Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 31


__ADS_3

đŸŒŒHappy ReadingđŸŒŒ


Pagi ini papa Doni mendapat kabar bahwa Adrivan telah sadar dan dalam kondisi sangan baik, maka dari itu setelah membersihkan diri papa Doni mengajak istri dan keponakannya kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan calon menantunya.


Dan di sinilah mereka, bersamaan dengan papa Ryan dan mama Dahlia yang baru saja kembali dari membeli makan, mereka menyaksikan Adrivan yang kembali mengungkapkan perasaannya, dan kali ini langsung di jawab oleh Nania.


Ghem! Ghem!


Papa Doni berdehem, membuat kedua orang yang telah resmi menjadi sepasang kekasih itu mengurai pelukan mereka,


“Papa
” Nania berdiri dan beralih merangkul sang papa yang telah berdiri memandang mereka dengan tersenyum lebar.


“Anak papa sudah besar” papa Doni mendekap erat sang putri dan memberikam kecupan di dahinya.


“Nia sudah menjawab lamaran Rivan pa” ucap Nania malu-malu, pipinya bersemu merah dengan mata bengkak masih menghiasi mata sipitnya.


“Kami sudah mendengarnya sayang” ucap mama Nita beralih memeluk sang putri.


“Terimakasih sudah menerima anak mama sayang” timpal mama Dahlia sembari mengusap kepala Nania yang masih dalam dekapan sang mama.


“Nia yang harus berterimakasih tante” ucap Nania malu-malu.


“Jangan panggil tante lagi, panggil mama ya?”


Nania menatap kedua orang tuanya meminta persetujuan, dan kedua orang tuanya pun mengangguk memberikan persetujuan.


“Iya ma”


“Ah, senangnya akhirnya punya anak perempuan!” pekik mama Dahlia sembari memeluk calon menantunya.


“Bagaimana kondisimu bang?” kali ini John yang mendekati sang calon kakak ipar, karena semua orang tua tengah bereuforia memeluk kakak sepupunya.


“Sangat baik John, terimakasih atas dukungan kalian semua selama ini”


John tersenyum dan beralih menatap keluarga yang masih saling berpelukan itu. “jaga kak Nia dengan baik bang, abang tau kan kalau dia satu-satu princess di keluarga Rahardian, jadi jangan sampai membuatnya menangis atau kami para pria Rahardian akan memisahkan kalian.


Adrivan menelan ludahnya kasar mendengar ancaman John, tentu saja ia tak akan membiarkan Nania bersedih.


“Tentu John, abang akan berusaha membuat senyumnya terus mengembang jika bersama abang”


“John pegang kata-kata abang”


“Jaga putri papa Van” papa Doni mendekat dan berdiri di samping keponakannya.


“Tentu om, Rivan akan selalu menjaganya”


“No sayang, panggil kami papa dan mama, seperti Nia memanggil kami” timpal mama Nita saking senangnya.

__ADS_1


“Baik ma,” jawab Ardrivan dengan senyum lebarnya,


Ditengah kebahagiaan dua keluarga di ruangan perawatan VIP, tiba-tiba saja terdengar seseorang mengetuk dari luar.


“Permisi pak bu, ini sarapan tuan Adrivan” ucap perawat seraya menyerahkan nampan berisi makanan yang harus Adrivan makan pagi ini sebelum meminum obatnya.


“Terimakasih sus”


Setelah perawat itu pergi, mama dan papa duduk di sofa untuk menyantap sarapan mereka sementara Nania dengan telaten menyuapi sang kekasih yang belum bisa duduk terlalu lama.


“Lucu ya? baru beberapa hari lalu kamu menyuapi ku, sekarang aku yang menyuapi mu” Nania terkekeh mengingat kondisinya tempo hari, yang tak mau makan kalau bukan Adrivan yang menyuapinya.


“itu namanya jodoh, saling melengkapi” goda Adrivan sembari menerima suapan demi suapan dari sang kekasih.


***


“Bagaimana hasil penyelidikan kalian Ko?” tanya papa Ryan saat Riko, asisten pribadi sang putra mengunjungi ruang rawat pewaris EC saat hari telah beranjak siang.


“Banyak kejanggalan pak, sesuai prediksi mas Rivan kalau ada penyelewengan dalam proyek kali ini.”


“siapa yang melakukannya”


“Manager perencanaan pak, dia menggelapkan dana dan mengganti bahan baku dengan kualitas rendah yang jauh dari standar kita, jadi bangunan yang sudah di bangun tak begitu kuat bahkan belum selesai di bangun saja sudah seperti itu”


“memangnya mandor dan pengawas pembangunan tidak protes dengan kualitas bahan?”


