Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 55


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan akhirnya dokter melepas gips yang membalut kakinya, Adrivan dan sang istri kini melangkah perlahan keluar dari Rumah sakit.


“Masih sakit mas?”


“Sedikit dek, tapi lebih ringan aja, cuma agak kaku aja”


“Ya wajar sih mas, lama ketutup, lama di gips nya juga”


Adrivan mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya perlahan menuju mobil yang telah terparkir di depan loby. Sesekali mereka menyapa petugas medis yang melewati mereka dengan senyum dan anggukan kepala.


“Hati-hati mas” dengan sigap Pak Rahman, sopir pribadi keluarga Erlangga membantu Adrivan masuk kedalam mobil.


“Terimakasih pak,”


Nania dengan setia duduk di samping sang suami sementara Pak Rahman sudah bersiap di balik kemudi.


“Langsung pulang mb?”


“Mampir ke resto semeru ya pak, kita makan siang di sana dulu”


“Iya mb,”


Dengan kecepatan sedang mobil yang di kemudikan Pak Rahman membelah jalan yang tampak begitu padat karena memasuki waktu jam makan siang. Sepertinya para pekerja banyak yang memanfaatkan waktu istirahat untuk berburu makan siang favorit mereka di restoran atau tempat makan lainnya sehingga meramaikan jalan yang sebelumnya tampak lengang.


Adrivan hanya duduk diam bersandar memandang ke arah luar jendela, memperhatikan lalu lalang kendaraan yang dapat di lihat dari kaca jendelanya.


“Mas kenapa?”


Nania yang merasa aneh dengan sikap sang suami pun menggenggam tangannya, padahal sebelum ke rumah sakit tadi terlihat begitu senang, tapi kenapa sekarang malah melamun.


“gapapa dek” Adrivan menoleh, menatap sang istri dengan mengulas senyumnya.


“Bohong, pasti ada yang dipikirkan?”


Huff


Adrivan menghela nafas, mengangkat tangan yang menggenggamnya dan mengecupnya dengan sangat dalam. Memang ia tak akan bisa membohongi sang istri, kebersamaannya selama ini telah membuat ikatan batin di antara mereka sangat erat, dan akan sangat terlihat apabila salah satu dari mereka berbohong atau menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


“Mas hanya memikirkan rencana resepsi kita dek, mungkin memang tidak bisa dilaksanakan sesuai rencana awal” jelas Adrivan kembali menatap ke luar.


“Nia ga masalah sih mas, yang penting kita kan sudah sah jadi suami istri, resepsi kan bisa dilakukan kapan pun, kalau pun tidak dilaksanakan Nia ga keberatan” dengan santainya Nania menyandarkan kepalanya di pundak lebar itu. Begitu kokohnya membuatnya begitu nyaman.


“Mas yang keberatan dek!" kembali menoleh kepada sang istri, membuat Nania kembali menegakkan tubuhnya "mas ingin memberikan pesta pernikahan yang sesuai impian mu”


“Nia ga ingin pesta mewah mas, mas tau itu. sedari dulu kan Nia sudah katakan” ucap Nania dengan penuh kelembutan.


“Iya, mas paham, tapi mas ingin menggelarnya untukmu, memangnya kamu tak ingin mengundang teman-temanmu? Selama ini kan kita belum mempublikasikan pernikahan kita, hanya tetangga yang tau, dan beberapa tamu undangan yang hadir dalam akad nikah kita kemarin”


“ya, terserah mas saja" ucap Nania pasrah, tak ingin mengecewakan sang suami yang menatapnya penuh harap. "tapi Nia minta resepsinya di gelar waktu mas sudah benar-benar pulih, Nia ga mau mas capek dan malah memperlambat kesembuhan kalau di paksakan sesuai rencana awal,”


“Ya, nanti kita diskusikan sama papa mama ya” tak sungkan Adrivan mendaratkan kecupan di kening sang istri, membuat Pak Rahman yang berada di balik kemudi mengulas senyum ikut berbahagia dengan keharmonisan putra dan menantu majikannya.


