
🌼Happy Reading🌼
Setelah berusaha cukup lama namun tak membuahkan hasil, Nania menghentikan aksinya, karena rasanya akan semakin membuatnya kesakitan jika ia terus melakukannya. Hingga tak lama kemudian, samar-samar terdengar dua orang yang tengah berbicara di luar ruangan dan terdengar semakin mendekat ke arahnya.
‘siapa mereka?’ gumam Nania dalam hati.
Ia hanya mengingat kejadian beberapa waktu lalu, sebelum berakhir tesadar di tempat ini.
Flashback On
Nania yang telah selesai buang hajat, bergegas keluar dari bilik toilet dengan rasa lega, setelahnya menuju wastafel yang berada di dalam toilet itu, namun saat dia hendak mencuci tangannya, ia melihat seseorang yang begitu asing baginya.
“Hallo cantik!”
Nania pun mengerutkan dahi tanpa merasa curiga karena orang tersebut mengenakan seragam petugas kebersihan.
“Maaf bisakah anda keluar dulu, ini kan toilet perempuan, meskipun anda petugas kebersihan, setidaknya saat membersihkan tempat ini sebaiknya saat tak ada orang di sini” pinta Nania masih bersikap sopan.
Pria itupun diam saja dan bersikap seolah melangkah keluar dari toilet.
Merasa pria itu akan keluar, Nania pun melanjutkan kegiatan cuci tangannya, namun saat hendak berbalik keluar, tiba-tiba saja pria berseragam petugas kebersihan itu mendekap mulutnya, hingga ia meronta. Namun tak lama kemudian, pandangannya menggelap, dan ia tak ingat apapun lagi
Flashback Off
“Secepatnya kita harus bawa wanita itu pergi dari sini, bos sudah menunggu di pelabuhan” terdengar seorang lelaki berbicara dengan rekannya yang hendak membuka pintu.
Melihat gagang pintu yang bergerak, Nania pun memejamkan matanya kembali, berpura-pura tak sadarkan diri.
“Wah sepertinya kamu memakai obat bius terlalu banyak, lihatlah nona cantik ini belum bangun juga” ujar seorang pria yang lain.
“Benarkah? Tapi seharusnya dia sudah sadar, ini terlalu lama kalau belum sadarkan diri”
“ya tapi bukannya malah bagus, kita tak perlu repot-repot membiusnya lagi untuk membawanya”
“ya, benar juga, ayuh segera bawa dia, sebelum dia bangun”
“Sebentar, kau siapkan mobilnya, aku akan hubungi bos kalau kita akan segera ke sana”
Pria yang satunya pun mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu untuk menyiapkan mobil sesuai permintaan rekannya.
Pria yang masih tinggal di ruangan itu segera menghubungi bos yang memintanya membawa Nania, ia pun tak banyak bicara hanya mengatakan bahwa mereka akan segera berangkat di lokasi pertemuan.
“Maafkan saya Nona, semua ini terpaksa saya lakukan” gumam pria itu sembari bersiap menggendong Nania dengan kedua tangannya.
Nania yang berpura-pura tak sadarkan diri itu pun mendengar gumaman pria yang menggendongnya,
‘siapa pria ini? Kenapa bilang terpaksa?’
__ADS_1
Namun saat keduanya tiba di depan pintu, ia mendengar rekannya tadi berbicara melalui ponselnya,
“Benar bos, wanita itu akan kami bawa ke lokasi pertemuan”
'......'
“Baik bos, saya akan membunuhnya setelah menyerahkan wanita itu pada bos, sesuai permintaan anda, tak akan ada saksi”
Ucap pria itu sebelum memutuskan sambungan telponnya.
“S***, dasar!! ternyata mereka akan membunuhku juga”
Pria yang menggendong Nania pun mengurungkan niatnya keluar ruangan itu, kemudian meletakan Nania kembali ke lantai, lalu melonggarkan tali yang melilit tubuh Nania.
'gue benar-benar bodoh, harusnya gue tak membantu mereka' guman pria itu menyesali perbuatannya.
“Nona,... aku tau nona sudah sadar, bangunlah, atau kita berdua akan mati Nona” ucap pria itu pada Nania yang masih memejamkan matanya.
