
***
Sa, bangun sayang udah jam 3 nih, katanya kamu mau pergi. teriak Mamanya sambil mengetuk pintu
Sasa yang mendengar teriakan itu langsung terbangun, lalu menuju kamar mandi.
Tak ada sahutan dari anaknya membuatnya kembali berteriak. "Sa, udah bangun belom?"
Udah, Ma. teriak Sasa dari dalam kamar mandi
Kali ini Sasa hanya mandi 10 menit berhubung ia takut Rafi akan datang dan membuatnya menunggu.
Sasa pun menuju lemari dan memilih-milih baju apa yang harus ia pakai. Akhirnya pilihannya jatuh pada rok plisket warna abu-abu dipadukan dengan tunik warna biru langit serta jilbab pasmina warna abu-abu.
Beberapa menit Sasa habiskan siap-siap, ia kemudian mengambil tas selempangnya dan tak lupa membawa dompet dan hpnya. Ia pun menuruni tangga rumahnya, ia pun menatap ruang tamu. Tapi tak orang di sana berarti Rafi belum dateng, untung deh setidaknya Sasa tak membuat orang menunggu lagi kali ini. Sasa pun menuju lemari sepatu dan pilihannya jatuh pada flatshoes warna biru langit. Penampilannya saat ini sangat cocok dengan suasana pantai.
Tak lama kemudian, Rafi sudah datang dan mengklaksonkan mobilnya membuat Sasa segera meminta izin pada Mamanya kemudian menuju di mana Rafi berada.
Rafi terlihat sangat tampan saat ini, ia menggunakan celana jins warna hitam, baju kaos warna putih dan jaket kekinian berwarna hitam tak lupa kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, Rafi terlihat sangat perfect. Emang bener yah banyak orang yang bilang kalau cowok memakai pakaian warna hitam dan putih, ketampanannya bertambah๐๐๐๐
Rafi yang melihat Sasa menuju mobilnya segera keluar dan membukakan pintu mobil, uhh Sasa yang diperlakukan seperti itu merasa jadi orang spesial.
Readers pasti juga ngera gitukan kalau dekat cogant๐๐๐๐
Makasih kak. Sasa pun memasuki mobil
Rafi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah Sasa masuk, ia pun segera mengintari mobil dan masuk ke dalam mobil.
Siap?? tanya Rafi menatap Sasa
Siap dong. Sasa antusias
Tanpa Sasa sadari pelakuannya yang seserdahana itu membuat Rafi deg-degan parah.
Enak yah readers disukain cogant๐๐๐ aku kapan yah๐๐๐haluuu๐ค๐ค๐ค๐ค
Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai juga.
Rafi segera turun dan membukakan pintu untuk Sasa.
Tak lupa Rafi menggenggam tangan Sasa, Sasa sudah terbiasa dengan perlakuan Rafi padanya. Jadinya ia fine-fine saja dan mengikuti kemana Rafi akan membawanya. Ternyata Rafi membawanya untuk mendekat ke pinggir pantai. Sasa memang sangat menyukai pantai, karena setiap ia berada di pantai, ia merasa lelahnya, masalahnya jadi sirna.
Rafi yang melihat Sasa yang begitu senang, ia berharap semoga senyum itu terus ada meski bukan dirinya yang menciptakan senyum itu. Ia akan berusaha membuat senyum tak pernah hilang. Melihat senyuman Sasa merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Rafi.
Rafi mendekat ke arah Sasa dan mencipratkan air ke wajah Sasa.
Ihhh kak Rafi, jail banget sih. kesal Sasa kemudian menjauh dari pinggir pantai
Yahh niatnya aku mau seneng-seneng tapi kamu malah gitu reaksinya. ucap Rafi pura-pura sedih sambil mengikuti Sasa
Sasa pun berbalik dan tersenyum kemudian menarik Rafi.
Sasa yang melihat ranting yang terdampar segera memungutnya, Rafi yang melihat tindakan Sasa membuatnya penasaran.
Tapi tak mau membuat Sasa kembali kesal ia pun pasrah mengikuti Sasa.
Kakak tunggu disini jangan berbalik, kakak boleh berbalik kalau Sasa udah suruh. perintah Sasa
Oke. ucap Rafi pasrah
Sasa pun mulai menggoreskan ranting tadi ke pasir dan membuat sebuah gambar yang berbentuk hati tak lupa menuliskan namanya dan nama Rafi. Ia melakukan ini sebagai ungkapan perasaannya pada Rafi.
Sasa pun menuju tempat Rafi berada.
