Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 71


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Cup!


Secepat kilat Nania mengecup pipi sang suami, membuat si empunya mengerjapkan mata, terbengong akan sikap berani istrinya.


“Dek…!!!” Pekik Rivan saat melihat sang istri telah melepaskan rangkulan tangannya dan berjalan cepat menuju bagian swalayan.


“Awas kamu ya!!” Rivan tersenyum senang sambari mengusap pelan bekas kecupan di pipinya.


Hatinya mendadak berbunga karena sikap egresif sang istri, tak biasanya istri cantiknya itu mau mengecupnya di depan umum. Tapi apa ini? Barusan dengan beraninya wanita cantik itu memberikan kecupan meskipun hanya kecupan secepat kilat. Seketika rasa jengkel dalam hatinya menguar entah ke mana di gantikan rasa berbunga-bunga yang menggambarkan kebahagiannya.


Nania mengabaikan panggilan sang suami yang mencoba mengejarnya, ia pun meraih troli dan mendorongnya ke barisan rak yang berisi cemilan atau makanan ringan.


“Kamu ini ya, suka sekali bikin mas gemes” ucap Rivan setelah berhasil menyusul sang istri, ia pun langsung memiting istrinya lalu mengacak rambut sang istri, membuat Nania meronta ingin di lepaskan.


Keduanya tertawa mengabaikan beberapa pengunjung yang tersenyum melihat mereka.


“Mas ih, lepas, berantakan rambut Nia ini, kebiasaan ih!” Nania tetap meronta meski tawa masih menyertai di sela-sela ucapannya.


Cup!


Kini Rivan yang mendaratkan kecupan di pipi istrinya, kemudian melepaskan pitingannya.


“Mas gemes tau ga dek” keduanya berdiri berhadapan dan Rivan pun membantu merapikan rambut sang istri yang acak-acakan karena ulahnya.


“udah, ini biarin Nia rapiin sendiri, nanti mas berantakin lagi” ia tepis tangan sang suami yang masih tersenyum gemas berdiri di depannya.


“Jangan manyun gitu sih dek, nanti mas cium lho, bukan cuma pipinya doang”


Sontak saja Nania menutup bibirnya dengan kedua tangannya, pipinya merona karena ucapan sang suami. Sementara Rivan makin terkekeh dengan tingkah imut istrinya.


“ga tau tempat sih mas,” kesal Nania lalu berbalik dan melanjutkan mendorong troli yang telah di ambilnya.


“Kan kamu duluan sih dek” Rivan mengambil alih troli yang di dorong istrinya, membiarkan sang istri lebih leluasa untuk memilih apa yang ingin dibelinya.


Setelah beberapa saat Nania mulai memilih berbagai jenis cemilan yang akan dibelinya, tak lupa mengambil beberapa bungkus favorit suaminya.


“Banyak banget dek, itu kenapa ada cemilan anak kecil kaya gitu?” tanya Rivan yang merasa heran, karena ada cemilan yang menurutnya itu cocok di makan anak kecil, bukan untuk orang dewasa seperti istrinya.

__ADS_1


“Buat anaknya pak Didi mas, gapapa kan?”


“Hmm, mas kira buat kamu, ya gapapa, apa salahnya berbagi”


“Terimakasih mas” Nania melanjutkan memilih cemilan


Keduanya melewati rak berisi berbagai macam susu, baik untuk anak-anak maupun dewasa,


“mas perlu beli ini tidak?” tanya Nania pada sang suami sembari menunjuk barisan susu khusus untuk pengantin baru yang merencanakan kehamilan,


Pertanyaan dari sang istri membuat hatinya menghangat. “kamu ingin segera hamil dek?”


“Ya mas mau cepat punya anak tidak?”


“Mas sih, sedikasihnya aja dek, mas tak ingin membebani kamu”


“Nia ambil satu ya”


Rivan pun mengusap lembut puncuk kepala sang istri sembari tersenyum lebar, “Makasih sayang”


Rivan benar-benar bersyukur karena sang istri bersedia untuk mengandung anaknya, bahkan tanpa di sangka malah berisinisiatif untuk membeli susu untuk program kehamilan. Berada di sisinya saja sudah membuatnya cukup bahagia, apalagi ini, sang istri ingin memberikan anak untuknya, sungguh kebahagiaan yang tak bisa di gambarkan dengan untaian kata apapun.


