Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
67 - Kemarahan Sang Saintess (2)


__ADS_3

...⪻⪼...


Rayn tersentak dan berbalik menatap Ivew di belakangnya saat merasakan angin bergerak dengan cepat di sekitarnya. Pemuda dengan mata orchid itu menatap manik emerald Ivew yang bersinar terang dan tangan kedua gadis itu yang mengepal erat. Gadis itu memandang tajam sosok bermata bulan sabit di depannya.


"Ivew?"


Rayn menatap Ivew yang melangkah maju dan berdiri di sampingnya. Angin berputar semakin cepat di sekitar sang gadis membuat pemuda bermata orchid itu menutup sedikit matanya, menghindari aliran debu yang bergerak dibawa angin.


Bara api hijau kembali hadir dan menguar di tubuh Ivew. Rayn yang hendak meraih lengan Ivew sedikit meringis saat merasakan rasa panas dari lidah api menyentuh telapak tangannya. Ivew melangkah maju dengan dua kekuatan alam yang membara di tubuhnya.


Apa dia kehilangan kendali? Batin Rayn menatap Ivew yang terus maju.


Mata emerald gadis itu hanya fokus pada sosok bermata bulan sabit di depan mereka. Rayn mempersiapkan pedangnya saat salah satu sulur sosok itu bergerak dan melemparkan duri tajam di sekitar sulur itu kepada mereka.


Rayn segera berlari ke arah Ivew dan menangkis duri tajam dengan pedangnya. Denting pedang yang beradu dengan duri tajam itu menggema. Rayn mengernyit saat pecahan duri tajam itu menggores wajahnya.


Manik orchid sang pemuda beralih menatap Ivew yang menangkis duri-duri tajam dengan pusaran angin yang hadir di depannya. Serpihan duri tajam itu segera hancur saat mengenai pusaran angin yang terbentang di depan Ivew.


Manik emerald gadis itu tampak membara dengan cahaya emerald yang berpendar di dalamnya. Tangan kiri Ivew bergerak mengendalikan angin di atasnya dan membentuk panah-panah kecil dari angin.


Sosok bermata bulan sabit itu menyeringai dan bersiap dengan duri-duri hitam yang tajam di sulurnya. Ivew mengernyit dan segera menembakkan panah-panah anginnya.


Sosok bermata bulan sabit itu juga ikut menembakkan duri-duri hitam miliknya. Suara dentuman terdengar saat duri hitam sosok bermata bulan sabit itu bertabrakan dengan panah-panah angin Ivew. Serangan itu seimbang dan sama-sama kuat. Rayn mendongak menatap asap yang muncul dari tabrakan dua serangan itu.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu?" gumam Rayn menatap pertarungan di depannya.


Sosok bermata bulan sabit itu segera menggerakkan sulur-sulur di belakang tubuhnya untuk menghancurkan tanah di sekitar Ivew dan Rayn. Gadis dengan mata emerald itu berdecak kesal dan segera menggunakan angin untuk mengangkat tubuhnya dan juga Rayn. Tanah di sekitar mereka berdiri sebelumnya hancur memunculkan batu-batu tajam.

__ADS_1


"Apa pertarungan ini tidak sampai ke daerah Angena?"


Ivew melirik mansion Angena yang terlihat oleh manik emerald-nya kejauhan. Rayn mengikuti arah pandang Ivew dan menatap sekitarnya dari ketinggian. Manik orchid pemuda itu menangkap cahaya hitam samar yang membentang di ujung sebuah pohon sampai ke area pegunungan batu di atas mereka.


"Mereka benar-benar menggunakan sihir pembatas."


Ivew mengangguk saat matanya juga menatap pembatas hitam yang dimaksud Rayn. Sosok bermata bulan sabit di bawah mereka kembali mengangkat sulur hitamnya ke atas dan menembakkan duri hitam yang cukup panjang.


Ivew  menggerakkan tangannya dan mengeluarkan pusaran angin yang cukup tebal untuk menghancurkan duri tersebut. Gadis itu mengernyit saat duri panjang itu mulai menembus pusaran anginnya dan hanya menghancurkan setengah dari panjang duri tajam itu.


Rayn segera maju ke depan dan mengayunkan pedangnya saat duri hitam itu mendekat ke arah mereka. Ivew membantu Rayn bergerak dengan mengendalikan anginnya dan tangan lain bergerak untuk membentuk panah angin.


