Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Cemburu


__ADS_3

***


Keduanya meninggalkan kantin dan menuju kelas tapi di tengah jalan Anggi melihat Rafi dan Andra. Melihat Andra entah kenapa jantungnya berdetak dengan cepat. Apa mungkin ia jadi punya penyakit jantung. Anggi yang memikirkannya jadi pusing sendiri.


Anggi melihat Sasa yang sibuk dengan hpnya, menyimpulkan bahwa Sasa tak melihat Rafi.


Sa, kak Rafi tuh. ucap Anggi menunjuk Rafi


Sasa pun mengikuti arah tunjuk Anggi, ia pun melihat Rafi disana sedang mengobrol dengan Andra, entah apa yang mereka obrolkan. Melihat raut wajah Rafi yang sepertinya sedih membuat Sasa bertanya-tanya.


Sasa pun bergerak menuju dimana Rafi berada, Anggi yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti Sasa.


Kak Rafi. ucap Sasa setelah berada di samping Rafi


Rafi yang mendengar Sasa memanggilnya, hanya menatap Sasa sebentar kemudian pergi dari sana. Sasa yang melihat Rafi pergi menjadi tak mengerti. Mengapa Rafi tiba-tiba berubah? Padahal tadi kata Anggi, Rafi mencarinya tapi sekarang saat ia sudah berada di hadapan Rafi, malahan Rafi pergi meninggalkannya. Apa mungkin ia memiliki salah yang membuat Rafi seperti itu.


Anggi yang melihat kepergian Rafi pun menjadi tak mengerti. Sedangkan Andra hanya menghembuskan napas kasar, ia tau sahabatnya itu sedang cemburu tapi tindakan sahabatnya tak perlu segitunya.


Kak Andra, kak Rafi kenapa sih? Sasa penasaran masih menatap kepergian Rafi


Lagi cemburu. ucap Andra pelan


Hha?? ngomong apa? tanya Sasa memastikan


Dia itu cemburu liat kamu berduaan dengan Fatan di roftop. jelas Andra kemudian menyusul sahabatnya


Berarti kak Rafi bukannya nggak nemuin kamu tapi dia liat sesuatu yang membuatnya cemburu, tapi kalau cuman liat kamu dan Fatan cuman ngobrol nggak mungkin segitunya. Kamu nggak merasa melakukan sesuatu yang lain gitu?? Anggi menatap Sasa


Apa mungkin kak Rafi melihat saat Fatan menggenggam tangan aku kali yah. ucap Sasa mengingat kembali


Bukan mungkin lagi itu Sa tapi udah pasti dia liat. Anggi meninggalkan Sasa


Sasa merasa bersalah, tapi kenapa?? bukannya Rafi bukan siapa-siapanya


Sasa bingung harus mengerjar siapa, Anggi atau Rafi. Namun, Sasa akhirnya memutuskan untuk mengejar Rafi.


Sasa yang terus berlari kemudian terjatuh karena kakinya yang tersandung.


Sasa pun menatap ke belakang, dimana disana Ririn cs sedang menertawakannya.


Sasa tak ambil pusing dengan itu, mengejar Rafi adalah perioritasnya saat ini. Sasa pun berdiri kemudian melanjutkan larinya. Ririn yang melihat kepergian Sasa dibuat menganga pasalnya ia kira Sasa akan marah atau memaki-makinya.


Setelah berlari lumayan jauh, Sasa akhirnya melihat Rafi yang tak jauh darinya.


Kak Rafi tunggu.


Rafi yang mendengar suara Sasa tak peduli, ia tetap melanjutkan jalannya. Namun karena mungkin Sasa cukup kuat berlari akhirnya Sasa menjangkau tangan Rafi. Rafi pun berhenti dan berbalik menatap Sasa yang sudah ngos-ngosan dan berkeringat. Rafi rasanya sangat ingin tertawa tapi mengingat Sasa dan Fatan di roftop tadi membuatnya mengurungkan niatnya.


Aku tuh panggilin kakak dari tadi, kenapa nggak berhenti sih. omel Sasa


Rafi tetap dalam mode diamnya membuat Sasa gregetan.


