
🌼Happy Reading🌼
Ledekan-ledekan yang mereka lontarkan membuat suasana meja mereka semakin bertambah hangat dan ceria, seolah tak ada rasa khawatir yang melanda mereka. Hingga acara selesai dan semua tamu undangan berangsur pulang, mereka masih menampilkan senyum hangat mereka.
“Sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, aku antar ke kamar?’” tanya Nando pada sang istri yang terus mengusap perut buncitnya.
“Iya Mas, pegel banget rasanya”
“Oke, mas antar dulu, abis itu mas tinggal dulu ya, masih ada yang harus di urus”
“Kak Linda sama aku aja kak, Nia mau ke kamar juga” tawar Nania yang hendak meninggalkan lokasi pesta,
“Gimana Yang?”
Linda pun mengangguk, dan segera beranjak dari duduknya untuk pergi bersama adik iparnya.
“Mas, Nia ke kamar dulu ya, sama kak Linda” pamit Nania pada sang suami yang masih bercengkrama dengan sang papa.
“Mas antar dulu dek?”
“Ga usah mas, cuma deket juga, janji langsung ke kemar”
Raut wajah Rivan menunjukan tak nyaman, namun ia juga belum bisa meninggalkan lokasi pesta karena masih harus menyapa beberapa coleganya.
“Nanti Nia akan di kamar kak Linda dulu saja” jawab Nania akhirnya membuat Rivan sedikit lega, setidaknya sang istri tak akan di kamar sendiri.
Rivan pun tersenyum mengangguk, kemudian memandang sang istri dan kakak iparnya melangkah perlahan meninggalkan lokasi pesta.
Setelah keduanya telah tiba di kamar, Nania dengan sigap membantu sang kakak untuk duduk,
“Capek ya kak?”
“Ga nyaman aja dek, pinggang rasanya g enak”
Mereka duduk bersisihan, dan Nania pun ikut mengusap perut sang kakak yang sedari tadi membuatnya gemas.
“Ih kak, kok kaya ada gerak?” heboh Nania saat merasakan pergerakan dari dalam perut sang kakak.
Linda tersenyum lalu mengangguk, membenarkan kalau anaknya di dalam perut bergerak, “Dia seneng di elus auntynya”
“Wah, haii… baby, aduh, gemesin banget sih, ini aunty ya, ga sabar pengen kamu segera lahir deh”
“Sehat-sehat di dalam perut mama ya”
Nania begitu antusias mengajak biacara sang keponakan yang masih berada di dalam perut. Sejenak rasa kekhawatiran dan ketakutannya sirna dengan keberadaan sang kakak.
“Kamu ga nunda kan dek?”
__ADS_1
Nania yang masih mengusap perut buncit itu pun mendongak menatap sang kakak yang tersenyum.
“Kalian ga nunda untuk punya momongan kan?” tanya Linda sekali lagi karena sang adik ipar tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Tanpa di sadari pipi Nania merona, kemudian senyum tipis terbit di kedua ujung bibirnya. Ia pun hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan sang kakak.
“Semoga segera punya baby juga ya dek”
“Aamiin” jawab Nania kemudian menunduk, dan kembali duduk tegap, dan melepas tangannya dari perut sang kakak.
***
Sore hari semua kedua keluarga kembali berkumpul, namun kali ini tidak berada di café resort melainkan di kamar Rivan dan keluarga Erlangga.
“Jadi mau ke pantai dek?” tanya Rivan pada sang istri yang kini duduk bersandar di lengannya.
Setelah acara peresmian tadi, para pria dari kedua keluarga tak langsung kembali ke kamar untuk beistirahat, mereke berpencar untuk menyelesaikan urusan masing-masing, higga soe hari keempatnya baru kembali ke kamar menemui istri mereka, dan setelah membersihkan diri semuanya bekumpul kembali.
“Besok saja mas,”
“Hmm, besok pagai kalau begitu ya, besok sore kita pulang ke rumah”
Nania mengangguk setuju, kemudian menatap orang tua dan mertunya yang masih asyik mengobrol, sementara kedua kakaknya hanya menyimak pembicaraan mereka.
