
🌼Happy Reading🌼
Kesokan harinya kondisi Nania sudah semakin membaik, meski masih harus di rawat di rumah sakit.
Di ruang rawat VIP itu hanya ada dirinya dan sang suami, sementara kedua orang tua mereka pulang semalam setelah berbagai drama bujukan.
Pagi ini Doni dan Ryan berencana mengurus kasus yang menimpa putra-putri mereka, setelah kemarin Riko dan Hendi asisten papa Ryan mengurus terlebih dulu. Sementara para mama akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi putri mereka.
Rivan yang baru saja membuka matanya merintih karena masih merasakan nyeri di tubuhnya. Bekas luka dan lebam akibat benturan karena kecelakaan kemarin nyatanya masih menyisakan sakit yang mengganggunya.
“ssstttt” desis Rivan saat bangun dari tidurnya, lalu menyandarkan dirinya pada sandaran sofa tempat ia mengistirahatkan tubuhnya.
“Mas…” panggil Nania yang begitu khawatir pada sang suami, ia menatap sang suami yang masih merintih kesakitan.
“hmm” jawab Rivan lalu membuka matanya menatap sang istri,
“Sakit mas?”
“Hanya nyeri dek, gapapa, luka yang lebam kemarin” Rivan pun bangkit dari duduknya dan perlahan melangkah mendekati ranjang dimana sang istri terbaring.
“Bagaimana kondisimu? Nyeri juga?” tanya Rivan setelah mengecup kening Nania
“sedikit mas, tapi gapapa” jawab Nania pelan,
“Perlu mas panggilkan dokter?”
“Tidak mas, bantu Nia ke kamar mandi saja, kita ibadah subuh dulu”
Rivan mengangguk kemudian membantu sang istri bangun perlahan, dan memapahnya ke kamar mandi, mereka pun segera mengambil air wudhu dan menjalankan ibadah wajib mereka.
“Mas mandi dulu aja, pakai air hangat, biar lebamnya mendingan” pinta Nania saat sang suami selesai melipat mukena yang baru saja ia gunakan.
“iya, habis ini mas mandi dulu, kamu di tinggal sendiri gapapa?”
“hmm, gapapa”
Setelah selesai membereskan perlengkapan ibadah mereka, Rivan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Hingga beberapa menit berlalu Rivan keluar dengan badan yang terasa lebih segar. Ia pun segera menghampiri sang istri yang masih terbaring lemah di ranjang, ia melihat wadah tempat air hangat yang di sediakan pihak rumah sakit untuk membersihkan sang istri mandi telah berada di samping ranjang sang istri. Sepertinya tadi saat ia mandi, perawat dari rumah sakit mengantarkan wadah itu.
“Mau mandi sekarang dek?”
“iya mas, tolong, lengket badan Nia”
Dengan hati-hati dan penuh perhatian Rivan membersihkan tubuh sang istri setelah mengunci pintu ruangan agar tak ada yang masuk.
***
Saat matahari telah menampakan diri, para mama telah sampai di rumah sakit dengan menenteng beberapa kantong di tangannya. Mereka membawa beberapa makanan untuk putra dan putri mereka yang pastinya sehat untuk mereka berdua.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumusalam” jawab keduanya dan melihat ke arah pintu di mana kedua mama mereka melangkah masuk.
“Loh, sudah sarapan ya?” tanya mama Nita, sembari meletakan beberapa kantong yang ia bawa di atas nakas,
“Makan buah aja ma” itu sarapannya masih utuh, belum di makan” jawab Rivan yang masih menyuapi sang istri dengan potongan buah apel yang telah di kupasnya.
“Makan dulu kalau gitu sayang, mama juga bawakan beberapa makanan yang bagus untuk kandunganmu kalau kamu tak suka menu rumah sakit”
“Hhmm, ya sudah, kalau masih belum kenyang nambah yang mama bawa”
“Mama sudah sarapan?” tanya Rivan setelah menyalami kedua mamanya.
