
🌼Happy Reading🌼
Rivan terlihat gelisah, dan sesekali melihat pintu keluar toilet, namun tak ada seorang pun keluar dari sana. Menurutnya Nania pergi terlalu lama, kalau hanya ingin buang air kecil seharusnya tak butuh waktu lebih lama dari ini.
“Pa, ma, Rivan susul Nia dulu”
Kedua orang tuanya hanya mengangguk, sementara Rivan melangkahkan kakinya menuju toilet yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jantungnya bergedup begitu kencang, pikiran negative bersemayam dalam kepalanya, hatinya merasa tak tenang.
“Dek” panggilnya pada lorong toilet yang tampak sepi.
Tak ada seorang pun di sana, perlahan ia melangkah memasuki area yang terlarang baginya, namun ia harus segera memastikan.
Deg!
Sontak matanya membulat kala melihat semua pintu toilet terbuka lebar, menunjukan bahwa tak ada seorang pun di sana.
“Astaghfirullah… Dek” gumam Rivan dengan gelisah seraya menyisir toilet perempuan itu untuk mencari keberadaan sang istri.
Di bawah wastafel yang tampak basah, ia menemukan sebuah benda yang ia yakini adalah milik sang istri. Bros berbentuk kupu-kupu yang di dikenakan sang istri tadi sore tergeletak di lantai kamar mandi.
Pikirannya berkecamuk, segera ia ambil bros itu dan segera keluar menemui kedua orang tuanya.
“Mana Nia Van?” tanya mama Dahlia yang tak melihat sang menantu di sekitar putra semata wayangnya.
Rivan pun tak menjawab pertanyaan sang mama, dan memilih mendekati kakak ipar dan mertuanya.
“Kak, Pa, Nia hilang, sepertinya ada yang menculiknya” ucap Rivan dengan nada bergertar, ia benar-benar khawatir.
Kedua pria Rahardian beda usia itu kemudian melebarkan kedua matanya dan memandang tajam Rivan yang terlihat gelisah.
“Apa maksudmu Van?” tanya papa Doni ingin memastikan ucapan menantunya salah.
“Nania hilang pa, tadi pamit ke toilet, tapi lama tak kembali, Rivan susul ke sana, tapi tak ada seorang pun di toilet pa, dan Rivan menemukan bros yang di pakai Nania tadi terjatuh di lantai toilet pa”
Papa Doni mengehembuskan nafas panjang, mencoba untuk berpikir tenang, ‘bagaimana bisa kecolongan? Lalu di mana bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga putriku?’
__ADS_1
“Nan, antar mama dan istrimu pulang, papa akan mencari tau apa yang terjadi, hubungi Aris untuk melacak keberadaan Nia”
“Baik pa”
“Apa yang terjadi pa?” mama Nita yang mendengar pembicaraan mereka kembali bertanya. Hatinya sudah gelisah, tak ingin mendengar berita negatif tentang putrinya.
“Ma, pulang lah lebih dulu, Dahlia, pulanglah bersama Nita dulu, kami akan mencari Nania”
Dahlia yang sudah menangis setelah mendengar penjelasan sang suami pun mengangguk, tak ingin menghambat pencarian menantunya meski sebenarnya ia ingin membantu mencari.
Mereka pun berpencar, Nando mengantar istri dan mamanya serta mama Dahlia terlebih dulu dengan di antar Pak Joko, sopir keluarganya, sementara para pria berpencar untuk mencari keberadaan Nania.
Papa Ryan dan papa Doni ke ruang CCTV untuk melihat kejadian yang sebenarnya terjadi, sementara Rivan, Riko dan Pak Rahman mencari di sekitar bandara.
Dengan koneksi yang di milikinya papa Doni dapat memasuki ruang cctv dengan mudah dan meminta petugas yang berada di sama memperlihatkan rekaman di sekitar toilet wanita beberapa menit yang lalu.
Tak ada yang mencurigakan terjadi di sana. Mereka melihat Nania masuk ke kamar mandi, namun selang beberapa menit tak melihat Nania keluar, bahkan sampai Rivan masuk kedalam toilet pun tak tampak Nania berjalan keluar dari toilet.