“Kamu ingin masak di resort dek?”


Nania mengangguk karena kamar yang mereka tempati terdapat dapur minimalis yang memudahkannya untuk memasak menu yang ingin ia makan.


“Kan bisa ke dapur dek, dapurnya ga jauh dari kamar kita,”


“Buat jaga-jaga kalau tengah malam pengen makan mas”


“Terserah kamu aja dek, tapi jangan banyak-banyak, takutnya mubadzir nanti kalau ndak sempat masak”


“Oke mas”


Setelah dirasa cukup, merekapun melangkah ke kasir untuk membayar dan keluar dari area swalayan dengan menenteng beberapa kantong belanjaan mereka.


“Kita duduk sana dulu dek, mas telpon pak Didi untuk bantu bawa” Rivan mengajak sang istri duduk karena tak tega melihat istrinya ikut menenteng beberapa kantong belanjaan mereka yang cukup berat, jadi ia ingin memanggil sopirnya untuk membantu membawanya menuju mobil.


Keduanya duduk di kursi tunggu yang di sediakan. Sembari menunggu sang suami menelpon, Nania memisahkan beberapa cemilan yang rencananya akan ia berikan pada sang sopir. Dari pembicaraan mereka semalam, ia mengetahui bahwa sang sopir memiliki dua anak yang masih kecil-kecil, jadi ia ingin memberikan itu untuk anaknya.

__ADS_1


“masih ada yang mau di beli ga dek?”


“Ga ah mas, kita pulang aja, tapi nanti sebelum sampai resort kita cari makan dulu ya, Nia laper lagi”


“Ya Allah dek, kalau laper ya makan sekarang dek, kenapa ga makan di sini aja? Kita ke foodcourt, mau?”


“Ga ah, Nia pengen makan di warung lesehan”


“hmm, ya sudah kalau gitu”


Nia mengedarkan pandangannya, dan melihat stand ice cream yang tak jauh dari tempatnya duduk.


“Mas, Nia beli ice cream dulu ya, mas tunggu sini” ucapnya girang seperti melihat harta karun, lalu berdiri hendak melangkah, namun tertahan karena tangannya di cekal sang suami.


“Mas aja yang belikan, kamu duduk di sini, emang ga capek sedari tadi jalan terus?”


“Ya gapapa mas, cuma dekat juga, mas kan juga ga boleh capek-capek”


“Sudah! duduk, mas yang akan belikan, jangan kemana-mana” Rivan memegang pundak sang istri dan memintanya duduk dengan tenang dan ia akan membelikan ice cream kesukaannya.


“Rasa coklat ya mas, toping oreo dan choco chip”


“Iya, mas sudah hafal kesukaan mu sayang”


Di tempat yang tak jauh dari mereka berada, sesorang masih setia mengamati keduanya, bahkan sedari tadi ia ikut masuk ke dalam swalayan untuk memastikan bahwa mereka adalah orang yang ia kenal. Ingin rasanya segera menemui mereka dan menyampaikan apa yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. Dia pun juga ingin mengetahui hubungan keduanya, karena kalau tak salah lihat, mereka tadi sempat berhenti di rak khusus susu ibu hamil.


Melihat ada kesempatan saat Rivan beranjak meninggalkan Nania duduk sendirian, orang itu segera melangkahkan kakinya mendekati sosok wanita cantik yang selama ini ingin di temuinya, sesekali ia melihat ke arah stand ice cream, memastikan bahwa Rivan masih berdiri di sana. Cukup beruntung karena antrian di depan stand terlihat cukup banyak.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan kini dia telah berdiri di dekat Nania yang asyik memainkan ponselnya.


“Nia…”


Deg!


Tbc


Hallo semua 🤗🤗🤗


Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩

__ADS_1


love you All 😍😍😍


__ADS_2