Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
11 - Dibalik Batu


__ADS_3

...⪻⪼...


Leister mengangguk dan duduk di samping Lolita yang baru saja meletakkan cangkir  tehnya di atas meja. Gemerisik dedaunan kembali terdengar saat angin membelai rambut hitam sepunggung Ivew yang diikat kuncir kuda.


“Kenapa Anda berdua memilih tempat pertemuan di sini?” tanya Ivew ikut duduk di kursi di depan keduanya.


Lolita tersenyum dan melirik pedang yang tersarung rapi di pinggangnya. Ivew mengangguk paham dan melirik hutan hitam yang berada di depannya. Aura yang dikeluarkan hutan itu terasa berbeda, meski jarak mereka sejauh tiga puluh meter tetapi Ivew dapat merasakan angin berbeda yang mengalir di sekitar hutan. Kucing Veister yang berada di dalam pelukan Ivew bergerak menarik perhatian kedua bangsawan Flowerlax di depannya.


“Apa kucing ini milikmu, Ivew?” tanya Lolita. Gadis dengan mata emerald itu mengangguk sebagai jawaban.


Cahaya perak kemerahan hadir di sekitar Leister dan manik mata Ivew melihat Grein yang muncul dan terbang bebas di sekitar mereka. Kucing Veister kembali bergelung merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Ivew. Jemari gadis itu bergerak mengelus bulu hitam berkilau Veister mengingatkan dirinya sebagai Cona di dunia sebelumnya yang selalu melakukan hal yang sama di atas kursi rodanya.


“Jadi, Ivew bagaimana keputusanmu? Apa kamu ... akan berada di pihak kami?”


Gerakan tangan Ivew yang mengusap bulu hitam Veister terhenti dan menatap Leister yang menampilkan senyum. Gadis itu mengernyit heran dengan ekspresi yang ditampilkan keduanya.


“Saya ingin bertanya ... kenapa Anda berdua sangat mendesak saya untuk membuat keputusan ini? Apa Anda ingin memanfaatkan kekuatan saya?”


Leister terdiam saat mendengar intonasi kesal dari pertanyaan Ivew. Lolita yang berada di sampingnya tersenyum berusaha mencairkan suasana.


“Kami paham dengan rasa curigamu terlebih kita baru saja bertemu. Tapi, Ivew kami tidak ingin kamu digunakan oleh duke sebagai alat untuk memperluas kekuasaannya.”

__ADS_1


“Lalu apa yang akan saya dapatkan jika bergabung dengan pihak anda, Nona Muda? Apa ini demi keuntungan anda sebagai pewaris Flowerlax?” tanya Ivew mulai menggunakan informasi yang dirinya ingat dari novel.


Lolita yang berada di depannya terdiam sedangkan Leister melirik wajah Lolita. Pemuda itu menghela nafas, cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan Ivew. Leister tentu memaklumi rasa curiga yang ditunjukkan Ivew kepada mereka berdua tapi mereka tak punya pilihan lain. Jika ingin bertahan maka mereka harus memanfaatkan kesempatan di depan mata.


“Mungkin benar tapi aku tidak memanfaatkanmu, Ivew. Aku hanya ingin bertahan hidup sebagai Lolita Flowerlax dan mengambil alih hak kekuasaan Duke secepat mungkin,” jawab Lolita setelah hening cukup lama.


“Lolita benar. Kami tentu malu jika kamu mengetahui tentang permasalahan internal  keluarga Flowerlax. Tapi kami berdua tidak punya pilihan Ivew, jika duke dapat memastikan kamu memiliki kekuatan alam yang dimaksud dalam ramalan Flowerlax maka hidupmu akan penuh dalam kendalinya.”


“Kamu tau, Ivew. Aku hanya tidak ingin melihat orang lain dalam kendalinya lagi. Cukup kami berdua yang merasakannya, saling bertarung satu sama lain akan tetapi pada akhirnya pria tua itu yang tetap memegang kekuasaan. Dia hanya menikmati drama yang kami ciptakan untuknya.”


