
🌼Happy Reading🌼
Ditengah pembicaraan yang serius itu, Nania masih menyimak dan masih terpaku di tempatnya berdiri saat ini. 'Apakah semua orang lupa siapa yang akan menjalani pernikahan ini? kenapa mereka belum meminta pendapat kami.' gumam Nania dalam hati.
“Dek, kemarilah” panggil Linda saat tak sengaja melihat adik iparnya berdiri di dekat tangga sembari menatap ke arah mereka.
Nania pun melangkah menuju ruang keluarga dimana semua orang tengah duduk menatapnya. Mereka pikir Nania masih berada di kamar Adrivan untuk menemaninya.
“Kenapa kalian membahas ini tapi tak minta pendapat Kami terlebih dulu?” tanya Nia spontan menyalurkan apa yang ada dalam pikirannya.
“Maafkan kami nak, bukan maksud kami seperti itu, kami juga masih belum memutuskan, tentu kami akan menanyakan pendapat kalian nanti” ucap sang papa lembut. Diraihnya tangan sang putri yang telah berdiri di dekat sofa agar ikut duduk di sampingnya.
“Memangnya kamu tidak setuju kalau kalian menikah secepatnya dek?” tanya Nando yang melihat adiknya murung setelah mendengar pembicaraan mereka.
“bukan begitu,…” Nania menoleh ke arah sang kakak, “Hanya saja, Nia rasa perlu menyiapkan diri” ucapnya pelan lalu menundukan pandangan, menatap kedua kakinya.
Dengan penuh kelembutan papa Doni mengusap lembut punggung sang putri, “Pikirkan baik-baik sayang, papa hanya tak ingin sesuatu hal yang diluar batas terjadi”
“Papa meragukan Nia?” Nania mendongak menatap sang papa dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak sayang, papa tak meragukanmu, papa tau kamu bisa menjaga dirimu selama ini, bahkan saat berpacaran dengan cowok b**** dulu kamu bisa menjaga diri, tapi kondisi saat ini berbeda, dan bukankah kamu akan lebih mudah merawat Rivan kalau kalian sudah dalam ikatan pernikahan, kamu bisa ada di sampingnya setiap saat”
“Papa benar sayang, mama akan lebih rela kalau kalian terikat pernikahan, dimana sentuhan kalian akan menjadi halal, dan kamu bisa merawatnya dengan lebih leluasa” timpal mama Nita yang sedari tadi diam menyimak.
“Tapi bagaimana dengan Rivan ma, apakah harga dirinya tidak akan jatuh? Papa dan mama tadi juga mendengar kalau Rivan ingin menikahi Nania saat kondisinya sudah pulih, Nia hanya tak ingin Rivan merasa di kasihani dengan kondisinya saat ini”
Semua orang terdiam mendengar pendapat yang di sampaikan Nania, sebagian membenarkan ucapannya. Mungkin saja Rivan tak ingin membuat Nania kerepotan dalam mengurusnya atau lebih tak ingin Nania merasa kecewa saat hari bahagia dalam hidup mereka, Adrivan masih duduk di kursi roda dan memerlukan perawatan. Tapi tingkah manja Adrivan yang tak mau di tinggal Nania juga perlu dipertimbangkan. Tak mau merepotkan tapi juga manja, membuat bingung saja?
“Baiklah begini saja, kita tadi kan belum sempat mendengar alasan Rivan kenapa menggelar acara pernikahan setelah kondisinya pulih, jadi nanti kita tanyakan dulu pendapatnya?” papa Ryan menengahi semua pendapat, ia tak ingin buru-buru memutuskan.
Papa Ryan sendiri sebenarnya sangat menginginkan Nania segera menjadi menantunya, tapi ia juga tau bagaimana sang putra yang tak ingin membuat orang tersayangnya kecewa. Dengan kondisi yang belum bisa melakukan aktivitas secara normal tentu akan sangat merepotkan kekasihnya nanti, belum lagi beban pikiran karena rasa di kasihani.
__ADS_1
“Baiklah Yan, sebaiknya juga jangan terburu-buru, tapi hal baik juga sebaiknya jangan di tunda” timpal papa Doni.
“Tapi kamu sendiri bagaimana sayang?” tanya mama Dahlia ingin mendengar pendapat calon menantunya.
