Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 33


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


“Sudah…. Kalian ini,…. Biarkan Nia makan dulu Van, benar kata John, anak mama tak akan kenyang dengan senyuman kamu doang” bela mama Nita pada sang keponakan.


Mendengar ucapan mama Nita membuat John menjulurkan lidahnya ke arah Adrivan yang melototkan matanya, hingga membuat Adrivan semakin merengut kesal.


Mereka pun menyantap makan malam mereka dengan penuh canda tawa, ruang rawat yang malam sebelumnya ramai akan tangisan sekarang riuh akan canda tawa yang mereka lontarkan.


Cklek!!


Terdengar pintu terbuka dari luar dan semua orang mengalihkan padangannya ke arah pintu.


“Maaf, apa saya mengganggu?” tanya pria itu dengan sopan saat melihat semua orang memandangnya.


“Tidak Ko, masuk lah” jawab papa Ryan


“Duduk dan ikutlah makan malam dulu, Ibu yakin kamu juga belum makan kan?” timpal mama Dahlia saat melihat asisten dari putranya itu masuk dengan wajah lelahnya.


“Terimakasih bu, kebetulan memang saya belum makan” Riko ikut duduk dan berdampingan dengan John yang masih menyantap makan malamnya.


Mereka pun kembali melanjutkan makan malam mereka hingga beberapa saat setelahnya pintu ruang rawat kembali terbuka dan perawatpun masuk menyerahkan nampan berisi makan malam yang harus di santap pasien di ruang tersebut.


“Nia akan bantu Rivan makan dulu ma, itu makan malam Rivan sudah datang.” Ucap Nania yang telah menyelesaikan makannya.


“Bang Rivan bisa makan sendiri kak, tangan kanannya tidak terluka itu” goda John kembali,


Nania hanya tersenyum menanggapi godaan sang adik, sementara Adrivan berganti menjulurkan lidahnya ke arah John karena Nania memilih tetap menyuapinya makan.


“Itu hanya alasan Mas Rivan aja mas, biar mb Nia memanjakannya” timpal Riko membantu John untuk menggoda pasangan yang sedang landa kasmaran itu.


“Riko, kau ingin gajimu di potong?” tanya Adrivan dengan kesal karena asisten pribadinya ikut-ikutan menggoda dirinya.


“Pak Ryan yang menggaji saya mas,” ucap Riko dengan santainya, membuat Adrivan tak berkutik karena sang papa menganggukan kepala menyetujui ucapan asisten pribadi putranya.


“Tak apa sih bang, malam ini kami akan pulang, jadi manfaatkan waktu yang ada, sebelum kami pulang”


Uhuk! Uhuk!


Seketika Adrivan tersedak saat mendengar ucapan John, dengan sigap Nania memberikan minum untuknya hingga terasa lega karena makanan tidak lagi menyangkut di tenggorokannya.


“Kamu mau pulang Nan?” Adrivan menatap sendu sang kekasih, sementara Nania mengalihkan pandangan ke arah kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Nan…”


“Iya, papa mama akan pulang” jawab Nania kembali menatap sang kekasih, sembari mengarahkan sesendok nasi ke mulutnya, namun di tolak Adrivan.


“Makan dulu, ini setengah saja belum habis” bujuk Nania karena melihat Adrivan bertingkah seperti anak kecil sedang merajuk. “Aaaa….”


Adrivan menggelengkan kepala dan berusaha berbaring, dan memunggungi Nania yang masih ingin menyuapinya.


“Ya Allah Yan, anakmu itu, benar- benar?” Papa Doni terkekeh melihat tingkah calon menantunya.


Semua orang pun ikut tertawa, tak menyangka Adrivan akan menunjukan sisi kekanakannnya di saat seperti ini, bahkan di depan calon mertuanya.


“Sayang, taruh piringnya di sana, dan segeralah bersiap kalau Rivan sudah tidak mau makan” kini mama Dahlia ikut menggoda sang putra.


“Baiklah kalau begitu, kami pamit Ya, Yan, agar kami tak kemalaman sampai di rumah” mama Nita menimpali dengan berpamitan kepada calon besannya.