Ivew terdiam dan menatap Lolita dengan pandangan datar. Grein yang terbang di sekitar mereka kini hinggap di atas meja berdekatan dengan jemari Ivew yang berada di atas meja. Leister meletakkan cangkir tehnya dan melirik Lolita. Ketegangan itu sedikit mereda saat Veister yang berada di dalam pelukan Ivew tiba-tiba bangun dan melompat membuat cangkir teh di depan Ivew tumpah.


Angin kencang menerpa ketiganya yang mulai mundur beberapa langkah. Lolita juga ikut mencengkeram kepala pedang yang berada di pinggangnya sedangkan Ivew terdiam saat menyadari busur panahnya tergantung di tubuh kuda kesayangannya. Manik emerald sang gadis melirik beberapa pisau kue bewarna perak yang terletak di atas meja dan segera menggenggamnya.


“Apa itu monster?” tanya Leister yang berdiri di depan Lolita dan Ivew.


“Aku tidak tau! Apa mungkin monster itu lolos dari pengawasan prajurit militer?” tanya Lolita.


Gemerisik pepohonan di kejauhan terdengar nyaring membuat ketiganya semakin waspada. Beberapa burung gagak tampak keluar dari barisan pepohonan di depan mata. Beberapa ksatria keluarga Flowerlax tampak berlari dari belakang mereka bersamaan dengan guncangan besar yang menggoyangkan pijakan mereka. Ivew menutup matanya rapat saat angin kencang bercampur tanah berdebu menerpa matanya.


Lolita dan Leister segera mengeluarkan pedang mereka berjaga dari sosok asing yang mendekat. Suara gerakan kaki monster itu bergema bersamaan dengan jaring putih yang melesat keluar dari dalam hutan menerjang salah satu kstaria yang berjaga paling depan dan menarik tubuh malang itu masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


“Mundur! Jaga jarak dan tetap fokus!”


Teriakan Leister bergema bersamaan dengan monster laba-laba raksasa berwarna hitam yang muncul dengan darah merah terdapat di kaki dan menetes dari mulutnya. Kstaria lainnya mengangkat pedang meski tangannya gemetar. Ivew yang berada di belakang Leister dan Lolita sedikit gemetar menatap monster di depan mata. Gadis itu menggenggam erat pisau kue di tangannya dan meneguhkan kaki untuk tetap berdiri. Monster laba-laba di depan mereka mulai bergerak saat merasakan cahaya matahari menerpa tubuhnya.


Bulu-bulu tajam di bagian sepuluh kaki dan juga tubuh belakangnya tampak berkilau terkena cahaya matahari. Ksatria yang berdiri paling depan berjaga dengan pandangan fokus dan mulai menyerang. Monster laba-laba itu kembali mengeluarkan jaringnya menangkap mangsa yang dengan senang hati berlari ke arahnya.


“Kita kekurangan senjata,” gumam Leister menatap para ksatria di depan mereka yang berusaha membuka jalan baginya untuk menyerang.


“Kamu mundur dulu, Ivew!” seru Lolita yang ikut berdiri di samping Leister.


Gadis bermata emerald itu hanya diam, menatap kekacauan di depan mata. Leister mulai berlari menyerang membantu salah satu ksatria yang tersudut oleh kaki monster di depannya. Pedang peraknya menebas jaring laba-laba yang hendak membungkus tubuh sang kstaria. Lolita berdiri diam di tempat dengan pedang teracung ke depan berjaga dari kemungkinan serangan lainnya.


Leister menebas salah satu kaki kanan monster laba-laba membuat tubuh monster itu miring dan berteriak dengan suara melengking. Matanya menatap ke arah kejauhan dan bertemu pandang dengan Ivew yang fokus berjaga. Monster itu kembali berteriak dan segera mengeluarkan jaringnya bersamaan dengan duri tajam di kaki kirinya. Manik ruby Leister yang berada di dekatnya melebar dan melirik arah serangan monster.


“Lolita! Ivew! Awas!”


...⪻⪼...


Happy reading guys ... ✨


Jangan lupa tinggalkan komentar dan like nya .... ✨

__ADS_1


__ADS_2