Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 85


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


“iya ma, kata kakak ada hantu di rumah ini, jadinya takut” celetuk Nania yang teringat ucapan sang kakak waktu masih jaman sekolah dulu.


“siapa yang takut?” suara keras yang begitu di kenal ketiga wanita beda usia itu terdengar dari belakang membuat mereka menolah ke belakang dengan menampilkan gigi putih mereka.


“Ya kakak lah, siapa lagi” ucap Nania jujur karena melihat kakak ipar dan mamanya hanya tersenyuk kikuk.


“Tuh, di dekat kakak ada yang memandangi kakak” lanjutnya lagi,


Nando menoleh ke samping, dan tak ada apapun di sana, sementara papa dan adik iparnya berada di belakang mereka. Wajah tampannya berubah pias, bulu kuduknya meremang hingga bergidik, lalu menapat kembali kepada sang adik.


“Kamu bisa lihat dek?”


“Ya bisa lah, orang segedhe gitu kok ndak kelihatan?”


Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Nando, wajahnya sudah pucat, dan tak berani menolah sedikitpun.


Sementara ketiga wanita beda usia itu sudah menahan tawannya, mama Nita tau kalau putri bungsunya ini sedang mengerjai kakaknya.


“yang…. Be… ner .. dek?” tanya Nando dengan terbata-bata, rasa takutnya sudah menguasai pikirannya.


“Heem, tuh papa dan mas Rivan kan mandangi kakak” ucap Nania di sambut sambut tawaa dari kedua wanita yang berada di sampingnya.


Nando terpaku sejenak, kemudian menyadari bahwa dia sedang di jahili adiknya.


“Adek!!!!!” pekik Nando kemudian menerkam sanga adik, menggelitikinya untuk membalas perbuatannya.


Semua orang yang berada di sana tertawa melihat kakak beradik itu saling mengerjai.


“Ampun kak!!! Ha ... Ha....Ampun!!! Ma, ha..ha... minta kakak berhenti! Ma…..!!” ucap Nania di sela tawanya karena terus di gelitiki sang kakak.


Mama Nita hanya menggelengkan kepala, sudah lama tak lihat keakraban kedua anaknya, jadi memilih membiarkan saja tingkah keduanya. Lumayan buat hiburan pikirnya.


“Kak!!!!” pekik Nania lagi, berusaha mengelak, namun sang kakak tak ingin melepaskannya. Hingga nafas keduanya terdengar tak beraturan,


Nania terduduk lemas karena banyak tertawa sembari mengatur nafasnya, sementara Nando tersenyum smirk setelah berhasil mengerjai balik adiknya.


“Kakak jahat!!!” rengek Nania lemas, sembari menatap sang kakak yang telah duduk di samping istrinya.


“kamu gapapa dek?” tanya Rivan yang mendekati sang istri, kemudian merangkul sang istri yang terlihat lemas.


“Kakak jahat ih” rengeknya pada sang suami, membuat sang kakak mencibirya.


“Dih, ngadu”


Rivan tak tega melihat sang istri, saat kakak iparnya menggelitiki sang istri tadi, dia juga tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua, namun tak menyangka sang istri akan sampai selemas ini kerena banyak tertawa.


“Minum dulu” Rivan mengambil segelas jus jeruk yang terletak di atas meja, yang ia yakini adalah minuman ketiga wanita Rardian sebagai teman menonton film.


Dengan rakus Nania meneguk jus itu hingga tandas, seolah mengisi energi di tubuhnya yang telah terkuras karena kejahilan kakaknya.


“Makasih mas” ucap Nania begitu manis pada sang suami,

__ADS_1


“Dih, sok manis dek”


“Biarin, sama suami sendiri juga” Nania kembali memiliki tenaga meledek sang kakak,


“awas ngerjain kakak lagi, jangan bohongin kakak lagi”


“Nia ga bohong kak, itu sekarang di belakang kakak, lagi lihatin kakak” jawab Rivan dengan santainya.


Nando menoleh ke belakang dan tak menemukan apapun di sana, ia pun menelan ludahnya kasar, tertegun dengan wajah pucatnya, teringat kemampuan adik iparnnya.