“sudah pak, mereka sudah menanyakan langsung dan manager bilang kalau memang bahannya di ganti sesuai keputusan pusat”


“manager sudah kami laporkan ke pihak berwenang pak, dan untuk semua pekerja yang terluka juga sudah mendapat penanganan yang sesuai”


“bagus, terimakasih telah bergerak cepat Ko, tolong atasi masalah di sini hingga kondisi Rivan memungkinkan”


“Baik pak, saya akan kerjakan semaksimal mungkin”


Kedua pria itu berdiskusi langkah selanjutnya yang akan mereka ambil dalam kasus pembangunan Resort yang telah di kerjakan, sementara Adrivan terbaring di ranjang perawatan dengan pulasnya setelah meminum obatnya.


Cklek!


Terdengar pintu terbuka dari luar saat papa Ryan dan Riko tengah berbicara dengan serius,


“Apa aku mengganggu?” tanya pria yang baru saja masuk dan melihat tengah terjadi pembicaraan yang serius dalam ruangan yang ia masuki.


“Tidak Don, masuklah" papa Ryan mempersilakan tamunya masuk, "apa Nania mau beristirahat?”


“Iya, dia sudah tertidur di temani kedua mamanya, makanya aku ke sini” papa Doni ikut duduk di sofa di mana mereka duduk berdiskusi.


“Syukurlah” ucap papa Ryan lega.

__ADS_1


Riko pun menyapa papa Doni yang kini duduk di depannya, dan di balas dengan senyum ramah.


“Apakah sudah selesai?”


“Belum, kami sedang membahas mengenai kejadian yang menyebabkan proyek kami jadi seperti ini”


“Kalau begitu lanjutkan saja, dan jangan sungkan untuk meminta bantuan kalau kalian memerlukannya”


Tanpa merasa terganggu Papa Ryan pun melanjutkan pembicaraannya dengan Riko, dan sesekali papa Doni menyampaikan pendapat untuk memberikan solusi yang harus mereka ambil.


“Terimakasih Don, atas saran-saran mu”


“sama-sama, semoga masalah ini segera selesai dan kita bisa fokus untuk mengurus pernikahan kedua anak kita” jawab papa Doni yang membuat Riko mengerutkan dahi,


‘Pernikahan kedua anak mereka? Apa mbak Nania sudah menerima lamaran mas Rivan?’


Kedua pria paruh baya itu tertawa bahagia membayangkan perhelatan akbar yang akan mereka adakan.


“Nah Riko, kamu dengar kan, segera selesaikan masalah ini, lalu bantu kami menyiapkan pernikahan Rivan dan Nania” ucap papa Ryan menjawab pertanyaan dalam benak Riko.


“Mbak Nia sudah menerima lamaran mas Rivan pak?”


“Hmmmm, ya, Nia sudah menerimanya dan kami akan resmi berbesan” papa Ryan begitu bahagia dan merangkul dan menepuk pelan pundak sang sahabat yang duduk di sampingnya.


“Wah, selamat pak, akhirnya setelah sekian lama perasaan mas Rivan terbalas”


“Terimakasih Ko, semoga kamu juga segera bertemu jodohmu”


“Aamiin, terimakasih pak”


“Baiklah, lanjutkan kerja mu, tapi tetap jaga kondisimu, sementara Rivan terbaring di rumah sakit, kamu akan sangat lelah dengan banyaknya perkerjaan”


“baik pak, terimakasih, saya undur diri untuk kembali ke lokasi proyek”


“ya, hati-hati”


Riko pun meninggalkan ruang rawat VIP dimana Adrivan di rawat sementara kedua pria paruh baya itu masih berbincang dengan berbagai macam bahan secara random. Hingga tanpa sadar tawa mereka begitu menggema di ruang rawat itu. Untung saja mereka berada di ruang rawat VIP, sehingga tak mengganggu pasien lain yang tengah berisitirahat.


Hanya saja suara tawa mereka membuat Adrivan yang sebelumnya tertidur pulas harus membuka matanya.


Adrivan pun tak menegur kedua papanya, justru ia merasa senang karena kedua papanya terlihat bahagia, Adrivan pun tersenyum sembari menatap langit-langit kamar, mengingat kejadian tadi pagi di mana sang pujaan hati membalas perasaannya. Rasanya tak sabar untuk keluar dari rumah sakit dan segera menghalalkan sang pujaan hati.


‘Ah Nia
 kenapa kamu membuatku begitu gila!!!’ pekik Adrivan dalam hati.


Tbc


Halo semuanya, othor kembali hadir
 đŸ€—đŸ€—

__ADS_1


Mohon dukungannya ya đŸ€©đŸ€©đŸ€©


Love you All
.😍😍😍


__ADS_2