
🌼Happy Reading🌼
“Ini kak” John pun menyerahkan beberapa tusuk sosis ke atas piring yang telah di tadahkan Linda.
Linda pun menerimanya dengan mata berbinar dan menelan ludahnya kasar, seakan tak sabar untuk menikmati sosis bakar buatan sang adik.
“Makasih ya uncle John” ucapnya lalu berdiri dan mendekati sang suami yang begitu cemberut.
“Kita makan berdua sayang” dengan wajah tanpa dosanya Linda duduk di samping sang suami dan menyuapinya dengan sosis yang ada di piringnya, lalu kemudian menyuapi dirinya sendiri.
Semua orang pun tergelak, menyisakan wajah John yang kembali masam, sepertinya memang keponakan kecilnya ini senang mengerjainnya. Baru saja ia di buat senang karena berhasil membuat kakak sepepunya itu kesal, eh sekarang dia yang kembali kesal.
“Terimakasih ya Uncle John” ucap Nando di sela makannya dengan senyum sumrigahnya.
Malam kian larut, satu per satu anggota keluarga pun beranjak ke kamar masing-masing karena esok pagi mereka akan menempuh perjalanan yang cukup jauh.
***
Keesokan harinya sepasang suami istri yang baru saja meresmikan hubungan itu kembali terbangun dengan saling beperlukan, Adrivan merengek meminta peluk agar tidur dengan pulas, meskipun awalnya Nania sedikit khawatir karena takut akan mengenai tangan atau kakinya yang terluka.
“Dek, bangun udah subuh” bisik Adrivan pada sang istri yang masih menyandarkan kepalanya di dadanya.
Tak hentinya Rivan bersyukur karena sosok wanita cantik yang berada disisinya saat ini telah menjadi istrinya.
“Dek” usapan lembut di punggung Nania membuatnya terusik dan mengerjapkan matanya, lalu mendongakan kepala manatap sang suami yang tersenyum manis padanya.
“mas sudah bangun?” tanya Nania dengan suara serak khas bangun tidur, lalu bangkit dari tidurnya, sesekali mengeliatkan badannya.
“Badanmu capek tidur peluk mas dek?”
“hmm,” Nania menoleh ke arah sang suami, “ndak kok, harusnya Nia yang tanya mas, karena mas ga bisa gerak karena Nia peluk”
Adrivan pun menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, meyakinkan sang istri bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
“Oke, sudah sebentar lagu adzan subuh, sebaiknya mas mandi dulu biar seger”
Nania pun membantu sang suami membersihkan diri, lalu setelahnya gantian ia yang membersihkan diri di saat sang suami menjalankan ibadah. Kali ini mereka membersihkan diri dan menjalankan ibadah di tempat yang sama hanya secara bergantian. Semalam Nania telah menyiapkan beberapa pakaian dan mukenanya untuk di taruh di kamar tamu yang mereka gunakan saat ini, karena sangat merepotkan apabila ia harus bolak-balik naik turun saat akan mengganti pakaiannya.
Setelah Nania menjalankan ibadahnya seorang diri, ia pun mengajak suaminya keluar kamar untuk menikmati udara pagi taman belakang, tak lupa ia siapakan teh hangat dan beberapa cemilan untuk mengganjal perutnya sebelum waktu sarapan.
“Harusnya kita jalan-jalan pagi dek, bukan malah bersantai gini, tapi kondisi mas masih kaya gini” keluh Adrivan yang menyesalkan akan kondisinya.
“Nia lebih senang gini mas, biasanya sama papa tuh sambil kasih makan ikan, tapi ini tumben papa belum ke sini” jawab Nia dengan santainya sembari mengunyah biscuit uang ia bawa. “Jalan-jalan besok kalau mas sudah sembuh aja, sambil jogging juga bisa, cuma kalau weekend aja” lanjut Nania dengan cengirannya memamerkan gigi putihnya.
“Kamu ini ya, dari dulu paling males olahraga” gemas Adrivan pada istrinya. “tapi aneh lho ya, makanmu banyak, dan kamu jarang banget olahraga, terus makanamu lari kemana dek?”
