
🌼Happy Reading🌼
“Sepertinya istrimu jadi doyan makan Van?” celetuk mama Dahlia yang melihat menantunya masih asyik melahap sandwich buatannya.
Ketiganya menyantap sarapan mereka sembari sesekali menatap arah ranjang di mana Nania duduk menyantap makanan karena ngidamnya.
“Iya ma, dasarnya kan emang Nia suka ngemil, tapi Rivan rasa akhir-akhir ini emang porsi makannya lebih besar, Rivan tak sadar kalau Nia udah hamil.”
“Kemarin-kemarin ada keluhan morning sickness ga? Kaya mual atau muntah saat bangun tidur?”
“ga sih ma, ga ada keluhan sama sekali, hanya porsi makannya itu aja, habis subuh mesti udah cari cemilan, pikir Rivan ya mungkin karena laper aja, dan emang sukanya ngemil”
“Alhamdulillah kalau ga ada keluhan gitu Van, ga kaya kakak iparmu, trisemester pertama kemarin bener-bener membuatnya menderita, mual muntah sampai lemes, untung aja sekarang udah ndak” sahut mama Nita membandingkan putri dan menantunya. “kasian mama lihatnya kalau sampai kaya gitu”
“Iya ma, semoga aja ga sampai seperti itu”
“hmm, semoga saja”
“Kamu harus jadi suami siaga Van, dan ingat! mood ibu hamil itu gampang berubah, jadi kamu mesti banyak sabar menghadapinya nanti” tambah mama Dahlia
“iya ma, Rivan sudah siap ma”
“Kamu ini Lia, anakmu ini sabar banget ngadepin anak ku, tau sendiri selama ini begitu sabar menunggu Nania, ya ga mungkin dong udah bareng gini, ngadepin istrinya ga sabar” timpal mama Nita yang memuji menantunya, membuat bibir Rivan menerbitkan senyumnya, tersipu malu.
Mama Dahlia tertawa pelan, “benar kamu Nit, anak aku kan udah bucin banget sama anakmu, sampai rela nunggu selama ini”
“untungnya aja, anak ku sekarang udah jadi istrinya”
Kedua wanita itu terkekeh senang, dan terus menggoda Rivan yang duduk di depan mereka.
Hingga setelah beberapa saat kemudian, Nia memanggil sang suami yang masih belum menyelesaikan sarapannya.
“Mas!! udah habis!” ucap Nia agak keras sembari mengangkat rendah kotak bekal yang tadi dia pegang.
“Astaga dek,…. cepet amat, perasaan tadi ada 4 potong deh” celetuk Rivan heran, tak urung tetap melangkah mendekati sang istri dan mengambil kotak makan yang telah kosong,
‘bener-bener habis, Ya Allah, anak ku ternyata doyan makan’
Pikir Rivan dalam hati sembari menggelengkan kepalanya, meski senyumnya tetap terbit dari bibirnya dan bersyukur karena sang istri tak menolak makanan apapun di kehamilannya ini.
“Enak mas, besok minta mama buatin lagi ya”
“Iya..” Rivan mengusap kepala sang istri pelan “masih mau makan lagi atau sudah kenyang?”
“udah dulu, mas habiskan makan mas dulu”
__ADS_1
“bener? Udah kenyang?”
“udah, tapi habis ini belikan jus sirsak ya” pinta Nania dengan mata berbinar,
“iya, bentar ya, mas makan dulu”
Nania mengangguk pelan, kemudian kembali duduk di sofa untuk menyelesaikan sarapannya yang hanya tersisa beberapa sendok.
“Besok minta di buatkan lagi ma” ucap Rivan sembari meletakan kotak bekal yang telah kosong.
“hmm” mama Dahlia mengangguk sembari meneguk jus melon yang ia bawa.
***
Hingga siang hari setelah menghabiskan makan siangnya Nania kembali tertidur setelah meminum obat.
Kedua mama masih santai duduk di sofa sembari menonton televisi dengan volume yang begitu kecil agar tak mengganggu Nania yang beristirahat.
“Pesta resepsi kami bagaimana ma?” tanya Rivan yang bergabung duduk di sofa setelah memastikan sang istri telah tidur dengan lelap.
