Ternyata Kamu

Ternyata Kamu
Part 37


__ADS_3

🌼Happy Reading🌼


“Siapa yang akan menikah secepatnya?”


“Kamu!!” ucap mama Ryan dan mama Dahlia dengan kompak.


Adrivan mengerutkan dahinya karena bingung. “Rivan?” tunjuk Adrivan pada dirinya sendiri,


“Iya, papa dan mama berencana menikahkan kamu dan Nia secepatnya” jawab papa Ryan to the point agar anaknya ini segera mengerti.


“Tapi kan kondisi Rivan masih kaya gini pa,”


“memangnya kamu tak ingin bersama dengan Nania secepatnya?” kali ini mama Dahlia menanyai sang putra dengan nada lembut.


Adrivan menundukan kepala, menghela nafas panjang kemudian mendongak menatap kedua orang taunya.


“Mama dan papa kan tau Rivan dari dulu ingin bersama dengan Nia, kalau di tanya ingin nikah secepatnya ya ingin, tapi kondisi Rivan lagi seperti ini ma” ucap Adrivan memelankan suara di akhir kalimatnya.


“memang kenapa dengan kondisi kamu? Kamu kan tak cacat”


“kaki dan tangan Rivan aja masih diperban kaya gini, apalagi kaki Rivan ma, tuh gip nya aja tebel banget” tunjuk Rivav memperlihatkan kaki kananya ya masih dibalit perban tebal berwarna putih.


“ya itu kan karena tulang kaki mu ada yang patah, makanya di gip, kalau ndak, makin lama kamu pulihnya, belum lagi nanti kalau bergeser” mama Dahlia ikut kesal dengan ucapan putra semata wayangnya


“ya itu ma, karena tulang kakai Rivan patah, ya kali Rivan nikahan di kursi roda, jelek dong, ya kali di foto Rivan yang gagah gini pakai kursi roda." Adrivan mencebikan bibirnya karena kesal.


Jawaban yang di lontarkan Adrivan tentu saja membuat papa Ryan dan mama Dahlia melongo takpercaya.


“astaga Rivan!!!” pekik kedua orang tua Adrivan secara bersamaam


“Jadi alasan mu mau menikah setelah pulih karena ga mau terlihat jelek karena duduk di kursi roda?”


Adrivan mengangguk menjawab pertanyaan sang papa, sementara mama Dahlia meminjat keningnya karena alasan yang dilontarkan sang putra.


“Ya Allah pa, anak papa ini pa, sungguh bikin mama kesal” keluh mama Dahlia pada suaminya.


“Mama papa kenapa sih? emangnya ada alasan lain lagi?” Adrivan bertanya dengan polosnya, orang tuanya sudah berpikir jauh soal alasan tak secepatnya menikah secepatnya, ternyata pikirannya sungguh berbeda dengan apa yang dipikirkan putranya.


“papa saja yang jelaskan, mama mau kembali ke kamar saja, capek” mama Dahlia beranjak meninggalkan kamar putranya melangkah ke kamar pribadinya untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


“kenapa sih pa?” tanya Adrivan lagi setelah mama meninggalkan kamar

__ADS_1


Papa Ryan sejenak menghela nafas lalu menatap sang putra yang masih memperlihatkan wajah polosnya.


“Kami pikir kamu mau menikah setelah kondisimu pulih karena tak mau merepotkan Nia nantinya atau tak mau mereka di kasihani karena kondisimu saat ini, papa mama sudah berencana menikahkan kalian secepatnya, melihat kamu sendiri begitu tergantung sama Nia” jelas papa Ryan dengan sabar.


“Orang tua Nania tak ingin kalian melewati batas, papa percaya pada Nia, tapi papa tak percaya sama kamu”


Adrivan hanya nyengir memperlihatkan gigi putihnya, membenarkan ucapan sang papa. Gimana bisa tahan? Nia udah bales perasaan Rivan pa, ga mau dong Nia ninggalin Rivan.


“kata mama, selama di rumah sakit aja kamu ga mau lepas dari Nia, dan papa juga sudah buktiin sendiri barusan”


“papa kaya ga pernah muda aja sih?” elak Adrivan menyembunyikan rasa malunya.