“Tolong putar lagi setelah putri saya masuk ke dalam toilet” pinta papa Doni
“tunggu!” pekik papa Ryan yang melihat seorang petugas cleaning service mendorong ember besar berisi perlaan kebersihan.
“B*****!” umpat papa Doni yang melihat helaian kain di ujung ember besar, yang ia yakini adalah jilbab yang di kenakan putrinya.
Setelahnya para papa itu itu pun meminta petugas untuk mencari seseorang dengan pakain petugas kebersihan itu membawa Nania pergi.
Papa Ryan segera menghubungi putranya untuk melihat lokasi terkahir petugas kebersihan yang terpantau cctv.
Papa Doni pun berkomunikasi dengan anak buahnya untuk mencari keberadaan putri bungsunya. Suasana tegang menyelimuti kedua keluarga. Segala upaya mereka kerahkan untuk menemukan putri sekaligus menantu kedua keluarga besar itu.
***
Di tempat yang berbeda, seorang wanita dengan balutan gamis berwarna abu-abu melenguh sembari mengerjapkan matanya. Rasa pening ia rasakan dan tubuhnya tampak sulit untuk begerak.
Setelah mengerjapkan mata beberapa kali, ia melihat sekelilingnya, kondisi ruangan tampak sepi dan begitu mencekam. Tak ada seorang pun di sana, hanya dirinya seorang yang barada di ruang tertutup tersebut.
__ADS_1
Ia pun melihat sekujur tubuhnya, merasa lega karena pakaiannya masih dalam keadaan lengkap, bahkan jilbabnya pun masih terpasang meski tampak kusut dan berantakan.
‘Ya Allah di mana ini?’ gumam Nania dalam hati, tubuhnya begitu sakit karena ikatan kencang yang melilit tubuhnya.
‘Mas, tolong Nia’ rontanya dalam hati, sebisa mungkin ia menggerakan tubuhnya agar ikatannya melonggar, namum tampaknya usahanya tak membuahkan hasil, hanya rasa perih yang ia rasakan, karena gesekan tali yang melilit tubuhnya menggores kulitnya.
***
“Ko, sudah menemukan lokasi Nia?”
“Sebentar mas” kini keduanya sudah berada di dalam mobil, dan Riko tampak sibuk menghubungi anak buahnya.
Sementara Rivan sendiri masih berusaha melacak lokasi sang istri dari alat pelacak yang dia pasang kalungnya. Berharap Nania mengenakan kalung pemberiannya beberapa bulan lalu, sebagai hadiah 1 bulan pernikahan mereka.
Setelah mendapatkan informasi bahwa Nania di bawa seseorang yang tak di kenal, Rivan mengajak Riko untuk mencari sang istri dengan menggunakan mobil Riko yang masih terparkir di bandara. Sementara Pak Rahman membawa Papa Ryan dan Papa Doni kembali ke rumah.
“Apakah mbak Nia bawa ponsel mas?” tanya Riko setelah memutus sambungan telponnya.
“Tidak, sejak teror kemarin ponselnya aku sita. Setiap hari dia mendapatkan pesan dari nomor berbeda, namun isinya hampir sama, Nia akan terus ketakutan kalau menerimanya”
Riko mengangguk, kemudian kembali megotak-atik ponselnya.
“Ko, tau daerah Y? sepertinya Nania di sana” tanya Rivan sembari memperlihatkan layar tab yang ia pegang di hadapan Riko.
“Ini lokasi terakhir kalung mb Nia mas?”
“hmm, aku harap Nia masih mengenakan kalungnya”
“kita ke sana mas, saya akan hubungi beberapa orang untuk membantu”
“siapa yang dekat di lokasi itu? minta dia untuk memantau kondisi di sana”
“Baik mas”
Riko pun kembali mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi beberapa anak buahnya, agar segera meluncur ke lokasi yang Rivan temukan. Setelah mendapat jawaban dari anak buahnya yang sudah bersiap, dia pun segera memacu kendaraannya menyusul anggotanya yang telah berangkat lebih dulu.
__ADS_1
Rivan pun masih mengamati pergerakan titik di mana lokasi sang istri berada, ia benar-benar berharap bahwa lokasi yang ia temukan benar, dan sang istri masih berada di sana dalam kondisi baik-baik saja.
Tbc