
đźHappy Readingđź
Tampak semua orang telah berkumpul di meja makan dalam kondisi yang sudah rapi, hanya papa Doni saja yang masih mengenakan pakaian santainya. Sesuai rencana sebelumnya kalau kedua adik papa Doni beserta keluarganya akan kembali ke rumah mereka masing-masing, dan papa Doni meminta mereka untuk berangkat menggunakan pesawat pribadinya.
Setelah menyantap sarapan dan berbasa-basi sebentar satu persatu keluarga uncle Ferdinand dan Uncle Bram kembali ke kamar untuk mengambil barang-barang mereka.
Mereka pun berpamitan sembari berangkulan kepada pasangan pengantin baru itu, karena mama Nita dan papa Doni beserta Nando dan istri akan ikut mengantarkan ke bandara kebetulan Linda menginginkan makan roti yang di jual di bandara, makanya sekalian ikut mengantar karena ingin makan dalam kondisi hangat.
âMaafkan Nia dan Rivan ya karena tak bisa mengantar kalian ke bandaraâ ucap Nania sendu melihat keluarga besarnya akan meninggalkan kediaman Rahardian.
âGapapa sayang, semoga Rivan cepat sembuh ya, nanti kalian bisa liburan ke rumah tanteâ jawab tante Tari.
âKita bakal pulang ke sini lagi saat resepsi kalian nanti,â lanjut tante Dea
âRumah akan kembali sepi dong,â Nnaia semakin cemberut
âKalau kakak sudah lebih baik, berkunjung ke rumah ya kak, sama bang Rivan jugaâ lanjut William dengan ragu, pasalnya ia tau ketakutan kakak sepupunya ini saat kembali ke negara di mana ia dan keluarganya tinggal.
âIya kak, kakak jangan khawatir soal cowok b****k itu, papa dan kak Willy sudah membereskannya, jadi kakak tak perlu takutâ timpal John
âKe tempat Dimas aja kak, sudah 2 tahun kakak di rumah Uncle Ferdi, jadi gantian di rumah Dimas dongâ Dimas tak mau kalah mengajak kedua kakaknya itu untuk berkunjung ke rumahnya.
âIya, nanti abang ajak kakak kalian berkunjung, semoga kondisi Abang segera pulih dan kita bisa liburan bersama nantiâ Adrivan mewakili sang istri menjawab permintaan para adik sepupunya, karena saat ini sang istri tengah mencoba menahan air matanya.
âSaatnya kita berangkat, Tomy sudah hubungi papa kalau pesawat sudah siapâ papa Doni pun memecahkan suasana sedih di antara mereka, kemudian mengajak semua anggota keluarga kecuali putri bungsu dan menantunya masuk ke dalam mobil yang telah terparkir di depan teras.
Suasana seketika hening saat beberapa mobil meninggalkan kediaman Rahardian.
âYach sepi lagi deh, ayuh masuk masâ Nania mendorong kursi roda sang suami menuju ruang keluarga, dan mambantunya untuk duduk nyaman di sofa sembari menonton tv.
âKamu kemasi barang-barang mu ya dek, kita pulang ke rumah, Riko sebentar lagi akan ke sini untuk jemput kitaâ
âIya mas, Nia berkemas duluâ
Adrivan pun mengangguk lalu menikmati acara televisi sembari menunggu Nania kembali kamarnya.
__ADS_1
Nania menghela nafas setalah selesai berkemas, memandang ke semua sudut kamarnya, kamarnya akan ia tinggalkan lagi, dan mungkin hanya akan mereka tempati jika berkunjung ke rumah Rahardian. Statusnya telah berubah, kini ia sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemanapun suaminya tinggal.
Nania cukup bersyukur karena ia hanya pindah ke sebelah rumah, di mana saat masa kecil dulu ia pun sering main ke sana atau bahkan menginap jika kedua orang tuanya pergi keluar kota tanpa mengajaknya.
âlucu ya, pindahnya cuma ke sebelah aja, kaya lagu aja sih , pacarku memang dekat, lima langkah dari rumah, eh tapi statusnya beda, bukan pacar tapi udah suami, hihi, aduh ga nyangka banget sih, suamiku deket banget' Nania terkikik sendiri di kamarnya memikirkan takdir yang di gariskan untuknya.
