Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
31 - Perjalanan


__ADS_3

...⪻⪼...


Ivew melirik Lolita yang tersenyum menatapnya sembari melambaikan tangannya. Gadis bermata emerald itu tersenyum dan menatap bagian dalam kereta kuda Flowerlax. Leister yang berada di luar kereta mengusap pelan kepala Lolita dan beranjak menaiki kereta kuda.


“Berhati-hatilah!” ucap Lolita saat kereta kuda keluarga flowerlax itu mulai berjalan keluar dari mansion Flowerlax dan dibalas dengan lambaian tangan oleh Ivew serta Leister.


Kereta kuda keluarga Flowerlax itu mulai menelusuri jalan utama menuju kekaisaran. Diiringi oleh empat ksatria flowerlax yang berada di atas kuda masing-masing. Ivew melirik Leister yang duduk menatap ke arah jendela dengan setelan baju berwarna putih dan dasi biru serta pedang yang tetap tersarung rapi di pinggangnya.


Manik mata emerald Ivew menatap setiap pemandangan yang ada di depannya mulai dari barisan pegunungan di kejauhan yang menjadi pembatas dengan kota Abob, pepohonan di sekitar mereka dan ladang luas sejauh mata memandang.


“Apa ini pertama kalinya kamu ke kekaisaran, Ivew?”


Leister menatap ekspresi antusias Ivew sedangkan kucing Veister tertidur lelap di sampingnya. Gadis bermata emerald itu mengangguk dan kembali melirik pemandangan di luar jendela kereta kuda. Ivew melirik gaun hijau yang digunakannya, terasa nyaman dan hangat seolah disesuaikan untuk dirinya yang tak biasa menggunakan gaun khas bangsawan.


“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kekaisaran, Tuan Muda?”


Ivew bertanya dan menatap Leister yang melirik pepohonan di sekitar mereka. Pemuda itu menoleh dan menatap manik emerald Ivew.


“Sekitar tiga hari jika tidak ada gangguan,” jawab Leister bersandar pada dinding kereta kuda dan menutup matanya.


Ivew mengangguk dan memutuskan untuk menatap pemandangan dari jendela kereta. Perjalanan itu diisi hening hingga malam harinya. Leister yang sibuk membaca beberapa dokumen di tangannya dan Ivew yang tetap memandang sekitar.


Malam harinya kereta kuda dengan lambang dua pedang dengan bunga di ujungnya itu berhenti untuk beristirahat. Leister keluar dari kereta kuda untuk berbicara dengan orang yang mengemudikan kereta kuda mereka dan juga ketua ksatria yang ikut dengannya.

__ADS_1


Ivew hanya diam dan menunggu di dalam kereta kuda bersama kucing Veister yang kini tidur di sampingnya. Pemuda bermata ruby itu memanggil Ivew untuk turun dan mengulurkan tangannya membantu gadis bermata emerald itu untuk turun dari kereta kuda. Ivew menatap tanah lapang yang tersembunyi disebalik pohon. Tempat yang cukup aman untuk menjadi tempat istirahat mereka.


Kucing Veister merenggangkan tubuhnya dan ikut turun dari kereta kuda. Kucing itu berdiri di samping Ivew yang tetap fokus menatap sekitar. Gaun hijau gadis itu bergerak terkena angin malam yang datang dari sekitar mereka.


Beberapa ksatria di sekitar mereka mulai menyiapkan tenda dan juga bahan makanan yang akan di makan oleh tuan muda mereka. Walaupun hanya empat orang kstaria flowerlax itu tampak gesit dan cepat dalam melakukan tugas mereka masing-masing.


Ivew menatap api unggun yang membara di depannya. Gadis bermata emerald itu menghangatkan dirinya dengan meletakkan kedua telapak tangannya dan melirik kesibukan di sekitarnya. Makan malam mereka selesai setengah jam kemudian dan Leister mulai menceritakan tentang rute yang akan mereka lalui.


Jalanan yang cukup tenang dengan banyak pohon di sekitar dan juga pegunungan yang menjadi perbatasan daerah Flowerlax dengan ibukota Kekaisaran. Leister menuntun Ivew untuk beristirahat di dalam kereta kuda sedangkan dirinya dan ksatria lainnya akan istirahat di luar.


