
...⪻⪼...
Ivew menghela nafas saat Laveron membangunkannya terlalu pagi dari biasanya. Pemuda itu sudah rapi dengan seragam militernya dan segera meminta sang adik untuk bersiap memenuhi panggilan Duke Flowerlax.
Ivew merenggangkan tubuhnya dan bersiap untuk mandi mengabaikan Veister yang sudah rapi dengan jubah hitam-perak kebanggaannya. Setengah jam kemudian Ivew sudah rapi dengan balutan baju-celana berwarna coklat dan juga jubah hitam yang biasa digunakannya.
Gadis itu segera turun menemui Laveron yang sudah siap dengan pedang di pinggangnya menatap sang adik dengan senyum lebar di wajahnya. Sarapan keduanya pagi itu berlangsung singkat, Laveron hanya menyiapkan sandwich dengan coklat panas sebagai pelengkapnya.
Veister yang dalam wujud kucingnya saat ini duduk di samping kursi Ivew sembari memakan makanan yang disiapkan Laveron. Pemuda itu tak mempermasalahkan kucing hitam yang tiba-tiba hadir di rumah mereka dan menyambut baik kedatangan kucing hitam itu.
“Kenapa, Ivew?”
Laveron menoleh, menatap heran sang adik yang berhenti di depan kuda coklat kesayangannya. Sedangkan Veister sudah duduk nyaman di dalam pelukan Laveron yang sudah naik ke atas kuda hitamnya.
Aku tidak bisa menggunakan kuda! Bagaimana ini! Batin Ivew berusaha setenang mungkin dan melirik kuda coklatnya yang tampak tenang.
Veister dalam pelukan Laveron mengeong dan menyadarkan kembali Ivew yang sibuk dengan kepanikannya. Gadis itu memandang Laveron yang masih setia menunggu jawabannya.
“Se-sepertinya aku lupa cara naiknya, Bang.”
__ADS_1
Laveron menghela nafas dan kembali turun dari kudanya, membantu Ivew menaiki pijakan kuda dan menyamakan posisi sang adik di atas kuda kesayangannya. Veister menatap Ivew dan tangannya yang berbalut bulu hitam itu mengeluarkan untaian cahaya perak mengamankan posisi Ivew dengan sihirnya.
Laveron menatap sang adik yang merasa sudah aman dan berbalik menuju kudanya. Memimpin jalan dengan kudanya kedua saudara itu bersiap menuju kediaman Duke Flowerlax melewati keramaian pagi warga Kota Osgord atau pasukan berkuda militer yang bersiap memulai hari. Ivew memandang suasana sekitar kota dengan takjub, sedangkan Laveron di depannya melirik sang adik yang seperti orang baru melihat semuanya.
Pasukan berkuda prajurit militer melewati iringan dua bersaudara itu, Ivew sedikit mempercepat laju kudanya agar tidak terlalu jauh dari Laveron. Gadis itu sedikit was-was melihat tatapan para prajurit yang diarahkan kepadanya.
Keduanya sampai di gerbang mansion Duke Flowerlax dan berhadapan dengan dua ksatria penjaga mansion. Setelah memastikan identitas keduanya salah satu ksatria membawa keduanya menuju ruang kerja Duke dan ksatria lainnya membawa kedua kuda saudara Mirabeth itu menuju kandang kuda. Ivew sedikit mendekat ke arah Laveron yang berjalan santai.
Gadis itu merasakan perasaan was-was yang tidak jelas asalnya sedangkan Veister yang tadinya dititipkan ke salah satu kstaria hadir di antara kedua saudara Mirabeth dengan sihir tembus pandangnya. Kstaria di depan mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan warna perak dan garis gradasi merah. Tangan ksatria itu mengetuk pintu dan mempersilahkan kedua saudara Mirabeth itu untuk masuk.
“Salam, Tuan Duke. Saya Laveron Mirabeth dan di sebelah saya saudari saya, Ivew Mirabeth. Kami datang untuk melaporkan penyerangan monster hari itu.”