“Mas, sudah bilang ke papa mama?”
“Belum, kita ajak mereka makan malam di luar yuh, katanya mau ajam mama makan bakso yang kemarin”
“Nanti sekalian kita bicarakan liburan besok”
Rivan pun beranjak, dan mengajak orang tua, mertua serta kakak iparnya untuk makan malam di luar, sekaligus menikmati suasana malam di daerah sekitar resort.
“Didi dan Riko suruh ke sini aja Van, papa malas jalan ke loby”
“Iya pa, Rivan telpon dulu”
Setelah semuanya siap, mereke berdelapan masuk ke dalam 2 mobil yang berbeda, keluarga Erlangga memasuki mobil yang di kemudikan Riko, dan keluarga Rahardian memasuki mobil yang di kemudikan Didi, sopir resort.
“Kita mau ke mana mas?” tanya Riko yang memimpun jalan karena mobil yang di kemudikan Pak Didi berada di belakang mobil mereka,
“Warung bakso deket Masjid An Nur , tau tempatnya kan?”
“Tau mas, kebetulan saya juga ingin makan basko” jawab Riko dengan senyum sumringan, “untung saja saya belum pulang, jadi bisa ikutan makan”
“Haish,, kau ini seperti kekurangan makan aja Ko” timpal papa Ryan yang berada di belakangnya.
“Ya beda dong pak, kalau makan sendiri kan ndak seru”
__ADS_1
“Ikut pulang sekalian besok saja Ko, besok pagi kita liburan dulu” timpal Rivan yang masih menatao lurus ke depan,
“Wah, beneran mas?”
“Iya, Besok pagi kita piknik dulu”
“Wah, mantap, siaap kalau gitu mas”
Tak lama kemudian, kedua mobil telah terparkir di halaman warung basko yang cukup ramai,
“Wah, baunya enak banget Nan” ucap mama Dahlia sebelum turun dari mobil,
“Iya ma, kemarin aja Nia lahap banget makannya, rasanya top banget ma” kedua wanita beda usia itu jalan bergandengan meninggalkan suami mereka di belakang,
Mereka akan memilih tempat duduk yang cukup luas agar mereka bisa berada dalam satu meja yang sama.
“Wah, dari bau nya udah sedep gini dek?” kini mama Nita yang begitu antusias, tidak sabar untuk mencicipi makanan bulat yang terbuat dari olahan daging itu.
“Iya ma, kemarin Nia sudah ke sini, di kasih tau pak Didi kalau rasanya enak, eh, bener ma, mantap banget rasanya, makanya Nia ajak mama dan papa ke sini”
“ih, sayang banget sama adek, tau aja ini makanan favorit mama!!” mama Nita merangkul putri bungsunya yang kebetulan duduk di sampingnya,
“Linda tidak masalah kan dengan bau nya?” tanya mama Dahlia, sedikit khawatir karena menantu besannya tengah hamil, dan biasanya penciumannya lebih sensitive.
“Ndak tan, Linda malah suka, sedep tan baunya,”
Nania merasa lega, karena semua anggota keluarganya bisa memakan menu yang di pilihnya. Lalu semuanya memilih menu yang akan mereka makan, dengan Nania yang mencatat pesanannya sebekum di serahkan kepada pelayan warung.
“Mas…” ucap Linda ragu-ragu, membuat sang suami yang duduk di sampingnya menoleh kea rah sang istri yang memperlihatkan mata berbinar.
“kenapa Yang?”
“Aku mau mie ayam aja, di kasih basko yang gedhe”
“Iya, udah di catet Nia Yang”
“Tapi mas yang buat mie ayamnya”
Jeder!!!!
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
Maafkan othor yang kemarin tidak update
Mohon dukunganya 😃😃😃
__ADS_1
Terimakasih karena masih setia menunggu 🤩🤩
Love you All 😍😍😍