Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
77 - Kisah Dua Dunia (1)


__ADS_3

...⪻⪼...


Bumi, 2013 


Saat itu dirinya hanyalah seorang pemuda berusia dua belas tahun yang sangat menyayangi saudarinya. Gadis dengan mata coklat yang menawan yang sangat menyukai langit dan pantai. Kehidupan mereka seperti keluarga pada umumnya di dunia modern.


Saudarinya yang suka menari dengan gaun hijau kesukaannya. Hari itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk mereka. Bernyanyi riang di atas mobil yang melaju dengan kecepatan sedang pemuda itu menatap saudarinya yang tertawa riang dan memeluk lengannya.


Kaca jendela yang sedikit terbuka mengalirkan angin yang membelai rambut keduanya. Mata coklat sang adik tampak hidup dengan segala tawa dan candaan yang dilantunkannya. Namun, sedetik berikutnya kengerian dan ketakutan hadir di mata coklat itu.


Saat jemari sang adik memeluk lengannya semakin erat dan menutup kedua matanya ketika suara besi mobil beradu dengan aspal jalanan. Saat suara teriakan keluarganya menggema di telinganya.


Saat telapak tangannya merasakan cairan hangat mengalir dari kepala sang adik. Sata matanya memandang kabur pada sekitar dengan dengung yang tak berhenti di telinganya.


Manik matanya memandang ke arah sang adik yang hilang kesadaran. Tubuhnya lunglai dan terbalik mengikuti posisi mobil. Dirinya beralih menatap ke kursi tempat orang tuanya.


Hanya cairan merah yang manik matanya dapat tangkap. Dengan tangan gemetar dirinya membawa sang adik keluar dari mobil yang mulai mengeluarkan nyala api di bagian lainnya.


Seruan panik dari orang-orang sekitar membuat telinganya semakin berdenging. Asap hitam semakin membuat nafasnya sesak, tubuh sang adik yang berada di pelukannya di rangkul erat.


Saat sampai di luar petugas pemadam kebakaran segera mendekat ke arahnya. Membawa tubuh sang adik yang mulai dingin dalam dekapannya. Manik matanya memandang wajah sang adik pucat dan dibawa masuk ke ambulance yang menunggu.


"Maaf … untuk semuanya."


Dirinya bergumam diantara riuhnya teriakan panik orang-orang menatap sumber api yang semakin besar. Air mata mengalir dari sudut matanya saat perlahan kelopak matanya menutup.


Manik matanya menangkap sosok tubuh seorang gadis dengan rambut putih melambai mengikuti gerak angin. Mata navy gadis itu memandangnya sendu seiring gelapnya penglihatannya.


"Dan setelah itu aku membuka mataku dan menatap dunia putih sejauh mata memandang."


Laveron mengakhiri ceritanya dan bersandar pada kursi taman di belakangnya.


"Dunia perbatasan?"


Laveron menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan yang diajukan Veister. Pemuda dengan mata dua warna itu menghela nafasnya dan menatap Windy yang terbang di sekitarnya.

__ADS_1


Apa itu artinya waktu kematian saintess alam sebelumnya bertepatan dengan kecelakaan yang dialami keluarga Laveron di dunia sebelumnya?


"Lalu bagaimana kabar saudarimu? Dia selamatkan?"


Veister melirik Laveron yang berada di sampingnya. Pemuda dengan mata navy itu tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.


"Aku sempat diizinkan untuk melihat keadaannya sebelum datang ke dunia ini. Dia selamat hanya saja kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya untuk berdiri. Kursi roda selalu menjadi temannya kemanapun dirinya pergi."


Veister menganggukkan kepalanya mendengar cerita Laveron dan bergumam pelan saat merasakan cerita yang disampaikan pemuda itu cukup familiar.


Kursi roda, ya? Kenapa sangat mirip dengan kisah gadis itu? Batin Veister.


"Aku … merasa bersalah karena meninggalkannya dalam keadaan seperti itu. Namun, aku bisa apa jika takdir berkehendak? Karena itulah aku berusaha yang terbaik saat kembali diberi kesempatan menjadi seorang abang."


Laveron meletakkan tangannya di atas gagang pedang yang tersarung di pinggangnya, sedangkan Veister mengangguk mendengar penjelasan pemuda dengan mata navy itu.


"Siapa nama saudarimu? Kamu pasti masih ingat, kan?"


