Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 56


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Menjelang waktu Maghrib, Nania menuntun sang suami untuk melangkah ke arah rumah yang berada di sebelah rumah yang ia tinggali selama 2 bulan ini.


“Loh mb Nia, Mas Rivan sudah sembuh?” sapa Pak Asep security di rumah Rahardian yang berjaga di pos depan itu melihat sang menantu majikan tak lagi menggunakan gips di kakinya.


“Alhamdulillah pak”


Dengan sigap, pak Asep membukakan gerbang kecil di sebelah pos dan mempersilakan putri bungsu dan menantu majikannya itu masuk.


“Perlu saya bantu mbak?”


“Ndak usah pak, lanjutkan saja tugas bapak, kami akan jalan pelan masuk ke rumah”


Langkah pelan mereka berdua membuat sang security mengembangkan senyumnya dan dengan tulus mendoakan kebahagiaan sang putri majikan. Merasa bersyukur setelah kejadian pengkhiatan yang membuatnya terpuruk kini putri bungsu pemilik rumah dapat tersnyum kembli dan sudah menemukan pendamping hidupnya.


“Assalamu’alaikum” salam keduanya saat memasuki rumah, terlihat dari pintu depan sang mama dan Linda sedang bercengkrama di ruang keluarga.


“Wa’alaikumusalam, sayang? Kalian datang?” girang mama Nita yang langsung berdiri menyambut keduanya.


“Rivan sudah lepas gips?”


“iya kak, tadi pagi baru di lepas”


“Alhamdulillah, semoga segera pulih ya”


“Makasih kak”


Keempatnya kini duduk bersantai di ruang keluarga sembari menunggu adzan maghrib berkumandang.


“papa belum pulang ma?” tanya Rivan yang tak melihat sang papa mertua.


“Sudah, masih mandi mungkin, balum lama juga pulangnya”


“hmm, kalian meginap di sini?” lanjut sang mama


“Iya ma, ada yang mau kita diskusikan sama papa mama juga, jadi sekalian nginep sini” papa Nania sembari mengusap perut kakak iparnya yang tampak membuncit.


“ih, kak, Nia gemes banget sih, Hallo baby, ini aunty lho”


Seer!!


“Kak…” takjub Nania karena pertama kali merasakan gerakan dari dalam perut sang kakak,

__ADS_1


“Hmm, kayanya baby seneng di usap auntynya” Linda ikut tersenyum melihat kegiranganna adiknya.


“ih, ga sabar nunggu kamu lahir dek, aunty tunggu ya, sehat-sehat di perut mama”


Nania yang begitu gemas pun fokus pada perut sang kakak, mengabaikan semua orang yang tengah menatapnya dengan senyum mereka.


“Kalian ke sini Van?” suara tegas yang begitu familiar terdengar dari arah tangga, membuat semua orang menoleh ke sumber suara.


“Iya pa, Nia kangen, sekalian ada yang ingin kami diskusikan pa” jawab Adrivan berdiri dan menyambut sang papa mertua untuk menyalaminya.


“Kamu sudah lepas gips?”


“iya pa, baru tadi pagi”


Sang papa pun memilih duduk di samping sang menantu menanyakan kondisinya. Namun tak lama kemudian terdengar kumandang adzan maghrib yang membuat semuanya menghentikan obrolan dan bersiap untuk menjalankan ibadah.


“Kamu sudah bisa shalat berdiri Van?”


“bisa pa, hanya memang harus pelan-pelan.” Jawab Adrivan yang kini berdiri menunggu sang istri yang akan memapahnya menaiki tangga menuju kamarnya.


“Kita shalat jamaah kalau sudah bisa”


“hmm, oke pa, Rivan akan coba” Rivan pun mengurungkan niatnya naik ke kamar sang istri.


“Dek, tolong panggil kakakmu, sekalian ambilkan pakaian untuk suamimu” pinta sang kepala keluarga Rahardian pada putri bungsunya, "biar papa yang bantu suamimu ke mushola"


“Maaf jadi merepotkan pa” ucap Adrivan merasa tak enak hati, yang di jawab dengan senyum papa Doni.


“Jangan sungkan nak, kami juga orang tuamu” timpal mama Nita yang berjalan berisisan dengan menantu pertamanya di belakanh mereka.


