
🌼Happy Reading🌼
Riko pun segera memerintahkan anak buahnya sesuai arahan dari Rivan, ia pun juga semakin menambah kecepatan untuk bisa mengejar mobil yang membawa Nania.
Saat mobil yang membawa Nania melewati jalan yang sepi, mobil anak buah Rivan pun segera menghadangnya, kebetulan bantuan dari anggota lainnya juga telah datang.
Ciiittttt!!!!!
Terdengar decitan gesekan antara ban mobil dan aspal jalan yang begitu keras, hingga membuat penumpang di dalam mobil tersentak kaget.
“S***, siapa mereka?” umpat pria yang berada di balik kemudi,
Sementara Raiz berusaha bersikap tenang, ia tau pasti orang-orang yang menghadang mereka adalah orang suruhan Keluarga Rahardian atau keluarga Erlangga.
Ia pun menoleh ke arah kursi berlakang, di mana Nania masih berpura-pura terbaring dengan memejamkan mata.
‘tunggu sebentar Nana, sebentar lagi Anda akan selamat’
Pria di balik kemudi mengeluarkan senjatanya dan bersiap melangkah keluar untuk menghadapi mobil yang menghadangnya.
“Hubungi bos kalau kita ada kendala, dan minta untuk mengirim bantuan untuk berjaga-jaga”
Raiz hanya mengangguk tanpa menjawab, tak menyangka kesempatan untuk menyelamatkan Nania begitu dipermudah.
Setelah memastikan rekannya keluar dari mobil, ia meminta Nania untuk segera bangun dan bersiap untuk melarikan diri.
“Nona bangunlah, ini kesempatan untuk anda” ucap Raiz pelan, dan masih tetep mengawasi rekannya yang berdiri di dekat mobil.
“Ikutlah bersama ku, akan aku usahakan menjelaskan pada papa soal kondisi yang ada,”
“Saya tak pantas mendapatkan maaf tuan Doni nona, hanya satu permintaan saya, selamatkan ibu saya”
“Jangan keras kepala Raiz! jika kau tak selamat, apa kira ibumu tak akan sedih? Hah?!" Nania berbicara dengan begitu tegas. Membuat Raiz mematung terdiam memikirkan ucapannya.
Wanita yang biasa terlihat lemah lembut, cengeng, dan bersikap manja itu kini bersikap tegas, dan membentaknya. Sungguh aura ketegasan Rahardian kini terlihat pada diri Nania.
Sementara Raiz terdiam, Nania telah berhasil melepaskan tali yang melilitnya meski longgar. Ia pun mengamati keadaan sekitar, dan saat menoleh ke belakang, ia melihat mobil yang tak sing baginya. Senyum lebar terbit dari bibir tipisnya, kemudian menoleh ke arah Raiz yang bersiap untuk turun dari mobil.
“Belakang itu pasti suamiku Iz, kita ke sana”
__ADS_1
“Baik nona, maafkan saya”
“Simpan maafmu untuk nanti, kita harus segera pergi dari sini”
Dengan hati-hati Nania keluar dari mobil, dan bersiap untuk berlari ke arah mobil, yang berada agak jauh dari mobil yang di tumpanginya saat ini.
Mereka berdua pun segera berlari, namun sebelum sampai di dalam mobil Rivan, Pria yang bersama Raiz tadi mengetahuinya, dan tanpa pikir panjang ia mengarahkan senjatanya ke arah Nania.
Dor!!!
Dor!!!
“Nia!!!” pekik Rivan
Saat melihat Nania berlari ke arah mobilnya, Rivan pun bergegas keluar, bersamaan dengan suara tembakan yang mengarah kepada istrinya.
Gerakan itu begitu cepat, Nania menolah ke belakang setelah mendengar suara tembakan, ia lihat pria yang berlari bersamanya terkapar dengan punggung bersimbah darah.
Sementara itu anak buah Rivan berhasil mengamankan pria yang menembaknya.
“Astahgfirullah… Raiz!!!!” pekik Nania sembari menutup mulut dengan kedua tangannya, air matanya keluar begitu deras dari kedua matanya.
Rivan segera memeluk sang istri, bersyukur karena sang istri baik-baik saja dan selamat dari tembakan yang di arahkan padanya.
