
🌼Happy Reading🌼
Hari yang di nantikan kedua keluarga telah tiba, kesibukan akan lalu lalang orang-orang yang menata tempat dan mempersiapkan bingkisan terlihat di kedua kediaman keluarga.
“Bram, jemput Dea dan keluarganya di bandara, estimasi dia sampai 1 jam lagi” pinta Papa Doni pada adik laki-lakinya yang telah tiba di kediaman Rahardian tadi malam.
Kemarin saat Nando telah tiba di kantornya ia pun menghubungi sang tante dan memberitahukan bahwa Nania akan bertunangan dan melangsungkan akad tak lama setelah tunangan esok hari. Maka dari itu tante Dea yang belum lama ini kembali ke rumah harus kembali lagi ke tanah air bersama suami dan anaknya untuk menghadiri acara penting princess Rahardian mereka.
“Iya kak, Joko aku ajak ya kak,”
“hmm, pergilah sekarang, kamu tau adik kecilmu itu bagaimana kalau menunggu di bandara terlalu lama, meski sudah punya anak sebesar itu tapi tetap saja kelakuannya dari dulu tak berubah” sungut papa Dono mengingat tingkah sang adik bungsu.
Bram pun terkekeh, membenarkan ucapan sang kakak, adiknya itu akan mengomel sepanjang hari jika dirinya terlalu lama menunggu lama jemputan di bandara.
Setelah meminta pak Joko bersiap, Bram pun segera melesat ke bandara untuk menjemput adik tersayangnya.
“Pa, papa sudah kasih tau Pak RT kan?” tanya Nando yang melihat papanya begitu sibuk memainkan ponselnya.
“Sudah, kemarin papa sudah info dan papa undang, nanti beliau bisa datang ke sini juga”
“oke pa, Nando ke ruang kerja dulu kalau gitu, barusan Aris hubungi Nando ada client yang minta zoom meeting”
“Siapa yang minta zoom meeting?”
“Pak Nugraha pa, tadi sempat hubungi Aris di kantor dan minta ketemu Nando, tapi kan Nando ga di kantor hari ini, jadi minta zoom meeting, ada yang urgent katanya”
“hmm,ya sudah segera selesaikan mumpung masih ada waktu”
“Iya pa” Nando pun berlalu ke ruang kerja yang berada di tak jauh dari ruang keluarga kediaman Rahardian
Sementara itu mama Nita sibuk di dapur membantu mempersiapakan hidangan, bahkan besannya, ibunda dari Linda juga sudah datang untuk membantu persiapan.
“Bu, maaf ya jadi merepokan Bu Rani”
“ih, ya tidak merepotkan bu, saya malah seneng bisa bantu-bantu, tau sendiri Linda kan anak bungsu, kami sudah mungkin menggelar acara seperti ini lagi” jawab Bu Rani terkekeh,
__ADS_1
“Iya sih bu, saya pun juga sudah lama menantikan acara ini”
“Linda bilang calonnya Nia habis kecelakaan bu?”
“Iya, habis ada kecelakaan di tempat proyeknya, mungkin terlihat buru-buru ya bu, tapi kami pikir kalau pernikahan segera di laksanakan akan ada baiknya, Nia bisa merawat suaminya dalam ikatan yang sudah halal”
“iya sih bu, lebih leluasa juga, tak ada salahnya juga, anak muda jaman sekarang kalau ndak di gitukan malah was-was sendiri jadinya bu”
“Iya bu, sebenarnya saya percaya anak-anak bisa menjaga diri, tapi tak ada salahnya juga memberikan ikatan yang sah juga dalam hubungan mereka,”
“iya bu, kalau keduaanya sudah sama-sama siap tak masalah bu,”
“insyaAllah sudah bu, calon mantu saya ini sudah mencintai anak saya dari dulu, belum lama ini saja baru di balas anak saya” mama Nita terkekeh malah jadi curhat pada besannya.
Keduanya melanjutkan aktivitas mereka sembari mengobrolkan banyak hal, bahkan kehamilan Linda pun juga tak luput dari bahasan mereka.
“Cucu Bu Rani dari kakaknya Linda sudah besar ya?”