Meskipun terlihat lucu, ia sangat bersyukur karena Allah menjodohkannya dengan orang yang selama ini begitu ia kenal, pria yang bertanggung jawab dan akan selalu melindunginya.
Huff
âbye⌠bye kamarkuâ Nania pun menutup pintu kamarnya dan meyeret koper besarnya meninggalkan kamar yang ia tempati sedari kecil, meskipun selama dua tahun ini tak ia tempati namun banyak kenangan yang tersimpan di dalam ruangan kecil itu.
âSaya bantu mbâ
Ternyata Riko telah sampai di kediaman Rahardian dan melihat istri dari atasanya itu hendak menuruni tangga dengan menyeret koper besarya, lalu dengan sigap ia membantu membawakan koper yang menurutnya cukup berat itu.
âTerimakasih ya koâ
Keduanya pun menuruni tangga dan di sambut Adrivan yang telah duduk kembali di kursi roda dengan asisten rumah tangga yang berdiri di belakangnya.
âIya mb, hati-hati, sering-sering main ke sini ya mbâ
âOh ya jelas bi, cuma sebelah iniâ Nania kembali terkekeh,
Setelah berbasa-basi sebentar, mereka bertiga pun meninggalkan kediaman Rahardian menuju kediaman Erlangga yang hanya berjarak pagar.
âLucu ya mas, kalau pengantin baru itu pindahan itu di antar mobil, lah kita cuma jalan kakiâ Nania terkikik sembari mendorong kursi roda sang suami, sementara Riko berjalan di sisi mereka dengan menyeret koper Nania.
âLah, kamu ga mau pakai mobil, tadi mas sudah minta Riko bawa mobil lho, tapi kamu maunya jalan ajaâ
âYa iyalah, mumpung masih pagi juga mas, rumah sebelah doang, pakai mobil segala, malah ribet naik turunin barang masâ
âYa sebelah rumah, tapi kan halaman rumah lumayan luas dek, ga capek emang?â
âsekalian olahraga sih ma, ga sampai berkilo-kilo iniâ jawab Nania masih dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
Yang mana senyumnya itu menular kepada dua pria yang berjalan bersamanya.
Tak butuh waktu lama mereka bertiga pun telah tiba di kediaman Erlangga dan sudah di sambut mama Dahlia dengan girangnya.
âAkhirnya kalian tiba juga, ayuh masukâ
âPapa sudah ke kantor ma?â tanya Nania yang tak melihat papa mertunya,
âSudah sayang, habis sarapan tadi langsung berangkat, katanya ada meetingâ
Riko pun langsung menyeret koper milik Nania ke kamar pribadi atasannya, dan bergabung dengan mereka di ruang keluarga.
âKalian sudah sarapan?â
âSudah ma, tadi sekalian rame-rameâ
âOh ya, tante dan om kamu sudah pulang ya?â
âSudah ma, ini sedang di antar papa mama ke bandaraâ
âYa sudah, mama seneng banget kamu sudah bisa tinggal di siniâ mama Dahlia begitu excited saat menantu yang di nantikannya kini akan menetap di sini.
Kedua wanita itu pun begitu asyik bercengkrama sementara kedua pria yang tak jauh dari mereka sedang terlihat serius membicarakan pekerjaannya. Karena terasa begitu heboh dan takut mengganggu putranya mama Dahlia mengajak sang menantu ke gazebo dekat kolam renang untuk bersantai di sana.
âSetelah ini apa rencana mu sayang?â
âMasih belum tau ma, sementara Nia fokus rawat mas Rivan duluâ
âApa kamu juga berencana kerja di perusahaan papa?â
âsejauh ini Nia kan hanya bantu-bantu saja ma, dari saham yang di kasih papa, memang hanya waktu tertentu aja Nia ke kantor papa, dan selama ini masih bisa Nania handle dari rumah, belum tau rencana kedepannya, nanti Nia diskusikan sama mas Rivan duluâ
âya benar, semuanya harus kalian komunikasikan, mama juga tak bisa mengatur rencana kalian mau seperti apaâ
TBC
__ADS_1