“Hati-hati di jalan Nit, sampaikan salam kami untuk Dea, putra dan menantumu di rumah”


“Tentu saja, jaga kondisi kalian di sini, semoga Rivan segera pulih”


“ya, terimakasih, tapi bagaimana Rivan cepat pulih, kalau makan saja dia tidak mau menghabiskannya. Semoga Nia tidak berubah pikiran untuk menikah dengan laki-laki yang suka merajuk itu”


“Kalian membohongiku ya?” pekik Adrivan kesal setelah mencermati situasi yang ada, jika mereka sudah berpamitan kenapa mereka masih santai menyantap cemilan yang ada,


Sontak saja semua orang tertawa mendengar kekesalan Adrivan. Sungguh ini adalah hiburan di tengah kondisi tegang yang mereka alami beberaapa waktu terakhir.


“Nan….” Rengek Adrivan pada keksih yang masih duduk di sampingnya.


“Hmmm….duduk, dan lanjutkan makanmu” ucap Nania penuh kelembutan, namun sedari tadi ia menahan tawa melihat tingkah calon suaminya.


Perlahan Adrivan pun bangkit dan kembali duduk dengan tegak, “temani aku di sini dulu, jangan pulang...”


“siapa yang mau pulang?” Nania kembali menyuapi Adrivan yang terus merengek.


“tadi kamu bilang, John bilang”


“memangnya tadi aku bilang apa?”


“papa mama mau pulang, “


“apa aku menyebutkan kalau aku mau pulang juga?”

__ADS_1


Adrivan mengghentikan kunyahannya, dan menggeleng pelan, lalu menatap John dengan tajam. Seolah berkata ‘jadi aku di kerjain bocah kecil itu? awas kau John!!’


“Peace bang” John yang mengerti arti tatapan itu lalu mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf ‘V’ sembari tertawa lebar karena berhasil mengerjai sang kakak.


Suasana kamar kembali riuh karena tawa semua orang yang berada di sana kompak menggoda Adrivan.


***


“Jaga dirimu di sini sayang” mama Nita memeluk sang putri sebelum meninggalkan ruang rawat dimana Adrivan di rawat.


“Iya ma, kalu kondisi Rivan sudah semakin baik, Nia akan pulang”


“Hmm, urus dengan baik calon suamimu” jawab mama Nita dengan menekan kalimatnya pada dua kata terkahir, hingga membuat pipi Nania bersemu merah karena malu.


Tak ingin ikut menggoda sang putri Papa Doni pun langsung berpamitan kepada putrinya dan kepada calon besan serta calon menantunya di lanjutkan John yang ikut berpamitan.


“John pulang ya bang, maaf tadi hanya bercanda bang”


“hati-hati John, jaga dirimu” Adrivan tersenyum menyalami calon adik iparnya itu.


“Cepat sembuh ya bang, jadi John akan segera kembali ke sini untuk menyaksikan pernikahan kalian”


“Aamiin”


Setelah semuanya berpamitan, Riko pun dengan sigap mengantarkan rombongan keluarha Rahardian menuju hotel untuk mengambil barang-barang mereka kamudian menuju bandara karena pesawat pribadi keluarga Rahardian telah menunggu.


“Istirahatlah, aku tau sedari tadi kamu menahan sakit di punggung dan kakimu” ucap Nania lembut setelah suasana kamar hening, hanya menyisakan papa Ryan dan mama Dahlia yang bersiap untuk berisitirahat.


“Terimakasih sudah mau menemaniku di sini Nan” ucap Adrivan tulus semabri membaringkan tubuhnya.


Sepasang kekasih itu saling beradu tatapan dan senyum indah menghiasai bibir mereka.


“tidak perlu berterimakasih, kamu juga telah melakukan hal yang sama untuk ku, Terimakasih karena telah menjagaku selama ini”


“Aku menyayangimu Nania Desi Rahardian”


“Aku juga menyanyangimu Adrivan Raka Erlangga”


Keduanya tertawa bahagia, “tak menyangka ya, Ternyata Kamu yang akan aku pilih untuk menjadi suamiku, Ternyata Kamu jodoh yang di kirim Tuhan untuk ku”


Tbc

__ADS_1


__ADS_2