
🌼Happy Reading🌼
Malam harinya Adrivan dan Nania memutuskan untuk bermalam di kediaman Rahardian, dan esok baru pulang ke kediaman Erlangga. Saat duduk santai tadi sore Uncle Ferdinand dan Uncle Bram mengatakan akan kembali ke rumah besok pagi, jadi mereka memutuskan untuk mengadakan BBQan di taman belakang.
“Dek, tolong bakarkan sosis ayam dan paprika ya” pinta Linda tiba-tiba pada John yang sedang asyik menikmati jagung bakarnya.
“Ha!! apa kak?” John melongo dan menanyakan sekali lagi ia tak salah dengar.
“Bakarkan sosis ayam”
“Lah kak, sosisnya sudah habis kak” elak John, karena sosis terakhir yang di bakar mereka tadi telah di santap Rendra, karena selain es krim, sosis adalah makanan favorit anak uncle Bram yang baru menginjak remaja itu.
“pokoknya bakarkan dek, beli lagi lah” pinta Linda dengan mata berbinar, tingkah tak biasanya ini tak luput dari para orang tua yang tersenyum penuh arti.
“makan yang ada sayang, sosisnya sudah habis, itu masih ada daging dan jagung juga” Nando mecoba memberikan tawaran kepada sang istri yang meminta sosis bakar.
“Ga mau!! maunya sosis ayam di buat sate sama paprika merah, pasti enak” membayangkan makanan yang baru saja di sebutkannya saja mambuat Linda meneguk air liurnya, ‘pasti akan sangat nikmat’
“Tapi Yang, sudah habis sosisnya, lagi pula paprika merahnya juga ga ada, yang lain saja ya”
“Ga mau pokoknya mau itu” ucap Linda dengan suara bergetar, dengan mata berkaca-kaca.
Nando yang belum mengerti akan perubahan sikap sang istripun masih berusaha membujuk sang istri dengan menu yang ada.
“Turuti saja Kak” pinta mama Nita yang menahan tawa melihat tingkah menantunya yang merengek kesal tak seperti biasanya.
“Tapi ma”
“ish, kamu ini Nan, istrimu itu lagi ngidam kok ya ga paham sih?” tante Tari ikut gemas melihat tingkah sepasang suami istri yang menantikan anak pertama itu.
Deg!
Nando pun tersentak mendengar ucapan sang tante, ‘inikah yang di maksud ngidam?’
__ADS_1
Raut wajah Nando pun berubah menjadi berbinar kemudian mengelus perut sang istri, “oh, anak papa minta sosis bakar ya, oke, papa belikan sosisnya dulu ya, sama paprika merahnya”
“Ga mau, aku mau John yang belikan, dan bakar sosisnya”
Glek!!
John yang mendengar pekikan Linda menelan ludah kasar, ‘alamak, kok aku yang jadi sasaran sih, ponakan aku bener-bener nih ya? manfaatin banget, mentang-mentang besok pulang sekarang malah dikerjain’ gerutu John dalam hati melihat semua anggota keluarganya menatapnya.
“Papa saja yang belikan ya sayang” bujuk Nando, ia ingin memberikan yang di minta sang anak, ‘masa ngidam pertama bukan minta papanya malah minta uncle nya sih’
“Ga mau, maunya uncle John pa!!” Linda kembali merengek dengan mata berkaca-kaca.
“Pergi belikan yang di minta keponakanmu John, jangan sampai ponakan mu nanti ileran” pinta uncle Ferdianand yang melihat putra bungsunya masih bengong melihat drama sepasang suami istri itu.
“Kamu antar saja Nan, sama saja kan , tapi John yang beli” timpal tante Dea.
“John, nitip es krim coklat sekalian ya” celetuk Nania yang masih asyik menyuapi sang suami.
“John, ka----“
“Apa? kakak mau nitip rasa Strowbery?” jawab John dengan ketusnya pada sang kakak yang hendak berbicara, membuat empunya hanya tersenyum lebar sembari mengangguk karena tebakan sang adik sangat tepat.
