Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
47 - Alam Bawah Sadar


__ADS_3

...⪻⪼...


“Kasihan sekali! Apa ada yang selamat?”


Ivew membuka matanya saat mendengar suara-suara yang berbisik di sekitarnya. Indra penciumannya mulai menangkap bau amis dan bau hangus yang membuat nafas sesak.


Suara sirine di kejauhan terdengar bersamaan dengan suara air yang menyentuh benda keras. Ivew membuka matanya dan segera manik emerald itu bertemu dengan pemandangan sebuah kecelakaan lalu lintas.


Pemandangan familiar yang selalu berusaha dilupakan dan disembunyikan di sudut ingatannya. Kaki Ivew melangkah menuju salah satu mobil yang ringsek di bagian depan serta samping kiri dan berada dalam posisi terbalik di tengah jalan raya.


Seruan panik dari orang-orang di sekitarnya terdengar saat nyala api terlihat membesar dari bagian belakang mobil. Ambulance mulai berdatangan diikuti mobil pemadam kebakaran yang sedari tadi berusaha memadamkan api.


“Cepat! Ada korban yang berusaha keluar!”


Ivew menatap sudut kanan mobil dan menemukan seorang pemuda yang berusaha membawa seseorang dalam pelukannya keluar dari mobil. Nyala api yang semakin besar serta asap hitam yang terus menguar membuat pemuda itu kesusahan.


Para pemadam kebakaran segera mendekat dan menarik sang pemuda serta seseorang dalam pelukannya. Pemuda itu memandang petugas pemadam kebakaran yang membawa tubuhnya dan melirik gadis kecil yang berada di pelukannya.


 Petugas pemadam kebakaran mengikuti arah pandang sang pemuda dan segera membawa gadis kecil itu menuju ambulance lainnya. Kondisi gadis kecil itu jauh dari kata baik, kakinya yang berlumuran darah.


Dahi gadis kecil itu juga mengalirkan darah yang cukup deras, tubuhnya terasa dingin saat petugas pemadam kebakaran dengan panik memindahkan tubuhnya. Pemuda itu tersenyum kecil saat gadis dalam pelukannya dibawa masuk ke dalam


ambulance.


“Maaf ... untuk semuanya.”

__ADS_1


Pemuda itu berbisik lirih saat pandangan matanya mulai memburam. Suara petugas yang terus memanggilnya tak lagi terdengar hingga semuanya gelap dan sunyi. Air mata mengalir di sudut matanya saat kelopak mata sang pemuda tertutup seutuhnya. Suara ledakan kembali terdengar dari mobil yang terus terbakar meninggalkan pemandangan pilu bagi orang-orang sekitar yang menjadi saksi akan kematian mereka.


Ivew melihat semuanya dengan mata kosong. Jemari gadis itu gemetar hendak menyentuh wajah pemuda yang terbaring di atas ranjang darurat ambulance. Wajahnya yang tersenyum tipis dengan kelopak mata yang kini tertutup rapat dan sisa air mata yang masih terlihat mengalir di sudut matanya.


Manik emerald Ivew beralih menatap ambulance lainnya di mana seorang gadis kecil sedang mendapat pertolongan pertama terhadap lukanya. Manik Ivew menatap kaki sang gadis yang berlumuran darah tepat saat pintu ambulance ditutup dan mobil itu berangkat dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Seruan cemas seorang perawat yang membantu menangani luka sang pemuda di dekatnya membuat Ivew menoleh. Wajah pemuda itu kini sudah pucat, tak ada lagi gerakan pada tubuhnya. Bahkan, tangan sang pemuda yang berusaha di pegang oleh Ivew sudah dingin.


“Hahaha ... kenapa aku di sini?!”


Ivew melirik pemandangan di sekitarnya dengan mata yang mulai mengalirkan air mata. Kepalanya sakit tetapi hatinya jauh lebih sakit saat merasakan luka lama yang dibuka kembali. Manik emerald Ivew menatap ambulance yang membawa sang pemuda pergi.


Sirine ambulance yang semakin menjauh membuat gadis itu menutup telinganya rapat saat rasa sedih menyeruak mengisi jiwanya. Keadaan sekitar kembali berubah lebih hening dan sepi. Manik emerald Ivew menatap suasana sekitar yang penuh dengan nuansa putih dan juga bau obat-obatan.


