
🌼Happy Reading🌼
Mama Dahlia memasuki ruang IGD dengan rasa sedih sekaligus rasa haru, menantu tersayangnya akan segera memberikannya cucu, namun merasa miris karena sang menantu kini terbaring lemah tak sadarkan diri dengan beberapa luka di tubuhnya.
Setelah mendengar penjelasan rekannya tadi, mama Dahlia langsung masuk ke ruang IGD dimana putra dan menantunya berada.
Disebelah menantunya sang putra semata wayang juga terbaring memejamkan mata dengan luka yang lebih sedikit, kalau di lihat sekilas hanya beberapa luka kecil saja.
Langkahnya semakin mendekat, seiring dengan mata Rivan yang mulai mengerjap.
“ssttthhhh” desis Rivan kala merasakan nyeri pada beberapa bagian tubuhnya.
“Rivan, Alhamdulillah nak…!” pekik mama Dahlia bahagia karena sang putra telah sadarkan diri.
Ia pun segera mengecek kondisi sang putra dan segera memberi tau perawat bahwa putranya telah membuka matanya.
“Ma…” desis Rivan kala melihat sang mama berdiri di sampingnya sembari mengecek kondisinya.
“iya sayang, ini mama, apa yang kamu rasakan?”
“ini di mana ma? Bukan di klinik mama?” tanya Rivan yang terlihat megedarkan pandangannya ke sekelilingnya mengatasi kebingungannya.
“Rumah sakit sayang, bukan klinik mama”
“Nia!!!” pekik Rivan teringat istrinya yang ikut bersama mobilnya saat kecelakaan terjadi. “ma, Nia di mana?” Rivan terlihat panik karena tak melihat istrinya, keberadaan Nania yang berada di sebelahnya terhalang perawat dan dokter jaga yang memeriksa kondisinya.
“Nia di sini sayang, tenangkan dirimu, oke?” pinta mama agar sang putra bersikap tenang.
“Di mana Ma?” Rivan berusaha bangkit dari pembaringan setelah rasa peningnya berkurang.
“Biarkan dokter mengecek kondisimu dulu Van, jangan duduk dulu”
“Tidak apa dok, kondisi putra anda baik-baik saja” sanggar dokter yang menangani Rivan.
“ma…” rengek Rivan kembali, mengabaikan ucapan dokter yang yang memeriksanya.
“istri Anda di sebelah sini mas,” tunjuk dokter sembari bergeser agar tak menutupi pandangan pasiennya.
Rivan pun menolah ke arah sang dokter dan perawat yang berada di sisi lain ranjangnya, bersebrangan dengan sang mama.
“Nia…!! Dek!!!” Rivan pun berusaha turun dari ranjangnya dan mendekati sang istri yang masih belum sadarkan diri “ya Allah dek…. Maafkan mas dek”
__ADS_1
Rivan menggenggam tangan sang istri dan mengamati beberapa bagian tubuh Nania yang terluka.
“Gimana kondisi istri saya dok?”
“Kami belum bisa memastikan mas, sejauh ini baik-baik saja, tapi kami perlu memeriksa lebih detail setelah kondisinya sadar nanti”
Rivan termenung menatap wajah sang istri, di dahinya terdapat perban yang menutup lukanya, dan ada beberapa goresan di pipi dan pelipisnya. Rambut sang istri tampak tergerai, tak lagi tertutup jilbab.
Tak berapa lama kemudian, telapat tangan dalam genggamannya bergerak pelan, dan mata sipit yang selalu ia rindukan itu terbuka perlahan.
“Dek…” pekik Rivan senang karena sang istri telah sadarkan diri “Alhamdullah ya Allah”
Dokter yang masih berada di situ pun segera memeriksa kondisi Nania kemudian meminta perawat untuk membawa pasiennya ke ruang pemeriksaan kandungan untuk memastikan janin dalam kandungan Nania.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter terkait kondisi sang istri, Rivanpun mengikuti Nania yang menjalani pemeriksaan dengan di papah sang mama. Ada rasa haru yang menyeruak dalam dada saat dokter mengatakan pemeriksaan ini untuk mengetahui janin dalam Rahim istrinya.
