
đŒHappy ReadingđŒ
Waktu terus bergulis hingga satu bulan telah berlalu, kondisi Adrivan kian membaik, bahkan kini ia sudah bisa berjalan tanpa bantuan. Semenjak lepas gips beberapa waktu lalu ia sudah di sibukan dengan kegiatan kantor yang begitu menyita tenaga dan pikirannya. Seperti saat ini, menjelang persemian Resort yang perusahaannya bangun membuatnya masih saja berada di kantor meski hari sudah menginjak malam.
âMas Rivan ga mau lanjutkan besok saja? Ini sudah malamâ tanya Riko sang asisten setelah melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
âSebentar lagi Ko, ini sudah mau selesaiâ
âHuffâŠ.., saya mau ijin pulang dulu mas, mau jemput mama di Bandaraâ
âHmmm, pulanglah, saya sebentar lagi juga akan pulangâ jawab Adrivan tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
Setelah membereskan beberapa berkas yang akan di kerjakannya di rumah, Riko akhirnya meninggalkan Adrivan yang masih fokus dengan beberapa lembar berkas di tangannya.
Hingga suara dering ponselnya begitu mengganggunya.
âsiapa sih?â gerutunya lalu mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja.
Glek!
Seketika Adrivan menelan ludahnya kasar melihat ID pemanggil di layar ponselnya. Seketika ia teringat janjinya tadi pagi pada sang istri.
âHallo, Assalamuâalaikumâ
âWaâalaikumusalam, masih belum pulang mas?â
âmaaf dek, mas lupa kalau ada janji sama kamuâ jawab Adrivan yang secara tidak langsung menjelaskan kalau dirinya saat ini masih sibuk.
âHmm, ya sudah gapapa, lanjutkan saja mas kalau memang lagi sibuk, Nia tutup telponnya, Assalamuâalaikumâ ucap Nanai beruntun tanpa menunggu jawaban dari sang suami.
Adrivan yang begitu panik pun mendengar ucapan panjang sang istri pun bergegas mematikan komputernya dan membereskan berkas-berkasnya, lalu segera beranjak meninggalkan kantor yang sudah terlihat sepi karena semua karyawan telah pulang.
Dil uar tampak Pak Rahman yang telah standby menunggunya di loby sembari memainkan ponselnya.
âPak, kita pulang!!â teriak Adrivan pada sopir keluarganya dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sembari mengurai rasa terkejutnya Pak Rahman mengelus dadanya dan segara duduk di balik kemudi dan menjalankan mobilnya.
Di kursi belakang Adrivan tampak cemas, dan berusaha menghubungi sang istri namun, namun tak ada jawaban. Tingkah gelisah sang majikan membuat Pak Rahman mengeryitkan dahinya, merasa heran, hendak bertanya tapi takut sang majikan malah marah.
__ADS_1
âAduh, Nia pasti marah ini, kok bisa lupa sih Vanâ gumam Adrivan dalam hati menyalahkan dirinya sendiri kenapa bisa lupa dengan janji yang ia buat pada istrinya.
Tak berapa lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah yang tampak sepi. Tanpa menunggu lama Adrivan pun bergegas keluar dari mobil saat Pak Rahman menghentikan mobilnya di depan teras.
âSayang!!! Dek!!â panggilnya saat memasuki rumah, namun tak tampak seorang pun di rumah besar itu.
Sudah dua hari ini kedua orang tuanya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota, dan di jam segini para asisten rumah tangganya pun telah beristirahat di kamar khusus mereka. Ia pun melangkahkan kakinya ke ruang makan dan tak menemukan sang istri di sana, namun ia melihat berbagai hidangan yang tampaknya sudah dingin masih di atas meja.
âYa Allah, b*** banget sih loVanâ gumam Rivan semakin merasa bersalah,
Tadi pagi ia berjanji pada istrinya akan pulang cepat dan makan malam di rumah, karena beberapa hari terakhir ia selalu pulang larut malam. Sudah beberapa hari ini Nania memintanya untuk tak menforsir tenaganya apalagi kondisi tubuhnya masih dalam tahap pemulihan, dan untuk meredakan kekhawatiran sang istri ia pun berjanji akan pulang cepat dan minta di masakan menu favoritnya, namun dengan kesibukannya ini malah ia melupakan janjinya, Rivan sungguh menyesali akan perbuatannya.
