
🌼Happy Reading🌼
“tapi janji sama papa, adek akan baik-baik saja, akan selalu bahagia” Papa Doni menatap sang putri yang tersenyum bahagia, baginya tidak apapun yang lebih berarti daripada kebahagiaan sang anak.
“Pasti pa, Nia janji” Nania berucap mantap agar sang papa percaya padanya, karena telah mengabulkan permintaannya.
Sudah saatnya melupakan dendam dan rasa sakit yang ia rasakan beberapa tahun lalu. Kini dia sudah hidup bahagia bersama sang suami, dan tinggal fokus dengan rumah tangganya. Masa depan yang akan ia jalani bersama suami dan anak-anaknya kelak, kebahagiaan yang sudah di depan mata.
Setelah mengobrol cukup lama Nania berpamitan dan mematikan sambungan telponnya, lalu ia pun bangkit ke ruang makan untuk memakan yang ia pesan tadi.
Saat tengah menikmati makan malamnya, ponsel yang ia letakan di atas meja berdering kembali dan kali ini tak menunggu lama ia langsung mengangkatnya karena ia begitu hafal dengan dering khusus untuk orang yang saat ini menghubunginya.
“Assalamu’alaikum mas”
“’Wa’alaikumusalam dek, kamu lagi apa?”
“Lagi makan mas, kenapa?”
“hmm, mas sudah sampai bandara, ini masih tunggu mama papa, pesawatnya delay jadi agak telat nanti landingnya”
“Iya mas, gapapa.”
“pintu depan sudah kamu kunci kan dek?” tanya Rivan yang begitu mengkhawatirkan sang istri, lantaran ia tinggal sendiri di ruangan khusus keluarga. Meski di gerbang depan ada security yang menjaga, dan resort di kelilingi pagar, tetap saja ia begitu khawatir karena hari juga sudah malam.
“sudah mas, habis mas keluar tadi langsung Nia kunci.”
Rivan menghembuskan nafas lega, “jangan bukakan pintu untuk siapapun selain mas dek”
“Iya mas, Nia ngerti, habis makan Nia mungkin akan tidur”
“Iya, istirahatlah, tak perlu tunggu mas pulang”
“Iya mas”
***
Hingga tengah malam Rivan dan kedua orang tuanya baru sampai di resort, karena ada kendala di jalan.
“Pak Didi, terimakasih banyak, silakan beristirahat pak, besok bapak masuk siang saja pak” ucap Rivan pada sang sopir yang telah mengantarnya sepanjang hari ini.
“Baik pak, terimakasih”
Setelah menurunkan koper kedua orang tuanya Rivan pun mengajak mereka untuk masuk ke dalam, agar keduanya bisa segera berisitirahat.
“Nia sudah tidur Van?” tanya mama Dahlia yang tak melihat sang menantu saat memasuki ruangan khusus untuk keluarga mereka.
__ADS_1
“Mungkin ma, ini sudah larut juga, mama dan papa tidur saja, itu kamar mama dan papa”
“Baiklah, Besok saja mama temui menantu mama”
Setelah memastikan kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar tidurnya, Rivan segera masuk ke kamarnya di mana sang istri terbaring di sana.
Cklek!
“loh, belum tidur dek?”
“Baru saja kebangun mas” Elak Nania, karena sedari tadi setelah selesai makan malam ia malah tak bisa tidur dan terus merasa khawatir.
“Hmm, mas bersih-bersih dulu”
Tanpa mendekat Rivan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
Saat naik ke ranjang, ia lihat sang istri yang tengah terbaring membelakanginya, namun terlihat tegang.
“Dek, jangan punggungi mas” pinta Rivan sembari mengusap lembut lengan sang istri, namun bukannya berbalik, Nania malah terisak.
“Dek, astaghfirullah.. kamu kenapa? Hmmm?” Rivan kembali bangkit untuk duduk dari baringnya.
“Ada yang sakit?” tanya Rivan yang begitu panik saat Nania malah menangis, sebelum dirinya pergi tadi kondisinya baik-baik saja, bahkan saat telpon tadi juga baik-baik saja”
Nania berbalik dan mendekap erat sang suami, membenamkan kepala di dada lebarnya, yang merupakan tempat ternyamannya, ia akan merasa terlindungi dan tak merasa khawatir lagi.