“Belum, sekalian kita sarapan di sini” jawab mama Dahlia yang tengah menyiapan kotak makanan yang ia bawa di atas meja.
“Mas sarapan dulu aja, bareng mama sekalian” pinta Nania setelah menghabiskan satu buah apel yang di potong sang suami untuknya.
“Nanti setelah menyauapi mu dek”
“Mas makan dulu aja, Nia udah habis satu buah apel, biar agak enakan dulu, tak masalah menunggu mas selesai makan”
“Tapi…”
“Mas makan dulu, Nia mau makan itu sandwich yang di bawa mama” tunjuk Nia dengan dagunya saat melihat kotak makan yang telah di bukan dan terdapat beberpa potong sandwich, rasanya air liurnya ingin menetes, dan pandangannya tak beralih dari makanan yang ia maksud.
__ADS_1
Rivan pun mengikuti arah pandangan sang istri, dan benar saja satu kotak berisi sandwich terpampang jelas di sana. Rivan pun melangkah untuk mengambilkan sang istri.
“Ma, Rivan ambil ya, Nia ingin makan ini” pintanya pada mama Dahlia yang masih sibuk menata makanan.
“apa?” mama Dahlia menoleh ke arah sang putra,
“Ini ma, Nia mau makan sandwichnya” tunjuk Rivan sembari mengangkat kotak yang telah ia bawa,
“hmm” kedua mama menatap Nania yang terlihat berbinar menatap kotak makanan yang di bawa Rivan, lalu keduanya terkekeh pelan, “sana kasihkan istrimu, mama ga mau cucu mama ileran gara-gara ga makan itu”
Rivan mengerutkan dahi mendengar ucapan sang mama, masih belum mengerti maksudnya.
“Nia ngidam itu Van, sana segera kasih” jelas mama Nita yang melihat raut bingung sang menantu.
“Benarkah?” Rivan membolakan matanya merasa takjub dengan permintaan sang istri, benarkah istrinya tengah mengidam, ah betapa senangnya akhirnya ia akan merasakan memenuhi keinginan anaknya.
Rivan pun berbalik kemudian menatap sang istri yang masih memperlihatkan mata berbinarnya saat menatap kotak yang ia bawa. Rivan mengulas senyum melihat tingkah istrinya, lalu mendekati sang istri dengan kotak makan di tangannya.
“Anak papa ingin makan ini ya?” tanya Rivan sembari mengusap perut rata istrinya.
“No papa!! Nia pengan panggilan untuk kita ayah bunda” tolak Nania sembari mengunyah sepotong sandwich yang di sodorkan sang suami untuknya.
“hmm, baiklah, anak ayah ya, makan yang banyak ya nak, sehat-sehat dalam perut bundamu” lanjut Rivan sembari tersenyum hangat pada sang istri. Ada rasa berdebar yang begitu membuncah kala ia mengusap perut sang istri, ada rasa tak percaya bahwa sebentar lagi akan ada bayi mungil yang melengkapi hidupnya.
Kedua mama yang memperhatikan keduanya tersenyum senang, keromantisan keduanya memperlihatkan keharmonisan dalam rumah tangga mereka, dan menyalurkan rasa bahagia yang begitu besar pada kedua keluarga, perjodohan yang mereka rencanakan, ternyata sejalan dengan isi hati kedua putra dan putri mereka.
“Mas makan dulu aja sama mama, Nia makan ini aja” ucap Nania dengan pipi tembamnya yang mengunyah sandwich di mulutnya.
Rivan menggelengkan kepala, dengan senyum yang tak luntur dari bibir merah alaminya.
“Telan dulu baru bicara dek” ucap Rivan gemas melihat sang istri begitu lahap menikmati sandwich buatan sang mama.
Nania hanya mengangguk, kemudian menelan makanan dalam mulutnya perlahan.
“Udah, mas makan dulu sana”
“Baiklah, mas makan dulu sama mama, kamu habiskan saja sandwichnya” ucap Rivan yang di balas Nania dengan anggukan, karena dirinya kembali memasukan sandwich di mulutnya.
__ADS_1
Tbc