
🌼Happy Reading🌼
Siang harinya Rivan menepati janjinya pada sang istri, setelah 2 jam melakukan pengecekan untuk acara peresmian resort yang akan di laksanakan lusa, ia kembali ke kamar yang di tempatinya dengan sang istri.
“Assalamu’alaikum dek”
“Wa’alaikumusalam” Jawab Nania yang tengah duduk di ruang depan sembari menonton acara televisi. Ia pun berdiri dan mencium punggung tangan sang suami,
“Sudah siap?”
“tinggal ambil tas aja mas”
“Oke, mas shalat dulu, kamu sudah shalat dek?”
“Sudah mas, Nia tunggu sini aja ya”
Rivan mengangguk dan bergegas menjalanan kewajibannya sebagai umat muslim. Tak lama kemudian ia keluar kamar dengan membawa tas istrinya yang ternyata sudah di siapkan di atas nakas.
“Ini tasmu dek, ayuh kita berangkat”
“loh makasih mas“ Nania merasa bahagia dengan perhatian kecil yang diberikan suaminya.
“sama-sama sayang, ayuh, Pak Didi sudah menunggu di loby depan”
“Ga ke sini aja tho mas?’
“Ga sayang, mas minta tunggu di loby depan aja, kita jalan ke sana sekalian lihat-lihat resort”
Keduanya pun melangkah ke arah loby melalui trotoar yang terbuaat dari tatanan batu dengan taman di sisi kanan dan kiriya.
“Sejuk ya mas”
Keduanya begitu menikmati suasana asri di area resort hingga tanpa terasa telah sampai di loby depan dan melihat sang sopir telah standby berdiri di samping mobil yang akan mereka pakai.
“Siang bu!, pak!, silakan” dengan sopan Pak Didi menyapa dan membukakan pintu untuk kedua bosnya, kemudian bergegas untuk duduk di balik kemudi dan mengendarai mobilnya keluar dari area resort.
“Kamu mau makan apa sayang?”
“Nia pengen bakso mas, dengan kuah panas, dan pedes, hmmm enak banget sepertinya” Nania menelan ludahnya kasar membayangkan makanan berkuah itu tersaji di depannya.
__ADS_1
“tolong carikan warung bakso yang enak pak” pinta Rivan pada sang sopir yang di balas dengan anggukan.
“Nanti habis makan ke Mall atau supermarket ya mas, ada kan di sini?” lanjut Nania sembari mengamati sisi jalan yang mereka lewati, semalam ia tak dapat mengamati dengan jelas karena hari sudah larut saat mereka tiba di sekitar resort.
“Ada dek, mau beli apa emang?’
“Lihat-lihat dulu aja deh, nanti kalau ada yang Nia mau”
Rivan tersenyum seraya mengusap lembut kepala sang istri yang masih asyik melihat pemandangan di luar mobil. Hingga tak berapa lama kemudian mobil memasuki warung bakso dan mie ayam yang begitu ramai.
“Ramai banget pak?” tanya Nania takjub pada warung yang begitu ramai pengunjung.
“Iya bu, di sini terkenal enak dan harganya terjangkau, jadi banyak yang beli ke sini”
“hmm, baunya aja udah sedap gini” ucap Nania saat membuka kaca jendela dan seketika aroma kuah bakso yang begitu sedap menguar masuk ke dalam mobil.
“iya bu, semoga sesuai dengan selera bapak dan ibu”
Nania pun turun di ikuti sang suami, tak sabar rasanya segera mencicipi makanan berkuah yang begitu menggoda. Seperti sebelumnya mereka pun meminta sopirnya untuk ikut makan.
***
“Iya, besok kita ke sini lagi, udah kan? ayuh, katanya mau ke mall”
Rivan mengajak sang istri berdiri, kemudian membayar ke kasir. Setelahnya ketiga melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat mereka makan.
“Pak, mungkin kami akan agak lama, bapak bisa menunggu di tempat nyaman, atau mau jalan-jalan dulu silakan, nanti saya telpon kalau sudah mau pulang”
“Baik pak,”
Pasangan suami istri itu melangkah menuju area dalam Mall, keduanya tampak melihat-lihat sembari bergandengan tangan.
“Kamu mau beli apa sih dek?”
“pengan lihat-lihat aja mas, nanti kalau ada yang tertarik ya aku beli”
Rivan mengangguk, membiarkan sang istri menikmati jalan-jalannya. Tak ingin mengusik kesenangan sang istri, ia hanya diam mengikuti langkah istrinya dan sesekali menjawab apa yang di lontarkan sang istri padanya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata bulat mengamati dari kejauhan. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat. Tanpa ia sadari air mata mengumpul di pelupuk mata siap untuk meluncur di kedua pipinya, namun semua itu ia tahan, dan terus mengamati sepasang suami istri. Lebih tepatnya melihat sosok wanita bermata sipit itu, ingin sekali menyapa namun apakah wanita itu mau menemuinya, setelah apa yang terjadi di masa lalu?
__ADS_1
Mengabaikan belanjaanya, orang itu terus mengamati dua orang yang tengah berbelanja, berusaha mencari celah untuk menemui mereka.
“Mas, ini bagus ga?” Nania mengambil satu topi yang menurutnya cukup bagus
“Buat siapa dek?”
“Buat John, dia kan mau lulus, buat hadiah dia ini”
“Hmm, bagus kok, anak muda banget, lalu buat mas mana? John doang yang di beliin sih?” Rivan merajuk karena sang istri memilih hadiah untuk sepupu laki-lakinya,
“Ih, mas mau topi juga?”
“Jadi cuma John doang yang di pikirin?”
“ih, gitu aja ngambek sih” Nania terkekeh dengan sikap kekanakan sang suami, lalu ia pun mengambil topi yang menurutnya sangat pas untuk sang suami kemudian mengambil satu lagi namun dengan bentuk yang berbeda hanya berwarna sama, “ini buat mas, ini buat Nia. Jadi kaya couple kan?”
Nia mengangkat dua topi pilihannya, memperlihatkan pada suang suami yang masih mode ngambek.
“Ya ga mungkin Nia ga pikirin buat mas dong, mas itu harus di nomor satukan” Nania tersenyum membujuk sang suami, “udah ah, kaya anak kecil aja merajuk gitu, ayuh ke kesir bayar ini” Nania menarik tangan sang suami yang masih diam saja, meski aslinya menahan senyum dengan gombalan sang istri.
Disisi lain sesorang yang mengamati mereka sedari tadi mengerutkan dahinya, merasa heran dengan tingkah keduanya, bertanya-tanya dalam hati, ‘kenapa mereka berdua terlihat sangat akrab? Bahkan bergandengan tangan, bukankah dulu itu mereka tidak seakrab itu ya?’
“Besok habis peresmian kita ke pantai ya mas, ajak semua keluarga liburan, kita pakai topi couple ini”
Setelah membayar keduanya keluar dari toko dan Nania bergelayut manja di lengan sang suami yang mebawa paper bag berisi topi yang di belinya.
“hmm” Rivan masih tak ingin banyak bicara,
“Kok hmm doang sih, jangan ngambek lagi sih” Nania mencebik kesal karena sang suami belum merubah mode ngambeknya.
“Sini nunduk dikit” Nania menarik sang suami hingga kepala sang suami menuduk, kemudian,
Cup!
Secepat kilat Nania mengecup pipi sang suami, membuat si empunya mengerjapkan mata, terbengong akan sikap berani istrinya.
“Dek…!!!”
Tbc
__ADS_1