“ih, mas, pengen ngatain aku kurus gitu? Pengen istri gendut?”
“Ya ga juga dek, heran aja sih, kamu ga cacingan kan?” lanjutnya menggoda sang istri
“Sembarangan!” Nania mencebikan bibirnya “Nia rutin minum obat cacing, sehat gini di katain cacingan”
Adrivan pun terkekah melihat istrinya mencebik kesal, “Bercanda sayang” gemasnya sembari mengacak puncak kepala Nania.
Meskipun tak dapat dipungkiri kalau hatinya terasa hangat saat sang suami menyentuh kepalanya, rasanya ada kenyamanan tersendiri yang ia rasakan.
“Bibirnya ga usah di manyunin gitu, mau mas cium di sini?”
“ih, apaan sih, ga tau mau malu banget”
“nah, tuh, iya kan? beneran minta di cium ya?” Adrivan mendekatkan kepalanya di depan sang istri, namun dengan cepat Nania mehindar dengan berdiri dari tempatnya.
“Malu ih mas” Nania merasa malu sekaligus kesal kemudian menghentakan kakinya dan berjalan ke dalam rumah, meninggalkan sang suami yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggodanya.
“Eh, dek, kok mas ditinggal sih? Dek!!!” teriak Adrivan kemudian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kenapa sih Van, pagi-pagi udah teriak-teriak aja?” heran papa Doni yang mendekat ke arahnya dari samping rumah sembari membawa ember berisi pakan ikan Koi kesayangannya.
__ADS_1
“hehe, maaf pa”
Papa Doni hanya menggelegkan kepala kemudian duduk di tepi kolam ikannya untuk memberi makan koi-koi kesayangannya itu.
“Koleksi ikan papa nambah lagi ya?” tanya Adrivan yang memperhatikan jumlah ikan di kolam lebih banyak dari yang terakhir ia lihat.
Papa Doni pun mengangguk, membenarkan pertanyaan sang menantu “minggu lalu dapat dari rekan bisnis papa, dia mau pindah rumah, jadi koleksi ikannya di kasih ke papa, kasian ikannya katanya kalau di ajak pindahan” lanjutnya sambil terkekeh senang.
“Wah, mantap dong pa, tau aja kalau papa seneng ikan Koi”
“Ya jelas dong, rezekinya papa sholeh emang” kata papa Doni dengan jumawa membuat Adrivan tersenyum lebar.
Keduanya pun lantas tertawa bersama,
“Pa, hari ini Rivan ajak Nia pulang ke rumah ya?” lanjut Adrivan membuka kembali percakapan setelah sang papa duduk di sampingya.
“hmm, papa tak bisa melarang lagi sekarang, papa hanya minta jaga Nania di manapun kalian berada”
“Iya pa, Rivan akan berusaha untuk selalu mejaga Nia pa”
“Papa percaya padamu, semoga rumah tangga kalian selalu di liputi kebahagiaan” Papa Doni menepuk pelan pundak menantunya,
Keduanya pun larut dalam obrolan mengenai banyak hal, dari urusan pribadi hingga urusan pekerjaan yang sedang mereka kerjakan. Hingga teriakan mama Nita yang memberitahukan bahwa sarapan telah siap menghentikan pembicaraan mereka.
“Ayuh papa dorong kamu, Nia pasti sedang bantu siapkan makanan di dapur” papa Doni pun mendorong kursi roda menantunya menuju ruang makan.
“Maaf jadi merepotkan papa”
“Tak masalah Van,” papa Doni tersenyum hangat mengurai rasa tak enak dalam benak sang menantu.
Tampak semua orang telah berkumpul di meja makan dalam kondisi yang sudah rapi, hanya papa Doni saja yang masih mengenakan pakaian santainya. Sesuai rencana sebelumnya kalau kedua adik papa Doni beserta keluarganya akan kembali ke rumah mereka masing-masing, dan papa Doni meminta mereka untuk berangkat menggunakan pesawat pribadinya.
“Maafkan Nia dan Rivan ya karena tak bisa mengantar kalian ke bandara”
__ADS_1
TBC