah-mewah, undang tetangga dan anak-anak dari panti sepertinya cukup.” Usul Nando kemudian menatap sang istri yang tersenyum hangat, menyetujui usulan suaminya.


“Hmm, tidak masalah kalau gitu, takut Linda juga capek juga, kalau masalah waktu, sehari sebelum resepsi terlalu capek tidak?”


“Tidak apa sih, acara kajian sore, lalu resepsinya besok siangnya, sepertinya juga tak apa, ini kan tinggal acara resepsi, tak perlu pakai adat kan?’


“Ndak usah ma, kita ambil tema internasional aja, kalau bisa sebenarnya Nia ga ingin terlalu besar acaranya” timpal Nania menjawab pertanyaan orang tuanya.


“Rivan? Setuju juga?”


“Rivan ikut maunya Nia aja pa, kemarin sebenarnya Nia juga bilang tak masalah kalau tak ada resepsi, tapi Rivan yang bersikeras ingin mengadakannya, sekaligus mengumumkan ke public kalau kami sudah menikah”


Semua orang tua mengangguk menerima usulan sepasang pengantin baru itu.


“hmm, cuma sepertinya acara akan tetep mengundang banyak orang dek, kamu tau kamu putri papa satu-satunya, dan lagi anak bungsu, dan juga Rivan anak tunggal, jadi jangan protes kalau kami akan mengundang banyak orang, terutama kolega bisnis papa dan papa mertuamu, mereka juga perlu diundang.” Timpal papa Doni.


“Hmm, iya pa, Nia ngerti, makanya Nia pengen temanya internasional saja, agar lebih santai juga, mungkin teman -teman Nia juga akan Nia undang, walau hanya beberapa”


“hmm, oke, kita tentukan saja tanggalnya, Dahlia apa dalam 2 bulan ke depan Rivan sudah bisa pulih?”


“Sepertinya sudah Don, meski belum bisa buat lari setidaknya kakinya sudah bisa menopang tubuhnya berdiri lama”


“Gimana Nan, Van, 2 bulan lagi siap?”


“Iya pa” jawab keduanya kompak membuat semua orang tersenyum,


Tbc

__ADS_1


__ADS_2