Bukannya berbicara, Nania malah bungkam seribu bahasa dan semakin terisak, membuat Rivan terus berusaha untuk menenangkannya.
“Oke, besok saja ceritanya, sekarang berhenti nangisnya ya, semua akan baik-baik saja, oke?” ucap Rivan asal, sepertinya bukan masalah fisik sang istri yang menjadi masalah, namun ia merasa ada hal lain yang menyebabkannya hingga seperti ini, seperti ada rasa ketakutan dan kekhawatiran.
Setelah beberapa lama akhirnya Nania terlelap dalam dekapan sang suami, kemudian Rivan pun baru menyusulnya ke alam mimpi, setelah memastikan istrinya tidur dengan nyaman.
***
Keesokan harinya, alarm ponsel Rivan berdering membangunkannya. Ia pun mengerjapkan matanya yang teras berat karena baru tidur sebentar, namun kewajibannya sudah menunggunya. Tangannya begitu kebas karena menahan tubuh sang istri selama tidur agar tetep dalam dekapannya.
“Dek…” ucapnya pelan sembari mencium kening sang istri,
“bangun dek” ia merasakan dahi sang istri lebih hangat dari biasanya, mungkin karena terlalu lama menangis hingga menyebabkannya demam.
“Dek…” panggilnya sekali lagi, hingga akhirnya Nania bangun dengan mata bengkaknya, matanya yang sipit semakin sipit saat kelopak matanya mengembung karena kabanyakan menangis semalam.
“mas…” guman Nania mencoba bangkit dari dekapan sang suami,
“pusing?” tanya Rivan saat Nania memejamkan matanya sembari mengusap dahinya.
__ADS_1
“Hmm..”
“pelan-pelan, kita shalat dulu habis itu tidur lagi”
Perlahan Rivan membantu sang istri bangun dan mengajaknya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengambil air wudhu sebelum menjalankan kewajiban mereka.
Setelah keduanya menyelesaikan kewajiban mereka, Rivan meminta Nania untuk kembali berbaring, namun di jawab degan gelengan kepala.
“Kenapa? Hmm?”
Keduanya duduk bersandar di atas ranjang, dan Nania kembali memeluk erat sang suami,
“mau cerita sama mas?” tanya Riva lagi dengan nada lembutnya, berharap sang istri mau berbagi cerita dengannya.
“Dia.. dia hubungin Nia lagi mas” ucap Nia terbata,
“Siapa?”
“dia…” ucap Nania dengan mata berkaca-kaca, tak sanggup untuk menyebutkan namanya.
“Hubungin kamu? Telpon?”
Nania menggelengkan kepala, membuat Rivan bingung dan khawatir.
“chat kamu?”
Kali ini Nania mengangguk dan menujuk ponselnya yang ia tarus di atas nakas dalam keadaan off.
Rivan pun mengambil ponsel sang istri, dan menyalakannya. Sementara istrinya masih memeluknya erat.
Setelah beberapa saat ponsel Nania sudah aktif dan Rivan segera membuka aplikasi Chat yang ada. Ia menemukan nomor asing di barisan teratas chat. Lalu membuka history chat yang di maksud sang istri.
"b******k" umpat Rivan ketika melihat foto-foto yang di kirim oleh nomor asing itu.
umpatan spontan Rivan membuat Nania kembali meneteskan air mata, rasa takut dan khawatirnya kembali hadir.
" sssstttt, dek, jangan nangis ya, semuanya akan baik-baik saja." Setika Rivan mengeratkan pelukannya pada sang istri. Menyalurkan ketenangan dan memberikan rasa aman untuknya. Meski dalam hati dadanya bergemuruh hebat menahan amarah yang ingin ia luapakan, tapi masih ia redam untuk menenangkan istrinya terlebih dulu. Tak ingin sang istri semakin histeris ketika melihatnya.
'kenapa gue bisa kecolongan begini?"
Tbc
Hallo semua 🤗🤗
Mohon dukungannya 🤩🤩
__ADS_1
Love you All 😍😍😍