
🌼Happy Reading🌼
Ketiganya begitu menikmati makanan yang di depan meja, setelah bebera suapan sang sopir akhirnya merasa lebih nyaman dan tak sungkan untuk mencicipi semua menu yang di pesan Nania.
Obrolan ringan pun mereka lontarkan untuk membuat suasana terasa hangat dan tidak kaku. Bagi Nania pekerja mereka adalah bagian dari keluarganya, jadi ia akan selalu menghormati dan menghargai mereka, terlebih jika usia mereka lebih tua darinya. Tak etis rasanya kalau dirinya makan enak, namun sopirnya hanya menunggu di dalam mobil kelaparan. Begitulah pemikiran Nania yang pemikiran itu juga sangat di dukung sang suami.
Setelah menghabiskan makanan yang mereka pesan, ketiganya pun melanjutkan perjalanan ke resort karena malam semakin larut.
Setelah hampir 1 jam perjalanan mereka tiba di area resort yang tampak sepi, karena belum beroperasi secara penuh. Sang sopir pun mengarahkan mobilnya menuju salah satu bangunan yang memang di khususkan untuk keluarga pemilik jika ingin menginap di sana.
“Bagus banget ya mas” celetuk Nania yang mengagumi hasil kerja suami dan timnya.
“iya, semoga nanti banyak tamu yang akan menginap di sini sayang”
“Amiin, semoga mas”
“Terimakasih ya pak, silakan beristirahat, tapi besok akan kami panggil kalau kami ingin pergi pak”
“baik pak, dengan senang hati saya akan mengantar bapak dan ibu”
Ketiganya tersenyum dan berpisah di teras salah satu bangunan. Lalu Rivan pun mengajak sang istri untuk ke kamar mereka, nuansa yang begitu asri terlihat di sekitar bangunan itu, membuat udara terasa cukup dingin.
“Sayang, lelah tidak?”
“Kenapa mas?”
Rivan melangkah mendekati sang istri yang tengah meletakan tasnya di atas nakas, lalu memeluknya dari belakang.
“Udaranya dingin sayang”
“mas perlu jaket? Atau itu ada selimut tebal mas” jawab Nania yang masih belum mengerti kode dari suaminya.
“mas ga butuh itu dek, mas butuhnya kamu” jawab Rivan sembari mengcup pipi sang istri, hingga akhirnya paham maksud sang suami.
Nania pun mengangguk dan menerima ajakan sang suami, melayani sang suami adalah kewajibannya, dan dengan ini dia bisa mengurai rasa traumanya.
***
Matahari tampak menyingsing dari ufuk timur, namun dua insan yang tengah di landa mabuk asmara itu masih erat berpelukan dengan berbalut selimut tebal. Selepas ibadah subuh tadi keduanya kembali merengkuh manisnya gelora cinta mereka, hingga akhirnya kembali terlelap setelah kelelahan.
__ADS_1
Rivan mengerjapkan matanya karena silau sinar matahari yang masuk melalui sela-sela gorden jendela. Dipandangnya sosok wanita yang masih memejamkan mata dalam pelukannya.
Seulas senyum terbit dari bibirnya mengingat aktivitas mereka semalam dan pagi ini, sungguh ia sangat bersyukur atas anugrah yang Tuhan berikan untuknya. Wanita yang dicintainya sejak lama kini sudah menjadi miliknya seutuhnya. Ia akan selalu menjaganya dan berusaha untuk membahagiakannya.
“Dek, bangun” kecupan cukup lama mendarat di kening Nania yang masih terlihat nyaman memeluk sang suami.
“Dek” ucapnya lagi saat merasakan sang istri mengeratkan pelukannya.
“Dek udah siang, kita mandi dulu ya” bujuk Rivan berusaha membangunkan istrinya.
Tak lupa kecupan ringan mendarat di seluruh wajah sang istri, seperti saat ia di bangunkan. Rasanya sungguh membahagiakan mendapatkan kecupan dari orang tersayang.
