Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 40


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Ditempat yang berbeda, tepatnya di kediaman keluarga Erlangga yang hanya bersebelahan dengan rumah keluarga Rahardian, tampak Rivan yang uring-uringan karena tak diijinkan kedua orang tuanya untuk bertemu dengan pujaan hatinya.


“Kok Nia di larang ke sini sih ma?”


“Besok kan kalian lamaran, di tahan sampai besok kenapa sih?” mama Dahlia begitu geram melihat tingkah kekanakan putra semata wayangnya ini.


“Ya kan masih besok ma, Rivan sudah kangen sama Nia ma”


“Astaghfirullah, kamu ini, ya tinggal telpon aja apa susahnya sih”


Sedari sarapan tadi Adrivan begitu kesal, kedua orang tuanya begitu mewanti-wanti untuk tak meminta Nania untuk menemaninya.


“ya beda dong ma” rengek Adrivan


“Gini aja sok-sokan mau nikah sama Nia kalau sudah pulih, lah baru sehari di tinggal aja sudah kaya anak kecil” papa Ryan mencebik meledek sang putra yang tingkahnya seperti anak kecil.


Kedua orang tau Adrivan sudah paham akan kondisi sang putra yang sebenarnya akan sangat terlihat cool dan galak kalau dalam keadaan sehat, namun jangan di tanya saat dalam keadaan sakit, bahkan hanya demam sekalipun ia akan selalu bersikap kekanakan, apalagi kondisi yang seperti saat ini, hanya bisa terbaring atau duduk di kursi roda, tingkahnya sungguh membuat kedua orang taunya pusing.


“Biarkan Nia istirahat juga Van, beberapa hari kemarin kan Nia juga udah rawat kamu di rumah sakit, ga kasian sama Nia, hmm?” ucap mama Dahlia lembut memberikan pengertian pada putra semata wayangnya.


“Kemarin sebelum Nia terima kamu aja, tidak ketemu lama juga bisa, kenapa ini ndak bisa? Hmm?”


Adrivan terdiam mendengar ucapan sang mama, ia pun membenarkannya, bebarapa hari di rawat Nania selalu menemaninya, namun kenapa sekarang harus memaksa? Bahkan menunggu Nania selama bertahun-tahun saja bisa, kenapa menunggu sehari saja rasanya sulit untuk sekarang?


Huff


“Iya ma, maafkan Rivan” setelah memikirnya ucapan sang mama, Adrivan menghela nafas panjang dan mulai bersikap tenang.


“Kamu sudah dewasa Van, jangan bersikap seperti ini lagi, bagaimana kamu bisa menenangkan istrimu nanti kalau kamu masih bersikap seperti ini?” ucap sang papa yang terdengar tegas namun lembut.


“iya pa, maafkan sikap kekanakan Rivan, tak seharusnya Rivan uring-uringan seperti ini”


Kedua orang tua Adrivan pun mengangguk, lalu mereka pun beralih ke ruang keluarga untuk membicarakan persiapan acara esok hari.


“Mama akan mencari cincin pertunangan kalian setelah ini, sekalian membeli barang-barang seserahan untuk di bawa besok”

__ADS_1


“Ga usah cari cincin ma, Rivan sudah siapkan cincinnya”


“Benarkah? Kapan kamu siapkan?”


“Sudah lama ma, sebenarnya sebelum pergi kemarin, Rivan mau kasih cincin itu, tapi Nia belum kasih jawaban ke Rivan, jadi ya Rivan simpan dulu.”


“Mama mau lihat dulu cincinya, di mana kamu simpan?”


“Di kamar ma, di laci atas”


Mama Dahlia pun beranjak ke kamar sang putra sang tak lama kemudian mama kembali dengan membawa kotak kecil berwarna merah, lalu membukanya di hadapan anak dan suaminya. Terlihat sepasang cincin yang begitu simple namun mewah menurut sang mama karena ada berlian kecil di bagian tengahnya.



“Hmm, bagus, mama suka, ini ukuran jarinya sudah di sesuai?”