Kakak boleh berbalik sekarang dan langkahkan kaki kakak sebanyak 2 langkah. perintah Sasa tersenyum
__ADS_1
Rafi yang tak mengerti akhirnya mengikuti saja. Namun, saat langkahnya sudah selesai. Tepat di depan kakinya ada gambar dan tulisan yang membuatnya sangat senang.
Maksud ini apa? Rafi pura-pura tak mengerti
Sasa yang tak menyangka reaksi Rafi seperti ini membuatnya kesal. " Ih nyebelin, masa gini aja nggak ngerti". Sasa mulai berbalik dan ingin meninggalkan Rafi
Rafi segera menarik tangan Sasa," Kamu hari ini suka ngambek, pms yah". ucap Rafi sambil menaikkan satu alisnya
Sasa cemberut kemudian memalingkan wajahnya.
Rafi tersenyum melihat tingkah sang pujaan hatinya itu, " terima kasih". Rafi menatap Sasa intens
Sasa yang mendengarkan perkataan Rafi akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum.
Kamu pengen makan sesuatu atau minum? tanya Rafi sambil menggenggam tangan Sasa
Beli es kelapa muda yuk. ajak Sasa
Yaudah. Rafi menuju stand penjual es kelapa muda
Mereka pun menikmati es kelapa muda di sore hari ini dengan angin pantai yang sangat sejuk serta gerakan ombak pantai yang berirama.
Keheningan melanda keduanya membuat Sasa canggung berada di situasi itu, akhirnya ia membuka suara.
Kakak kurang lebih satu bulan udah wisuda yah? tanya Sasa menatap Rafi
Iya. ucap Rafi singkat membalas tatapan Sasa
Kakak kalau udah lulus, mau lanjut S2 atau gimana? tanya Sasa dengan senyum yang tak luput dari wajahnya itu.
Maunya sih S2 dulu tapi keknya enggak deh soalnya Papa minta secepatnya aku gantiin dia di kantor. jelas Rafi kemudian memalingkan wajahnya karena menatap Sasa membuatnya deg-degan
Hemm, kita akan jarang ketemu dong. ucap Sasa menatap arah lain untuk menyembunyikan kesedihannya
Sesibuk-sibuknya aku nanti, aku akan berusaha meluangkan waktu agar kita bisa bertemu. Tenang aja aku masih di Indo kok. ucap Rafi terkekeh
Sa liat deh, senjanya bagus banget. ucap Rafi menunjuk langit karena ia tahu Sasa kepikiran tentang hubungan mereka kedepannya. Sebenarnya ia juga tak sanggup berjauhan tapi mau bagaimana lagi, jadi saat ini ia tak mau memikirkannya biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka saat ini.
Wahhh, bagus banget. Ini baru pertama kalinya aku liat senja di pantai. Soalnya kalau pergi, biasanya sebelum senja udah pulang. ucap Sasa
Mereka pun menikmati senja dalam hening.
Setelah senja berlalu mereka pun memutuskan untuk pulang.
Sasa yang melihat seorang anak kecil yang sedang menangis di tengah jalan dengan mobil yang berlalu lalang, ia pun memutuskan itu menolongnya.
Kakak tunggu di sini dulu yah. ucap Sasa yang segera berlari menuju anak kecil itu
Belum sempat Rafi menjawab Sasa sudah pergi. Namun, apa yang ia lihat saat menatap kepergian Sasa adalah disana Sasa sudah terlempar beberapa meter dari tempatnya tadi. Sedangkan anak kecil tadi berhasil Sasa dorong sebelum kecelakan itu.
Rafi yang melihat itu semua sangat syok bahkan ia terdiam mematung ditempatnya. Namun, saat kesadarannya telah kembali akhirnya ia segera menuju Sasa.
Sasa terlihat tak berdaya, wajahnya yang cantik terdapat beberapa luka di sana. Setengah jilbabnya sudah penuh dengan darah. Membuat Rafi merasa sangat bersalah, jika ia bisa memilih biarkan dirinya yang menggantikan posisi Sasa saat ini. Jika ia tahu akan seperti ini, ia tidak akan mengajak Sasa ke pantai. Namun, kembali lagi ia sadar bahwa takdir Tuhan tak akan bisa berubah.
Rafi kemudian mengangkat kepala Sasa dan meletakkannya di pahanya. " Sa, bangun Sa". ucap Rafi mengguncang tubuh Sasa tapi Sasa tak bergerak sama sekali membuat Rafi menangis terseduh-seduh
Banyak orang yang melihat kejadian itu dan turut bersedih.
