Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Operasi (2)


__ADS_3

***


Keesokan harinya Rafi seperti biasanya berangkat kekampus tapi yang berbeda hari ini tak ada senyuman pada wajahnya.


Bagaimana mau senyum sedangkan pencipta senyumnya sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Sesampainya di kampus, ia dikejutkan dengan kedatangan Andra.


Pagi bro. ucap Andra tesenyum kearah Rafi tapi tanggapan Rafi membuatnya tak menyangka, biasanya Rafi akan membalas sapaannya dan tersenyum kembali. Tapi sekarang apa yang ia lihat, Rafi hanya menatapnya datar kemudian melanjutkan perjalanannya.


Fi, kamu kenapa sih?? tanya Andra bingung dengan perubahan Rafi yang tiba-tiba menurutnya


Rafi tak menjawab tetap melanjutkan perjalanannya. Andra pun mengikut Rafi di sampingnya.


Fi, kalau aku punya salah aku minta maaf yah. ucap Andra berpikir Rafi seperti ini karena ia punya salah


Kamu nggak salah apa-apa. ucap Rafi tetap menatap ke depan


Terus?? kamu kek gini karena apa dong?? tanya Andra menatap Rafi


Sasa kecelakaan. ucap Rafi singkat


Whatt??? jangan bercanda dong, perkataan adalah doa tau. ucap Andra tak percaya dengan ucapan Rafi


Aku nggak bercanda. tekan Rafi


Meliha wajah serius Rafi, Andra pun jadi percaya bahwa yang diucapkan sahabatnya itu memang benar adanya.


Gimana ceritanya Sasa bisa kecelakaan?? tanya Andra kepo


Kamu taukan kalau kemarin aku janjian dengannya pergi kepantai. Rafi mengingatkan


Kalau itu aku tau tapi kecelakaan bisa terjadi gimana ceritanya?? tanya Andra lagi


Saat itu kita udah mau pulang tapi Sasa melihat anak kecil di tengah jalan raya, Sasa menuju kesana tanpa memperhatikan kanan kiri hingga kecelakaan itu terjadi begitu saja. Tanpa aku sempat menolongnya. ucap Rafi merasa bersalah


Astaga, kasian sekali Sasa. Yaudahlah Fi, itukan juga udah terjadi. Jadi penyesalan tak ada artinya saat ini, penyesalan tak akan mengubah apa-apa. Kita hanya bisa mendoakan kesembuhan Sasa. ucap Andra sambil tersenyum tulus


Perkataan Andra mengingatkan Rafi tentang perkataan Anggi kemarin malam membuatnya terkekeh.


Andra yang mendengar Rafi terkekeh menjadi heran pasalnya beberapa menit yang lalu Rafi tampak sangat sedih dan sekarang ia malah terkekeh. Andra jadi berpikir Rafi jadi tak waras karena tertekan dengan kondisi Sasa.


Fi kamu kenapa?? masih waras kan?? tanya Andra bergidik ngeri membayangkan sahabatnya itu jadi gila


Kamu berharap banget aku jadi gila, dasar sahabat tak berguna. Rafi mengetuk kepala Andra membuat Andra mengaduh kesakitan


Fi, bisa nggak sih?? ketukannya santai dikit, kepala aku jadi sakit tau. ngeluh Andra dengan perilaku sahabatnya


Siapa suruh doain aku jadi gila. kekeh Rafi, setidaknya tingkah sahabatnya membuatnya sedikit melupakan kesedihannya


Siapa juga yang doain, aku cuma nanya. Andra memutar bola matanya


Dengerin aku itu nggak gila tapi aku terkekeh tadi karena perkataan kamu mengingatkan aku perkataan Anggi semalam. Jangan-jangan kalian jodoh deh. ejek Rafi kemudian memasuki kelasnya


Nggak yah, Anggi udah aku anggap adik sendiri. Di hati aku masih nama Rani yang melekat. ucap Andra mengingat Rani


Hem. gumam Rafi mendudukkan dirinya di kursi


Btw, Rani kemana?? beberapa hari ini aku nggak liat dia. tanya Andra menatap Rafi


Dia ikut bokapnya ke luar negeri. ucap Rafi sambil mengeluarkan bukunya dari tas


Emang ada keperluan apa?? kepo Andra


Entah aku juga nggak tau. ucap Rafi malas


Andra pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian ikut mengeluarkan bukunya dari tas. Beberapa menit keheningan melanda diantara mereka, akhirnya dosen datang juga.