Gadis dengan mata emerald itu berjalan dan menemukan ranjang rumah sakit dengan seorang gadis kecil terbaring di atasnya. Selang oksigen yang terpasang di tubuhnya, kepala yang diperban, jarum infus di tangan kanannya dan alat Elektrokardiogram yang sesekali berbunyi mengisi


“Ini ... ingatanku sebagai Cona, bukan?”


Ivew bergumam pelan dan menyisir pelan rambut gadis kecil yang terbaring di depannya dengan jemarinya. Senyum sendu hadir di wajahnya saat melirik kaki si gadis kecil yang tersembunyi dibalik selimut putih rumah sakit. Tidak ada siapa pun di ruangan itu selain gadis kecil yang belum sadarkan diri di hadapannya.


Pintu ruangan terbuka menampilkan beberapa perawat yang masuk ke dalam ruangan dengan membawa catatan dan juga obat infus. Mereka mulai mengecek keadaan sang gadis, memeriksa denyut nadinya, kelopak matanya dan memastikan luka sang gadis tak lagi terbuka.


“Kasihan sekali. Hanya dia yang selamat, bukan?” tanya seorang perawat yang membawa catatan kepada rekannya yang sedang mengganti infus si gadis.


“Ya ... hanya anak ini yang selamat. Pemuda yang membantunya keluar juga meninggal karena terlalu banyak menghirup asap,” sahut perawat yang baru selesai mengganti infus si gadis kecil.

__ADS_1


Ivew menatap kedua perawat dengan wajah datar. Jemarinya terus membelai lembut rambut Cona kecil. Memori kehidupannya sebagai Cona berputar di ingatannya sejalan dengan keadaan ruangan sekitar yang kembali berubah.


Air mata yang terus mengalir di wajahnya kini membawa Ivew pada pemandangan pemakaman seseorang. Hujan membasahi area pemakaman bersamaan dengan payung hitam yang melindungi orang-orang yang ikut menghantarkan si jenazah.


Di tengah kerumunan payung itu sebuah kursi roda terlihat dengan gadis kecil yang duduk di atasnya, menatap kosong ke arah makam yang baru saja ditabur berbagai warna bunga. Seorang perawat yang berdiri di belakangnya dan memayungi si gadis kecil mulai menabur bunga di atas tiga nisan yang berdampingan.


“Itu anaknya? Kasihan sekali ya ....”


Perawat yang berdiri di samping gadis kecil itu melirik ibu-ibu yang berbisik sembari menunjuk gadis yang berada di atas kursi roda. Ivew yang berdiri tak jauh dari gadis kecil itu mengepalkan tangannya erat. Air mata terus mengalir dari manik mata emerald-nya dan gadis itu jatuh terduduk di atas makam yang terus basah oleh hujan.


“Nona, ayo kita pulang. Cuaca semakin dingin tidak baik untuk kesehatan Anda.”


Ivew mengalihkan pandangannya saat menatap perawat yang berbicara dengan gadis di atas kursi roda. Manik emerald Ivew meneliti ekspresi gadis kecil di hadapannya. Mata coklat yang memandang kosong ke arah tiga nisan dan tangannya yang gemetar berusaha hendak berdiri


“Kakak perawat, apa aku tidak bisa berdiri lagi?” lirih gadis kecil itu saat merasakan kakinya tak mampu bergerak mengikuti keinginannya.


Ivew beranjak berdiri dan menatap ketiga nisan yang berada di depannya. Menghapus jejak air mata yang terus mengalir di wajahnya Ivew memandang sekitar dengan tatapan tajam. Gadis itu bergerak mendekati gadis kecil yang berada di atas kursi roda dan berbisik pelan di telinganya.


“Apa pun yang terjadi kamu tidak boleh menyerah! Jangan biarkan siapa pun menindas dan membunuh keinginanmu untuk bertahan hidup!”


Ivew tersenyum menatap gadis kecil di depannya yang menoleh ke arahnya seolah mendengar suara bisikannya. Manik emerald Ivew memandang sekitar saat jemari tangannya merasakan angin datang membelainya.


“Aku tahu ini bukan lagi duniaku. Jadi siapa pun yang membawaku ke sini. Keluarlah!”


...⪻⪼...

__ADS_1


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨


__ADS_2