“sudah bu, tahun ini masuk SD, saya bersyukur juga setelah sekian lama Linda akhirnya bisa hamil, saya kemarin sempat khawatir bu”
“jangan berlebihan bu”
“Iya sih buni ajar ya kita sebagai perempuan berfikir seperti itu, cuma kalau kami ya sedikasihnya aja bu, mereka kan juga masih muda, rezeqinya aja baru sekarang di kasih hamil.”
“Iya bu, makanya saya sangat bersyukur,”
“iya bu, kita sama-sama bersyukur, dan ini kan juga cucu pertama dari keluarga kami, jadi kami begitu bahagia saat Nando dan Linda memberitahukan kehamilan Linda.”
“Terimakasih ya bu, sudah memperlakukan anak kami dengan baik”
“Tentu saja dong bu, Linda sudah jadi anak saya, jadi ibu jangan khawatir, kami akan selalu menjaganya”
Persiapan demi persiapan terus di lakukan hingga saat maghrib tiba semua tempat dan hidangan sudah tertata dengan apik. Rombongan tante Dea juga telah tiba di kediaman Rahardian 1 jam lalu.
“Pa, pak RT sudah datang tuh, nyariin papa” Nando menghampiri sang papa yang mengobrol dengan adik dan adik iparnya.
__ADS_1
Sementara itu di dalam kamar Nania terjadi kehebohan karena semua wanita Rahardian berkumpul di sana.
“Ya ampun Nia, kamu cantik banget sih, tante jamin Rivan pasti tambah klepek-klepek sama kamu” ucap tante Tari, istri dari Uncle Bram yang baru saja selesai membantu Nania berias.
“Ya jelas dong mbak, gaun yang Dea bawa juga pas banget di tubuh Nia, ga salah pilih Dea” imbuh tante Dea yang puas dengan hasil karyanya yang kini di kenakan sang keponakan tercinta.
“Ya jelas anak kakak ini sangat cantik, lha wong mamanya aja cantik begini” timpal mama Nita dengan percaya diri karena telah melahirkan gadis yang dipuji kedua adiknya ini.
“wo ya jelas mb, turunan Rahardian mana ada yang jelek sih, tantenya aja juga cantik begini” timpal Dea tak mau kalah.
“Aduh kalian ini ingat umur kenapa sih” Tante Tari menggelengkan kepala melihat tingkah kedua iparnya ini, demikian dengan Nania dan Linda yang hanya tersenyum melihat kehebohan ketiga wanita paruh baya itu.
“Terimakasih ya tante-tante Nia yang cantik, sudah bantu Nia berdandan jadi seperti ini” Nania tersipu dan terlihat bahagia.
“Sama-sama cantik, sekarang tinggal tunggu calonmu itu datang.”
“Ga nyangka anak mama akan segera menikah, wah princessnya Rahardian akan sold out” timpal mama Nita jadi melo
“iya kak, rasanya baru kemarin princess kita ini lari-lari main sama adik-adiknya”
“ih, kok jadi melo gini sih” Linda yang melihat semuanya berwajah sendu pun mencairkan suasana, "tuh sepertinya rombongan keluarga Erlangga sudah datang, mama sama tante-tente sambut mereka dulu sih”
“iya bumil, kamu tunggu adikmu ya, nanti tante ke sini lagi kalau acaranya mau di mulai” jawab tate Dea sembari mengusap pelan ujung matanya.
“Oke tan,”
Ketiga wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu berlalu keluar kamar Nania untuk menyambut tamu kehormatan mereka.
Di ruang tamu sudah tampak banyak orang berdatangan, dan para pria keluarga Rahardian tengah berdiri menyambut mereka,
“Assalamu’alaikum” salam keluarga Erlangga
“Wa’alaikumusalam, silakan masuk semuanya”
Adrivan pun menampilkan senyum lebarnya, meski dirinya kini duduk di kursi roda tak menghilangkan aura dan ketampanan dari dirinya, Riko dengan setia mendorong kursi roda sang atasan hingga mereka semua duduk di tempat duduk yang telah di sediakan.
__ADS_1
“Nania mana pa?”
Tbc