
🌼Happy Reading🌼
Berapa hari di rawat di rumah sakit, Nania telah di ijinkan pulang dengan pengawasan dari mertuanya. Luka di tubuhnya telah mengering namun masih ada beberapa perban yang menutup lukanya.
“Kita pulang sayang” ajak mama Dahlia sembari membantu menantunya turun dari ranjang perawatan sementara Rivan membawa barang-barang mereka di bantu dengan pak Rahman.
“Nia bisa jalan sendiri ma, ga perlu pakai kursi roda”
“Loby jauh sayang, pakai kursi roda dulu ya” pinta sang mama
“Nia pengen jalan ma, kabanyakan tidur bikin pegel”
“hmm, baiklah, jalan pelan-pelan ya” jawab mama Dahlia setelah menghela nafas panjang, menuruti permintaan menantunya.
Keempatnya melangkah perlahan menuju loby rumah sakit, di mana pak Rahman memarkirkan mobilnya.
“Saya duluan ya bu, mas, saya siapkan mobilnya dulu”
“Iya pak, tolong ya” jawab Rivan pada sopirnya yang juga menenteng beberapa barangnya.
Sepanjang jalan Nania tak henti tersenyum karena merasa senang akan segera keluar dari rumah sakit. Meski ruang rawat inapnya adalah kelas terbaik di rumah sakit itu, namun tak membuatnya begitu nyaman, tak seperti di kamarnya.
“Mas…. Mau itu!” pekik Nania saat mereka tiba di loby dan tak sengaja arah pandangannya tertuju pada gerobak – gerobak penjual makanan yang berjajar di samping gerbang masuk rumah sakit.
“Apa?” tanya Rivan bingung yang di maksud sang istri.
“Itu mas, jajan, Nia mau cilok, itu ada batagor juga, ada rujak lotis juga itu, Nia mau” ucap Nia antusias menyebutkan nama-nama makanan yang ingin di makannya. Air liurnya serasa menetes melihat beraneka makanan yang terpajang di kaca bening di atas gerobak para pedagang.
Mama Dahlia yang melihat tingkah menantunya hanya tersenyum menggelengkan kepala. Sementara Rivan melongo lalu menelan ludahnya kasar.
‘barusan kan habis makan buah dan kue dek, udah mau makan lagi’
“Mas!!” pekik Nania lagi karena Rivan tak kunjung beranjak untuk membelikannya.
“I… iya” Rivan tersadar dari pikirannya, lalu menyerahkan tas yang ia bawa pada pak Rahman,
“eh mas, Nia ikut aja deh” ucap Nania menghentikan langkah sang suami, kemudian dia bergegas berjalan mendahuli sang suami mendekati gerobak penjual makanan.
“Pak, mau ini ya 5 bungkus”
Nania memesan masing-masing makanan yang ia inginkan dengan porsi yang sama, membuat Rivan kembali menelan ludah kasar.
“Dek, kok banyak banget?”
__ADS_1
“Nanti di bagi sama Kak Linda mas” celetuk Nania mengabaikan tatapan sang suami yang melongo heran.
“Mas mau juga?”
“Nanti minta punya kamu aja dek, yakin kamu habis semuanya?”
“ya habis lah, mas pesen sendiri aja kalau mau, ini punya Nia”
Melihat tingkah manja sang istri membuat Rivan tersenyum setelah merasa terkejut dengan jumlah porsi yang di pesan istrinya.
“Bener harus habis ya”
Nania menjawab dengan yakin sembari menatap pedagang yang sedang menyiapkan rujak lotisnya.
“Mbak mau nyicip dulu?” tanya penjual yang melihat Nania begitu berbinar saat dirinya memotong buah kedondong.
“Boleh pak?” mata sipit Nania membola, terlihat seperti anak kecil yang senang karena mendapatkan hadiah.
“Mau satu biji pak, saya gigit aja langsung pak”
Penjual itupun tersenyum kemudian menyerahkan kedondong yang masih utuh kepada Nania.
“Mbaknya lagi hamil ya mas?” tanya pedagang itu lagi, kali ini di tujukan pada Rivan yang menggelengkan kepala melihat istrinya makan dengan lahap.