“Sudah ma, mama coba saja, jari mama sana Nia kan sama”


Mama Dahlia pun mencoba memakai cincin yang telah disiapkan sang putra dan benar saja cincin itu sangat pas dan telihat manis di jari manisnya.


“oke, soal cincin tak jadi masalah, kalau gitu mama tinggal siapkan yang lain”


Kedua orang tua Adrivan pun tersenyum memandang putra semata wayangnya yang terlihat bahagia dengan rencana esok hari.


“Kami tau, kamu kan juga tau kalau sebenarnya telah menjodohkan kalian dari kecil”


"iya pa. Makanya Rivan sudah mencintainya sejak lama."


"jadilah pria yang bertanggung jawab dan bahagiakan Nia Van"


"tentu pa, Rivan akan berusaha"


Pembicaraan selanjutnya mengenai apa saja yang akan di bawa dan siapa saja yang akan di ajak untuk melamar esok malam.


Karena papa Ryan adalah anak tunggal, maka tak ada saudara yang bisa di ajaknya, namun mama Dahlia yang memiliki 2 orang adik dan kebetulan mereka tinggal dekat kediaman rumah Erlangga.


Mama Dahlia pun menghubungi kedua adiknya untuk membantu acara lamaran esok hari. Kabar bahagia ini tentu sangat di tunggu keluarga besar mama Dahlia, namun juga merasa heran karena Adrivan baru saja pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


"Emang Rivan ga bisa nahan mbak?" tanya adik bungsu mama Dahlia saat di hubungi via telpon,


"Rivan manjanya minta ampun sama Nia dek, apalagi sakit gini, kamu tau Rivan kaya apa kalau lagi sakit"


"iya sih, ga mau di tinggal tuh anak, ya ada bagusnya juga sih, malah bisa jaga Nia nya mb, menghindari fitnah juga"


"iya, makanya itu, rencana juga mau akad saja dulu, resepsinya nanti kalau sudah sembuh"


"iya mb, semoga saja semuanya lancar, mereka kan juga saling mencintai, jadi tak masalah di segerakan"


"iya, makanya besok ke sini ajak anak istrimu"


"siap mb, besok pagi aku antar istriku dulu ke situ mb, biar bisa bantu persiapan, anak-anak nanti sama aku nyusul setelah pulang sekolah mb"


"oke, mbak tunggu ya"


"oke mb"


Setelah menghubungi saudara-saudaranya mama Dahlia pun segera bersiap mengajak asisten rumah tangganya bebelanja keperluan untuk acara penting esok, sementara papa Ryan sudah ke kantor karena ada pertemuan penting yang tak bisa di wakilkan.


"Van, ingat jangan minta Nania ke sini" wanti-wanti mama Nita pada putra semata wayangnya sebelum pergi.


"kalau ada apa-apa minta bantuan Hasan dulu dan jangan banyak tingkah minta di antar ke rumah Rahardian" imbuh sang mama yang di jawab Adrivan dengan senyum cengirnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


'Mama kok tau sih kalau aku mau minta di anter ke rumah Nania, kan mumpung papa mama lagi ga di rumah'


"Hasan, ingat pesan saya, jangan biarkan Rivan banyak tingkah, kalau dia ngeyel kurung saja di kamar gapapa, kalau dia sampai ancam kamu, bilang sama saya"


"baik dok" jawab patuh Hasan, perawat laki-laki yang berkerja di Klinik mama Dahlia, sengaja mama Dahlia panggil ke rumah untuk membantu merawat sang putra.


Perintah yang mama Dahlia sampaikan kepada pegawainya itu pun membut Adrivan mencebik kesal, lalu ia pun memilih mengambil ponselnya dan menghubungi pujaan hatinya.


"Assalamu'alaikum mas" sapa seseorang di seberang sana setelah dering kertiga.


"Wa'alaikumusalam dek"


"kenapa mas?"

__ADS_1


"kangen!!!!!"


Tbc


__ADS_2