
🌼Happy Reading🌼
Tak berapa lama kemudian, Nania berhasil memasangkan pakaiaan untuk suaminya, entah kebetulan atau memang sudah di siapkan sebelumnya pakaian yang mereka kenakan berwarna senada meski hanya pakaian yang lebih santai.
“Pasti sedari tadi sudah menahan sakit ya mas?” tebak Nania saat melihat sang suami terlihat lebih nyaman dengan pakaiannya saat ini
“Tidak juga dek, hanya saya kurang nyaman, agak gerah juga dek”
“Hmm, ya sudah, sekarang kita keluar ya, kita makan dulu, Nia lapar mas, tadi tak sempat makan karena sudah make up sedari pagi”
“ya Allah, kasian sekali istri mas”
Nania pun merasa malu, begitupun dengan Adrivan yang merasa ada getaran yang berbeda saat ia menyebut gadis pujaannya sebagai istri.
“Ya Allah dek, ini beneran ga sih? kamu udah jadi istri mas” girang Adrivan saat melihat sang istri menunduk malu kemudian bersiap untuk memapahnya ke kursi roda.
“Ya bener dong mas, mas sendiri yang menjadikan Nia sebagai istri mas di dengan kalimat ijab kabul tadi”
Kini keduanya sama-sama berdiri dengan Nania menopang tubuh Adrivan, “Rasanya bagai mimpi dek, mas bener-bener tak menyangka”
“ah,,,sakit dek” erangnya saat Nania menggerakan lengan sang suami yang terluka.
“Sakit kan? berarti bukan mimpi” Nania hanya tersenyum jahil kemudian membantunya duduk di kursi roda.
Saat Nania akan berjalan ke belakang kursi roda, tangan kanan Adrivan pun meraih tangan sang istri dan menariknya ke arah bibirnya, seketika perlakuan itu menghentikan langkah Nania.
“Terimakasih ya dek”
Keduanya mata mereka bertatap dengan begitu mesranya, mengabaikan suara ketukan dari luar yang terus memanggil keduanya.
“Kak… !!!Abang!!! jangan lama-lama di kamar! masih siang!” teriak John di depan kamar tamu dengan tak tau malunya menggoda sepasang pengantin baru.
Cklek!
Sepasang suam istri yang baru saja meresmikan hubungan itu pun keluar dari kamar dengan santainya seolah olah tak terpengaruh dengan godaan adik sepupunya.
“kenapa teriak-teriak sih John?” tanya Nania gemas
Yang hanya di balas John dengan cengiran tanpa dosanya.
“Kakak sih lama di kamarnya, ini kan masih siang”
__ADS_1
“Memangnya kalau lama kenapa? ga bakal di gerebek kan? kan sudah sah” kini giliran Adrivan berucap membuat adik semakin tersenyum kikuk.
“Ya kan masih siang ini, jangan berduaan dulu lah”
“ya mau siang dan malam kan ga masalah” jawab Adrivan ambigu
“ya ga boleh dong, na----” John malah terlihat kesal dengan jawaban demi jawaban yang di lontarkan sang kakak sepupunya.
“Sudah ih, kalian ini, ayo ke sana, semua orang sudah menunggu, kakak juga lapar”
Nania mendorong kursi roda sang suami melewati John yang masih terpaku di tempatnya berdiri karena ucapannya di potong sang kakak.
“Kamu makan dulu dek, mas di sini aja”
“Nia ambil makan dulu mas” Nania pun meninggalkan pria yang beberapa waktu lalu telah resmi menjadi suaminya bersama dengan beberapa kerabatnya yang sedang duduk menyantap makanan mereka. Sementara John terlihat ikut mengambil makanan bersama para sepupunya.
Suasana rumah Rahardian masih begitu ramai karena rombongan kedua keluarga dan juga para tetangga masih berada di sana menyantap hidangan sekaligus bercengkrama dengan kerabat kedua keluarga.
