Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 53


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Tampak semua orang telah berkumpul di meja makan dalam kondisi yang sudah rapi, hanya papa Doni saja yang masih mengenakan pakaian santainya. Sesuai rencana sebelumnya kalau kedua adik papa Doni beserta keluarganya akan kembali ke rumah mereka masing-masing, dan papa Doni meminta mereka untuk berangkat menggunakan pesawat pribadinya.


Setelah menyantap sarapan dan berbasa-basi sebentar satu persatu keluarga uncle Ferdinand dan Uncle Bram kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang mereka.


Mereka pun berpamitan sembari berangkulan kepada pasangan pengantin baru itu, karena mama Nita dan papa Doni beserta Nando dan istri akan ikut mengantarkan ke bandara kebetulan Linda menginginkan makan roti yang di jual di bandara, makanya sekalian ikut mengantar karena ingin makan dalam kondisi hangat.


“Maafkan Nia dan Rivan ya karena tak bisa mengantar kalian ke bandara” ucap Nania sendu melihat keluarga besarnya akan meninggalkan kediaman Rahardian.


“Gapapa sayang, semoga Rivan cepat sembuh ya, nanti kalian bisa liburan ke rumah tante” jawab tante Tari.


“Kita bakal pulang ke sini lagi saat resepsi kalian nanti,” lanjut tante Dea


“Rumah akan kembali sepi dong,” Nnaia semakin cemberut


“Kalau kakak sudah lebih baik, berkunjung ke rumah ya kak, sama bang Rivan juga” lanjut William dengan ragu, pasalnya ia tau ketakutan kakak sepupunya ini saat kembali ke negara di mana ia dan keluarganya tinggal.


“Iya kak, kakak jangan khawatir soal cowok b****k itu, papa dan kak Willy sudah membereskannya, jadi kakak tak perlu takut” timpal John


“Ke tempat Dimas aja kak, sudah 2 tahun kakak di rumah Uncle Ferdi, jadi gantian di rumah Dimas dong” Dimas tak mau kalah mengajak kedua kakaknya itu untuk berkunjung ke rumahnya.


“Iya, nanti abang ajak kakak kalian berkunjung, semoga kondisi Abang segera pulih dan kita bisa liburan bersama nanti” Adrivan mewakili sang istri menjawab permintaan para adik sepupunya, karena saat ini sang istri tengah mencoba menahan air matanya.


“Saatnya kita berangkat, Tomy sudah hubungi papa kalau pesawat sudah siap” papa Doni pun memecahkan suasana sedih di antara mereka, kemudian mengajak semua anggota keluarga kecuali putri bungsu dan menantunya masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan teras.


Suasana seketika hening saat beberapa mobil meninggalkan kediaman Rahardian.


“Yach sepi lagi deh, ayuh masuk mas” Nania mendorong kursi roda sang suami menuju ruang keluarga, dan mambantunya untuk duduk nyaman di sofa sembari menonton tv.


“Kamu kemasi barang-barang mu ya dek, kita pulang ke rumah, Riko sebentar lagi akan ke sini untuk jemput kita”


“Iya mas, Nia berkemas dulu”


Adrivan pun mengangguk lalu menikmati acara televisi sembari menunggu Nania kembali kamarnya.

__ADS_1


Nania menghela nafas setalah selesai berkemas, memandang ke semua sudut kamarnya, kamarnya akan ia tinggalkan lagi, dan mungkin hanya akan mereka tempati jika berkunjung ke rumah Rahardian. Statusnya telah berubah, kini ia sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemanapun suaminya tinggal.


Nania cukup bersyukur karena ia hanya pindah ke sebelah rumah, di mana saat masa kecil dulu ia pun sering main ke sana atau bahkan menginap jika kedua orang tuanya pergi keluar kota tanpa mengajaknya.


‘lucu ya, pindahnya cuma ke sebelah aja, kaya lagu aja sih , pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah, eh tapi statusnya beda, bukan pacar tapi udah suami, hihi, aduh ga nyangka banget sih, suamiku deket banget' Nania terkikik sendiri di kamarnya memikirkan takdir yang di gariskan untuknya.


