Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 62


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Nania berbalik dan melihat Rivan dan asistennya berjalan mendekat ke arahnya, beberapa detik kemudian pasangan suami istri itu berdiri berhadapan, seperti biasa Nania akan langsung menganhkat tangan untuk meraih punggung tangan sang suami dan mengecupnya penuh takzim, yang selalu di balas kecupan di kening. Pemandangan hangat itu membuat karyawan yang berada di loby begitu baper dan salah tingkah sendiri, tak menyangka bosnya yang sering terlihat galak, kini terlihat begitu hangat.


“Mau keluar sekarang mas?”


“iya, mas dari tadi coba telpon kamu dek, kenapa ga di angkat?”


“Iya kah?” Nania merogoh tas nya untuk mecari ponselnya namun tak menemukannya.


“Sepertinya ponsel Nia ketinggalan mas” ucap Nania dengan panik, karena tak menemukannya di dalam tas.


“Ya sudah, gapapa, kamu sudah di sini, kita pergi sekarang ya”


“Iya mas” Mereka keluar perusahaan dengan bergandengan tangan, sementara Riko telah mendahuli mereka untuk mengambil mobilnya.


“Nanti mas pertemuan di mana?” tanya Nania di saat dalam perjalanan ke Resto


“Di Garden Resto juga dek, jadi sekalian nanti”


“Hmm, nanti habis makan Nia pulang dulu ya, tadi sudah bilang sama Pak Rahman buat jemput”


“Iya, gapapa, tapi jangan pergi dari Resto kalau belum di jemput ya, mengerti?”


“Hmm” Nania mengangguk, kemudian menyandarkan tubuhnya di pundak sang suami.


“Oh ya mas, tadi pagi mama kasih tau kalau akhir minggu ini kita di suruh ke butik untuk fitting baju” ucap Nania teringat dengan pesan sang mama tadi pagi,


“hmm, besok ingatkan mas lagi dek, takutnya lupa”


“Oh ya dek, fitting bajunya jam berapa kata mama, weekend ini kan kita akan ke Resort, untuk peresmian” lanjut Rivan mengingat agenda penting nya dalam bulan ini.


“Menyesuaikan kita aja sih mas, Nia lupa kalau kita mau pergi, nanti Nia kabarin mama dulu kalau gitu, kita bisa fitting sebelum berangkat”


“ya , begitu lebih baik, kamu atur saja dek waktunya”


Sepanjang perjalanan mereka membicarakan persiapan acara resepsi mereka yang akan di gelar dalam 1 bulan ke depan. Hingga tanpa terasa mereka telah memasuki area parkir Garden Resto.


“Kita sudah sampai mas” ucap Riko kemudian turun dari mobil dan segera menuju bagian pesanan untuk mengkonfirmasi tempat.


Tak lama kemudian sepasang suami istri yang bersamanya menyusul dan menanyakan tempatnya.

__ADS_1


“Bagian mana Ko?”


“Gazebo no 10 mas, mari ke sana” Riko pun mengiringi langkah keduanya menuju tempat yang sudah di siapkan untuk mereka.


Karena telah memesan menu yang ingin di santap, maka tak menunggu lama beberapa menu pilihan sudah terhidang di atas meja, membuat siapa saja menelan ludah karena tampilan yang begitu menggiurkan.


“Kalau ada yang mau di tambah pesan saja dek,” ucap Rivan saat pelayan mengkonfirmasi bahwa semua pesanan telah terhidang,


“hmm, tambah es Degan utuh ya, satu aja,” ucap Nania pada pelayang yang menghidangkan makanan untuk mereka, setelah menjawab ucapan sang suami dengan anggukan.


“Baik bu, mohon di tunggu? Ada lagi?” jawab pelayan sembari mencatat menu tambahan yang di pesan


“Sudah itu aja mas, terimakasih”


Seperti biasa Nania akan langsung melayani sang suami, mengisi piring kosong sang suami dnegan nasi dan lauk-pauk.


