
🌼Happy Reading🌼
Seperti yang sudah di jadwalkan sebelumnya, Rivan dan Nania berangkat menuju Resort sore hari setelah urusan kantor Rivan serahkan pada papa dan asisten pribadinya.
“dek, soal apa yang mas tanyakan semalam?”
Nania menoleh pada sang suami yang duduk di sampingnya, menebak apa yang akan di bicarakan sang suami.
“benar tak ingin memberitahu papa Doni dan mama Nita soal kejadian kemarin?”
“iya mas, biarkan saja, asal Nia tak bertemu dengan pria b****k itu lagi, Nia rasa tak masalah”
“Hmm, baiklah, mas akan ikuti maumu, tapi kedepannya selalu nurut sama mas ya, jangan pernah pergi kemanapun sendirian”
“iya mas, Nia ngerti, maafkan Nia ya mas sudah membuat mas khawatir”
“Jangan minta maaf sayang, sudah menjadi kewajiban mas untuk menjaga dan melindungimu, tentu mas akan khawatir kalau kesayangan mas ini kenapa-napa”
Rivan merangkul erat sang istri hingga sampai bandara, , Rivan meminta pak Rahman yang mengantarnya langsung pulang tanpa menunggu mereka karena mereka akan langsung masuk dan menunggu di dalam.
“Hati-hati mas, mba, semoga perjalanannya lancar”
“Terimakasih ya pak” jawab Nania sembari meraih koper kecilnya.
***
Langit sudah tampak gelap ketika mereka tiba di kota tujuan, dimana resort mereka berada. Setelah mengambil barang-barang, keduanya keluar dari pintu kedatangan untuk mencari seseorang yang telah di tugaskan untuk menjemput mereka.
“Mas, siapa yang akan jemput?”
“sopir resort sepertinya, tadi mas sudah minta manager resort untuk kirim orang untuk jemput kita”
Nania mengangguk kemudian mengedarkan pandangannya ke area tunggu penjemputan.
Deg!!
Mata sipitnya tak sengaja melihat sesorang yang begitu di kenalnya, namun saat ia mengerjapkan matanya, sosok itu menghilang di antara banyaknya orang yang berlalu lalang.
‘Ah, paling aku salah lihat’ gumam Nia dalam hatinya,
“Ayo sayang, itu sopirnya di sana” Rivan menarik tangan sang istri yang menyadarkannya dari lamunannya.
Keduanya menghampiri pria paruh baya yang mungkin seumuran dengan Pak Rahman, sopir keluarga mereka di rumah.
“Selamat malam pak” sapa pria paruh baya itu.
__ADS_1
“Malam pak”
“Selamat datang kembali pak, mari saya bantu bawakan kopernya”
Rivan menyerahkan koper kecil meraka, dan melirik ke arah mobil yang terparkir di area penjemputan.
“Bapak parkir di sebelah mana?” tanya Rivan karena tak menemukan mobil resort yang di kenalnya.
“Oh, maaf pak, itu di belakang mobil warna hitam, maaf agak jauh”
“Oke, tidak apa-apa pak, terimakasih sudah menjemput kami”
Perlahan ketiganya melangkah menuju mobil dan bergegas menuju Resort yang lokasinya agak jauh dari bandara.
“Pak kita mampir ke resto dulu ya, makan malam dulu”
“Baik pak, sudah tau nama Resto yang ingin di tuju pak?”
“Yang terdekat aja pak, ada resto di kiri jalan dan enak buat parkir masuk saja, kami tak pilih-pilih soal menu makanan”
“Baik pak, di depan ada tempat makan yang cukup enak menurut saya pak”
“ya, itu tidak apa-apa”
“Wah, bagus juga tempatnya.” Ucap Nania yang mengamati tempat makan di depannya.
“Iya bu, ini termasuk tempat favorit anak muda” timpal Sang sopir yang mulai mematikan mesinnya.
“Bapak ikut masuk ya, ikut makan bersama kami” ajak Nania yang bersiap untuk turun.
“Saya tunggu di sini saja bu”
“saya tidak terima penolakan pak, ayuh ikut turun dan makan bersama kami.”