Kak ngomong dong. bujuk Sasa sambil menggoyangkan tangan Rafi


Hem. gumam Rafi malas menatap Sasa, untuk kali ini biarkan egonya yang menguasai dirinya


Kakak jangan hem juga dong. kesal Sasa


Rafi kembali tak bersuara. Sasa yang sadar ia dan Rafi menjadi pusat perhatian banyak orang akhirnya menarik Rafi ke taman belakang kampus. Rafi yang ditarik hanya pasrah mengikuti Sasa.


Sasa duduk di kursi taman begitu pula dengan Rafi. " Apa kakak cemburu liat aku dan Fatan? " tanya Sasa polos


Yaiyalah, kamu taukan aku itu suka sama kamu. kesal Rafi

__ADS_1


Hem, kalau gitu maafin aku yah kak. ucap Sasa sambil menatap intens Rafi


Lain kali jangan diulangi lagi. Rafi menggenggam tangan Sasa


Oke. ucap Sasa antusias


Keduanya pun kembali hening sampai Rafi membuka suara.


Sa, nanti sore jalan yuk. ajak Rafi


Kemana kak?


Kamu maunya kemana?


Pantai???


Boleh, nanti aku jemput.


Sasa hanya menganggukkan kepalanya.


Akhirnya perihal kecemburuan Rafi kepada Sasa selesai juga, Sasa merasa lega sekarang. Sasa cukup takut Rafi akan berubah padanya pasalnya ia sekarang juga sadar bahwa ia mencintai sosok Rafi. Tapi karena mereka tak ingin terikat dengan kata pacaran. Jadi, mereka masing-masing akan memantaskan diri dan akan bersatu di waktu yang tepat. Semoga saja Allah meridhoi.


Sasa pun kembali ke kelasnya sambil senyum-senyum membayangkan ia dan Rafi akan ke pantai nanti sore.


Sasa pun memasuki kelasnya, ia melihat Anggi sibuk memainkan hpnya tapi yang membuat Sasa penasaran adalah apa yang dilihat sahabatnya itu sampai senyum-senyum begitu.


Sasa pun berniat melihatnya dengan berjalan mengendap-endap namun keberuntungan tidak berpihak padanya. Pasalnya baru beberapa langkah, Anggi sudah melihat dirinya.


Anggi yang melihat kedatangan Sasa segera merubah raut wajahnya dan memasukkan hpnya ke dalam tas, tingkah Anggi benar-benar membuatnya penasaran.


Sasa mendekati Anggi kemudian duduk di kursinya. "Kamu kenapa?"


Kenapa apanya?? Anggi pura-pura tak mengerti


E....nggak kok, itu bukan apa-apa. jawab Anggi mengalihkan perhatiannya


Masa, kok aku merasa ada aura-aura kebohongan disini. Sasa semakin menatap intens Anggi


Tatapan Sasa membuat Anggi semakin gugup, namun ia juga belum siap mengatakan semuanya. Untuk saat ini biarlah dia berbohong dulu kepada Sasa.


Beneran deh Sa, bukan apa-apa. Coba kamu ingat pernah nggak aku bohong sama kamu, nggak kan. Anggi mencoba meyakinkan


Hem oke. Sasa pasrah, mungkin sahabanya itu belum mau menceritakannya, ia yakin suatu saat nanti Anggi akan menceritakannya dengan suka rela


Sa, gimana Kak Rafi? Anggi mengalihkan pembicaraan, jujur ia merasa canggung berada dalam situasi tadi


Alhamdulillah dia udah maafin aku dan dia akhirnya baikan. ucap Sasa tersenyum


Bagus kalau gitu, tapi sepertinya masih ada yang lain kalian bicarakan. Anggi menyipitkan matanya menatap Sasa


Sasa yang mengerti akhirnya membisikkan kepada Anggi, nggak mungkin ia mengatakan dengan suara keras bisa-bisa seisi kelas jadi heboh.


" Kak Rafi ajak aku jalan nanti sore"


Whattt?? teriak Anggi membuat seisi kelas memperhatikan keduanya


Sasa yang mendengar teriakan Anggi akhirnya menutup mulut Anggi dan tersenyum canggung ke sekeliling kelasnya.


Nggi bisa jangan teriak nggak, orang-orang pada natap kita tau. bisik Sasa


Anggi hanya menyengir membuat Sasa memutar bola matanya.