Mereka pun mengikuti mata kuliah dengan khidmat, beberapa menit berlalu mereka pun diizinkan untuk pulang karena dosen yang mengajar di mata kuliah sedang tidak hadir.


Rafi dan Andra pun menuju parkiran tanpa pembicaraan diantara mereka.

__ADS_1


Ndra bawa mobil?? tanya Rafi tetap menatap ke depan menuju mobilnya


Bawa dong, kamu emang enggak bawa?? Andra menatap sahabatnya itu


Bawa kok, mau ikut nggak ke rumah sakit?? tanya Rafi


Yaudah, aku ngikutin kamu aja. ucap Andra menuju mobilnya


Keduanya pun meninggalkan area kampus dan segera menuju rumah sakit dimana Sasa di rawat tapi sebelum sampai di rumah sakit, keduanya terlebih dahulu singgah untuk membelikan Sasa parsel buah.


Setelah membelikan parsel buah, keduanya pun melanjutkan perjalanan.


Beberapa menit berlalu, keduanya pun sampai di parkiran rumah sakit.


Fi tungguin dong. teriak Andra menyusul Rafi


Cepet. ucap Rafi singkat


Yang lagi jatuh cinta mah gini nih. ejek Andra mensejajarkan langkahnya dengan Rafi


Rafi yang mendengar ocehan Andra malas untuk menanggapi dan memilih melanjutkan perjalanannya.


toktoktoktok


Rafi mengetuk pintu kamar inap Sasa.


Masuk. ucap orang di dalam


Rafi dan Andra pun masuk sambil tersenyum ke semua orang di dalam ruangan itu.


Assalamualaikum tan, om. ucap Rafi menyalami tangan orang tua Sasa diikuti Andra


Rafi yang melihat Papa Sasa sudah terlihat lebih baik padanya mengucap syukur dalam hatinya. Ia pun meletakkan parsel buah yang di belinya tadi di nakas samping brangkar Sasa.


Bagaimana kondisi Sasa tan? tanya Rafi duduk di dekat Sasa


Dia masih belum siuman Fi, tante juga nggak tau. ucap Mama Sasa menunjukkan wajah sedih


Mereka pun dilanda keheningan namun beberapa menit berlalu ada yang mengetuk pintu membuat mereka semua mengakihkan pandangan menuju pintu.


Ternyata yang datang adalah kedua adik Sasa dan Anggi.


Mereka pun menyalimi Mamanya dan Papanya diikuti Anggi di belakang mereka.


Astaga Papa sampai lupa jemput kalian. ucap Papanya menepuk jidatnya


Nggak papa Pa, kami ngerti kok. Kondisi kak Sasa saat ini membuat kita semua sedih. ucap keduanya kemudian menatap Sasa


Terus kalian kesini naik apa? tanya Mamanya


Naik mobil ikut kak Anggi. ucap Sinta menatap Anggi


Owh. ucap orang tuanya


Kedua adik Sasa dan Anggi pun duduk di kursi ruangan itu.


Namun Sasa yang tiba-tiba kejang membuat mereka terkejut sekaligus panik dan segera memanggil dokter.


Dokterrrrrr. teriak Papa Sasa keluar dari ruangan inap Sasa


Sedangkan yang lain mendekat ke arah Sasa


Sayang kamu kenapa nak? ucap Mamanya menangis


Kak jangan buat kita semua takut dong. ucap Santi memegang tangan kakaknya


Beberapa menit Sasa kejang-kejang ia pun kembali tenang bertepatan dengan kedatangan dokter.


Bisa kalian semua keluar, saya harus menjalankan tugas. ucap Dokter kemudian mendekat ke arah Sasa


Mereka semua pun menurut dan keluar dari ruangan itu. Semuanya berharap Sasa baik-baik saja.

__ADS_1


Mereka semua mendengar pintu kamar inap Sasa terbuka segera menatap Sang Dokter. Papa Sasa yang melihat Dokter pun keluar dari sana segera mendekati sang Dokter.