Tak berapa lama kemudian, mobil telah terparkir di halaman Resto yang ingin Nania kunjungi. Seperti biasa Nania akan mengajak sopir pribadi keluarga suaminya itu untuk ikut makan bersama.


“Jangan sungkan untuk memilih menu lho pak, Nia ga mau denger kata ga enak dari pak Rahman” ultimatum Nania setelah mereka memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk.


“Iya mb” jawab Pak Rahman dengan senyum canggungnya, selalu saja kalau pergi mengantar mereka ke restoran pasti akan di ultimatum seperti ini.


“Dek, mas mau bebek bakar ya, ca brokoli juga, sama jus alpukat”


“Oke mas” Nania pun mencatat menu yang di minta sang suami kemudian mencatat menu yang akan ia santap, tak lupa menu yang Pak Rahman pilih.


"Mohon ditunggu ya kak" ucap sang pelayan setelah mengkonfirmasi kembali menu yang mereka pilih.


"terimakasih mbak"


Sembari menunggu makan siang mereka di siapkan, sesekali mereka bercengkrama untuk mengusir rasa bosan, restoran yang tampak penuh membuat pesanan mereka siap lebih lama.


“Nanti malam ke rumah papa ya Mas?”


“Boleh, nanti kita nginep di sana juga gapapa?”


“Serius mas?” tanya Nania girang, selama dua bulan ini mereka hanya berkunjung saja jika ke rumah Rahardian, tanpa menginap.


“Iya, kamu pasti kangen tidur di kamar mu kan?”


“hmm” Nania mengangguk begitu antusias, rasanya sungguh sangat merindukan kamarnya. Setiap berkunjung mereka pun pasti tak pergi ke kamarnya karena kondisi Adrivan yang belum memungkinkan naik turun tangga, sementara kamarnya berada di lantai dua.

__ADS_1


“ya sudah, nanti sore kita ke rumah papa, sekalian nanti malam kita diskusikan soal waktu resepsi kita"


"hmm, tapi kan belum bicara sama mama Dahlia dan papa Ryan mas"


"gapapa, kemarin papa Ryan juga udah nanya ke Mas dek, tapi ya mas jawab tunggu mas ke rumah sakit hari ini"


Tak berapa lama kemudian menu makan siang mereka datang, menghentikan obrolan mereka.


“Makan yang banyak ya Pak, kalau masih belum kenyang nambah gapapa”


“Iya mb, ini aja belum di makan mbak” cengir Pak Rahman kemudian mulai menyantap makanan di piringnya.


“Jangan banyak makan pedes dek, nanti sakit perut lagi” cegah Adrivan pada sang istri yang ingin mengambil kembali sambal bawang yang berada di mangkok terpisah.


“ih mas, dikit doang ih, ini belum berasa” Nania mencebik kesal, karena sambal kesukaanya di jauhkan darinya.


“sudah, itu sudah cukup, sambalnya pedes banget dek, ini pakai sambal mas aja”


“Ya, sambal tomat mana pedas mas, ga berasa”


“ga inget minggu lalu sakit perut karena kebanyakan makan sambal?”


“Hehe, ya habis kalau ga pedes ga enak mas, tambah dikit ya?” pintanya merayu dengan puppies eyes nya.


“ndak dek, cukup ya, kasian perutnya, mau di marahi mama gara-gara gak nurut, hmm?”


Nania menggelengkan kepala dengan wajah cemberutnya membuat sang suami menghela nafas.


“Sini mas suapin” untuk menghibur sang istri Adrivan pun menyuapkan makanan di piringnya.


“Enak kan? tak perlu pedas kan?”


Nania mengangguk sembari mengunyah perlahan makan di mulutnya.


Gimana ga enak? Makan di suapi suami tercinta memang paling nikmat.


Tbc


Hallo semua 🤗🤗🤗

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩


Love you All 😍😍😍


__ADS_2