“Terimakasih sayang”


Ketiganya pun menikmati makan siang mereka dengan semilir angin menyejukan. Suasana yang asri membuat mereka betah berada di sana, hingga tanpa sadar semua menu makanan tandas tak bersisa.


“Apa pak Randi sudah mengkonfirmasi kedatangan Ko?”


“Sudah mas, beliau masih dalam perjalanan, 5 menit lalu bilang kalau sudah ke arah sini, mungkin sebantar lagi sampai mas”


“Nia kan ga bawa ponsel, mana ponsel mas, Nia telpon Pak Rahman dulu”


Tanpa banyak kata Rivan menyerahkan ponselnya pada sang istri, bersamaan dengan ponsel Riko yang berdering menandakan ada panggilan masuk, yang tak lain dari client mereka.


“Pak Randi sudah datang mas”


“Apa tak masalah kita sedikit terlambat Ko?” tanya Rivan ragu pasalnya ia pun tau kalau client nya kali ini adalah orang yang sangat disiplin, tapi ia juga mengkhawatirkan sang istri, entah kenapa ia enggan untuk meninggalkan istrinya seorang diri.


“Maaf mas, kita kenal beliau seperti apa”


Huff


Rivan menghela nafas lalu beralih kepada sang istri yang masih mencoba menghubungi sopir keluarganya.


“Mas bisa ketemu client dulu, Nia akan tunggu Pak Rahman di sini, mungkin udah di jalan, Pak Rahman ga angkat telpon Nia”


“Oke, maaf ya dek, mas ga bisa nemenin kamu sampai Pak Rahman datang”

__ADS_1


“Gapapa mas. Ini ponsel mas”


“Kamu bawa saja, nanti kalau ingin hubungi mas, telpon Riko aja ya”


“Emangnya ga di pakai nanti?” tanya Nania ragu,


Rivan menimbang sejenak, sepertinya tak masalah untuk saat ini tak membawa ponselnya, “masih ada Riko dek, kamu bawa saja, abis meeting ini mas juga akan pulang”


“Oke, semoga lancar meetingnya mas”


“aamiin, terimakasih sayang, Mas tinggal dulu ya” kecupan hangat kembali mendarat di dahi Nania, lalu Rivan segera beranjak dari gazebo menuju privat room di dalam Resto, ruangan yang lebih tertutup dan memang biasa digunakan untuk pertemuan-pertemuan penting.


Meski dengan perasaan tak enak, Rivan mencoba untuk bersikap profesional dan client pentingnya ini telah memasuki ruangan pertemuan, jadi ia tak bisa menunggu lama, atau dia akan kena masalah jika client mereka kali ini murka karena terlalu lama menunggu.


Sementara Rivan dan Riko serius dengan pertemuan pentingnya, Nania malah terlihat bersantai sembari menghabiskan Es Degannya sembari memainkan ponsel milik suaminya. Sesekali ia mencoba untuk menghubungi sopir keluarganya karena tak kunjung datang.


“Assalamu’alaikum, mas” jawan Pak Rahman di seberang sana saat sambungan telpon berhasil terhubung


“Wa’alaikukumsam, ini Nia pak”


“Maaf mb, saya coba telpon mbak dari tadi tidak di angkat”


“Iya pak, ponsel Nia ketinggalan di rumah, bapak sudah sampai mana?”


“Maaf mbak, bapak masih belum jauh dari kompleks, bannya kempes mb, kena paku”


“ada bengkel sekitar situ pak?”


“Ndak ada mb, ini saya sedang ganti pakai ban serep, tunggu ya mbak, semoga tidak lama”


“ah, begitu, iya pak, Nia tunggu di sini kalau gitu, hati-hati pak”


“Iya mb, sekali lagi maaf ya mbak”


Untuk megusir kejenuhan, akhirnya Nania memesan cemilan untuk menemaninya dan kembali memesan es degan, karena cuaca hari ini begitu panas.


Sementara itu sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya mencoba untuk mendekat,


“Nia….”


Deg!

__ADS_1


Nania mendongak, melototkan mata sipitnya setelah mengenali siapa yang kini berdiri di hadapannya.


Tbc


__ADS_2