Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 73


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


Sepanjang perjalanan pulang Nania terus bergelayut manja di lengan sang suami, berbeda saat berangkat tadi, kini ia lebih nyaman bersandar di lengan kekar sang suami.


“terimakasih ya mas” ucap Nania begitu lega, hatinya lebih lega setelah memaafkan mantan sahabat yang telah mengkhianatinya.


“Mas tidak melakukan apapun sayang” Rivan tersenyum sembari mengecup pucuk kepala sang istri.


“Mas selalu support aku”


“Itu sudah kewajiban mas sayang”


“Nia bersyukur mereka khianatin Nia, jadi sekarang Nia bisa sama mas, coba kalau ndak lihat mereka berkhianat, bisa aja Nia masih sama cowok b***k itu”


Rivan tersenyum semakin lebar mendengar ucapan sang istri, ia pun sama bersyukurnya, andai saja mereka tak mengkhianati, belum tentu dirinya bisa bersanding dengan wanita pujaannya ini, bahkan wanitanya telah menjadi miliknya seutuhnya.


“Terimakasih sayang”


Keduanya larut dalam rasa syukur yang begitu dalam, bahkan pak Didi yang tak sengaja mendengar obrolan keduanya merasa senang dan ikut terseyum lebar.


“mau makan ice creamnya nanti di resort apa sekarang dek?’’


“Mana? Nia makan sekarang aja, keburu meleleh” Nania bangkit, menegakan tubuhnya, mengambil box ice cream yang berada di tangan suaminya, lalu membukanya dengan mata berbinar.


“hmm, ini pasti enak banget”


Rivan yang melihat tingkah sang istri seperti anak kecil mendapatkan harta karun itu terkekeh senang.


“Habis panas-panas itu enak makan kaya gini, hmm” Nania menyuapkan sesendok ice cream ke dalam mulutnya, rasanya sungguh nikmat tiada tara. Sensasi dingin dan manisnya begitu menyejukan di mulut. Nyessss.


“Mas mau?” Nania menyodorkan sendoknya setelah menyekup ice cream dari box nya ke arah sang suami, dan di jawab dengan gelangan kepala.


“Buat kamu aja dek”


Nania pun beringsut lalu kembali menikmati ice cream favoritnya.


“Kalau ada warung lesehan yang cukup nyaman berhenti ya pak, istri saya lapar” ucap Rivan kepada sang sopir yang fokus mengemudi,


“Baik pak”


***


“Mas, nia cari tempat sampah dulu, sudah habis ini”


“Astaghfirullah dek, segedhe gitu habis sekali makan?” Rivan menggelengkan kepala yang di balas dengan cengiran sang istri.

__ADS_1


“kalau ga habis nanti meleleh mas, itu masih ada 1 box lagi kan, Nia makan nanti kok”


“Ya Salam, kamu ini maniak ice cream ya dek, yang 1 box besok lagi, jangan di makan nanti, sakit perut kamu nanti”


“habis enak sih mas, besok belikan ke sana lagi ya” Nania merangkul manja lengan sang suami agar tak di marahi karena terlalu banyak makan ice cream.


“Kamu ini ya, kaya Rendra tau ga?” Rivan menoel gemas hidung sang istri.


Pak Didi yang melihat tingkah keduanya tesenyum, tadinya mau manawarkan untuk membuangkan sampah, tapi di urungkan karena melihat keromantisan bosnya.


“Ya sudah, tuh ada bak sampah, buang sana, mas akan pesankan makanan untukmu”


“Oke mas” dengan sumringah, Nania melepas rangkulannya dan melangkah menjauh untuk membuang sampahnya, sementara Rivan dan sopirnya masuk ke dalam tenda warung lesehan.


Setelah memesan, Rivan mengajak soipirnya untuk duduk di bangku kosong yang terletak di sudut tenda. Hari masih sore jadi belum banyak pengunjung yang makan di sana, suasana pun jadi lebih nyaman karena tidak terlalu penuh.


Tak lama setelah keduanya duduk, Nania menyusul dan tak segan dirinya bersandar di lengan sang suami saat menunggu pesanan mereka datang.


