
...⪻⪼...
Ivew tersentak menatap sosok yang baru datang dan memutus sulur emas buatan Veister. Semua orang bersiaga saat menatap sosok yang baru datang itu mengeluarkan sinar hitam di salah satu tangannya dan menggunakannya ke arah dada sosok bermata bulan sabit yang terduduk.
Veister membuka mata dan manik mata dua warnanya menatap tajam sosok hitam mahkota taring yang baru saja datang dan memutus serangannya.
Sialan! Sihir pemurnian tahap satu ku digagalkan begitu saja? Siapa sosok ini? Aku juga tidak merasakan kehadirannya. Batin Veister menatap sosok bermata bulan sabit yang bangkit berdiri dibantu oleh sosok hitam dengan mahkota taring yang baru datang.
"Oh kita bertemu lagi. Bagaimana kabarmu, Nona?"
Sosok mahkota bertaring itu menatap ke arah Ivew dengan mata bulan sabit yang bersinar merah dan melambaikan tangan dengan kuku-kuku panjangnya. Semua mata menatap ke arah Ivew yang tampak menahan amarahnya. Manik emerald gadis itu tampak berkilat dengan alis yang berkerut tajam.
Siapa dia? Apa hubungannya dengan, Ivew? Batin Laveron menatap sosok mahkota taring yang mulai tertawa.
Laveron yang berada di samping Ivew menepuk pelan bahu sang gadis berusaha menenangkan amarahnya yang mulai memuncak. Veister melirik Ivew yang tangan kirinya mulai mengeluarkan api hijau.
Angin mulai berputar di sekitar tubuh gadis itu menggerakkan rambut hitam separuh putih miliknya. Manik emerald gadis itu bercahaya saat api hijau di tangannya semakin besar.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ivew melangkah maju dan berdiri di samping Veister yang berada paling dekat dengan perisai pelindung. Laveron yang tak sempat menahan bahu Ivew tersentak saat menatap api hijau yang terus membesar di sebagian tubuh sang adik.
"Apa yang terjadi? Sejak kapan dia bisa mengendalikan dua kekuatan sekaligus?"
Leister berdiri di samping Laveron dan menatap dua elemen alam yang membara di depan mereka. Rayn terdiam saat kembali melihat dua kekuatan alam Ivew mengamuk. Manik orchid sang pemuda menatap punggung Ivew dan kembali menghela nafas, sedangkan Ramound memandang dengan tenang sembari mengamati keadaan.
"Ivew sejak kapan kamu bisa-"
__ADS_1
Veister hendak bertanya Ivew dan memegang bahu gadis itu. Namun, langkahnya terhenti saat Ivew bergerak maju dan keluar dari perisai pelindung. Gadis itu menerjang sosok hitam bermahkota taring di depannya dengan menembakkan panah angin dan bola angin miliknya. Sosok bermata bulan sabit yang terduduk kini bangkit berdiri dan mengeluarkan sulur hitamnya hendak menyerang Ivew.
"Ivew!" seru Laveron berlari ke dekat Veister.
"Kita harus menghentikannya. Jangan sampai dia kehilangan kendali!"
Veister berteriak kepada yang lain dan menghilangkan sihir pelindung miliknya. Laveron tanpa aba-aba segera berlari menuju Ivew dengan pedang teracung ke depan memotong beberapa sulur hitam yang mengarah kepadanya. Veister menghela nafas kesal menatap dua saudara Mirabeth yang maju tanpa perencanaan.
"Kurasa dia sangat marah sekarang. Sebelum kalian datang kekuatannya juga membara seperti itu, hanya saja ini lebih besar dari yang sebelumnya."
Veister menoleh menatap Rayn yang mendekat dibantu oleh Ramound. Manik orchid pemuda itu menatap Ivew yang terus menyerang dua sosok di depannya. Mengeluarkan api hijaunya atau menggunakan panah api dan angin tanpa henti.
"Alasannya? Bukankah kita semua baru bertemu dengan sosok itu?"