Sungguh kebahagiaannya tak dapat di ungkapkan melalu kata-kata saat mendengar kehamilan sang istri, namun rasa khawatir juga menyelimutinya saat melihat kondisi sang istri yang masih terbaring lemah, dan mengingat benturan yang terjadi karena kacelakaan yang mereka alami.
‘Ya Allah, semoga kondisi anak dan istriku baik-baik saja’ do'a Rivan dalam hati sembari melihat sang istri yang telah di periksa.
Nania yang masih terbaring pun akhirnya meneteskan air matanya saat dokter menjelaskan kondisi janin dalam rahimnya, rasanya tak percaya saat makhluk kecil itu telah bersemayam dalam rahimnya.
Dokter mengatakan kondisinya sangat kuat, benturan akibat kecelakaan tadi tak membuatnya dalam masalah. Rasa syukur yang begitu besar ia panjatkan karena calon anaknya baik-baik saja.
Rivan mendekat dan kembali menggenggam telapak tangan sang istri kemudian mengecupnya pelan.
Rasa sakit di tubuhnya seolah tak terasa karena mendengar kabar bahagia ini,
“Dia di sini mas, baby sudah di sini” ucap Nania pelan sembari mengusap pelan perutnya yang maish rata,
“ya sayang, kita akan jadi orang tua, terimakasih sayang, terimakasih” Rivan mengecup kening sang istri yang tertutup perban.
Setelah semua pemeriksaan selesai, Nania akan di pindahkan ke ruang rawat inap untuk masa pemulihan, sementara Rivan di persilakan untuk rawat jalan, karena memang kondisinya baik-baik saja.
***
“Nia!!” pekik mama Nita saat masuk ke dalam ruang rawat sang putri di rawat.
Air matanya jatuh kala melihat sang putri terbaring degan beberapa perban di tubuhnya.
“Nia baik-baik aja ma” ucap Nia sembari tersenyum untuk menenangkan mama tercinta.
__ADS_1
“Bagaimana bisa bilang baik-baik saja, ini, ini.. perbannya banyak gini” isak mama Nita sembari menunjuk beberapa perban yang menutup luka putrinya.
“Nia gapapa ma” Papa Doni yang tadinya duduk beralih mendekati sang istri yang terisak di sisi ranjang putrinya.
“itu Nia sakit pa”
“Iya, jangan nangis ah, nanti malu sama calon cucu mama” bujuk papa Doni sembari merangkul sang istri,
“Cucu papa tak ikut ke sini pa, Linda kan di rumah jadi ga akan lihat”
“Bukan yang di rumah ma, itu di perut putri mama ada calon cucu kita”
Mama Nita menatap lekat sang suami, mengerutkan dahinya, seolah bertanya apakah benar?
Papa Doni mengangguk meyakinkan sang istri, hingga tangis mama Nita kembali pecah setelah mendapat jawaban dari sang suami.
“Loh loh, kok malah nangis lagi” papa Doni tertawa pelan melihat sikap mama Nita.
“Nia hamil?”
“Iya ma” kini Rivan yang menjawab “kami juga akan kasih cucu ke mama”
Papa Doni pun akhirnya mengajak mama Nita duduk agar merasa lebih tenang. Mama Dahlia yang duduk pun menyambut sahabat sekaligus besannya itu dengan senyum lebarnya.
“Kita bakal punya cucu Nit, kok malah nangis sih” goda mama Dahlia
“Nia hamil, tapi itu luka di tubuhnya Lia” ucap mama Nita dengan terbata,
“Nia gapapa, hanya luka luar, janinnya juga baik-baik saja, tadi sudah di periksa”
Kedua wanita paruh baya itu saling memandang, Mama Dahlia tersenyum meyakinkan sang besan bahwa Nania baik-baik saja.
“Benarkah?”
“iya, kamu tak percaya padaku?”
Mama Nita menggelengkan kepala, “bukan begitu, tapi…”
“Nia akan baik-baik saja, aku akan pastikan juga, jangan khawatir” ucap Mama Dahlia, yang di angguki mama Nita setelah menyeka air matanya.
Kabar yang ia terima beberapa waktu lalu membuatnya begitu khawatir, ia hendak menyusul ke rumah sakit dari tadi, namun tak di ijinkan sang suami. Ia harus menunggu Nando pulang terlebih dulu, jadi ada yang menemani Linda di rumah.
__ADS_1
Tbc