“Mas…Nia masih ngantuk” rengek Nania yang tak mau bangun dan tak mau melepas pelukannya. “capek”
Rivan tersenyum lebar, mengerti kelelahan sang istri setelah melayaninya, namun jika di biarkan mereka akan telat untuk sarapan pagi, dan Rivan tak mau itu terjadi.
“dek, bangun, kamu tidak lapar? Hmm?”
Nania mengerjap menatap sang suami yang tersenyum lebar padanya, perlahan ia melepas pelukannya pada sang suami, dan mengeliatkan tubuhnya, berharap rasa pegal di tubuhnya berkurang.
“Badan Nia rasanya kaya di pukul mas, capek banget” keluhnya pada sang suami.
“Maafkan mas sayang”
“Maafkan mas sayang, ya mas sudah menahan lama dek, kamu ga tau apa dari awal menikah mas sudah mati-matian menahan, kita sudah 3 bulan menikah, ya kali mas baru merasakannya, udah sah tapi belum bisa melakukannya.” Jawab Rivan memelas.
“Ya kan kondisi mas kaya gitu sih”
“Iya-iya sayang, makanya mumpung kaki mas udah sembuh, jadi ya bisa dong minta hak mas”
***
Setelah membersihkan diri bersama, keduanya kini duduk di ruang depan untuk menunggu sarapan mereka.
“Hari ini Nia mau jalan-jalan ya mas”
“Setelah mas periksa beberapa persiapan ya sayang, jam 10 nanti mas ada janji sama mangaer resort untuk mengecek persiapan peresmian besok lusa”
“Nia tak boleh pergi sendiri?”
__ADS_1
“Dek….!” Ucap Rivan penuh penekanan dan permohonan
“Iya-iya mas, Nia akan tunggu mas”
“Kamu ngerti maksud mas kan?” Rivan menatap lembut sang istri,
Ia begitu mengkhawatirkan keselamatan sang istri, tak ingin kejadian serupa kemarin terjadi lagi, meski kini mereka berada di luar kota, tak mungkin bertemu dengan pria b***k itu lagi, namun tak menutup kemungkinan akan ada orang lain yang berbuat jahat kepada mereka. Terlebih mereka masih orang asing di daerah ini. Akan sangat berisiko membiarkan sang istri berjalan-jalan sendiri.
“Iya-iya, Nia ngerti, mas kerja aja Nia akan tidur aja nanti” Nania mengalah tak ingin membantah sang suami,
“Mas janji tak akan lama, setelah dzuhur sudah selesai, nanti kita sekalian makan siang di luar, bagaimana?"
" iya, Nia ikut kata mas aja"
Rivan tersenyum melihat tingkah sang istri yang sedang merajuk. Tak lama kemudian pesanan sarapan mereka datang dan kali ini Rivan yang menyiapkan untuk istrinya.
"Mas suapi dek?"
" ga mas, Nia bisa makan sendiri"
"yach. padahal mas pengen suapin kamu lho, aaaa.... Buka mulutnya"
Rivan menyodorkan sesendok nasi ke depan mulut Nania, membuatnya mau tak mau membuka mulutnya.
"oh ya mas, kita belum kasih kabar ke papa mama kalau sudah sampai"
"sudah sayang, semalam mas sudah kirim pesan ke papa"
Nania mengangguk kemudian menerima suapan demi suapan dari sang suami. Sampai mereka harus menambah karena porsi makan Nania yang cukup besar, seperti tak makan berhari-hari karena rasa lapar yang begitu besar.
"wah dek, makanmu banyak banget"
"laper mas, Nia sudah tak bertenaga gara-gara mas"
"oke, bener. makan yang banyak ya, nanti kita lanjut lagi" Rivan mengedipkan mata kanannya sembari menyuapi sang istri.
"mas....!!!!!" rengeknya meski tetep mengunyah makanannya, dalam hati menggerutu 'bener-bener ya, ga kasian sama istrinya, tega banget sih'
"Iya..iya.. hari ini istirahat dulu, lanjut besok saja, tapi double" Jawab Rivan sembari terkekeh melihat raut kesal istrinya.
__ADS_1
"mas....!!!"
Tbc