Tanpa mendengar jawaban Nania membuka pintu dan turun dari mobil, sementara sang suami masih bersiap.
“turuti kata istri saya pak, jangan sungkan, mari ikut turun” kata Rivan yang melihat raut wajah bingung dan merasa sungkan sopirnya karena ucapan sang istri.
“Baik pak”
“Kaki mas sakit tidak?’’ tanya Nania yang telah berdiri di samping sang suami bersiap untuk menggandengnya.
“Tidak dek, mas baik-baik aja”
Ketiganya melangkah menuju kedalam restoran yang bagitu enak di pandang, tempatnya cukup luas dan begitu nyaman, dan ada beberapa spot yang cukup instagramable. Pantas saja menjadi favorit anak muda, nuasansa romantis juga menambah daya tarik pelanggan yang ingin menghabiskan waktu mereka bersama pasangan.
__ADS_1
“Kita di situ aja mas” ajak Nania menarik sang suami di salah satu sudut yang berisi dua sofa berhadapan.
Rivan duduk di samping istri yang telah melihat daftar menu yang disediakan, kemudian meminta sopirnya untuk duduk bersama mereka.
“Duduk sini pak, jangan sungkan”
“Saya di meja lain saja pak”
“tidak pak, mejanya lebih dari cukup untuk kita bertiga”
Mendengar obrolan kedua pria yang datang bersamanya membuat Nania mendongak dan menatap sopir resort suaminya .” duduk saja pak, dan jangan sungkan untuk memilih menu yang bapak inginkan”
“Baik bu” jawab sang sapir dengan ragu, namun ia tetap duduk di depan bos mereka,
Baru kali ini dia diperlakukan begitu baik selama menjadi sopir, di tempat kerja sebelumnya ia tak pernah menerima perlakuan seperti ini, ketika megantar majikannya ke tempat makan, ia akan di minta menunggu di dalam mobil atau mencari makan di tempat lain yang tak jauh dari tempat mereka makan. Namun sikap bos barunya ini sangat berbeda, meski keduanya masih muda, tapi tak bersikap sombong atau semena-mena. Kesan pertama yang sangat bermakna untuknya.
“Dek, kamu pesankan saja, mas yakin bapaknya akan sungkan memilih kalau kamu memintanya memilih” bisik Rivan pada sang istri yang masih asyik melihat daftar menu.
Nania mengangguk, lalu mendongak lagi “Bapak ada alergi makanan?”
“Tidak bu” jawabnya cepat.
Setelah mendengar jawaban sang sopir, Nania pun memanggil pelayan dan menyebutkan menu yang dipilihnya tanpa bertanya pada dua pria beda usia yang ikut duduk bersamanya. Dia suah begitu hafal menu kesukaan sang suami, dan memilihkan menu untuk sopirnya karena ia yakin sopirnya tak akan memilih sesuai seleranya, seperti yang di ucapkan suaminya sang sopir akan merasa sungkan.
Tak berapa lama beberapa menu pilihan Nania datang dan tampak memenuhi meja, membuat sang sopir menelan ludahnya kasar. Tak menyangka majikannya memesan menu begitu banyak.
“Silakan di makan pak, ambil apapun yang bapak mau, anggap bapak makan bersama keluarga bapak” Nania menyunggingkan senyumnya, lalu melayani sang suami untuk mengambil nasi dan lauk-pauk untuknya.
“Makasih sayang” ucap Rivan setelah sepiring nasi beserta lauknya telah berada di depannya dan tampak begitu menggiurkan.
“Bapak, silakan makan, kenapa diam saja? Atau tadi sudah makan?” lanjut Rivan yang melihat sopirnya masih berdiam diri,
Sang sopir pun menggelangkan kepala kemudian mengambil dengan ragu-ragu, menimbang menu apa yang akan di pilihnya.
“Makan yang banyak pak” timpal Nania di sela makannya.
“Baik bu, terimakasih pak, bu”
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
Mohon dukungannya 🤩🤩🤩
Love you All 😍😍😍
__ADS_1