
***
Ayam tetangga sudah berkokok berarti pagi sudah tiba. Kedua sejoli itu ternyata masih tidur dengan nyenyaknya, hingga bunyi alarm membangunkan keduanya.
Sasa pun bangun sambil mengucek matanya sedangkan Anggi masih enggan melepaskan selimutnya.
Sasa mengguncang tubuh Anggi bermaksud agar sahabatnya itu segera bangun. "Nggi bangun, sholat subuh yuk".
Hem. gumam Anggi masih menutup matanya
Sasa dibuat kesal dengan tingkah sahabatnya itu.
Jangan hem hem aja, bangun. Sasa semakin mengguncang tubuh Anggi
Anggi yang merasakan guncangan pada tubuhnya yang semakin keras akhirnya memutuskan untuk bangun.
Udah bangun nih, aku duluan. Kebelet. Anggi segera berlari ke kamar mandi
Sasa kemudian membereskan tempat tidur sambil menunggu Anggi keluar.
Anggi, ngapain aja sih?? lama banget. kesal Sasa pasalnya Anggi sudah 30 menit tapi belum keluar juga
Bentar. teriak Anggi dari dalam kamar mandi
Sasa pun hanya menghela napas kasar. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Anggi keluar juga sambil menyegir membuat Sasa hanya memutar bola matanya dan masuk kamar mandi.
Keduanya pun melaksanakan sholat subuh bersama tanpa Dion.
Anggi dan Sasa kemudian menuju dapur dan membuat nasi goreng untuk sarapan mereka.
Nggi, mending kamu mandi duluan aja. Ini biar aku yang ngerjain. saran Sasa melanjutkan memotong sosis yang rencananya akan ditambahkan ke nasi goreng
Tapi Sa. ucap Anggi merasa tak enak meninggalkan Sasa sendiri
Sasa yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya berusaha meyakinkan bahwa ia bisa melakukannya sendiri. "Santai kali Nggi, ini cuman nasi goreng. Biar aku aja yah yang ngerjain". bujuk Sasa memohon
Melihat wajah Sasa yang memohon akhirnya Anggi memutuskan ke kamarnya untuk mandi.
Beberapa menit kemudian akhirnya masakan Sasa selesai, Sasa kemudian menatanya di meja makan. Kemudian menuju kamar untuk mandi juga.
Bertepatan dengan masuknya Sasa, Anggi ternyata sudah selesai mandi.
Udah Sa? tanya Anggi mengeringkan rambutnya
Udah. ucap Sasa menyatukan telunjuk dan ibu jarinya kemudian menuju kamar mandi
Setelah siap-siap, keduanya pun menuju meja makan. Ternyata disana Dion sudah makan dengan lahapnya.
Anggi yang duduk di hadapan Dion kemudian menatap kakaknya. "Wah, enak banget nih makannya". ejek Anggi
Iya lah, resep dari mana nih. Nggak kek biasanya. Dion tetap melanjutkan makannya
Itu Sasa yang masak. jawab Anggi mulai menyuapkan nasi goreng ke mulutnya
Beneran?? Wah, ini enak banget loh Sa. Dion memuji
Biasa aja kak. Sasa merendah kemudian melanjutkan makannya
Mereka pun makan dalam keheningan.
Dion yang melihat adiknya dan sahabat adiknya itu menuju garasi mobil kemudian menegur. "Gimana kalau kalian ikut kakak aja?"
Kakak lupa, Anggi nggak mau sampai ada yang tau kalau Anggi itu adiknya kakak, bisa-bisa Anggi diserbu fans. Anggi memutar bola matanya
Bagus dong, kamu bisa cepat terkenal. Dion terkekeh kemudian masuk ke dalam mobilnya
Memang selama ini Anggi tidak pernah mau ikut kakaknya itu ke kampus karena ia merasa akan terganggu jika satu kampus tau. Ia memilih untuk bawa mobil sendiri.
__ADS_1
Anggi nggak butuh kefamousan kakak, Anggi bisa terkenal sendiri tanpa kakak. Anggi meninggalkan Dion
Sasa yang melihat interaksi Anggi dan kakaknya membuatnya rindu dengan kedua adiknya. Tak mau buang-buang waktu, Sasa masuk ke dalam mobilnya.