“Tetap sesuai rencana awal Van, undangan sudah terlanjur di sebar, acara kan tinggal 2 minggu lagi”
“tapi kondisi Nia kaya gitu ma” Rivan begitu mengkhawatirkan kondisi istrinya,
“Mama rasa dalam 1 minggu ke depan kondisinya akan membaik, mengingat kondisi Nania yang sudah hamil, kalian bisa duduk di pelaminan sampai siang aja, ga sampai selesai, biar Nia ga terlalu lelah”
“Lagi pula ini kan bersamaan dengan serangkaian acara tujuh bulanan untuk kakak kalian juga, jadi tak mungkin mundur, dan tak masalah nanti kalau kalian tak menyambut tamu sampai selesai” lanjutnya
“Iya ma, semoga aja kondisi Nania akan segera membaik”
“Aamiin” sahut kedua mama meng-amin-kan harapan Rivan untuk kesembuhan istrinya.
“Jangan terlalu berat memikirkan acara resepsi kalian besok, yang penting kondisi kesehatan kalian, dan tentu saja calon cucu kami”
“iya ma, terimakasih”
Mereka pun berlanjut dengan obrolan seputar persiapan resepsi hingga obrolan acak yang mereka bahas. Namun obrolan mereka terhenti ketika seseorang membuka pintu ruang rawat.
Cklek!!
Ketiganya menoleh ke arah pintu dan melihat sepasang suami istri masuk perlahan ke dalam.
"Assalamu'alaikum" sapa mereka, yang di jawab ketiganya.
“Kak!!” sapa Rivan kemudian berdiri menyalami kedua kakak iparnya.
__ADS_1
“gimana kondisimu Van?” tanya Linda yang berdiri di samping sang suami sembari mengelus perut buncitnya.
“Sudah mendingan kak, Rivan baik-baik aja”
Ketiganya pun berangsur duduk di sofa, dan melanjutkan obrolan mereka.
“Nia tidur dari tadi?”
“Belum lama sih kak, habis makan siang tadi, minum obat terus tidur”
Nando pun beranjak dari tidurnya dan mendekati sang adik, merasa miris melihat sang adik yang terbaring dengan beberapa perban di tubuhnya, meskipun dokter bilang tak ada yang perlu di khawatirkan, namun tetap saja tak tega melihat adik kecilnya kini terbaring lemah.
“Cepet sembuh ya dek” kecupan ringan mendarat di dahi Nania yang masih tertutup perban, di usapnya lembut pipi sang adik, lalu kembali duduk di sofa di samping sang istri.
“Bagaimana perkembangan kondisi Nia?”
“baik kak, Nia sudah jauh lebih baik”
“Jangan terlalu khawatir Nan, Nia baik-baik aja, tadi sudah makan banyak” timpal mama Nita agar putra sulungnya tak khawatir.
Sebelum melihat kondisi Nania hari ini, mama Nita pun sama khawatirnya, bahkan semalam merasa tak tenang dalam tidurnya, meskipun Nania baik-baik saja, ia sebagai seorang ibu pun tetap tak merasa tenang melihat anaknya yang terluka.
“Benarkah?” timpal Linda yang melihat mama mertuanya terkekeh pelan.
“Iya, hari ini sudah ngidam banyak dia, tadi pagi aja habis sandwich 4 potong, belum lagi sarapan dari rumah sakit, jus sirsak, dan siang tadi sebelum tidur banyak ngemil dia” jawab mama Nita begitu antusias.
“Alhamdulillah” pekik Linda dan Nando merasa senang karena dari cerita sang mama, menunjukan bahwa adik mereka baik-baik saja.
“hmm, semoga kondisinya segera pulih”
“aamiin” semuanya mengaminkan doa sang mama.
“Kalau sudah doyan makan ya bakal cepet pulih ma” celetuk Nando, teringat beberapa bulan lalu saat terpuruk Nania tak mau makan, hingga harus di bujuk dengan susah payah.
“hmm, kamu benar, kalau sudah doyan makan dia akan baik-baik saja”
Semua orang terkekeh dan sesekali memandang ranjang di mana Nania terbaring sembari mengobrolkan banyak hal.
Tbc
Hallo semua…🤗🤗🤗
Maafkan baru update kembali🙏🙏🙏
Terimakasih atas dukungannya..🤩🤩🤩
__ADS_1
Love You All….😍😍😍