Glek!!!


***


Beberapa hari berlalu setelah kejadian penculikan Nania, hingga saat ini pelaku utama yang menyuruh pria itu menculik Nania belum di temukan.


Pria itu bersikeras bahwa bukan Raymond lah yang menculik Nania. Hasil penyelidikan dari orang-orang suruhan papa Doni dan Papa Ryan pun tak menjurus kepada nama Raymond.


Di ketahui Raymond saat ini tengah berlibur dengan keluarganya pasca bebas dari tahanan.


"papa yakin bukan Raymond pelakunya?" tanya Nando yanh baru saja di beri tau papanya hasil laporan dari uncle Ferdi


"bukan, kali ini Raymond bersih"


"tapi kenapa yang di incar Nania?"


"papa juga sedang mencari tau, Raiz juga tak memberikan informasi cukup banyak"


Papa Doni kembali menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan sang putra. Setelah membantu membebaskan ibunya Raiz, orang-orangnya telah mengorek informasi, namun hasilnya Nihil.


"sementara kita tunggu amati dan jaga Nia lebih ketat lagi Kak, sebelum kita tau siapa pelakunya"


"iya pa"


Di tempat yang berbeda, sepasang pengantin baru itu tengah menikmati waktu mereka setelah selesai fitting baju untuk resepsi mereka yang akan di laksanakan kurang dari satu bulan lagi.


Mereka pun begitu senang mengitari toko demi toko untuk melepas penat, di tengah ketegangan yang ada.


"eh mas, ini bagus deh" tunjuk Nania pada sebuah ornamen hiasan dinding.


"mau di taruh di mana dek?"


"kamar mas, sebelah tv, ini bisa aku kasih bonsai juga nanti,"


"bunga yang kemarin kamu taruh kamar masih belum cukup?"


"kalau nambah kan gapapa mas, biar tambah adem, mas keberatan kalau Nia tambahin?"


Rivan tersenyum melihat sang istri yang menunduk kecewa,


"ya ndak lah dek, itu kamar kan kamarmu juga, mas kan sudah bilang, atur senyaman kamu"


"jadi boleh beli ini?"

__ADS_1


"hmm" Rivan mengangguk lalu mengusap kepala sang istri yang tertutup hijan berwarna pink.


"terimakasih mas"jawab Nia begity senang sembari bergelayut manja di lengan sang suami.


"ya sudah kita bayar ini, abis itu kita cari makan dulu ya, mas laper"


Kali ini Nania mengangguk antusias, dirinya juga merasa lapar, beberapa jam berkeliling mall membuatnya begitu lelah dan juga lapar.


"kira ke restoran jepang ya mas, Nia pengen ramen" ucap Nania setelah mereka menyelesaikan transaksi pembelian di meja kasir.


"hmm. Boleh... apapun untukmu sayang"


Keduanya pun melangkahkan kaki mereka keluar dari toko dengan tangan kiri Rivan yang menenteng beberapa paper sementara tangan kanannya mengenggam erat sang istri.


"mas, papa telpon" ucap Nania kala melihat ponselnya menyala menampilkan nama sang papa dengan dering nada panggilan yang terdengar.


"kok tumben telpon kamu, kenapa ga ke mas?"


"tanya saja mas, Nia angkat dulu"


Rivan mengangguk, lalu membiarkan sang istri mengangkat telponya


"Hallo pa"


"Nia, Rivan masih sama kamu?"


"Masih pa, ini di samping Nia, papa mau bicara?"


" Hmm, kasihkan telponnya ke Rivan ya"


"iya pa" Nania pun menjauhkan ponselnya dari sisi telinganya dan mengarahkan kepada sang suami yang duduk di sampingnya. "papa mau ngomong mas"


Rivan menerima ponsel sang istri dengan mengerutkan dahi, merasa heran dengan papanya.


"Hallo pa"


"Rivan, kalian di mana?"


"masih di mall pa, ini mau makan"


"segera pulang. Jangan sampai Nia panik"


Deg!


Tbc


Hallo semua, 🤗🤗


Maaf baru sempat update lagi 🙏🙏


Terimakasih atas dukungannya, 🤩🤩


Love you All 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2