Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 58


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Setelah diskusi panjang yang mereka lakukan, tanpa terasa malam sudah semakin larut, hingga akhirnya Papa Doni meminta besannya untuk menginap di kediaman Rahardian.


“Kami pulang saja Don, rumah juga cuma sebelah ini” tolak papa Ryan pada permintaan sahabat sekaligus besannya itu.


“sesekali kenapa sih Yan, jarang-jarang kita kumpul bersama gini, lagi pula besok juga minggu, kita bisa jalan pagi bersama-sama, pasti menyenangkan”


“ide yang bagus, ke taman kompleks sepertinya enak, sekalian hunting sarapan” timpal Pak Bagas


“kita bisa janjian kalau seperti itu”


“Turuti saja pa, sesekali kita nginap di sini” ucap mama Dahlia membuat papa Ryan tak melanjutkan ucapannya, karena sang ratu sudah menyampaikan pendapatnya.


“Baiklah”


***


Keesokan harinya setelah ibadah subuh berjamaah, semuanya bersiap untuk jalan-jalan pagi untuk menghirup udara segar, sekaligus untuk mencari sarapan nanti di taman kompleks sesuai rencana mereka semalam.


“Rivan kuat jalan sampai taman?” tanya mama Nita yang masih khawatir dengan kondisi sang menantu.


“InsyaAllah ma, nanti kalau ga kuat bisa berhenti dulu, ini juga buat latihan kaku Rivan.”


“ya, baiklah kalau gitu, kalau ga kuat bilang ya, nanti biar Pak Joko menjemputmu pakai mobil”


“iya ma,”


Semuanya mulai melangkahkan kakinya keluar rumah, mereka berjalan bergerombol sembari bercengkrama dengan rombongan para wanita di depan, dan pasangan pengantin baru berada paling belakang.


Sepanjang perjalanan menuju taman kompleks yang letaknya cukup jauh, mereka menyapa tetangga mereka yang terlihat sedang beraktivitas pagi, ada pula yang ikut berjalan ke arah taman dan bergabung dengan rombongan keluarga itu.


“Rivan sudah sembuh ya?” tanya salah satu tetangga yang melihat rombongan keluarga itu berjalan.


“Alhamdulillah pak,”


“Alhamdulillah, seneng lihatnya sudah bisa jalan-jalan gini,”


“Iya pak, terimakasih berkat doa bapak juga”

__ADS_1


Pria paruh baya itu pun tersenyum dan ikut berjalan bersisihan dengan keluarga besar Rahardian.


Suasana penuh kehangatan menyertai perjalanan mereka, lingkungan yang ramah membuat semua orang betah di sana, meskipun warga kompleks memiliki kesibukan masing-masing, tapi mereka tetep menjunjung tinggi sikap sosial mereka, dan aturan yang mereka buat untuk mengeratkan kekeluargaan di kompleks tempat tinggal mereka adalah harus mengenal semua warga kompleks tanpa terkecuali, dan dalam waktu 2 bulan sekali di adakan pertemuan rutin.


“Wah sudah ramai rupanya, padahal masih pagi sekali” takjub Rani yang baru kali ini menikmati pagi hari di taman kompleks perumahan besannya.


“Iya bu, aktivitas warga kompleks di sini memang seperti ini, jadi kami seneng di sini”


“Iya, jadi akrab malahan”


Setelah tiba di taman para wanita pun memilih meluruskan kaki mereka di bawah pohon yang rindang, dengan beralaskan tikar yang mereka bawa, sementara para pria memilih untuk joging mengelilingi taman, kecuali Rivan yang tampak ikut meluruskan kakinya yang sudah ia pakai bekerja keras di tengah masa pemulihannya.


“Kamu tak apa Van?” tanya mama Dahlia melihat sang putra yang tampak kelelahan.


“gapapa ma, hanya capek”


Nania pun bangkit dari duduknya setelah membantu sang suami duduk dengan nyaman, ia melangkahkan kakinya dan membeli beberapa botol minuman untuk anggota keluarganya di salah satu stand minuman di sana.