“ya karena itu, secepatnya kalian menikah, akad saja dulu resepsi nanti setelah kamu pulih, biar kalian bisa saling jaga”


“emang Nia mau pa?”


“Kalau kamu siap ya Nia siap”


“Tapi nanti Rivan jelek pa, ini tangan aja masih di perban pa”


“Astaga… kamu kan pakai baju panjang nanti Van, bisa di tutup gimana sih? lagian emang mau foto-foto doang”


“ya ga juga sih pa” ucap Adrivan pelan


“Eh! Kok ga ketemu sih pa? Ya jangan dong!"


“Ya biar kamu ga kebablasan, jadi selama pemulihan kamu ga boleh ketemu Nia”


“eh, ya ga bisa gitu dong pa, nanti Rivan bisa stress pa, ga sembuh-sembuh gimana? Karena Rivan kangen berat sama Nia"


“Ya makanya, nikahin dulu, kalau udah nikah kan Nia malah di samping kamu terus, bisa 24 jam”


Adrivan terdiam, memikirkan ucapan sang papa,


“Kalian kan juga sudah saling mengenal, bahkan luar dalam sepertinya kalian sudah saling paham, jadi tak usah berlama-lama jika kalian serius dengan hubungan kalian” lanjut sang papa


“Ya Rivan serius pa, papa tau sendiri Rivan begitu mencintainya selama ini”


“ya makanya, papa ingin kalian menikah secepatnya, mau tidak?”


“ya mau lah pa” jawan Adrivan dengan cepat, tak ingin melewatkan kesempatan yang ada.

__ADS_1


“Ya sudah, papa akan bicarakan ini dengan keluarga Rahardian, lanjutkan istirahatmu.”


Papa Ryan meninggalkan kamar Adrivan dan menyusul istinya yang telah berada di kamar,


‘Ah, bener ga sih papa bilang? Nia….. sebentar lagi kami akan jadi istri ku’ Adrivan bergumam sendiri dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. 'Istri?' ah sebentar lagi ada yang bisa aku panggil istri, dan itu kamu Nania sayang, kamu bener-benar membuatku gila Nan' Membayangkan orang yang di cintainya selama ini akan segera berada dalam pelukannnya, akan menemaninya 24 jam, sunggu rasanya tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Hatinya sungguh jedag jedug tak karuan.


‘Nia….. ga sabar menunggu waktu itu tiba....’


Akhirnya Adrivan kembali terlelap dengan rasa bahagia yang begitu membuncah, sementara papa Ryan menghampiri sang istri yang masih terjaga di kamarnya.


“Mama belum tidur?”


“belum pa, gimana keputusan Rivan?”


Papa Ryan ikut duduk di ranjang menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidur


“Rivan mau ma, kita adakan akad saja dulu, besok kita bahas rencana ini dengan Doni dan Nita”


“mama ga habis pikir, alasan Rivan menunggu kondisinya pulih dulu hanya karena tak mau terlihat jelek di foto saat duduk di kursi roda”


“papa juga ga nyangka aja sih, bocah itu benar-benar” papa Ryan menggelengkan kepalanya, lalu meraih ponselnya.


“mama kapan bisa siapkan seserahan untuk lamaran secara resmi?”


“kapan pun mama siap, apa perlu besok sekalian kita adakan lamaran secara resmi?”


“besok atau lusa tak masalah ma, papa akan kabari Doni dulu”


Segera papa Ryan menghubungi sahabat yang tinggal di sebelah rumahnya.


“Assalamu’alaikum Yan” sapa papa Doni di seberang sana.


“Wa’alaikumusalam Don,”


“Ada apa? Apa ada sesuatu terjadi sama Rivan?”


“tIdak Don, semuanya baik-baik saja, hanya saja untuk acara bersama besok aku rasa tak perlu dilaksanakan, Rivan sudah setuju, hmmm kalau Keluargamu siapa kami ingin mengadakan lamaran secara resmi langsung”


“Oh begitu, Alhamdulillah, kami siap kapanpun Yan, dengan senang hati kami akan menerima kedatangan kalian”


“Baiklah Don"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2