“Capek dek?’’


“huum, habis ini pulang langsung mas, rasanya udah pengen rebahan”


“Lha tadi ga langsung pulang aja?”


“laper mas, apalagi emosi tadi, bikin tambah laper aja”


Saat pesanan mereka datang, Nania langsung memesan menu tambahan untuk di bungkus, membuat Rivan kembali menggelengkan kepala.


“Dek, ga kebanyakan? Ini aja belum di makan?”


“Nanti pasti Nia makan mas, pasti habis isya Nia udah lapar lagi”


Rivan hanya menghela nafas, semoga saja sang istri benar-benar akan memakannya, bukannya tak ingin membelikan sang istri, hanya saja kalau tidak di makan akan mubadzir dan Rivan tak mau sampai membuang makanan, karena di luar sana banyak yang kekurangan makanan, jadi sebisa mungkin ia tak ingin membuang makanan.


Tak butuh waktu lama ketiganya menghabiskan makan sore mereka dan bergegas ke Resort karena hari sudah mulai gelap.


“Terimakasih pak, oh ya ini jajan untuk anak bapak, tolong diterima ya” ucap Nania saat ketiganya turun dari mobil setelah sampai di depan kamar.


Pak Didi yang sedang membantu menurunkan barang-barang pun di buat terharu karena kebaikan majikannya kali ini. Ada rasa enggan untuk menerima, tetapi tak enak jika mengecewakan majikannya ini.


“Terimakasih bu, malah jadi merepotkan”


“Tidak repot pak, jangan sungkan ya”


“Bapak bisa istirahat, hari ini kami tak akan ke mana-mana, besok mungkin juga tidak ada agenda keluar pak, tapi malam harinya antar saya untuk menjemput orang tua kami ke bandara” timpal Rivan yang telah selesai menurunkan kantong belanjaan mereka.

__ADS_1


“Baik pak, dengan senang hati”


Setelah berpamitan pak Didi pun meninggalkan kamar mereka, sementara Rivan meminta sang istri untuk masuk lebih dulu, dan ia yang akan membawa belanjaan mereka.


Nania yang sudah merasa lelah menurut dan segera ke kamar tidur untuk meletakan tasnya lalu membersihkan diri, karena tubuhnya sudah terasa lengket dan minta untuk di basuh.


Tak ingin berlama-lama Nania keluar dari kamar mandi setelah 30 menit, ia melihat sang suami yang tengah duduk santai di sofa dengan memainkan ponselnya.


“Mas, mandi gih, kita maghrib jamaah”


“hmm, tunggu mas ya”


Rivan segera bangkit dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Tak lama kemudian mengakhiri sesi mandinya dan keluar untuk segera menjalankan kewajibannya bersama sang istri.


Rivan tersenyum saat sang istri telah menyiapkan pakaian koko untuknya lengkap dengan sarung dan pecinya, bahkan Nania pun telah menggelar sajadah untuknya.


***


“Mas, mama telpon” teriak Nania saat melihat ponsel sang suami bordering menunjukan adanya panggilan masuk, sementara sang suami sedang berada di kamar mandi.


“Angkat aja dek”


Nania pun mengangguk meski tak di lihat sang suamu, kemudian menggeser tombol hijau di layar ponsel.


“Hallo, Assalamu’alaikum ma”


“Wa’alaikumusalam, sayang, Rivan mana?”


“Lagi di kamar mandi ma, kenapa ma?”


“hmm, gitu ya, mama mau kabarin kalau mama dan papa akan ke sana malam ini, mau minta tolong di jemput”


“Loh, ga jadi besok malam ma?”


“Ga sayang, mama papa saja yang ke sana malam ini, besok malam mama papa dan kakakmu nyusul”


“oh, iya ma, mama sampai sini jam berapa nanti?”


“jam 9an sayang, ini mama sudah di bandara, sudah check in”


“Oh, oke ma, Nia bilang mas Rivan untuk jemput mama”


“Makasih ya sayang, mama tutup telponnya, Assalamu’alaikum”


Nania menutup telponya setelah menjawab salam sang mama.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2