Meskipun terlihat lucu, ia sangat bersyukur karena Allah menjodohkannya dengan orang yang selama ini begitu ia kenal, pria yang bertanggung jawab dan akan selalu melindunginya.


Huff


“bye… bye kamarku” Nania pun menutup pintu kamarnya dan meyeret koper besarnya meninggalkan kamar yang ia tempati sedari kecil, meskipun selama dua tahun ini tak ia tempati namun banyak kenangan yang tersimpan di dalam ruangan kecil itu.


“Saya bantu mb”


Ternyata Riko telah sampai di kediaman Rahardian dan melihat istri dari atasanya itu hendak menuruni tangga dengan menyeret koper besarya, lalu dengan sigap ia membantu membawakan koper yang menurutnya cukup berat itu.


“Terimakasih ya ko”


Keduanya pun menuruni tangga dan di sambut Adrivan yang telah duduk kembali di kursi roda dengan asisten rumah tangga yang berdiri di belakangnya.


“Iya mb, hati-hati, sering-sering main ke sini ya mb”


“Oh ya jelas bi, cuma sebelah ini” Nania kembali terkekeh,


Setelah berbasa-basi sebentar, mereka bertiga pun meninggalkan kediaman Rahardian menuju kediaman Erlangga yang hanya berjarak pagar.


“Lucu ya mas, kalau pengantin baru itu pindahan itu di antar mobil, lah kita cuma jalan kaki” Nania terkikik sembari mendorong kursi roda sang suami, sementara Riko berjalan di sisi mereka dengan menyeret koper Nania.


“Lah, kamu ga mau pakai mobil, tadi mas sudah minta Riko bawa mobil lho, tapi kamu maunya jalan aja”


“Ya iyalah, mumpung masih pagi juga mas, rumah sebelah doang, pakai mobil segala, malah ribet naik turunin barang mas”


“Ya sebelah rumah, tapi kan halaman rumah lumayan luas dek, ga capek emang?”


“sekalian olahraga sih ma, ga sampai berkilo-kilo ini” jawab Nania masih dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


Yang mana senyumnya itu menular kepada dua pria yang berjalan bersamanya.


Tak butuh waktu lama mereka bertiga pun telah tiba di kediaman Erlangga dan sudah di sambut mama Dahlia dengan girangnya.


“Akhirnya kalian tiba juga, ayuh masuk”


“Papa sudah ke kantor ma?” tanya Nania yang tak melihat papa mertunya,


“Sudah sayang, habis sarapan tadi langsung berangkat, katanya ada meeting”


Riko pun langsung menyeret koper milik Nania ke kamar pribadi atasannya, dan bergabung dengan mereka di ruang keluarga.


“Kalian sudah sarapan?”


“Sudah ma, tadi sekalian rame-rame”


“Oh ya, tante dan om kamu sudah pulang ya?”


“Sudah ma, ini sedang di antar papa mama ke bandara”


“Ya sudah, mama seneng banget kamu sudah bisa tinggal di sini” mama Dahlia begitu excited saat menantu yang di nantikannya kini akan menetap di sini.


Kedua wanita itu pun begitu asyik bercengkrama sementara kedua pria yang tak jauh dari mereka sedang terlihat serius membicarakan pekerjaannya. Karena terasa begitu heboh dan takut mengganggu putranya mama Dahlia mengajak sang menantu ke gazebo dekat kolam renang untuk bersantai di sana.


“Setelah ini apa rencana mu sayang?”


“Masih belum tau ma, sementara Nia fokus rawat mas Rivan dulu”


“Apa kamu juga berencana kerja di perusahaan papa?”


“sejauh ini Nia kan hanya bantu-bantu saja ma, dari saham yang di kasih papa, memang hanya waktu tertentu aja Nia ke kantor papa, dan selama ini masih bisa Nania handle dari rumah, belum tau rencana kedepannya, nanti Nia diskusikan sama mas Rivan dulu”


“ya benar, semuanya harus kalian komunikasikan, mama juga tak bisa mengatur rencana kalian mau seperti apa”


TBC

__ADS_1


__ADS_2