Jemari Rayn bergerak menggenggam gagang pedangnya dan menebas duri hitam itu menjadi empat bagian. Pecahan duri itu segera jatuh ke tanah di bawah mereka. Sosok dengan mata bulan sabit itu menyeringai saat melihat celah lain untuk menyerang Ivew.


Dua sulur hitam di belakangnya bergerak ke arah Ivew yang masih sibuk mengendalikan anginnya dan Rayn yang menebas sisa-sisa duri hitam yang datang ke arahnya. Ivew tersentak dan sedikit meringis saat merasakan sesuatu menusuk kakinya.


Rayn menoleh saat mendengar ringis kesakitan dari Ivew. Manik orchid pemuda itu melebar dan dirinya segera bergerak ke arah Ivew dengan pedang yang segera menebas sulur hitam itu. Rayn kembali menggerakkan pedangnya menebas sulur-sulur hitam yang menerjang ke arah mereka.


Ivew mengepalkan kedua tangannya dan berusaha menahan konsentrasi untuk mengendalikan angin yang mengangkat tubuh mereka. Cairan hitam yang berada di bawah mereka semakin mengeluarkan asap saat serpihan duri atau sulur-sulur hitam yang ditangkis Rayn jatuh ke dalamnya.


"Mau sampai kapan kamu berada di atas sana, Saintess?"


Sosok bermata bulan sabit itu menyeringai dan terus mengeluarkan sulur-sulur hitamnya. Kali ini sulur itu dipenuhi cairan hitam di ujungnya. Ivew merasa sedikit mual saat cairan hitam di ujung sulur itu hampir mengenainya.


"Sepertinya cairan hitam itu mengandung racun."


Ivew mengangguk mendengar pernyataan yang disampaikan Rayn. Pemuda dengan mata orchid itu ikut menutup hidungnya saat merasakan aroma dari sulur yang baru saja ditebasnya.

__ADS_1


Ivew yang hendak bertanya ke sang pemuda tersentak saat sebuah sulur kecil yang tipis mengarah ke arah Rayn dan berhasil menembus bahu sang pemuda.


Pemuda dengan mata orchid itu memegang bahunya yang mulai mengeluarkan darah. Ivew segera mendekat ke arah Rayn yang mulai berwajah pucat. Cairan merah tampak membasahi telapak tangan sang pemuda. Ivew mulai merasa pusing saat luka di kakinya terus mengalirkan cairan merah.


Gadis itu berseru tertahan saat angin yang menahan tubuh Rayn mulai tidak stabil. Dengan tangan gemetar Ivew mati-matian menahan tubuh Rayn dengan sisa angin di tangannya. Tanah dengan cairan hitam di bawah mereka terus mengepulkan asap. Manik orchid Ivew menatap Rayn yang tersenyum kecil.


"Tidak apa-apa. Lepaskan saja."


Ivew menggeleng mendengar kalimat Rayn. Kenapa pemuda ini selalu rela mengorbankan dirinya. Apa dia tidak ingin hidup lagi? Ivew menggigit bibirnya saat merasakan kekuatan anginnya mencapai batas.


Manik emerald gadis itu menatap pembatas hitam yang samar di kejauhan. Pembatas yang juga ikut membatasi angin yang bisa dipanggilnya.


"Aku selalu siap untuk hal buruk yang terjadi dalam hidupku, Ivew. Termasuk  kematian."


Rayn kembali menguntai senyum hangat di wajahnya. Rambut abu-abu tua pemuda itu sedikit bergerak saat tubuhnya mulai tak stabil ditahan oleh angin Ivew. Manik orchid-nya menatap Ivew yang tampak kalut. Rayn menutup matanya saat merasakan tubuhnya mulai jatuh.


"Ayolah! Kapan aku bisa melihat kematian salah satu diantara kalian?"


Ivew menggeram marah pada sosok bermata bulan sabit yang berada di bawah mereka. Angin berwarna biru tua berputar dengan cepat di sekitar Ivew dan bergerak menahan tubuh Rayn yang hampir menyentuh cairan hitam berasap itu.


Pemuda itu membuka matanya dan menghela nafas lega saat kehidupannya masih selamat.  Manik orchid Rayn memandang Ivew yang berada di atasnya. Rambut hitam legam gadis itu berkibar dengan ujung tempat rambut mulai berubah menjadi warna putih.


"Saatnya menghukum pendosa!"


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... 💐

__ADS_1


Aku menunggu komentar kalian .... ✨


__ADS_2