Tak lama kemudian Nania menyusul ke mushola bersama dengan kakak semata wayangnya, dan dengan segera ia pun membantu sang suami mengenakan pakaian koko dan sarungnya.


“Kamu yang imamin kak” pinta papa Doni pada putra sulungnya


“Iya pa”


Semua keluarga telah menempatkan diri dalam shof, dan beberapa pekerja pun tampak sudah berdiri untuk mengikuti shalat berjamaah.


Nando yang sudah berdiri di depan pun melihat ke belakang, memastikan makmum nya telah siap dan meluruskan shafnya.


***


“Mas ga usah naik dulu, habis ini kita makan malam dulu” Nania megambil alih membantu sang suami untuk ke ruang keluarga, setelah merapikan pakaian yang dipakai sang suami untuk beribadah.

__ADS_1


Adrivan hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya secara perlahan. “Kamu pasti capek dek”


Nania menggeleng seraya menampilkan senyum manisnya, senyuman yang begitu membuat Adrivan tergila-gila dan selalu membuatnya terpesona.


“Apa yang ingin kalian diskusikan?” tanya papa to the point setelah putri bungsu dan menantunya itu duduk di sofa.


Nando tampak ikut duduk setelah di beritahu sang papa, kalau adiknya ingin mengajak berdiskusi, sementara mama Nita sudah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.


Adrivan pun menoleh, menatap sang istri yang duduk di sampingnya, seolah bertanya siapakah yang akan menyampaikan pada papanya. Nania yang di tatap hanya mengangguk, mengijinkan sang suami yang berbicara.


“Mengenai resepsi kita pa, rencana awal kan tiga bulan setelah akad kami, berarti bulan depan, tapi sepertinya masih perlu di undur pa, maaf kondisi Rivan belum pulih benar, dan Nia ingin acara itu di gelar setelah kondisi Rivan sudah benar-benar sehat”


Papa menghela nafas, kemudian tersenyum senang dengan pikiran bijak anak dan menantunya.


“Papa tak masalah dengan di undurnya acara resepsi yang tidak sesuai dengan rencana awal, lagi pula kesehatan kalian lebih penting.”


“sepertinya mundur 1 atau 2 bulan juga tak masalah, tadi Willy telpon kakak pa, katanya juga bulan depan kemungkinan tidak bisa pulang ke sini, ada proyek besar yang mereka kerjakan dengan deadline bulan depan juga, lalu John juga akan sidang di awal bulan depan” timpal Nando seolah mendukung keputusan sang adik untuk memundurkan acara resepsi.


“Ya tak masalah, kalau begitu, kita undur saja, toh kita juga belum menghubungi WO yang akan menghandle acara” putus sang papa “tapi kalian sudah bicarakan dengan Ryan dan Dahlia?”


“Sudah pa, Rivan sudah bicara sama mama papa, mereka meminta kami untuk mendiskusikannya dengan papa”


“Ya sudah, akhir minggu ini ajak papa mamamu ke sini Van, kita diskusi lagi tanggal yang sesuai”


“Ya pa, terimakasih pa”


Semuanya tersenyum, “tapi kalau bisa jangan mendekati HPLnya Linda ya pa” Linda ikut menyela sembari mengusap perut buncitnya.


“Iya, semoga saja dalam 2 bulan ke depan kondisi Rivan sudah pulih, jadi kita bisa gelar resepsi, bisa juga di barengkan dengan acara 7 bulanan mu Lin”


“hmm, bisa juga pa, sekalian semuanya kumpul” Linda dan Nando tampak setuju.


“Yang penting besok akhir pekan kumpul dulu, baru kita putuskan, undang mertuamu sekalian Kak”


“iya pa, nanti Nando jemput papa mama ke sini”


“Ayo semuanya, makan malam sudah siap” ajak mama Nita kepada semua anggota keluarganya, setelah memastikan semua menu telah terhidang di meja makan.


“Mama masak apa?” tanya Linda begitu antusias, berharap requestnya tadi siang sudah di siapkan dimeja makan.


“sesuai permintaanmu sayang, mama ga mau cucu pertama mama ileran karena tak di turuti kemauannya”


Tbc

__ADS_1


__ADS_2