Nak, sebaiknya kamu secepatnya membawanya ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat. Salah satu orang mengingatkan
Rafi yang mendengar itu segera mengangkat tubuh Sasa menuju mobilnya dan melajukan mobil menuju rumah sakit.
Bertahan Sa. ucap Rafi sambil menggenggam tangan Sasa
Aku tak sanggup kehilangan kamu, kamu harus kuat Sa. Rafi bermonolog tetap fokus pada jalan raya. Untungnya kondisi jalan raya sangat mendukungnya sehingga ia bisa cepat sampai di rumah sakit.
__ADS_1
***
Sesampainya di rumah sakit, Rafi segera mengangkat Sasa dan membawanya masuk ke rumah sakit.
Dokterr, Susterrrr. teriak Rafi
Kebetulan ada suster yang lewat. Suster itu segera melarikan Sasa ke dalam ruang rawat.
Rafi tak henti-hentinya menangis membayangkan kejadian tadi. Dirinyalah yang membuat Sasa berbaring di rumah sakit saat ini. Ini semua salahnya.
Argggggghhhh. teriak Rafi menjambak Rambutnya
Tak lama kemudian suster keluar dari ruangan dimana Sasa berada dengan gerakan tergesa-gesa.
Rafi yang melihat itu segwra berdiri dari duduknya dan mengahampiri suater. " Sus, bagaimana kondisi teman saya?" tanya Rafi khawatir
Saudari Sasa saat ini kritis, kami membutuhkan donor darah secepatnya. Saudari Sasa kehilangan banyak darah. Tapi di rumah sakit ini golongan darah AB sedang kosong. jelas dokter
Rafi sangat ingin mendonorkan darahnya tapi apalah daya, darahnya golongan A membuat Rafi menghembuskan nafas kasar.
Rafi yang sadar belum menghubungi keluarga Sasa, " Sus, saya akan segera menghubungi keluarganya". Rafi segera menelfon Anggi pasalnya ia tak memiliki nomor kedua orang tua Sasa
Suster hanya menganggukan kepala kemudian melanjutkan tugasnya.
drtdrtdrtdrt
Anggi yang sedang asik ngemil berhenti karena hpnya bergetar yang berarti ada panggilan masuk.
Anggi kemudian mengambil hpnya di atas nakas, ternyata yang menelfon adalah Rafi. Tak butuh waktu lama ia pun segera mengangkatnya.
Halo kak.
Anggi, Sasa kecelakaan. ucap Rafi membuat Anggi terkejut dan tanpa sengaja menjatuhkan cemilan yang dipegangnya.
Kakak jangan bercanda, nggak lucu kak. ucap Anggi tertawa
Aku sedang tidak bercanda. tekan Rafi
Anggi jadi mematung mendengar kabar itu,tak terasa air matanya luruh.
Nggi tolong hubungi keluarga Sasa dan secepatnya kalian kesini, Sasa membutuhkan donor darah. Nanti aku kirim alamatnya. ucap Rafi segera mematikan telfonnya
Tak mau buang-buang waktu, Anggi segera menghubungi keluarga Sasa perihal kecelakaan yang dialami Sasa. Tak lupa mengirimkan alamat yang dikirim Rafi.
Setelah menelfon keluarga Sasa, Anggi segera bersiap-siap untuk ke rumah sakit.
Tak lama Rafi menunggu akhirnya ia melihat Anggi bersama dengan dua orang yang seperti seumuran dengan Papa dan Mamanya dan dua cewek yang ia taksir masih Sma itu.
Papa Sasa yang sudah mengetahui segalanya, sesampainya di depan Rafi. Ia langsung memukul wajah Rafi, membuat Rafi jatuh tersungkur di lantai.
Ini semua gara-gara kamu, kalau kamu nggak mampu melindungi anak saya, jangan dekati anak saya. Marah Papa Sasa
Maaf Om, hanya itu yang biasa diucapkan Rafi saat ini karena ia merasa ia memang pantas mendapat pukulan itu
Mama Sasa yang melihat itu berusaha menenangkan suaminya," Pa udah, ini rumah sakit". Mama Sasa memperingati
Anggi tak tinggal diam, ia segera membantu Rafi untuk berdiri. Jujur ia syok dengan pukulan tiba-tiba dari Papa Sasa.
Sedangkan Santi dan Sinta hanya terus menangis, mereka tak menyangka bahwa kakaknya akan berada dalam situasi ini.
***
Sasa kecelakan guys, bagaimana menurut kalian???
Doakan semoga Sasa cepat sembuh๐๐๐๐
__ADS_1
Jangan lupa Vote & Commentโคโคโค