“Iya pak, baru 6 minggu pak”
“sepertinya pak, akhir-akhir ini jadi doyan makan pak”
“Alhamdulillah, ya bagus dong mas, mas beruntung istrinya hamil malah doyan makan, dulu istri saya malah ga doyan makan mas, sampai harus di rawat di rumah sakit saking lemesnya”
“Wah, benarkah pak?”
“Iya mas, mas mesti bersyukur”
“Iya pak, Alhamdulillah, saya seneng istri saya doyan makan, hanya heran aja porsinya jadi banyak banget, padahal baru aja makan tadi”
“ya wajarlah mas, yang makan kan bayinya juga”
“Ah iya pak”
Setelah menerima beberapa bungkus makanan pesanan Nania, Rivan pun membayarnya dan mengajak sang istri kembali ke mobil setelah mengucapkan terimakasih kepada para penjual.
“Semoga bayi dan ibunya sehat terus ya mb mas” pekik salah satu penjual
__ADS_1
“Aamiin, makasih pak” jawab Rivan lalu segera menggandeng istrinya menuju mobil.
Keduanya masuk ke dalam mobil yang telah berpindah posisi dari depan loby agar tak mengganggu akses yang lain, mama Dahlia begitu tertegun melihat kantong berisi berbagai jenis makanan yang di bawa putranya.
“Kalian borong ?”
“Ini enak ma” ucap Nania yang telah membuka 1 kantong cilok dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
“Mama mau?”
“Tadi mas mau minta ga boleh, kok mama di tawarin sih?” celetuk Rivan tak terima
“Ya makan yang mas pesen sendiri, yang punya Nia jangan di ambil” ucapnya Nania tanpa dosa membuat Rivan kembali melongo, takjub dengan ucapan sang istri.
Mama Dahlia pun hanya terkekeh mendengar keduanya. “Kalian makan aja lah, mama masih kenyang”
***
Sesampainya di rumah Nania langsung membagi makanan yang di belinya tadi dengan kakak iparnya yang sama-sama hamil, dan benar saja ia tak membagi sedikitpun porsi yang ia pesan kepada yang lain. Bahkan saat papa Doni dan Nando hendak mengambilnya pun langsung mendapat teguran dari Nania yang asyik mengunyah.
“Ya Allah dek, pelit amat sih” celetuk Nando yang begitu tergiur dengan batagor yang kini sedang di lahap adiknya.
“Ini punya Nia, nanti Nia ga kenyang kalau kakak ambil”
Semua orang yang duduk di sana pun terkekeh melihat Nando yang tersenyum masam.
“Jangan ganggu Nia makan kak, Rivan sudah beli untuk semuanya, tapi ya ga sebanyak punya Nia”
Untung saja tadi Rivan langsung memesan lagi untuk keluarganya, jadi mereka bisa mencicipi meski tak banyak.
Semuanya pun menikmati makanan yang mereka bawa sepulang dari rumah sakit.
“Habis ini pasti kita bakal ikut gendut ini, kalau setiap Nia pengen makan kita juga kebagian makanannya” celetuk papa Doni yang asyik menyantap cilok di depannya.
“Bener Don, Lihat tuh bumilnya, lahap bener makannya” sambung papa Ryan.
Mereka pun menatap kedua bumil yang asyik melahap rujak lotis dalam piring masing-masing.
“Bersyukur saja pa, kehamilan Nia tak menyulitkannya, yang penting bayi dan ibunya sehat” timpal mama Nita.
“Iya ma, papa seneng kalau lihat mereka sehat, ga sabar rumah ramai dengan dua bayi”
Keempat paruh baya itu terkekeh membayangkan kedua cucu mereka lahir dan meramaikan rumah mereka yang cukup besar.
__ADS_1
“untung saja kehamilan mereka berdekatan, jadi aku tak perlu iri kamu udah gendong cucu lebih dulu” celetuk papa Ryan pada sahabat sekaligus besannya, yang di sambut gelak tawa dari Doni Rahardian.
Tbc