Sementara Riko mendekati Raiz yang terkapar di jalan, memeriksa kondisi pria yang menghadang tembakan, menjadi tameng untuk istri atasannya.
“Mas…. Raiz mas…. Tolong dia mas” ucap Nania terbata-bata, ia begitu terkejut dengan suara tembakan dan melihat kondisi anak buah papanya terkapar karena menyelamatkan dirinya.
Riko pun meminta anak buahnya yang lain untuk membawa Raiz ke rumah sakit, sementara yang lain mengamankan pria yang menyekap Nania. Di saat bersamaan Nando dan orang-orangnya datang ke tempat sepi itu.
Rivan menginformasikan lokasi kemungkinan Nania di sekap dan rencana penyelamatannya pada kakak iparnya, hingga tak menunggu lama setelah mendapat informasi itu, Nando segera bergerak bersama anak buahnya.
“Dek!!!”
“Kak!!!” Hosteris Nania beralih ke pelukan sang kakak
“kamu baik-baik saja?” Nando mengurai pelukannya dan melihat penampilan sang adik yang begitu berantakan.
Nania menjawab dengan anggukan, “tolong ibunya Raiz kak, mereka menyekap ibunya Raiz”
__ADS_1
Nando yang paham maksud adiknya pun langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyelamatkan ibu dari pengawal pribadi adiknya.
Sebelum berangkat tadi, Papa Doni sudah memberi tahu bahwa ada pengawal yang ia tugaskan untuk menjaga Nania berkhianat dan membantu pria itu untuk menculik Nania. Kini ia paham kenapa Raiz sang pengawal mengkhianati Rahardian.
***
Nania kembali ke rumah bersama dengan sang suami, sementara Nando pergi ke rumah sakit untuk mengurus pengawal pribadi keluarganya.
Sepanjang perjalanan Nania hanya mendekap sang suami tanpa berucap sepatah kata pun. Beberapa jam yang ia lewati sungguh membuatnya begitu tegang. Ia pikir kejadian mencekam seperti ini hanya akan tarjadi di film-film saja, tapi nyatanya kini ia sendiri mengalaminya.
Rivan pun dengan sabar mencoba menenangkan sang istri, tak ingin istrinya kembali terpuruk setelah kejadian yang baru saja menimpanya.
“Kita keluar dek, sudah sampai rumah” bisik Rivan pelan saat mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan rumah.
Saat mereka keluar dari mobil, dua pasang paruh baya dan bumil cantik tampak menyambut kedatangan mereka dengan penuh rasa lega.
Merekapun bergantian memeluk Nania, dengan ketiga wanita cantik itu tampak berderaian air mata. Nania pun ikut meneteskan air mata melihat kedua mama dan kakanya menangis karenanya.
Setelah melepas rindu dan rasa lega yang meringankan hati mereka, semua orang pun masuk ke dalam rumah.
Rivan pun mengajak sang istri untuk membersihkan diri karena hari juga sudah beranjak gelap.
“Mandi dulu ya dek, biar lebih seger”
Nania mengangguk dan hanya menurut saat suaminya membantu membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, keduanya pun menganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai.
“Maafkan mas ya dek” Rivan kembali memeluk erat sang istri yang baru saja menyisir rambutnya.
“Maafkan mas yang belum bisa menjagamu dengan baik”
Nania membalas pelukan sang suami, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami, bersyukur karena ia bisa kembali bersamanya, bisa melihat suaminya dan bisa memeluknya erat.
“Terimakasih mas” ucap Nania akhirnya, “Mas sudah menjaga Nia dengan baik mas”
“Mas sempat gagal dek, harusnya tadi mas tak membiarkan mu sendirian”
Nania tak menjawab ucapan sang suami, ia tak ingin menyalahkan suaminya, ia pun menyadari ia juga salah karena tak bisa menjaga diri, dan tak mengijinkan suaminya untuk mengantarnya tadi.
Nania menggelengkan kepalanya, dan mengeratkan pelukannya, menghirup bau tubuh sang suami yang memberikan rasa aman dan nyaman untuknya.
__ADS_1
Tbc
Terimakasih atas dukungannya 😍😍😍