Sasa yang melihat Dion yang sudah meninggalkan pekarangan rumah dan Anggi yang menuju mobilnya akhirnya membuka suara.
Nggi bareng aku aja. panggil Sasa sambil menstater mobilnya
Anggi yang mendengar Sasa memanggilnya, akhirnya berbalik menuju mobil Sasa. Ia juga merasa malas untuk bawa mobil. Mending bareng kan, hemat bensin๐๐๐
Orang kaya aja mikirin bensin apalagi orang kurang mampu๐
Beberapa menit perjalanan, Sasa dan Anggi sampai di kampus. Sasa terlebih dahulu memarkirkan mobilnya.
Keduanya pun menuju kelas berbarengan sambil menatap sekeliling kampus. Mereka tak lupa balas sapaan dari orang-orang yang melewatinya. Keduanya memang cukup terkenal di kampus. Selain karena mereka dekat dengan cogan-cogan kampus, siapa lagi kalau bukan Rafi, Andra dan Fatan. Mereka berdua memang cukup cantik dibanding yang lain. Banyak mahasiswa maupun dosen yang menyukai keduanya karena kesopanan yang senantiasa mereka dahulukan dan tak memilih-milih untuk berteman, membuat banyak orang nyaman berteman dengannya.
Sesampainya di kelas, keduanya pun duduk di kursi masing masing sambil menunggu jam masuk.
Beberapa jam di dalam kelas mendapatkan materi, akhirnya waktu istirahat tiba. Kedunya pun segera membereskan buku dan alat tulis kemudian memasukkan ke dalam tas masing-masing.
Sa, kantik yuk. Anggi kemudian berdiri
Sasa tak menjawab namun berdiri berniat menuju kantin, namun sebelum ia melangkah tangannya dicegat seseorang.
Fatan yang sudah dari tadi menunggu waktu istirahat tiba untuk berbicara dengan Sasa, memutuskan selalu memantau Sasa. Ia harus menyelesaikan semua hari ini, jangan sampai rencananya gagal.
Fatan yang melihat Sasa bergerak berniat menuju kantin, Fatan segera mencegat Sasa.
Sa, bisa bicara sebentar. Fatan masih memegang tangan Sasa sambil menatap intens Sasa
Lain kali bisa? Soalnya aku mau ke kantin. tolak Sasa halus sambil melepaskan cekalan tangan Fatan
Fatan yang melihat Sasa melepaskan tangannya merasa kecewa, sebenci itukah Sasa padanya.
Please Sasa, kali ini aja. Fatan memohon
Setelah kepergian Anggi, Sasa pun mengikuti Fatan yang sudah berjalan di depannya.
Sasa awalnya berpikir kemana Fatan akan membawanya, ia sampai negatif thinking. Tapi setelah melihat Fatan menuju roftop kampus akhirnya ia bernapas lega.
Fatan kemudian berbalik menatap keberadaan Sasa di belakangnya. " Sa, duduk". perintah Fatan
Sasa kemudian duduk agar jauh dari Fatan, Fatan yang melihat itu menjadi sedih. Karena dulu mereka bahkan bisa bercanda bersama, makan bersama tapi sekarang seperti ada jarak yang memisahkan mereka. Fatan tak mau ambil pusing kemudian memulai pembicaraan.
Fatan menatap Sasa, "Sa, aku harap kamu berkata jujur".
Sasa hanya menunduk, " Aku akan berusaha jujur".
Sa, apa kamu masih mencintaiku? Fatan berharap Sasa akan menjawab iya dan ia akan menerimanya dan berusaha memperbaiki segalanya
Sasa yang terkejut dengan perkataan Fatan menjadi diam.
Saa. ucap Fatan menyadarkan Sasa
Sasa pun sadar. " Tadi kamu nanya apa?"
