
🌼Happy Reading🌼
Nania yang masih syok pun segera meronta setelah sadar siapa yang menggenggam pergelangan tangannya. “lepas!!”
Melihat istrinya meronta sontak saja membuat Adrivan naik pitam, dengan mengepalkan kedua tanggannya ia melangkah secepatnya untuk menolong sang istri, hingga kembali bogem mentah kembali melayang di pipi David.
“Jangan sentuh istri gue!!!” pekiknya wajah merah padam, ia pun segera meraih snag istri yang gemetar ketakutan dan mendekapnya erat.
Melihat kondisi yang semakin tak kondusif, pria yang sedari tadi melihat kebrutalan Adrivan itu akhirnya mendekat, dan mencegah David untuk melakukan serangan balasan.
David sempat terdiam sesaat, mengerutkan dahi mendengar pekikan pria yang baru saja mengurusnya.
“Istri?” David tersenyum kecut dalam pegangan Riko. “Jangan bohong lo!!”
“Riko bawa dia pergi dari sini, jangan sampai aku benar-benar menghabisinya” ucap Adrivan yang masih mendekap sang istri,
“Baik mas,”
“Nia, katakan kalau dia bohong, katakan kamu bukan istrinya?” David pun berteriak sembari meronta saat Riko menyeretnya. Riko pun meggiringnya keluar restoran dan meminta security untuk menyuruhnya pergi, atau ia akan melaporkan kepada polisi atas perbuatannya ini.
Riko pun memperingatkan pria itu, untuk tak mengganggu Nanai lagi atau bosnya itu akan menghancurkannya.
Selama ini Adrivan maupun keluarga Erlangga masih berbaik hati karena tak menghancurkan kehidupan keluarga Prasetya, namun jika sekali lagi David mengusik Nania lagi, tak ada jaminan kalau Doni Rahardian akan melepaskannya kembali, terlebih sekarang Adrivan sudah mempunyai ikatan yang sah, jadi tak menutup kemungkinan dia pun tak akan tinggal diam dan membuat David benar-benar hancur.
“Kakatan kalau yang dikatakan bosmu tadi tidak benar Ko?” David masih belum percaya dengan ucapan rivalnya tadi.
“Tak perlu saya menjelaskan kepada Anda, saya rasa ucapan bos saya cukup bisa di pahami, jadi sekali lagi jangan pernah mengusiknya”
Riko pun meninggalkan pria itu dalam pangawasan security,
“Aaaaarggg!!!” pekik David frustasi kemudian melangkah ke arah mobilnya terparkir, tubuhnya mulai terasa nyeri terutama di bagian wajahnya.
“s***!! Bagaimana bisa mereka menikah?” gumam David sebelum mengemudikan mobilnya.
Sementara itu masih di dalam restoran Adrivan berusaha menenangkan sang istri yang masih menangis sesengukan.
“Dek, sssttt, dia sudah pergi”
Nania tak menjawab dan hanya mendekap erat sang suami, tubuhnya bergetar hebat, sekelebat bayangan saat Raymond hendak melecehkannya kembali muncul dalam pikirannya, dia benar-benar ketakutan.
__ADS_1
Di sisi lain Riko menemui manager restoran untuk meminta maaf, dan tak lupa menyampaikan terimakasih karena sudah memberitahukan perilah kejadian yang menimpa istri bosnya itu.
Ya, beberapa waktu lalu, manager Restoran menemui Riko dan Rivan di private room. Sang manager mengatakan kalau Nania di ganggu oleh seorang pria, manager itu mengatakan kalau Nania bertengkar dan meminta pria yang mengganggunya utuk pergi. Tanpa pikir panjang, Rivan pun lekas berdiri dan meminta maaf pada clientnya.
Setelah menjelaskan perihal kepergian atasannya itu Riko pun menyusul dan telah mendapati Adrivan memukul pria yang tak lain adalah David, mantan kekasih yang telah mengkhianati istrinya.
Setelah menemui sang manager, ia pun melangkahkan kakinya untuk mengantar sepasang suami-istri yanh masih berankulan itun, namun tak di sangka Randi dan sekretarisnya yang merupakan clientnya itu masih berdiri melihat mereka.