Laveron sedikit membungkuk dengan tangan kanan mengepal di dada kirinya. Ivew mengikuti Laveron dengan cara yang sama. Sosok pria di depan mereka berdua mengangguk dan bangkit berdiri dari meja kerjanya. Baju perak dengan garis biru itu tampak sempurna di tubuhnya.
Laveron mulai menjelaskan situasi yang terjadi sebelumnya. Dua bersaudara Mirabeth rencananya berburu di hutan hitam yang termasuk dalam wilayah kekuasaan keluarga Flowerlax. Keduanya turun saat memasuki bagian awal hutan hitam.
Laveron yang saat itu sedang mempersiapkan pedangnya terkejut saat melihat sang adik yang menembakkan panahnya ke arah sosok yang hendak menyerang dirinya dari balik pohon. Sosok monster yang berwujud ular hitam berukuran sedang mendesis di depan kedua saudara Mirabeth.
Laveron menggertakkan giginya saat monster itu bergerak ke arahnya dengan kecepatan tinggi, sedangkan Ivew yang berada di belakangnya segera menembakkan anak panahnya dan mengenai salah satu mata monster ular di depan mereka. Gerakan monster ular itu terhenti dan Laveron menggunakan kesempatan itu untuk menebas kepala sang monster. Monster ular yang menyadari serangan Laveron mengibaskan ekornya dan mengenai Ivew yang bersiap menembakkan anak panah, gadis itu terlempar dan menghantam pohon di dekatnya.
__ADS_1
Laveron yang panik tidak membuang waktu dan langsung menebas kepala sang monster dengan pedang yang sudah dilapisi aura navy miliknya. Monster itu langsung berubah menjadi debu saat kepalanya berpisah dari tubuhnya. Laveron menghela nafas dan segera membantu sang adik yang tidak sadarkan diri dengan luka di kaki kanan akibat hantaman ekor sang monster.
Ivew yang mendengar penuturan Laveron bergidik ngeri saat membayangkan pemilik tubuh sebelumnya sudah pernah menghadapi monster yang menjadi sumber masalah dunia ini. Duke Flowerlax yang mendengar laporan Laveron mengepalkan kedua tangannya erat. Monster itu muncul dari daerah yang damai selama beberapa tahun terakhir. Bukankah seharusnya tembok pelindung kekaisaran mencegah para monster itu untuk masuk?
“Itu artinya ada lubang di tembok pelindung kekaisaran,Tuan Duke?”
Laveron bersuara menyampaikan pendapatnya dan pria yang duduk di depannya mengangguk.
“Siapkan pasukan untuk menyelidiki kejadian kali ini! Dan kamu, Laveron Mirabeth akan menjadi ketua dalam penyelidikan ini!” ucap sang Duke menatap Laveron yang menunduk hormat dan melirik Ivew yang sedari tadi hanya diam. Gadis itu sedikit panik saat menyadari tatapan penguasa di depannya dan menunduk hormat.
Ksatria yang berada di depan pintu membuka pintu ruangan dan mempersilahkan seorang pemuda dengan rambut perak masuk. Wajah tampannya sedikit berdebu dengan keringat mengalir di dahi dan pedang yang tersampir di pinggang kanannya.
Manik emerald Ivew melebar saat bertemu dengan manik merah ruby sang pemuda yang kini menatapnya dengan wajah tersenyum. Gadis itu terdiam dan merutuki nasibnya yang kembali bertemu dengan pemuda yang terus menatapnya dengan wajah tersenyum sedangkan Laveron menyapa hormat pemuda di depannya.
Pemuda itu memberi salam dan berdiri di hadapan Duke Flowerlax yang menampilkan senyum di wajah dinginnya. Kupu-kupu merah dengan corak perak milik pemuda itu kembali hadir dan terbang di sekitar Ivew menarik perhatian semua pasang mata di dalam ruangan.
“Wah ... sepertinya Grein kembali mencium wangi alam dari Anda ya, Lady?”
Pemuda itu tersenyum menatap Ivew yang terdiam karena merasakan tekanan yang besar di sekitarnya.
__ADS_1
...⪻⪼...
Happy reading guys ....