“Galak bener sih Dek, padahal aku mau nitip kripik kentang juga lho” timpal Dimas yang senang mengerjai adik sepupunya itu.
Meskipun usianya lebih muda dari John, tapi karena sang ayah adalah kakak dari tante Dea jadilah ia tetap di panggil kakak.
Para orang tua hanya tersenyum melihat kekompakan anak-anak mereka mengerjai John, mereka merasa senang anak-anak mereka terlihat akrab.
“Kalian ini ya, seneng bener ngerjain John, ganggu John yang lagi nikmatin jagung bakar ini” John pun meletakan jagung bakar yang baru ia makan setengahnya, lalu berdiri,
“Kok John gitu sih, ga mau beliin sosis buat kakak ya?” Linda yang begitu sensitive karena hormon kehamilannya pun merengek dengan mata yang berkaca-kaca, air matanya hampir jatuh membuat John merasa tak enak hati,
“Eh … eh, ndak kok kak, Ini John berangkat sekarang ya, John belikan sosis ayam untuk kak Linda, ok”
__ADS_1
Nando yang ikut berdiri pun menghela nafas, “maaf ya John jadi merepotkan”
Mata bulat Linda pun seketika berbinar mendengar ucapan John yang akan membelikan sosis ayam untuknya. Merasa bahagia karena keinginannya akan segera di turuti.
“it’s okay kak”
Mereka berdua pun melangkah meninggalkan taman belakang untuk pergi membelikan pesanan bumil dan para sepupunya, sementara keluarga laiinnya kembali tertawa melihat drama yang baru saja terjadi.
Perubahan mood yang tiba-tiba dari menantu Rahardian ini memberikan hiburan tersendiri untuk mereka, terlebih untuk kedua orang tua Nania yang telah lama menantikan cucu pertamanya.
“Mood bumil bener-bener ga bisa di tebak ya dek” bisik Adrivan yang melihat sang kakak ipar sekarang tersenyum bahagia, padahal sebelumnya sudah hampir menangis.
“huum” Nania mengangguk setuju karena baru kali ini pengalamannya menghadapi orang hamil.
Mereka pun melanjutkan makan mereka, dan sesekali candaan mereka terdengar hingga meriuhkan suasana yang semakin larut.
Tak berapa lama kemudian, John dan Nando kembali dengan masing-masing menenteng kantong plastik berisi belanjaan mereka.
“Wah, es krimnya datang!!” pekik Rendra yang begitu girang karena sedari tadi menahan kantuk untuk menikmati es krim favoritnya.
Linda pun tak kalah girangnya kala John mengeluarkan 1 pack sosis besar rasa ayam di atas meja. Tanpa banyak bicara John pun menyiapkan tusukan sate dan menyusun sosis dan paprika yang telah ia potong sebelumnya. Sementara Nando membagikan titipan adik-adiknya.
Nando pun di buat cemburu karena sang istri memilih menunggui John yang sedang membakar sosisnya daripada menyambutnya. “Ya Allah Yang, duduk di sini saja lah, sosismu ga akan ke mana-mana”
“Sorry kak, anakmu kayanya lebih memilih unclenya dari pada papanya” ucap John dengan percaya diri bermaksud mengerjai sang kakak yang sudah terlihat kesal.
Sementara bumil cantik itu pun diam saja dan hanya menatap beberapa tusuk sosis yang masih di atas papan gril.
“Yang kenapa ga minta aku saja sih, jangan sampai anakku jadi t****l kaya unclenya itu” Nando merasa gemas karena sang istri mengabaikannya membuat John tersenyum semakin lebar.
Sontak saja semua orang kembali tertawa melihat tingkah Nando yang kesal, tak biasanya mereka berhasil mengerjain putra sulung keluarga Rahardian itu, sikapnya yang terbiasa bijak membuatnya sulit untuk di kerjai, namun kali ini sikap kekanakannya akhirnya muncul hanya karena permintaan bumilnya tak tertuju padanya.
Tbc
__ADS_1