“Pak Randi, mohon maaf atas kejadian tak menyenangkan ini” ucap Riko mewakili atasannya.
“Tidak masalah Pak Riko, kalau boleh tau, bukankan itu Nania Rahardian? Putri bungsu Doni Rahardian?”
“Benar Pak, beliau putri bungsu bapak Doni Rahardian, dan juga istri Pak Adrivan Erlangga pak,”
“Wah benarkah? Kapan menikahnya? Kenapa saya tidak tau?” tanya Randi beruntun sembari mengertkan dahi,
“Memang belum mengadakan resepsi pak, jadi belum banyak yang tau”
“Ah begitu, saya tunggu undangannya ya? dan sampaikan Pak Adrivan, saya tunggu surat kontrak kerjasamanya, besok titipkan suratnya pada sekretaris saya”
Speechless, Riko terpaku beberapa saat, hingga Pak Randi berpamitan undur diri baru ia tersadar dari keterkejutannya.
‘Ini mimpi ga sih? gimna bisa? bahkan tadi diskusi saja belum selesai, besok sudah minta surat kontraknya? Ya Allah semoga ini bukan mimpi, tapi kok bisa ya? ais.. yang penting Pak Randi sudah setuju kerjasama’
Setelah clientya pergi Riki pun mendekati atasannya yang masih terlihat menenangkan istrinya.
“Ko, siapkan mobil, kita pulang”
“Baik mas”
Tanpa berkata lebih Riko segera keluar menuju parkiran menyiapkan mobil, sementara Rivan segera memapah sang istri yang masih sesengukan. Namun baru beberapa langkah Nania lemas tak sadarkan diri.
"Ya Allah dek!!!"
Rivan menggendong sang istri dan berjalan cepat keluar resto, seolah kakinya sudah baik-baik saja.
***
Setelah sampai di rumah, Rivan segera menghubungi sang mama, ia pun menceritakan kejadian yang baru saja dia alami, dan tak lupa meminta mama menghubungi rekannya untuk memeriksa kondisi Nania saat ini.
__ADS_1
" Rivan takut ma" panio Rivan karena Nania masih tak sadarkan diri.
"tenang sayang, sepertinya Nian hanya syok saja, dokter. Irma juga sudah dalam perjalanan ke rumah, kenapa tadi tidak langsung di bawa ke rumah sakit sih?" gemas mama Dahlia pada sang putra.
"Rivan panik ma, Rivan lupa kalau mama tidak di rumah"
" ya sudah tunggu dokter Irma datang, mama akan pulang secepatnya"
"makasih ma"
Sambungan telpon tertutup bersamaan dengan dokter yang di utus mama Dahlia datang di antarkan bibi.
"siang mas Rivan"
"siang dok, ah syukurlah dokter sudah datang, tolong periksa istri saya dok"
Rivan mempersilakan dokter paruh baya itu memeriksa sang istri.
"tidak ada yang perlu di khawatirkan mas, semuanya baik- baik saja, tapi untuk mengetahui lebih lanjut kita tunggu mbak Nia sadar dulu"
Dokter pun menjelaskan kemungkinan yang terjadi saat Nania sadar nanti. Selama dalam perjalanan ke rumah keluarga Erlangga tadi, dokter Irma mendengarkan penjelasan kondisi sang menantu dari keluaga Erlangga, berikut kejadian beberapa waktu lalu dan kondisi pasca peristiwa buruk itu terjadi, serta kondisi yang mungkin terjadi karena ada faktor pemicunya.
Tak lama setelah dokter Irma berpamitan, Nania tersadar dengan keadaan histeris.
Sontak saja hal itu membuat Rivan begitu panik lalu berusaha menenangkan sang istri dengan mendekapnya erat.
"aku kotor..hiks.... hiks..."
"tidak sayang, kamu tidak kotor, dia tak menyentuhmu"
Bukannya tenang, Nania malah meronta untuk di lepaskan. Rivan sekuat tenaga untuk tetap mendekap sang istri,
"sssttt dek, hei kamu tak kotor dek"
"dia menyentuhku," ucap Nia masih dalam isak tangisnya"
"tidak sayang, tak ada yang menyentuhmu, hanya mas yang menyentuhmu"
Tbc
__ADS_1