Veister menatap wajah Laveron yang sedikit tersenyum mengenang wajah tersenyum sang adik yang selalu terpatri dalam benaknya meskipun raganya tak lagi sama.


Pemuda dengan mata dua warna itu benar-benar terdiam mendengar dua kata yang disampaikan Laveron, sedangkan Laveron menatap heran Veister yang berpikir dalam.


Suatu kebetulan? Tidak! Meski aku sudah menebaknya aku tidak menyangka ternyata keduanya benar-benar saudara sebelumnya. Apa takdir kedua saudara ini tetap bersama dan tak terhalang oleh pembatas dimensi? Aku tidak menyangka bahwa keduanya kembali bertemu di sini. Ini hadiah tambahan yang pernah ku ucapkan pada Ivew dulu. Batin Veister mengusap wajahnya.


"Lalu siapa identitas gadis yang berada di dalam tubuh Ivew?"


Veister sedikit kaget saat Laveron kembali bertanya kepadanya. Windy terbang di sekitar mereka membawa angin sepoi-sepoi yang menggerakkan rambut keduanya.


"Biarkan Ivew yang menjawabnya. Dialah yang pantas menjawabnya."


Laveron mengangguk mendengar jawaban Veister.


“Membicarakan tentang dunia sebelumnya membuatku jadi rindu dengan Cona. Kira-kira apa yang dilakukannya sekarang, ya?”


Laveron bergumam pelan dan kembali menatap awan yang berjalan di birunya langit, sedangkan Veister yang mendengar itu hanya diam dan melirik Windy.

__ADS_1


Bagaimana reaksi keduanya, ya? Saat mengetahui identitas satu sama lain. Batin Veister menghela nafas.


“Jalan Ivew kedepannya tidak akan mudahkan? Aku pasti akan melindunginya sebaik mungkin.”


Laveron bertekad dengan senyum kecil hadir di wajahnya, sedangkan Veister mengangguk dan kembali melirik Laveron yang tersenyum bahagia. Wajah pemuda dengan mata navy itu tampak tenang saat angin sepoi-sepoi kembali menyentuh keduanya.


...***...


Sementara itu Ivew yang masih ditemani oleh Rayn dan Ramound sedikit tertekan saat mendapat tatapan dari Ramound yang kini kembali berdiri di belakang sang adik.


Pemuda dengan mata lilac itu terus memperhatikan ekspresi yang ditampilkan Ivew saat menanggapi pembicaraan dari Rayn.


Di mana bang Laveron dan Veister? Cepatlah kembali! Batin Ivew saat merasakan tatapan Ramound terus terarah kepadanya.


Rayn yang melihat wajah tidak nyaman Ivew melirik ke arah Ramound yang terus menatap gadis di depannya. Pemuda dengan mata orchid itu tersenyum dan menyenggol pelan tangan sang pemuda. Ramound menoleh dan menatap Rayn yang tersenyum penuh arti ke arahnya.


“Kami pamit dulu, Ivew. Kamu harus banyak-banyak istirahat dan jangan memikirkan hal yang tidak perlu,” ujar Rayn bangkit dan berjalan ke arah pintu dengan senyum di wajahnya.


Ramound melirik Rayn yang sudah berada di pintu dan kembali menatap Ivew yang ikut tersenyum membalas senyum Rayn. Pemuda dengan mata lilac menepuk pelan kepala Ivew membuat gadis dengan mata emerald itu tersentak dan menatapnya.


“Cepat sembuh dan jangan berpikir yang aneh-aneh! Ada banyak orang yang menunggumu untuk pulih kembali!”


Ramound tersenyum kecil dan segera berjalan keluar ruangan meninggalkan Ivew yang bingung dengan tindakannya. Gadis dengan mata emerald itu kembali teringat dengan senyum yang ditampilkan Ramound untuknya dan tanpa sadar wajahnya sedikit memerah.


Ternyata dia juga bisa tersenyum seperti itu. Batin Ivew kembali membaringkan tubuhnya.


Manik emerald Ivew kembali memandang langit-langit kamar di atasnya. Ingatan gadis itu kembali berputar tentang pembicaraannya dengan Laveron sebelumnya dan menatap ke arah pintu masuk yang masih tertutup.


“Aku harap … aku bisa segera tahu siapa identitasnya bang Laveron sebelum datang ke dunia ini.”


...⪻⪼...


Gimana ... Gimana?


Ternyata Laveron adalah abangnya Ivew di dunia sebelumnya? Kaget gak?

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2