“Nia….” Ucap Nania pelan kemudian menatap kedua orang tuanya secara bergantian. Lalu kedua kakaknya yang mengangguk membebaskannya untuk menyampaikan pendapat.
“Nia akan siap kalaubRivan siap ma, Nia tak ingin Rivan merasa terbebani di masa pemulihannya saat ini” ucap Nania akhirnya setelah berpikir sejenak.
“Baiklah, kita bicarakan pada Rivan nanti saat sudah bangun” jawab papa Ryan.
“Besok pagi saja Yan, biarkan malam ini Rivan berisitirahat dulu, dan Nania juga perlu istirahat. Kita lihat malam ini Rivan tanpa Nania bagaimana?”
“Baiklah Don, besok pagi saja kita sarapan bersama di sini sekalian membahas lebih lanjut”
Semua orang mengangguk setuju, lalu keluarga Rahardian pun berpamintan untuk meninggakan kediaman Erlangga.
“Nia pulang dulu pa, ma” Nania menyalami kedua calon mertuanya lalu ikut menyusul keluarganya yang telah melangkah keluar rumah terlebih dulu.
“Apa kondisi Rivan akan lama pulihnya ma?” tanya papa Ryan saat hanya mereka berdua yang kini berada di ruang keluarga. Riko sang asisten sang putra ikut berpamitan saat keluarga Rahardian pergi meninggalkan rumah keluarga Erlangga.
Huff
Papa Ryan menghela nafas panjang, “Lalu saat papa tinggal kemarin apa benar Rivan begitu tergantung pada Nia ma?”
“Hmmm” mama Dahlia mengangguk, “Yang mama lihat mereka berdua saling bergantung, ikatan cinta mereka sebenarnya sangat kuat tanpa mereka sadari”
“Kita lihat malam ini dulu ma, kalau memang Rivan benar-benar gelisah tak ada Nania di sampingnya, kita nikahkan saja mereka”
“Mama setuju, akad dulu gapapa, nanti resepsi kalau Rivan sudah pulih” Mama Dahlia tersenyum lebar, membayangkan Nania akan segera di rumah ini dan secara resmi ia akan memilki anak perempuan.
Papa Ryan mengangguk dan mengajak sang istri ke kamar sang putra untuk melihat keadaannya.
__ADS_1
Saat memasuki kamar, papa Ryan dan mama Dahlia di suguhkan dengan kondisi Rivan yang berkeringat dan terus mengigau menyebutkan nama kekasihnya.
“Ya Allah ma, baru juga di tinggal bentar udah ngigau aja nih anak” papa Ryan menggelengkan kepalanya melihat sang putra yang masih memejamkan matanya.
“Papa benar, padahal selama di rumah sakit Rivan tak pernah seperti ini” mama Dahlia pun mendekati sang putra dan berupaya membangunkan sang putra.
“Sayang… Van…” panggil mama dengan lembut. “Sayang, bangun!” mama Dahlia menepuk lengan kanan Rivan yang tak terluka.
“Nia!!” pekik Rivan saat membuka matanya,
“Kenapa sayang?” dengan penuh perhatian mama Dahlia mengusap peluh di wajah sang putra.
“Nia kemana ma?” Rivan menatap sekeliling dan tak menemukan kekasihnya disana.
“Nia sudah pulang sayang, kamu kan sudah di rumah”
Rivan kembali mengamati ruangan di mana dia berada, benar saja dia telah berada di kamar pribadinya.
“Kamu bermimpi buruk?” tanya sang papa yang ikut mendekat
“Nia ninggalin Rivan pa” jawab Adrivan dengan pelan
“Astaghfirullah” gumam papa Ryan lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya, “fix ma, kita nikahkan mereka saja secepatnya”
Adrivan mengerutkan dahinya yang masih di perban, tak mengerti maksud ucapan papanya. ‘siapa yang akan menikah secepatnya?’
“Hmm, apa mama bilang, ya memang sebaiknya begitu pa”
Papa Ryan menganggukan kepala lalu duduk di kursi yang berada tak jauh dari ranjang dimana putranya terbaring.
“Apa sih yang mama dan papa bicarakan?” Adrivan berusaha duduk dan memandang kedua orang tuanya. “Siapa yang akan menikah secepatnya?”
__ADS_1
“Kamu!!”
Tbc