Dok bagaimana kondisi putri saya. ucap Papa Sasa khawatir


Keadaan Sasa saat ini tidak baik-baik saja. Sasa harus segera dioperasi kembali, mengingat ia mengidap kanker otak. Mungkin penyebaran kanker itu yang cukup cepat membuatnya sulit untuk siuman. jelas Dokter


Baik dok, lakukan apapun yang terbaik buat putri saya. ucap Papa Sasa


Mama Sasa, Kedua adik Sasa, Rafi, Andra dan Anggi hanya diam sambil mendengar pembicaraan Papa Sasa dengan dokter. Namun, perkataan dokter membuat mereka menundukkan kepala dengan air mata yang terus mengalir. Pasalnya baru kemarin Sasa dioperasi, ia harus dioperasi kembali karena kanker yang diidapnya membuatnya sulit untuk sembuh.


Setelah dokter menjelaskan dan keluarga Sasa menyetujui, dokter pun kembali masuk kedalam ruangan Sasa setelah memanggil beberapa suster untuk segera memindahkan Sasa ke ruang operasi.


2 jam berlalu akhirnya operasi telah selesai. Membuat semuanya jadi dagdigdug. Dokter pun keluar dari ruang operasi.


Dok bagaimana dengan operasinya, apakah berjalan lancar?? tanya Mama Sasa


Alhamdulillah operasi berjalan lancar, kami akan memindahkan putri ibu ke ruang inap. ucap Dokter kemudian berlalu dari sana


Papa Sasa, kedua adik Sasa, Rafi, Andra dan Anggi yang mendengar semua itu akhirnya bernafas lega.


Sasa pun sudah dipindahkan ke ruang inap. Mereka semua merasa bahagia, karena Sasa dinyatakan sembuh dari kanker itu dan kata dokter Sasa akan sadar dalam 1 atau 2 hari kedepan.


Hari pun sudah menjelang malam, Rafi, Andra dan Anggi segera pamit untuk pulang. Kedua orang tua Sasa pun menganggukkan kepalanya.


***


Di rumah keluarga Aldebaran, disana Mama dan Papa Rafi sedang bersantai sambil menonton tv.


Assalamualaikum. ucap Rafi memasuki rumahnya dengan tak lupa menyalimi tangan kedua orang tuanya


Waalaikumussalam. ucap kedua orang tuanya


Bagaimana kondisi Sasa? tanya Mamanya dengan menatapnya intens


Rafi pun duduk terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Mamanya.


Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. ucap Rafi tersenyum


Operasi?? tanya Mamanya memastikan


Iya Ma. ucap Rafi singkat


Bukannya kemarin udah operasi? kepo Papanya yang dari tadi diam mendengar pembicaraan Istri dan Anaknya


Emang udah kemarin Pa, tapi tadi dioperasi lagi soalnya kanker otaknya sudah menyebar dan itulah yang membuat Sasa sulit untuk sembuh. jelas Rafi


Kedua orang tuanya menganggukkan kepalanya, "Owh baguslah kalau gitu".


Rafi kemudian melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, "Pa, Ma Rafi ke kamar dulu yah, Rafi belum sholat. pamit Rafi


Iya Sayang. ucap Mamanya sedangkan Papanya hanya menganggukkan kepalanya


Setelah kepergian Rafi, kedua orang tuanya kembali berbincang.


Ma, Rafi sepertinya banyak berubah yah. ucap Papa Rafi menatap istrinya


Iya Pa, Mama bersyukur deh. Setelah dekat dengan Sasa, ia jadi kembali seperti dulu. ucap Mama Rafi mengingat Rafi kembali seperti saat Reina bersamanya


Mama jadi pengen ketemu Sasa deh Pa. ucap Mama Sasa antusias


Yaudah lain kali kita sempetin jenguk dia. ucap Papa Rafi tersenyum ke arah istrinya


***


Bahagia nggak?? Sasa udah sembuh.


Bahagia dong pastinya๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Ada yang degdegan nggak pas Sasa dioperasi??


Semoga aja ada๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

__ADS_1


Happy reading guys๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2