Itu tadi aku nanyain kamu masih suka sama aku. ucap Fatan mengulangi
Maaf Fatan itu hanya masa lalu dan perasaan itu sudah hilang bertahun-tahun lalu. Jujur memang setelah kita bertemu kembali, awalnya aku pikir itu artinya aku masih mencintaimu tapi makin kesini aku sadar bahwa itu bukan cinta tapi sekedar rasa tak menyangka. jelas Sasa menatap ke arah lain
Bisa kamu tatap mata aku untuk menjawab pertanyaan tadi. ucap Fatan menatap tak pernah lepas dari wajah Sasa
Sasa pun menatap Fatan, "Fatan, aku bener-bener udah nggak suka sama kamu". ucap Sasa menekankan
Hem. gumam Fatan merasa sedih dengan jawaban Sasa
Kalau gitu aku pamit. ucap Sasa berniat pergi
__ADS_1
Tunggu Sa, kita harus menyelesaikan semuanya. cegah Fatan
Sasa pun kembali duduk
Kalau begitu tak bisakah kita melupakan masa lalu dan memulai semuanya kembali. harap Fatan
Sasa tak menjawab membuat Fatan was-was dengan jawaban Sasa.
Beberapa menit Sasa diam, ia pun menjawab pertanyaan Fatan.
Aku bisa saja melupakan semuanya tapi kita tak akan memulai apa pun. jawab Sasa
Aku mohon Sa, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. ucap Fatan memohon sambil menggenggam tangan Sasa
Tanpa keduanya sadari, Rafi melihat Fatan menggenggam tangan Sasa membuat Rafi terbakar api cemburu. Sebelum Rafi tak bisa menahan, ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.
Sasa yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Fatan, segera menarik tangannya.
Sasa menarik napas pelan kemudian memutuskan untuk memberikan Fatan kesempatan kedua tapi bukan berarti mereka akan kembali dekat seperti dulu.
Aku akan memberi kesempatan itu tapi kamu harus ingat kita tidak mungkin sedekat dulu lagi. ucap Sasa kemudian meninggalkan Fatan
Fatang sangat bahagia mendengar jawaban Sasa meskipun ia tak bisa seperti dulu lagi yang penting kesempatan itu ia dapatkan.
Fatan pun tersenyum, "Makasih Sa". teriak Fatan
Sasa yang mendengar teriakan Fatan tak peduli, ia segera menuju kantin untuk mengisi perutnya.
Sasa pu memesan gado-gado sambil menatap sekeliling kantin. Pandangannya pun akhirnya jatuh pada sudut kantin, disana sahabatnya itu masih makan. Sasa jadi tak menyangka, Anggi sudah dari tadi ke kantin dan masih makan sampai sekarang. Itu perut apa gentong.
Sasa mengambil pesanannya kemudian menuju meja sahabatnya.
Ddorrrr. Sasa membuat Anggi terkejut
Sa, nyebelin deh. kesal Anggi melanjutkan makannnya
Sasa hanya terkekeh melihat sahabatnya, ia pun mengambil duduk di depan Anggi kemudian memakan gado-gadonya.
Gimana Fatannya? tanya Anggi penasaran
Maksudnya gimana? bingung Sasa
Maksudnya dia ngomong apa gitu, ada masalah nggak yang terjadi atau apa gitu. jelas Anggi
Semuanya baik-baik saja, aku memberinya kesempatan kedua. jawab Sasa santai
Kok gitu Sa. Anggi tak terima
Allah saja Maha Pemaaf masa kita sebagai hambanya nggak bisa sih. Setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua. jelas Sasa
Anggi menganggukkan kepalanya. "Iya juga sih, oh iya kamu ketemu kak Rafi nggak?"
Kak Rafi?? nggak tuh. jawab Sasa menatap Anggi
Loh bukannya kak Rafi tadi katanya pengen nyusul kamu. Apa mungkin dia nggak nemuin kamu kali yah. ucap Anggi berpikir
Hm bisa saja. ucap Sasa singkat
Mereka pun melanjutkan makannya yang tinggal setengah.
***
Banyak typo-typo maklum ini pertama kali aku nulis๐๐๐
Bagaimana ceritanya readers?? semoga kalian suka yah๐๐๐
Jangan lupa vote & comment guys๐๐๐
__ADS_1