Di salah satu sudut taman memang terdapat stand yang menjual berbagai makanan maupun minuman dan semuanya tampak menggiurkan untuk di coba. Nia pun memesan sepiring besar gorengan hangat untuk menemani mereka beristirahat, sembari menanti para pria menyelesaikan jogging mereka.


“Ini minum dulu mas” Nania menyodorkan sebotol minuman untuk suaminya yang menyandarkan tubuhnya di batang pohon.


Nania pun mempersilakan para mama dan kakaknya untuk minum juga, dimana semua minuman yang ia bawa tadi ia letakan di tengah tikar, karena para wanita itu sedang melakukan gerakan olahraga ringan di dekat tikar mereka.


“Ini mb Nia, gorengannya” ucap seorang ibu paruh baya yang mengantarkan sepiring gorengan pesanan Nania,


“Terimakasih bu” Nania menerima priring itu dengan sumringah, ingin segera menyantap hidangan hangat yang tampak menggoda itu.


“Ma, kak, Nia pesen gorengan nih, mau ga?'’ ucap Nia agak keras kepada keempat wanita yang tak begitu jauh darinya.


“Wah…., mau dong!!” ucap Linda antusias yang langsung menghentikan gerakan olahraga ringannya.


“Kok cuma pesen segini dek?” celetuk si bumil setelah mencuci tangannya dan beralih ke tikar mereka.


“Kurang kak?”


“hmm” Linda mengangguk sembari makan, memang nafsu makan bumil ini sangatlah banyak mambuat orang lain tertegun akan porsi makannya, namun di sisi lain mereka yang melihat juga merasa senang, karena banyak juga ibu hamil yang bahkan tak sanggup makan apapun dan mambuatnya lemas.


“Jangan banyak-banyak Lin, imbangi dengan makanan lain juga” tegur Dahlia yang kemudian ikut mencomot gorengan di piring.

__ADS_1


“Iya tan” Linda meringis mendapat teguran dari sang dokter.


“Nia akan pesen yang lain aja kak, itu banyak makanan, kakak mau bubur?”


“ndak ah, pesankan kakak soto saja, sepertinya lebih enak”


Nania pun bangkit kembali dan menanyai satu persatu menu yang ingin di makan keluarganya, dan saat akan beranjak, rombongan para pria pun tengah mendekat ke arah mereka duduk, dan meminta di pesankan sekalian.


“Pindah ke kompleks sini kayanya enak ma” celetuk Pak Bagas setelah meneguk minuman dalam botol yang di sodorkan istrinya.


“Lah, rumah kita mau di buat apa pa?”


“Ya besok kasih kan anaknya Linda aja” lalu menoleh ke arah besannya “besan, di sini masih ada rumah kosong ndak?”


“hmm, besan mau pindah sini?”


“Iya kalau ada, suasana kompleks enak banget di sini.”


“Ya tinggal di rumah Nando aja pa, semenjak Linda hamil Nando sama Linda tinggal di rumah papa Doni” tawar Nando pada sang mertua, yang kebetulan juga mempunyai 1 unit rumah di kompleks yang sama.


“Ya kalau bisa rumah kosong aja, rumah itu biar buat kalian aja”


“Sepertinya ada tapi di dekat gerbang pak, agak jauh dari rumah kami” timpal papa Ryan yang sempat mendapat informasi kalau salah satu rumah di bagian depan belum lama ini pindah ke luar negeri dan berniat menjual rumahnya.


“wah boleh tuh, pemiliknya di mana?”


“saat ini sudah tidak di tempati, cuma sudah bilang ke pengurus kompleks kalau ada yang mau menawar untuk membeli minta di urus pengurus kompleks”


“gimana ma? Mau ndak?”


“Terserah papa saja lah, mama mah juga seneng nanti dekat sama cucu kalau tinggal di kompleks yang sama”


“Iya nanti kita bisa ajak cucu kita main sama-sama kalau dekat gini” antusias mama Nita akan rencana kepindahan besannya itu.


Rani mengangguk meyetujui ucapan mama Nita. Tersenyum senang membayangkan bagaimana ia akan terus berada di dekat anak cucunya.


“Wah bakal rame, kita besanan cuma satu komplek gini” celetuk papa Doni membuat semua orang tertawa.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2