âDek!!â Panggilnya lagi saat memasuki kamarnya.
Seketika rasa lega itu menghinggapi dada Adrivan kala menemukan wanita kesayangannya meringkuk di atas ranjangnya tanpa selimut.
âMaafkan mas sayangâ kecupan ringan mendarat di pipi mulus Nania yang tertidur pulas,
Terbesit rasa bersalah benaknya melihat wajah sang istri yang tertidur pulas, lalu ia melihat jam diding di kamarnya , benar saja ini sudah lewat jauh dari jam makan malam mereka. Lalu berpikir sejenak, âapakah Nania sudah makan? Tadi sepertinya makanan di atas meja masih utuh?â
âDekâ panggilnya pelan membangunkan sang istri, âDek, bangun dulu sayangâ ucap lagi sembari mengecupi seluruh wajah sang istri hingga membuat Nania mengerjapkan matanya karena terganggu.
âMaafkan mas sayang, bangun dulu gihâ
âNia ngantuk masâ rengeknya pelan, lalu berusaha untuk memejamkan matanya.
âeh, jangan merem lagi, kita makan dulu ya, mas tau kamu belum makan malam kan?â
âNia udah ga seleraâ
âayolah dek, maafkan mas ya, mas sudah ingkar janji untuk pulang cepatâ
âhmmmâ
âDekâŠayuh temani mas makan, mas juga belum makanâ
Seketika mata Nania terbuka lebar mendengar ucapan terakhir suaminya, menatap wajah melas suami.
âMas belum makan?â
__ADS_1
Adrivan menggeleng, memperlihatkan wajah sendunya, matanya yang tajam terlihat sangat lelah dengan kantong mata yang sedikit menonjol.
âDari tadi pagi ngapain ga makan?â ucap Nania dengan nada gemasnya, ingin rasanya mengusap wajah sang suami dan memberikan banyak kecupan, namun ia tahan karena rasa kesalnya. Sudah berkali-kali di ingatkan suaminya ini masih saja ngeyel.
âFokus sama kerjaan dekâ ucap Adrivan dengan polosnya. âmaafin mas yaâ
Huff
Nania menghela nafas panjang, mencoba menyabarkan dirinya, lalu bangkit dari tidurnya, mengusap wajah lelah sang suami, âmas mandi dulu, Nia panaskan lauknyaâ
Tak ingin sang istri semakin kesal, Adrivan menurut dan bergegas membersihkan dirinya, dan tak lama kemudian menyusul sang istri yang telah menunggunya di ruang makan.
Tanpa banyak bicara Nania melayani suaminya, mengisi piringnya dengan nasi dan lauk-pauk dan menuangkan air di gelasnya.
âKamu ga makan dek?â tanya Adrivan saat akan menyuapkan makanan di sendok kedalam mulutnya.
Nania hanya menggelengkan kepala, membuat Adrivan menghela nafas lalu menurunkan sendok yang di pegangnya.
âTadi sudah makan?â
Sekali lagi Nania hanya menggelengkan kepala, membuat Adrivan semakin merasa bersalah.
âMakan ya sama mas,â Suapan yang seharusnya ia masukan ke dalam mulutnya kini ia sodorkan di depan mulut sang istri, âMaaf kan mas, dek, mas tidak akan mengulanginya lagi, ayo⊠aaaa, buka mulutnyaâ
Melihat wajah sang suami yang semakin memelas, meski sudah terlihat lebih segar membuat Nania membuka mulutnya yang membuat Adrivan tersenyum kemudian bergantian menyuapi dirinya sendiri.
âHarusnya kamu jangan sampai telat makan dekâ
âSiapa yang membuat Nia telat makan?â Nania mencebik kesal karena omelan suaminya,
âhmm, oke-oke, mas yang salah, karena mas tak menepati janji mas untuk pulang awal, tapi tak seharusnya kamu juga mengabaikan kesehatanmuâ
âLalu mas boleh mengabaikan kesehatan mas begitu?â
Tbc
Mohon dukungannya đ€©đ€©đ€©
Love you All đđ
__ADS_1