Mendengar ucapan pria itu Nania membuka matanya perlahan, kemudian menatap pria yang kini jongkok di depannya.
“Siapa kamu?”
“Maafkan saya Nona, saya Raiz bodyguard yang di tunjuk tuan Doni untuk mengawasi nona dari kejauhan”
“Kau mengkhianati papaku?” Nania membulatkan mata sipitnya.
“Maafkan saya nona, saya terpaksa, mereka menyekap ibu saya”
“Berpura-puralah masih pingsan nona, saya akan berusaha membebaskan anda”
“lalu….”
“tidak ada waktu untuk berdebat nona” belum selesai Nania menyanggah ucapan pria itu, Raiz sudah memotong ucapannya sembari sesekali melihat ke arah luar, memastikan rekannya tak memergokinya berusaha membebaskan Nania.
“saya akan mengupayakan membebaskan nona, maafkan saya nona”
“kamu bagaimana?” ucap Nia cepat agar tak di sanggah lagi.
“nona dulu yang utama, seharusntmya dari awal saya tak mengkhianati tuan Doni, maafkan saya nona, kalau saya nanti tidak bisa lolos, tolong sampaikan maaf saya pada tuan Doni, dan kalau berkenan, mohon pertolongannya untuk membebaskan ibu saya nona”
Pria itu menatap sendu ke arah Nania, lalu bersiap menggendong Nania kembali agar rekannya tak merasa curiga.
“Bersiaplah nona, pejamkan mata anda sampai saya memberikan kode untuk anda."
***
Di tempat yang berbeda Rivan sedang menunggu anak buahnya yang di tugaskan untuk memantau situasi di tempat penyekapan Nania.
__ADS_1
“Bagaimana Ko”
“Tempat itu sepi Mas, tapi ada 1 mobil terparkir di halaman depan, mereka masih mencari tahu apakah mobil yang tadi membawa mbak Nia atau mobil lain, bangunan itu merupakan gedung kosong mas, dan sepertinya tidak ada penjagan yang begitu ketat di sana”
“Baiklah, tambah kecepatan Ko, kita harus segera sampai di sana”
“Pastikan mereka tak meninggalkan lokasi Ko, dan jangan gegabah untuk masuk terlebih dulu"
“Baik mas” Riko mengangguk paham akan perintah Rivan.
Beberapa anak buahnya memang sudah sampai di lokasi, namun sebagian masih dalam perjalanan sama seperti dirinya. Akan sangat berisiko kalau mereka melakukan pergerakan yang mencurigakan hingga membuat pria yang menyekap Nania melarikan diri.
Rivan terus berdo’a dalam hati semoga saja lokasi yang ia tuju benar, dan Nania masih di sana dalam keadaan baik-baik saja.
“Mas, sepertinya mereka mencoba pergi” uca Riko tiba-tiba setelah mendengar laporan dari anak buahnya.
Sedari tadi sambungan telponnya tak terputus dan ia mendengarkan laporan secara continuen melalui erarphone yang terpasang di telinganya.
“Mereka malihat mbak Nia di bopong ke dalam mobil mas” pekik Riko namun berusaha tetap fokus dengan kemudinya.
Rivan pun kembali mengamati tab di mana titik lokasi Nania berada, benar saja titik itu perlahan bergerak meninggalkan lokasi.
“Tambah kecepatan ko, minta mereka mengikuti mereka, jangan sampai lolos”
“Baik mas”
Suasana tegang dan cemas menyelimuti Rivan, ia begitu khawatir akan keselamatan istrinya.
'Semoga kamu baik-baik saja sayang, mas segera ke sana'
"apa yang lain sudah mendekat?"
"ya mas, tak jauh dari kita"
"sepertinya jalan yang mereka lalui agak sepi, pinta yang lain semakin cepat dan menghadang mereka, sebelum mereka membawa Nia lebih jauh lagi"
"Baik mas"
Riko pun segera memerintahkan anak buahnya sesuai arahan dari Rivan, ia pun juga semakin menambah kecepatan untuk bisa mengejar mobil yang membawa Nania.
Ciiiittttttt!!!!!!
Tbc
Hallo semua 🤗🤗🤗
Mohon terus dukungannya 🤩🤩🤩
__ADS_1
Terimakasih atas komentarnya 😍😍😍
Love you All..😍😍