“Gimana keadaanmu Van?” tanya papa Ryan yang mendekati sang putra,
“Sudah lebih nyaman pa, udah enakan”
“tak apa pa, Rivan masih kuat kok, papa tak perlu khawatir”
Di tengah obrolan keduanya Nania membawa sepiring nasi beserta lauk pauk dan segelas air putih di kedua tanganyya.
“Mas makan dulu” sela Nania yang belum menyadari kalau papa mertuanya ikut duduk di samping sang suami.
“Eh pa, maaf, sudah makan pa?”
“Sudah sayang, papa sudah makan tadi sama yang lain, kalian makanlah dulu”
Nania pun hanya tersenyum kemudian bersiap menyuapi pria yang duduk di depannya.
“Maaf ya pa, kita makan dulu” lanjut Nania tak enak hati, yang hanya di jawab anggukan dan senyuman dari sang papa mertua.
“Kok mas yang makan sih dek, katanya tadi kamu laper” tolak Adrivan.
“iya kita makan mas, ga lihat nih Nia ambil porsi yang banyak, aa..” Nania tetep menyodorkan sendok yang telah terisi kedepan mulut Adrivan.
Setelah Adrivan menerima suapan dari sang istri, tanpa sungkan pun Nania menyendokan makanan ke dalam mulutnya dengan sendok yang sama.
__ADS_1
“Mas ga masalah satu sendok dengan Nia kan?” tanya Nania saat akan kembali menyodorkan suapan kedua.
“ya ga masalah dek” ucap Arivan dengan senang hati menerima suapan keduanya.
Sikap romantis keduanya membuat papa Ryan yang masih duduk di sana menyunggingkan senyum lebarnya kemudian beranjak pergi tanpa berpamitan agar tak mengganggu makan romantis pasangan pengantin baru itu.
“Aku pikir kamu yang bakal jijik dek”
“Kenapa harus jijik, kita udah jadi suami istri juga kan, tak apa kan kita berbagi sendok”
Tampaknya keduanya tak menyadari kelau sedari tadi mereka begitu di perhatikan banyak orang, mereka seolah lupa bahwa mereka sedang menjadi bintang utama acara hari ini, bahkan saat sang fotografer membidik keromantisan keduanya pun mereka tak menyadarinya.
“Cie pengantin baru, pamer aja sih” celetuk John yag ikut nimbrung duduk di samping mereka di ikuti oleh William dan Dimas, bahkan Nando dan Riko pun ikut mendekat.
“Makan aja udah sepiring berdua” tambah Nando yang ikut mengoda
“Biar makin romantis mas” tambah Riko
Entah dasarnya mereka yang jahil atau memang sudah menjadi kesepakan para sudara Nania ini untuk menggoda sepasang pengantin baru itu.
“Nanti ga kenyang loh kak” tambah Dimas
“Porsi makana bang Rivan kan banyak sih kak” timpal William
‘Ganggu aja sih kalian, kalau saja bukan saudara Nia sudah aku sumpal tuh mulut’ gerutu Adrivan geram sembari mengunyah makanan yang telah di suapkan padanya. ‘saudara laknat emang’
Lain dengan Adrivan yang menggerutu kesal Nania hanya tersenyum malu.
“Kalian ganggu aja sih?” celetuk Adrivan karena sudah merasa kesal dengan godaan demi godaan dari saudara iparnya
Sontak saja para pria Rahardian plus asisten Adrivan itu tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat mempelai pria merasa kesal.
“Kalian ini jahil banget sih” Nania ikut menimpali kejahilan mereka meski dengan senyum lebarnya.
“Kalau ga gini ga afdhal kak” celetuk William saat melihat sepupu iparnya begitu geram.
Sesaat kemudian Adrivan pun tersenyum smirk, “Abaikan mereka dek, kita lanjut saja makannya, mereka hanya iri, sini aaa... lagi” Adrivan membuka mulutnya pertanda meminta disuapi kembali.
“Huu…!!!” sontak semua pria pun menyoraki mempelai pria itu, yang tadinta geram kini malah membalas dengan pamer kemesraan.
Tbc
__ADS_1