Mereka tidak mungkin membiarkan Ivew yang satu-satunya gadis di antara mereka istirahat di luar dengan kondisi angin yang cukup kencang. Dengan sedikit canggung gadis itu mengikuti langkah Leister dan kembali naik ke atas kereta kuda dengan bantuan Leister.


“Apa yang kamu pikirkan, Ivew?” tanya kucing Veister yang duduk di depan Ivew dan menatap gadis bermata emerald itu yang terus menguntai senyum di wajahnya.


Ivew menjawab dengan tawa kecil dan bersandar pada dinding kereta kuda di belakangnya. Mata dua warna Veister menatap gadis di depannya dalam dan mulai berubah ke wujud manusianya. Ivew melirik Veister yang berubah ke wujud manusia dan menatapnya dengan senyum lebar di wajah tampannya.


“Hanya karena itu? Bukan maksudku ... sekarang kamu hidup sebagai Ivew Mirabeth dan bukan Cona Renjana lagi. Ada banyak hal yang akan kamu nikmati, Ivew. Jadi hal ini masih kecil, persiapkan hatimu untuk sesuatu yang lebih besar.”


Ivew mengernyit heran saat mendengar jawaban Veister. Pemuda bermata dua warna itu hanya tersenyum dan menyuruh gadis bermata emerald itu untuk tidur. Ivew yang merasa lelah memutuskan untuk tidur dan menyandarkan tubuhnya pada dinding kereta kuda. Menutup kedua kelopak matanya beberapa detik kemudian gadis itu terlelap dan Veister menguntai senyum saat melihat Ivew terlelap.


“Hal sederhana seperti ini sudah membuatmu bahagia ya? Ada banyak hal yang menantimu Ivew. Aku akan memastikan kebahagiaan menjadi akhir perjalananmu.”


Veister bergumam pelan dan menggunakan sihirnya untuk merebahkan tubuh Ivew ke kanan dan memberi bantal sihir. Menyamankan gadis bermata emerald itu dalam dekapan hangat sihirnya.

__ADS_1


Ivew yang merasa semakin nyaman dalan tidurnya tersentak saat telinganya kembali menangkap nyanyian familiar dan suara tawa seorang gadis. Mata emerald gadis itu terbuka dan kembali di sambut pemandangan ladang bunga sejauh mata memandang. Langit biru tampak terbentang luas tanpa batas. Ivew melirik sekitarnya saat angin membelainya dan menggerakkan rambut hitam legam sepunggungnya.


“Hai ... kita bertemu lagi.”


Ivew menoleh saat mendengar suara lembut seorang gadis menyapa indera pendengarannya. Di depan gadis bermata emerald itu kembali hadir gadis dengan rambut putih, gadis yang sama yang memberikan kekuatan angin kepadanya.


Senyum hadir di wajah menawannya dan jemari tangannya bergerak menyentuh lembut pipi Ivew. Manik mata navy-nya menatap manik mata emerald Ivew dalam.


“Wah ... kamu berkembang dengan cepat ya.”


Gadis berambut putih itu kembali bersuara menarik kesadaran Ivew dari rasa kagumnya akan manik navy gadis di depannya. Mata yang sangat menawan dan mirip dengan mata sang abang.


Angin sepoi-sepoi kembali hadir di sekitar mereka, rambut putih gadis itu berkilau dan bercahaya di bawah sinar matahari. Beberapa kupu-kupu hadir di sekitar mereka terbang mengikuti arah angin yang datang menyejukkan.


Gadis itu menguntai senyum di wajahnya dan menarik tangan Ivew untuk mengikuti langkahnya. Bunga-bunga di sekitar mereka bergerak menunduk saat gadis itu melewati mereka. Angin kembali menggerakkan rambut putih gadis di depannya.


Dari kejauhan Ivew menatap pohon yang sama yang menjadi tempat gadis itu bernyanyi sebelumnya. Manik mata navy gadis itu melirik Ivew yang kagum sekaligus bingung dengan suasana sekitarnya.


“Ini akan menjadi tempat pertemuan kita. Karena itu ... aku harap kamu siap dengan segala hal yang akan terjadi.”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya .... ✨

__ADS_1


__ADS_2