Terus kalian akan kemana?

__ADS_1


Pantai mungkin. ucap Sasa singkat


Wah, parah. Sosweet banget deh, jadi iri. ucap Anggi mendramatis


Yehh, sama kak Andra aja tuh. ucap Sasa santai yang tanpa ia sadari Anggi juga berharap seperti itu, tapi apalah daya sepertinya Andra tak menyukainya


Andai aja. ucap Anggi lirih


Sasa yang sepertinya mendengar Anggi mengucapkan sesuatu akhirnya menghadap Anggi, "Kamu ngomong sesuatu Nggi?"


Anggi yang terkejut, tak menyangka Sasa mendengarkannya, "Hhaaa??nggak kok, kamu salah denger kali"


Sepertinya. Sasa tak ambil pusing


Jam kuliah telah selesai, keduanya pun pulang bersama. Tak lupa Sasa mengantar Anggi ke rumahnya.


Sasa yang sudah terbiasa, akhirnya setelah mengantar Anggi pulang ia pun menuju sekolah adiknya, biasalah menjemput adik-adiknya itu. Namun jika Sasa libur, biasanya yang mengantar adiknya adalah Mama atau Papanya.


Sasa yang sampai di depan gerbang sekolah adiknya, melihat adiknya duduk di dekat pos satpam. "Udah dari tadi?"


Santi dan Sinta yang melihat mobil kakaknya segera masuk, "Lumayan" ucap Keduanya


Tak mau banyak bicara, Sasa pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah.


Sesampai ketinganya di rumah, "Assalamualaikum" ucap Ketiganya


Teriak Mamanya dari dalam,"Waalaikumussalam" Mamanya kemudian membukakan pintu


Sasa dan adik-adiknya pun menyalimi tangan Mamanya itu kemudian mereka menuju kamar masing-masing.


Sasa memasuki kamarnya kemudian menyimpan tasnya pada tempatnya dan ia pun berbaring sejenak sebelum mengisi perutnya.


Ahhh, capek banget. desah Sasa sambil menutup matanya


Namun, baru beberapa menit matanya tertutup, perutnya sudah keroncongan. Membuatnya merasa kesal, mengapa perutnya itu tak bisa bekerja sama dengan dirinya.


Sasa terlebih dahulu mengganti pakaiannya dan menuju meja makan.


Mamanya yang melihat kedatangan Sasa, membuka suara "Sa, gimana di kampus?"


Nggak gimana-mana, kek biasanya Mah. jawab Sasa mengambil makanan kemudian mengisi perutnya itu


Mamanya yang melihat dirinya makan dengan lahap membuat Mamanya menggelengkan kepala, seperti itulah Sasa jika ia lapar makan ia tak memperdulikan sekitarnya. Kalau ditanya yah dia jawab bukan seperti yang diharapkan. Sabar yang Mah๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Beberapa menit Sasa makan, ia baru sadar bahwa Mamanya terus memperhatikannya. Sasa yang ditatap seperti itu hanya tersenyum manis ke arah Mamanya.


Ma, Sasa mau tidur dulu. Kalau nanti jam 3 bangunin Sasa yah, Sasa ada janji. ucap Sasa menatap Mamanya


Janji sama siapa? Mamanya penasaran


Sasa janji ikut kak Rafi ke pantai. ucap Sasa merasa takut


Owh. Yaudah. ucap Mamanya tersenyum


Sasa yang melihat respon Mamanya akhirnya bernapas lega pasalnya selama ini Mamanya selalu melarangnya untuk dekat dengan laki-laki setelah ia pernah sakit hati karena Fatan. Yah ingat masa lalu lagi deh๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ๐Ÿ˜ฌ


Sasa bersyukur Mamanya bersikap welcome kepada Rafi, mungkin ini awal yang baik bagi mereka. ucap Sasa dalam hati sambil tersenyum


Perut sudah kenyang, waktunya dia tidur.


Tak lama kemudian Sasa sudah masuk alam mimpi. Semoga mimpi indah Sa, ehhh jangan mimpiin indah mimpiin Rafi aja๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


***

__ADS_1


Jangan lupa Vote & Comment๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2