Ramound melirik sang adik dan kembali menatap pertarungan di depannya. Manik lilac pemuda itu menatap punggung Ivew yang semakin membara dengan api hijau di sebagian tubuhnya.
Serangan itu tanpa perhitungan yang jelas. Dia akan segera kehabisan tenaga jika dia tidak segera dihentikan. Batin Ramound dengan manik lilac menatap tajam ke arah dua sosok yang terus menerima serangan Ivew.
"Jangan lengah! Musuh ada di depan kita!"
Leister segera berdiri di depan Ramound dan Rayn, sedangkan Veister kembali mengeluarkan perisai pelindung miliknya dan menangkis ribuan duri hitam dari sosok bermata bulan sabit yang diarahkan kepadanya.
"Duchess Veryn, apa Anda baik-baik saja?"
Leister berbalik menatap wanita dengan mata ungu dan rambut abu-abu tua itu memegang pedang di tangannya.
"Saya baik-baik saja. Umur saya memang sudah tua, tapi bukan berarti kemampuan pedang saya hilang."
__ADS_1
Duchess Veryn tersenyum dan jemari tangannya dengan lihai menggerakkan pedang menangkis duri hitam yang lolos dari perisai Veister. Rayn dan Ramound tersenyum menatap wanita yang melahirkan mereka tampak anggun dengan gerakan tangan menangkis semua duri hitam yang mengarah kepada mereka.
Veister mendengus kesal menatap ribuan duri hitam yang terus datang ke arahnya, sedangkan di depan sana dentuman dari serangan api dan angin Ivew bergema. Sosok hitam mahkota taring itu menangkis serangan Ivew dengan tongkat putih panjang miliknya. Gadis dengan mata emerald itu menggeram marah dan terus melancarkan serangannya.
Api hijau itu semakin berkobar dari tubuhnya dengan tangan kanan yang menggerakkan angin, mengeluarkan bola angin yang langsung bertabrakan dengan tongkat putih sosok mahkota taring itu.
"Hihi … apa kamu penasaran siapa pemilik tulang ini?"
Laveron yang berada cukup dekat dengan Ivew tersentak kaget. Pemuda itu kembali menggerakkan pedangnya menangkis duri hitam yang hendak menusuk bahunya. Manik navy Laveron menatap sang adik yang berteriak marah dan api hijau yang kini membara di seluruh bagian tubuhnya.
Veister yang berada di belakang mereka juga tersentak. Pemuda itu menatap punggung Ivew di depannya saat tangannya terus mengeluarkan sihir pelindung untuk menangkis duri-duri tajam yang terus berdatangan.
Apa maksudnya itu? Aku harus segera menolongnya tapi serangan duri ini tidak ada habisnya! Batin Veister berdecak kesal.
Ivew merasakan api kemarahan yang membuncah di dalam tubuhnya dan gadis itu mengeluarkan semuanya dengan membiarkan api hijau membara dari tubuhnya.
Manik emerald-nya menatap tajam sosok mahkota taring yang kini menyeringai di depannya. Air mata menggenang di pelupuk matanya saat Ivew mengeluarkan bola api hijau di tangan kirinya dan hendak menyerang sosok mahkota taring itu.
Bola api itu menggores dan mulai melubangi tongkat putih dari tulang sosok mahkota taring di depannya. Ivew terus menyerang dengan air mata yang jatuh menuruni pipinya, sedangkan sosok bermahkota taring itu hanya menyeringai menatap wajah gadis di depannya.
"Mata yang indah. Sayangnya mata itu harus berhenti menatap dunia!"
Sosok mahkota bertaring itu mengeluarkan cahaya hitam di tangannya yang lain saat Ivew terus menyerang dengan bola apinya. Tulang berbentuk pedang muncul di tangannya dan dengan seringai hadir di wajahnya. Tangan sosok mahkota taring itu siap menusuk tubuh Ivew di depannya yang tak sadar dengan kehadiran pedang berkilau di tangannya.
"Aku menantikan warna merah yang indah mengalir di pedang cantik ini. Hihi …."
"Hah? Ivew! Awas!"
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya ... ✨